
Helaian pakaian terlihat berceceran di lantai. Kesana-kemari, tak tentu arah. Sementara itu, diatas ranjang. Terlihat sepasang anak manusia masih tertidur lelap. Tania, melemparkan kakinya keatas tubuh, Joenathan, dengan sebelah tangan yang melingkari tubuhnya.
Tania, terlihat tak ingin lepas, ataupun jauh dari sosok pemilik tubuh yang saat ini ada di dalam pelukannya. Terasa hangat dan juga begitu nyaman, begitulah yang saat ini dirasakannya.
Hari sudah tak lagi pagi. Jam dinding telang menunjuk ke angka delapan. Tania, tersentak dalam tidurnya. Matanya kini terlihat mengarah kea rah jam dinding yang terpajang di sana. membuatnya, sekietia bangkit dan menggoyang-goyangkan tubuh, Joenathan.
“Joe, bangun!” tangannya memegang lengan, Joe, menggoyankannya pelan, berusaha membangunkan.
Joe, terjaga. Lalu kini membuka mata. Dilihatnya kearah samping, Tania, sedang duduk di sana. “Sayangku, kau sudah bangun,” lirih, Joe, dengan tubuh yang kemudian diliukkan.
“Joe, sudah pukul delapan. Segeralah bangun, atau kau akan telat masuk kerja!” suara, Tania, terdengar menyeru.
“Hooaamm! Hari ini aku libur sayang,” tanga, Joe, terlihat mengatup mulutnya. Kemudian, ia mengarahkannya ke pinggang, Tania. Menariknya, agar semakin dekat dengannya.
Joe, kini mengubah posisi kepalanya. Berpangku di kaki bagian atas, Tania.
“Tumben, biasanya kau paling giat dalam bekerja,” ujar, Tania.
“Hari ini minggu sayang. Memang sudah waktunya libur,” dengan malas, Joe, kembali menutup mata.
“Minggu? Oya… astaga… bisa-bisanya aku lupa!” Tania, menepuk jidatnya.
“Aku maklum kok!” timpal, Joe.
“Maklum, maksudnya?”
“Ya, aku maklum. Karena kau terlalu memikirkanku sepanjang hari. Hingga kau lupa jika ini hari apa.” ujar, Joenathan.
“Iiihh… kepedean!” Tania, menoyor kepala, Joenathan. Yang saat ini tengah berada berpangku di pahanya.
“Lebih keras lagi juga nggak apa-apa, aku ikhlas kok. Asalkan, itu sayangku yang melakukannya,” goda, Joenathan.
Tania, mendelikkan matanya. Bibirnya tersenyum, dengan rona merah di wajahnya. “Dasar, palayboy! Pagi-pagi begini sudah menggoda. Apa kau ingin dihukum lagi?!” dengan tangan yang sudah berada di pinggang.
“Di hukum, aku nggak nolak. Asalkan itu dengan cintamu, seperti malam tadi.” Joenathan kembali menggoda.
“Joe, kau!” kehabisan kata-kata, Tania, semakin mendelikkan matanya.
“Kau, tau. Wajahmu terlihat lebih indah, dengan bola mata yang membesar seperti itu.” Joe, megedipkan matanya.
Sungguh sekarang ini, Tania, tak dapat lagi berbuat apa-apa. Mendelik saja, ia bahkan sudah tak bisa. Gombalan, Joenathan, membuatnya tak berdaya. Wajah Tania terlihat semakin merah saja.
Puk! Puk! Puk!
“Rasain nih! Ini hukumannya untukmu!” berulang kali, Tania, menimpukkan gulingnya di wajah, Joenathan. Bahkan, di pinggangnya. Tania, juga mencubitnya tanpa jeda.
Joenathan, tak bergeming. Ia hanya tetap merebahkan tubuhnya di atas pangkuan, Tania. merasakan setiap pukulan demi pukulan yang mengarah ke tubuhnya.
Setelah merasa cukup, Tania, menghentikan aksinya. Dilihatnya kearah, Jonethan. Tak tergurat sedikitpun kekesalan di sana. Melenguh pun tidak. Padahal, Tania tau betul jika cubitannya tadi itu sangatlah pedih bagaikan semuat rangrang yang menggigit.
Joe, masih menatap kearah wajah, Tania. Mengulas senyumnya, tatkala Tania juga menatapnya. Membuat, Tania, salah tingkah karenanya.
“Joe, apa kau ini manusia? Kenapa, kau tidak mengeluh sedikitpun saat akau memperlakukanmu seperti tadi?” tanya Tania.
“Mengeluh? Tidak akan,” Joe, menggeleng kepalanya pelan. Masih, dengan posisi yang sama. “Jika itu karenamu, matipun aku rela. Asalkan mati di tanganmu,” senyum Joe kembali mengulas.
“Joe, kau!” lagi, Tania mendelikkan matanya. Dengan ukuran dua kali lebih besar dari sebelumnya.
“Tuh kan, wajahmu terlihat lebih indah jika bola matamu membesar seperti itu,” colek Joe, di permukaan pipi Tania.
“Aaa… Joe!!! aku sangat membencimu pagi ini!!” teriak Tania. Ia bahkan memindahkan kepala Joe yang tadinya berpangku di pahanya.
“Membenci, singkatan dari ‘Memang Benar Cinta’. Aku, suka itu, apalagi diucapkan dengan suara yang semerdu tadi,” senyum Joe terus mengulas.
Tak dapat berkutik, Tania, seolah mati kutu dibuat Joe. Ia bahkan sudah tak mampu lagi berekspresi. Wajahnya, kian memerah seiring lingkaran senyuman yang sedari tadi tak pernah terjeda di wajah, Joe. Joe terus menatapnya,
melemparkan senyum manisnya.
Jujur saja sebenarnnya saat ini Tania sangat senang mendengar gombalan itu. Hatinya menjadi sangat berbunga-bunga. Namun, ia sungguh tak dapat menunjukkan ekspresi kegembiraannya. Hatinya terlalu malu dengan itu.
Tania lantas bangkit dari ranjangnya dengan sangat tergesa-gesa. Ia beranjak darisana, segera melangkah menuju kearah pintu kamar mandi. Namun, ada satu hal yang saat ini Tania lupakan. Hal yang membuat, Joe, tak berkedip memandang kearahnya. Hingga akhirnya, ia pun bersuara.
“Sayangku, sungguh Tuhan sangat baik kepadaku. Menganugerahiku dengan wanita seindah dirimu,”
Tania terus berjalan, tanpa mengindahkan perkataan Joe. Hingga akhirnya setibanya di dalam kamar mandi. Tania, melewati sebuah cermin dan mendapati jika saat ini ia masuk kesana tanpa menggunakan sehelai kain pun.
“Astaga!”
TBC.