
Di kediaman Joenathan.
Masih dalam keadaan terisak. Tania, kini sudah memakai sweater miliknya. Tas berukuran sedang, juga telah siap dengan beberapa pakaian yang diisi didalamnya. Hati terlanjur sakit, membuatnya ingin segera pergi. Tak ingin lagi, berlama-lama disana.
“Aku, sudah tidak tahan lagi.” lirih Tania sembari menyeka pelan airmata.
Diraihnya ponsel yang terletak diatas meja samping tempat tidur. Lalu kini, Tania mengulurkan jemari tangan, mengusap perlahan layar ponsel. Wulan, nomor kontak yang dicari kini sudah di temukan. Kemudian, Tania pun menghubunginya.
Tut…tut…tut…
Panggilan tersambung. Tapi sayang, tidak ada yang menjawab. Hampir putus asa, Tania kini mengingat jika ada satu pesan chat yang masuk dari Sam yang tadi sore menyapa.
“Ya, Kak Sam. Aku harus meminta bantuan padanya.” segera, Tania membuka chat itu dan mengambil nomor ponsel Sam darisana.
Tak butuh waktu lama, hanya beberapa deringan saja, Sam, langsung menjawab. Entah apa yang di kerjakan saat itu, yang pasti saat Tania menelfon, Sam, belum terlelap.
“Hallo, Tania…” Sam, memanggil darisana.
“Kak Sam, tolong jemput Nia sekarang.” pinta Tania, langsung pada intinya.
“Jemput? Inikan sudah malam Nia?” tanya Sam sambil mengerlingkan pandangannya kearah jam dinding yang terpajang diruangannya.
“Ceritanya panjang Kak. Tolong, sekarang jemput Nia.” Tania memohon.
“Baiklah, kirimkan alamatnya.”
Setelah menutup sambungan telefon. Tania, kemudian segera mengetikkan alamat jalan dimana, ia akan menunggu Sam untuk menjemputnya.
Tas sudah di tangan. Langkah kaki, kini mengarah ke pintu kamar. Tania, membuka pintu kamarnya, kemudian bergegas pergi darisana.
Di depan rumah. Terlihat, beberapa pengawal tengah berjaga di sana. Mereka sengaj di tugaskan oleh Joe, untuk menjaga Tania. melihat kedatangan Nyonya rumah, dengan tas sedang yang di jinjingnya. Para pengawal itu, lantas mencegat Tania.
“Nona, anda mau kemana?” tanya salah satu ajudan yang ada di sana.
“Aku, ingin pergi.” sahut Tania.
“Maaf, Nona. Tapi, anda tidak boleh keluar dari rumah ini.” ujar pengawal itu.
“Tidak boleh? Ada hak apa kau melarangku keluar darisini?!” Tania mulai kesal.
“Ini perintah Tuan.” timpal sala satu pengawal yang berdiri di sana.
Tania tak menggubris. Berusaha menerobos para pengawal yang berdiri di sana. Tapi, tak berhasil. Malah kini, ia di sergap oleh pengawal itu dan di bawa masuk kembali ke kamarnya.
“Aaaaaaaa!!!! Joe!!!” Tania menjerit. “Dasar, pria berengsek!!!!!” umpatnya kini.
Sebelum pergi meninggalkan rumah. Joe, sudah terlebih dahulu mengutus beberapa pengawalnya untuk berjaga-jaga dirumah. Takut, ada sesuatu kejadian yang tak diinginkan, terjadi pada Tania. para pengawal juga diancam,
tak akan bisa hidup tenang, jika tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
***
Sebuah mobil mewah, terlihat melesat sangat cepat. Memecah keheningan jalanan Ibukota. Suhu tubuh yang kian terasa panas, serta jantung yang kian berdegup kencang membuat, Joe, inging sesegera mungkin tiba dikediamannya.
“Sial! Pengaruh aroma itu ternyata sangat kuat!” Joe, mencengkeram kuat setir mobilnya.
Perasaan cemas, gelisah, kini menghampiri diri. Berharap, untuk bisa sesegera mungkin mendapatkan penawarnya. Tubuh yang kian memanas, membuat Joe melepaskan kaos yang di kenakan.
Tak lama kemudian. Tibalah, Joe didepan pintu gerbang rumahnya. Penjaga rumah segera bangkit, saat melihat mobil Tuannya. Segera, penjaga itu membuka gerbang dan membiarkan mobil Joe masuk melenggang kedalam.
Mobil, kini sudah terparkir. Joe, pun lantas keluar dari sana dan berlari masuk kedalam rumah. Dengan kaos yang hanya di sandangkan di bahu. Joe, dengan cepat bergerak menuju kamarnya.
Ceklek!
Tania tersentak. Dalam duduk, ia menatap kearah pintu dengan mata terbelalak.
“Joe, kau!” Tania, mengeram kesal. Di tambah lagi, melihat penampilan, Joe, yang terlihat sangat berantakan. Membuat hati Tania semakin panas.
Baam!
Joe, membanting pintu kamar. Tubuhnya, kian tak terkendali. Obat itu sangat luar biasa bekerja. Bukan main, Katty bahkan memesannya khusus dari Swedia. Melihat, Tania, yang terduduk di ranjang. Dengan cepat, Joe, menyergahnya.
Tania, meronta, berusaha ingin lepas dari sergapan buas pria yang ada di depannya. Aroma yang begitu menyengat, begitu terasa menusuk hidung. Semenjak kehamilannya, Tania, menjadi lebih begitu perasa. Sehalus
apapun aroma yang ada di sekitarnya, begitu terasa di hidungnya.
erat tubuhnya, membuat Tania tak dapat bergerak.
Tania menangis. Air mata yang belum lagi kering itu, kini kembali memenuhi pelupuk mata. Tak tertahankan, hingga akhirnya keluar membanjiri wajah Tania. Joe, semakin tak terkendali. Bagaikan serigala lapar, ia menyerang Tania tanpa bisa melawan.
Perlahan, deraian airmata mulai jatuh membasahi kulit Joe, saat pria itu mulai menggerayangi leher Tania dan menembuskan benda pusakanya kedalam area pribadi milik Tania.
“Joe!! kau berengsek!!!!” pekik Tania.
Seketika, mulut itu di bungkam dengan ******* kasar yang mendarat di bibirnya. Tania tak lagi bersuara, hanya bisa pasrah menahan sakit yang tak terhingga.
***
Di kediaman Samuel Vydrick.
Malam itu, Sam, tak bisa tidur karena sedang mengerjakan beberapa masalah kantor yang harus segera di tuntaskan. Mendengar deringan ponsel di tengah malam, membuat Sam, langsung meraba dan melihat siapa yang
sedang menghubunginya di tengah malam seperti ini.
“Tania,” lirihnya.
Sam, pun langsung menjawabnya. Pembicaraan pun di mulai. Tak lama, hanya beberapa menit saja. Tapi, hal itu berhasil membuat wajah Sam, cemas penuh dengan kekhawatiran.
Segera, Sam menutup laptopnya. Meninggalkan masalah pekerjaan, yang belum selesai ia tuntaskan. Karena, saat ini. Yang terpenting adalah, menemui Tania dan mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi padanya.
Jaket di sambarnya, beserta kunci mobil yang ia letakkan di dalam laci meja yang ada di ruangan. Sam, bergegas pergi darisana. Raut wajah cemas, serta kekhawatiran terlihat sangat jelas di wajahnya. Sam, sangat takut, fikirannya kalut, saat tadi mendengar suara Tania yang setengah terisak.
“Sebenarnya, apa yang sedang terjadi padamu Tania.” lirih Sam dengan langkah kakinya yang berjalan dengan sangat cepat.
Di depan sana. Terlihat, beberapa para penjaga rumah sedang bermain catur didepan sebuah pos jaga yang tak jauh dari gerbang. Sam, mendekati mereka. Lalu, dengan lembut meminta para penjaga itu untuk segera membuka gerbangnya, barulah setelah itu ia bergegas pergi masuk kedalam mobil.
“Joe, lihat saja. Jika aku mendengar, kau menyakiti Tania. Maka, aku tidak akan pernah memaafkanmu.” tangan Sam mengepal, rasa cemas kini bercampur amarah saat mengingat kembali nada bicara Tania yang terdengar sedang terisak.
Waktu telah menunjukkan pukul dini hari. Suasana jalan, terlihat sepi dan lengang. Sam, kian menambah laju kecepatan mobilnya ke alamat yang dikirim oleh Tania. Tidak butuh waktu lama, mobil Sam kini telah tiba di alamat yang di tuju.
Sam, menghentikan mobilnya. Menatap keseluruh sudut jalan, mencari sosok gadis yang di cintainya.
“Kemana Tania? bukankah dia menyuruhku untuk menjemputnya disini?” tanya Sam, saat tak melihat sosok Tania di sana.
Sam, kembali mengerlingkan pandangannya. menyapu sekitar jalan, tapi ia juga tidak menemukan Tania di sana.
“Kemana dia? Apa dia belum keluar?” beberapa pertanyaan beruntun kembali tercetus dari bibirnya.
Tak ingin bergelut dengan fikirannya sendiri. Pria tampan itu, lantas segera mengambil ponselnya yang ia letakkan didalam saku jaket, lalu segera menghubungi Tania.
Tut…tut…tut…
Panggilan tersambung. Tapi sayang, tidak ada yang menjawab. Berulang kali, Sam, mencoba menghubungi nomor ponsel, Tania. Namun, Tania, tak juga menjawabnya.
“Tania… sebenarnya, apa yang sedang terjadi terhadapmu.” lirih Sam.
Fikiran kalut, dengan emosi yang menggelut. Pertanyaan yang bersabut, tiada satupun yang mampu menyebut. Sam, lantas memutar mobilnya mencari alamat kediaman Joenathan.
Tak butuh lama. Kini, Sam sudah tiba di depan istana Joenathan. Dilihatnya, didalam sana. ada beberapa penjaga yang tengah duduk, sambil bercengkrama bersama rekannya. Sam, lantas segera menuruni mobilnya. Beranjak darisana, lalu menghampiri pejaga rumah Joenathan.
“Permisi Pak.” sapa Sam lembut.
Para penjaga itu, lantas menoleh kearah Sam. Lalu satu diantaranya bangkit dan menghampiri Sam yang berdiri di luar gerbang.
“Anda siapa?” tanya penjaga mengernyitkan dahinya.
“Saya, rekannya Tuan Joenathan dan juga Nona Tania.” Sam memperkenalkan diri. “Saya, dengar, sesuatu yang buruk terjadi terhadap Nona Tania, apakah itu benar?” tanya Sam langsung kepada intinya.
“Sesuatu yang buruk?” kembali penjaga itu mengernyitkan dahi. “Tidak ada, Tuan dan Nyonya baik-baik saja. Sekarang, mereka berdua bahkan sedang beristirahat.” tambah penjaga itu lagi.
“Oh, begitu ya Pak.” Sam sedikit menganggukkan kepalanya. “Mungkin, seseorang telah menyebarkan berita yang tidak benar kepada saya. Kalau begitu, saya pamit dulu ya Pak. Permisi, maaf, sudah menganggu waktunya.” kata Sam
sopan.
Penjaga itu mengangguk. Sebenarnya, ia menaruh curiga dengan kehadiran Sam, tapi saat melihat mobil yang di bawa Sam, penjaga itu mengubur dalam-dalam rasa curiganya. Ya, Sam, mengendarai mobil sport mewahnya. Sehingga penjaga itu berfikir, mana ada pencuri atau maling yang membawa mobil super mewah seperti itu. Tentu saja dia benar, jika ia rekan dari Joe dan Tania.
TBC.