CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 179


Disebuah perumahan elit yang ada di Ibukota. Terlihat, seorang gadis tengah duduk di taman samping rumah. Gadis itu  terlihat memakai celana pendek, dengan atasan blouse longgar dengan model bahu yang turun kebawah. Gadis itu adalah, Angeline.


Disebuah taman yang terletak disamping rumahnya. Angeline, terlihat duduk dengan menyilakan kakinya. Membuat, paha mulusnya terpampang jelas sekarang. Seorang wanita paruh baya, dengan rambut yang terlihat disasak. Kini, terlihat datang menghampirinya.


Dia adalah, Nyonya Maharani, Ibu, dari Angeline. Yang kini datang, lalu duduk di samping putri semata wayangnya itu.


“Mama!”


“Angel,” Maharani mengulas senyumnya. Senyum hangat, khas dari seorang Ibu. Tapi, Angeline, tidak membalasnya. Yang ada saat ini malah, wajah, Angeline, terlihat murung dan kesal.


“Sayang, kamu kenapa? Kok, wajahnya ditekuk gitu sih?”


“Angel, sedang kesal, Ma!” tatapan, Angeline, kini kembali mengarah ke depan.


“Kesal, kenapa?” sungguh hal itu membuat, Maharani, bertanya-tanya.


“Angel, kesal sama, Joe!” keluh Angeline.


“Joe,” Maharani. Mengerutkan keningnya. “Joenathan Alexandre maksudmu?”


“Hmm,” Angeline, menganggukkan kepalanya.


“Joe, bukankah dia sudah menikah?”


Angeline, menjawab dengan kembali menganggukkan kepalanya.


“Terus, hal apa yang telah dilakukannya sehingga bisa membuatmu kesal, sayang?”


“Angel, kesal karena saat ini, Tania, istrinya Joe, sedang hamil,” lirih, Angeline.


“Apa, istrinya, Joe, sedang hamil? Wah… bagus donk! Sebentar, lagi akhirnya, Joe, akan menjadi seorang, Ayah!” seru, Maharani. Wajahnya tampak begitu gembira, saat mendengar kabar itu.


“Mama!” seru, Angeline kesal. Wajahnya pun kian merengut tak karuan.


“Loh-loh! Angel, kok kamu jadi tambah kesal gitu, sih! Ada apa?” tanya, Maharani. Melihat, ekspresi yang ditunjukkan putrinya, membuat, Maharani, menaruh curiga.


“Angel, itu nggak suka, Tania, hamil, Ma!”


Seruan, Angeline, ternyata membuat, Maharani, terbelalak. Ada apa ini, kenapa, Angeline, bisa bersikap seperti itu?


“Angel, apa maksudmu? Tania, hamil anaknya, Joe, itu adalah hal yang sangat wajar, mereka sudah menikah,” Maharani, mencoba memperingati putrinya.


“Angel, tau, Ma. Tapi, tetap saja, Angel, tidak suka itu!” ekspresi tak suka masih tergambar jelas diwajahnya.


Maharani, menggelengkan kepalanya, tak habis fikir dengan apa yang sedang difikirkan putrinya.


“Angel, Joe, sudah menikah. Dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Jadi, Mama, harap. Kamu, bisa segera melupakannya. Jika, kamu tidak mau, maka terpaksa. Mama dan Papa, akan mencarikanmu jodoh dari kolega kita!”


Maharani, bersikap tegas. Bukan karena tak sayang, justru karena ia tak ingin putri semata wayangnya itu terjerumus kedalam cinta yang tidak seharusnya.


“Ma! Mama, taukan. Angel, sudah suka sama, Joe sedari dulu. Sejak kita masih sama-sama duduk di bangku SMA. Angel, merubah penampilan, Angel, hingga seperti ini juga, semuanya karena, Joe. Karena, Angel, ingin menarik perhatian, Joe, untuk suka sama, Angel. Tapi sekarang, dia malah—“ Angeline, tak melanjutkan lagi kalimatnya. Raut wajahnya semakin mengerut sekarang, tatkala ia mendapati mata, Maharani, yang terlihat semakin membelalak. Menatap, tak suka dengan perkataannya.


“Apapun itu Mama tetap nggak setuju. Joe, sudah menikah, dan Mama tidak ingin mendengar kamu mencoba menarik perhatiannya. Mau taruh dimana muka keluarag kita, jika putri semata wayang yang selama ini, Mama dan Papa, banggakan ternyata berusaha merebut suami orang!” tekan, Maharani.


“Cukup! Mama tidak ingin dengar lagi. mulai hari ini, Mama nggak akan ngizinin kamu untuk pergi dari rumah, tanpa pengawasan langsung dari, Mama.”


Maharani, lantas segera bangkit dari duduknya. Ia bergegas pergi darisana, karena terlanjur merasa kesal dengan sikap, Angeline, putri semata wayangnya itu.


“Aaaaaahhh!” Angeline, menjerit kesal. Tangannya, bahkan mengepal keras. Merasa tak senang, karena, Maharani, yang sama sekali tak mendukung keinginannya.


***


Sekitar pukul 13:45 Wib.


Setelah menyantap makan siang bersama di Caffenya, Roy. Tania, mengajak, Joe, untuk menonton film horror yang diputar perdana di bioskop yang ada disalah satu Mall terbesar di kotanya.


Kemarin, saat sedang menonton tv di rumah. Tania, melihat triller film horror yang akan tayang hari ini disalah satu channel  yang sedang diputarnya. Hal itu tentu saja sangat menarik perhatian, Tania. Mengingat, jika ia adalah salah satu pencinta film yang bergenre horror.


Joe, yang melihat, Tania, begitu bersemangat. Sungguh, tak dapat menolak ajakannya. Setelah menelepon, Bayu, untuk memberinya kabar. Jika, ia tidak akan kembali lagi ke kantor setelah makan siang. Dan, membebankan


seluruh tanggungan pekerjaan kepada, Bayu. Joe, kini telah siap menggandeng, Tania, untuk ikut bersamanya. Membawa, wanita kesayangannya itu menonton film kesukaannya.


Setibanya, disalah satu Mall terbesar di kotanya. Joe, terlihat menggandeng tangan, Tania, begitu erat. Pria itu seolah ingin menunjukkan, jika ia adalah sosok pria sejati, yang sangat mencintai wanitanya, kepada seluruh orang yang ada di sana.


Jujur, sebenarnya, Tania, sedikit merasa risih dengan perlakuan, Joe, yang seperti itu. Rasanya, sikapnya itu terlalu berlebihan mengingat begitu banyak orang di sana. Ingin sekali rasanya, Tania, sedikit berjarak dari, Joe. Namun, hal itu tak bisa ia lakukan karena, Joe, yang terus menempelkan diri dengannya.


“Joe, kau tunggu di sini, ya. aku, akan kesana mengantri beli tiket,” Tania, menunjuk kearah loket pembelian karcis yang berada tak jauh dari tempat mereka.


“Tunggu, di sini?” Joe, mengernyitkan dahinya. “Tidak-tidak, mana mungkin aku menunggu di sini, sementara kau harus mengantri kesana,” Joe, menggelengkan kepalanya dengan sedikit senyum yang menghiasi bibirnya.


“Kau, lihat itu,” tunjuk, Joe, kearah para lelaki yang tengah mengantri di sana. “Mereka semua, membeli tiket untuk pasangannya. Dan sekarang, kau ingin pergi dan berdiri di antara mereka? Itu tidak mungkin terjadi,” tukas, Joe.


“Tapi, Joe. jika kita tidak membeli, bagaimana nanti kita bisa masuk kedalam?”


“Kita akan tetap masuk. Karena, sekarang aku yang akan mengantri di antara mereka.”


Joe, lantas menggerakkan kakinya. Pergi, kearah loket, dan berdiri bersama pria-pria yang ada di sana.


Hmm, yasudahlah… biarkan saja dia yang mengantri. Toh, aku juga bisa sedikit beristirahat sembari menunggunya kembali.


Ucap, Tania, dalam hati.


Dialihkannya kini tubuhnya, kearah salah satu tempat duduk yang ada di sana. Tania, lantas menapaki bokongnya untuk mengistirahatkan diri sejenak. Sambil duduk menunggu. Tania, lantas mengedarkan pandangannya kearah


sana-sini memperhatikan orang-orang yang sedang lewat disekitarnya.


Awalnya, semuanya terlihat biasa. Namun, saat mata, Tania, menangkap sesosok yang ia kenal. Keningnya, lantas mengerut, disertai rasa penasaran yang seketika mencuat.


“Katty,” lirih, Tania.


Bukan sosok, Katty, yang membuatnya penasaran. Tapi, sosok lelaki yang berada disampingnya itu yang membuat, Tania, bertanya-tanya. Siapakah dia? Apakah itu kekasihnya? Rentetan pertanyaan itu lantas terbesit di benak, Tania. mengingat, bagaimana kedekatan mereka. Pria itu, tampak menempel dengan, Katty, seraya mengenggam tangannya dengan sangat erat.


TBC