
Angin sepoi-sepoi berhembus memasuki kamar Tania. Pintu balkon kamar yang di biarkan terbuka, membuat angin dengan leluasa memasuki kamar nya. Disana di atas tempat tidur, seorang wanita cantik yang hanya memakai
celana pendek dan juga tantop, terlihat berbaring dengan posisi telungkup.
Terlihat santai, bahkan terkesan sangat santai. Karena ini malam kedua untuknya tidur tanpa ada gangguan sama sekali. Pintu kamar sudah terkunci dari dalam, jadi Tania sudah bisa sedikit lebih tenang sekarang karena tak mungkin lagi Joe masuk kedalam kamar nya.
Sebuah buku novel yang baru di belinya melalui aplikasi online kini tengah di bacanya. Yang mengishkan tentang perjalanan cinta seorang siswi cantik yang di nikahi pria kaya. Hampir sama seperti ceritanya, bahkan semakin dia membuka halaman berikutnya dan membacanya. Kesamaan itu semakin terasa, Cuma yang membedakan adalah, pria kaya yang menikahi siswi cantik itu adalah pria dingin, namun setia.
Sedangkan dirinya, pria kaya yang menikahinya adalah seorang playboy yang hampir tak tahan sama sekali jika sedang dekat dengan wanita. Apalagi jika wanita yang mendekatinya memakai pakaian seksi, duh.. tuh mata rasanya seperti ingin tanggal dari tempat nya.
Hmm, andai saja Joe seperti pria yang ada di novel ini, pasti sekarang aku tidak akan susah-susah menjaganya.
Gumam Tania.
Ia kini membayangkan bagaimana indah nya jika saja wanita pertama yang di cintai Joe, dan juga yang terakhir. Tak ada orang lain selain dirinya. Namun, kenyataan nya berbeda, Tania memang yang terakhir, tapi di kehidupan sebelumnya. Begitu banyak wanita yang bersamanya, membayangkan hal itu sungguh sangat membuat Tania kesal.
“Dasar! Suami playboy!” umpat Tania.
Matanya menyipit, nafas nya mendengus kesal, sementara bibirnya terlihat manyun seraya sesekali di geserkan-nya ke kiri dan kanan.
Kini ia menutup buku novel nya, tak punya mood lagi dalam membaca. Membayang kan bagaimana Joe yang hampir tergoda dengan Angeline membuat Tania kesal.
Cih! Dasar, lelaki murahan!
Umpat Tania.
Kini ia melemparkan buku novel nya kearah meja yang berada di samping tempat tidur nya. Lalu kemudian, ia mengambil hp nya dan membuka media sosial nya.
Kriing! Kriiingg!
Ponsel Tania bordering, di lihat nya di layar nomor yang tak di kenal sedang menghubungi.
“Siapa ya?” lirih nya.
Karena tak tau siapa yang sedang menelepon. Tania pun lantas menolak nya.
Lalu kini ia kembali melanjutkan aktivitas nya bergerilya manja di sosial media. Lagi-lagi, di tengah ke asyikan
nya mengintip di salah satu akun gosip yang ada di layar ponsel nya. Tiba-tiba saja, nomor yang sama kembali menelpon nya.
Arrrrggggh!
Tania, mengeram kesal.
Siapa sih ini. Ganggu orang saja.
Dengus nya kesal.
Dengan tak sabar, karena juga ingin tau siapa orang yang berulang kali menelpon nya. Tania pun kini lantas menggeser tombol yang berwarna hijau itu kesamping.
“Hallo.” Wajah nya masih terlihat kesal sekarang.
“Tania.” seseorang memanggil namanya.
Tania terdiam, suara seorang lelaki yang ada di ujung telpon nya itu terdengar tidak asing baginya. Bahkan terkesan begitu akrab.
Suara ini, mungkinkah…
Penasaran, Tania pun lantas langsung membalas nya.
“Kak Roy.” Lirih nya, namun dengan sangat hati-hati.
“Nia, apa kabar?”
“Ini beneran Kak Roy?” tanya Tania lagi memastikan.
“Ya, benar, ini aku Roy. Senior chef mu di Caffestar.”
Tania tersenyum, raut wajah nya kini berubah senang manakala mengetahui ternyata itu beneran Roy, senior chef
nya di Caffestar.
“Kak Roy, apa kabar?” langsung menanyakan dengan antusias.
“Aku baik, kamu sendiri bagaimana? Baik juga kan?”
“Nia, baik Kak.” Angguk Tania. Perlahan posisi nya yang sedari tidur telungkup kini di ubah nya dengan duduk. Bantal guling yang tergeletak disana, kini di ambil nya, lalu di pangku nya. “Kak Roy, sekarang lagi apa?”
“Lagi duduk di teras rumah sambil telfonan sama kamu.”
“Kamu sekarang sombong ya, ganti nomor ponsel tapi nggak bilang-bilang ke aku.”
“Bukan begitu Kak, kemarin itu ponsel Tania rusak, nggak sengaja jatuh ke kolam renang. Karena kemasukan begitu banyak air, ponsel Nia rusak berikut dengan kartunya.” Kilah Tania.
Maaf Kak, Nia bohong.
“Benarkah? Hmm, aku fikir kamu sengaja ganti nomor ponsel karena sudah tak ingin lagi berteman dengan Kakak.”
Bukan aku, tapi Joe yang melarang nya.
“Ya enggak lah Kak Roy, mana mungkin Nia seperti itu.” Berbicara sebaik mungkin agar Roy percaya dengan nya.
“Eh, ngomong-ngomong gimana keadaan di Caffe?” berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Caffe, alhamdulillah baik Nia. Tapi aku udah nggak kerja disana lagi sekarang.”
“Hah, kenapa?” tanya Tania penasaran.
Jangan bilang karena kecemburuan nya kemarin, Joe menyuruh bos Caffe untuk memecat nya.
“Nggak kenapa-napa, aku sendiri yang mengundurkan diri dari sana, karena…”
Roy tak melanjutkan lagi kalimat nya. Terputus begitu saja.
“Karena apa?” Tania mulai khawatir, jangan-jangan benar seperti dugaan nya.
“Eh Nia, suara kamu kok jadi terdengar cemas gitu sih!”
Hah, iya kah?
“Ehm, eng-enggak kok Kak, tadi itu Nia terlalu bersemangat.” Kilah nya lagi.
“Oya, tadi terputus karena aku nyeruput kopi, hehe.” Roy tertawa kecil, lalu kini ia kembali melanjutkan ucapan nya. “Sekarang aku sudah punya Caffe sendiri, makanya aku mutusin resign dari sana. Ya, untuk fokus ke Caffe ku sendiri.”
Tania menghembuskan nafas lega, mendengar apa yang di ucapkan Roy tadi. Ternyata apa yang di takutkan nya
tidaklah terjadi. Roy mempunyai bisnis nya sendiri sekarang, dan itulah alasan nya ia mengundurkan diri dari pekerjaan nya.
Di sapunya dada nya lembut seraya menyunggingkan senyum nya. Karena Joe, tidak seburuk yang dia bayangkan.
“Nia, apa kamu masih disana?”
“Eh, selamat ya Kak! Akhirnya, impian Kaka selama ini telah terwujud. Nia ikut senang dengar nya.” suaranya terdengar begitu ceria.
“Ya, Nia, makasih ya.” ucap Roy. “Hmm, kapan-kapan kamu dan Joe mampir ke Caffe ku ya. Sudah lama kan, kita nggak ketemu.”
“Hah, i-iya Kak, pasti.” Tania terlihat gugup.
Joe, mana mau dia jika di ajak ke Caffe Kak Roy. Jelas-jelas dia tidak suka dengan Kak Roy.
Tania kembali memanyunkan bibir nya kedepan. Mengingat Joe, yang cemburu buta. Jangan kan bertemu dengan teman pria, menyimpan nomor ponsel nya saja dia melarang nya. Sedangkan dia (Joe), bebas dekat dengan wanita manapun.
Uuuuh! Dasar suami playboy!
Umpat nya kembali.
Di tengah-tengah kekesalan nya, yang membayangkan bagaimana Joe menerima begitu saja perlakuan sentuhan fisik dari wanita lain. Kini tanpa sengaja matanya mengerling kearah pintu balkon, dan disana ia mendapati tubuh kekar seseorang sedang berdiri menatap dingin kearah nya.
Waw! Siapakah itu? Mungkinkah itu genderuwo tampan yang masuk kedalam kamar Tania. Hmm, menakutkan sekali. Penasaran, yuk mari untuk terus mengikuti kisah nya^^
Mampir juga ke Karya Ra yang lainnya.
1. Ternyata ini Cinta
2. Pengantin yang tak Dirindukan
3. Pengantin yang tak Dirindukan (2)
Happy reading! Terimakasih^^
TBC.
Mampir juga ke cerita teman Ra yang di bawah ini ya👇