
Malam harinya di kediaman Joenathan Alexandre.
Setelah menikmati makan malam bersama. Kini Tania bergegas naik ke lantai atas menuju ke kamar mereka. Tak ada kata, ataupun candaan sama sekali. Hanya keheningan yang tercipta di antara keduanya.
Joe berjalan di belakang Tania, mengikuti arah langkah kaki istrinya kemana pun ia pergi. Sementara Tania terlihat acuh tak menghiraukan nya. Kejadian tadi siang di ruangan kerja Joe masih membekas di benak nya.
Ya, walaupun Joe jelas-jelas memilih dirinya dan ikut memberi pelajaran kepada wanita itu dengan menunjukkan kemesraan dengannya. Namun, sikap Joe yang terlihat tidak melawan saat wanita itu merangkul dirinya. Membuat Tania marah besar, hingga tak ingin berbicara dengannya.
Lihat saja, aku akan memberimu pelajaran malam iini
Gumam Tania.
Setibanya di kamar.
Tania terus melangkahkan kaki menuju kearah kamar mandi. Setelah selesai dari sana, ia lantas masuk kembali dan berjalan kearah lemari pakaian yang berada di ujung sana.
Joe kini terlihat duduk di atas ranjang seraya menyandarkan kepalanya di sandaran. Melirik kearah Tania yang baru saja lewat didepan nya. Tania tak menggubris, ia hanya fokus kearah tujuan nya tanpa ingin melirik sedikitpun kearah Joe.
Setelah mengambil pakaian yang di inginkan nya. Kini Tania pun bergegas menuju kearah ruang ganti yang terletak di samping lemari pakaian. Sekitar sepuluh menit Tania disana, lalu kemudian ia kembali keluar dengan lingerie seksi milik nya.
Rambut nya di biarkan terurai begitu saja, denga belahan dada yang terlihat cukup menantang. Belum lagi lingerie itu terbuat dari bahan sutra yang terbilang cukup tipis. Sehingga kini menunjukkan lekuk indah tubuh Tania.
Kaki jenjang miliknya yang terlihat begitu mulus kini melangkah perlahan mendekati ranjang. Joe membelalakkan matanya saat menyaksikan pemandangan indah di depan nya. Matanya tak berkedip menyoroti tubuh Tania dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Benar-benar sempurna.
Gumam nya.
Saat Tania mulai mendekat, tercium aroma yang begitu menggairahkan dari tubuh nya. Tania tersenyum kemudian, melirik kearah Joe yang saat ini terlihat menatap nya tanpa berkedip. Di pegang nya jantung Joe, dan di rasakan
nya debaran jaantung Joe yang terdengar berdegup kencang.
Nafas nya juga memburu saat ini, manakala ia mendekatkan wajah nya kearah Joe.
Hahaha, kau sudah masuk ke perangkap ku sekarang.
Senyum licik terlukiskan di bibir Tania.
Joe sudah tak sabar, gairah nya begitu bergejolak sekarang mendapat perlakuan seperti itu dari Tania. Tak pernah ia melihat Tania begitu berinisiatif seperti ini. Sengaja berdandan, memakai lingerie yang terbilang sangat menantang dan melakukan gerak-gerik yang menggairahkan.
Glek!
Joe sampai menelan ludah nya sendiri. Saat Tania mulai menghembuskan nafas cinta nya di telinga Joe. Hasrat Joe seolah akan segera meledak, tak tertahankan. Tatapan Joe bagaikan serigala lapar sekarang yang siap menerkam mangsanya.
Namun, saat Joe ingin menarik Tania ke dalam pelukan nya. Gadis itu sudah terlebih dahulu menarik tangan nya dan berdiri di depan nya.
“Hmm, malam ini ternyata kau diam-diam mempersiapkan kejutan ini ya untukku.” Ucap nya penuh dengan percaya diri.
Tania hanya diam dan tersenyum. Lalu kemudian ia berjinjit, meraih pundak Joe dan melingkarkan tangan nya disana.
Cup!
Sebuah ciuman juga ia lancarkan tepat mendarat di bibir Joe. Membuat Joe membelalakkan matanya menerima serangan itu. Tentu saja mendapat perlakuan seperti itu membuat Joe tak tinggal diam. Ia kini mulai melancarkan
serangan nya menyusup keadalam lingerie tipis milik Tania.
Tania tak bergeming, ia menahan semuanya dan memilih fokus untuk melancarkan aksi bibir nya. Sementara Joe tengah sibuk menjelajah kesana-kemari, menikmati setiap lekuk tubuh Tania. Melihat Joe yang mulai terpedaya, membuat Tania pun mengambil langkah selanjut nya.
Perlahan namun pasti, ia terlihat mundur ke belakang dan Joe mengikuti langkah nya. Pelan-pelan Tania mundur ke belakang, posisi ruang kamar yang sudah di perhatikan nya sedari tadi. Membuat Tania tak sulit untuk menjalankan aksi ciuman mundur nya.
Kini tak berapa lama kemudian, Tania pun berhasil membawa Joe hingga ke depan pintu kamar. Joe masih asik menerima cumbuan mesra dari Tania, sementara tangannya juga masih terlihat aktif bergerak kesana-kemari.
Tania kini sudah berhasil meraih handle pintu menggunakan tangan kirinya. Sementara tangan kanan nya, ia pakai untuk menurunkan wajah Joe ke bagian leher nya. Tania pun melepas ciuman nya, dan kini membiarkan Joe melancarkan aksinya menggerogoti lehernya.
Di saat Joe mulai sibuk melakukan hal itu. Tania pun membalikkan letak posisi mereka, dengan tempat Joe yang kini sudah berada di daun pintu. Tania menarik senyum nya, karena selangkah lagi ia akan membuat perhitungannya dengan Joe.
Hahaha, sudah waktunya sekarang.
Batin Tania.
“Sayang, stop!” di hentikannya aksi Joe yang tengah memanas saat ini, sehingga membuat Joe manatap sayu kearah nya.
“Ayolah sayang, kenapa berhenti.” Protes Joe.
Tania pun kembali berjinjit dan menarik bahu Joe agar bisa mendekat ke telinga nya.
“Malam ini kau tidur di luar ya sayang.” Bisik nya.
Tania kemudian mendorong tubuh Joe ke belakang, sehingga keluar dari kamar nya. Membuat Joe bingung menatap kearah nya.
“Maafkan aku sayang, untuk malam ini aku harus menghukummu tidur di luar. Sampai kau benar-benar bisa menampik setiap sentuhan wanita yang datang kepadamu.” Berdiri di depan pintu, berkacak pinggang dengan sebelah tangan nya. Sementara sebelah nya lagi memegangi daun pintu. “Daa, sayang, semoga tidur dengan nyenyak.” Cibir nya.
Bam!
Tania membanting pintunya dan menguncinya dari dalam.
“Rasain, emang enak!” seru Tania seraya berjalan menuju kearah ranjang.
Di hempaskan nya tubuh nya disana dan mengibaskan kedua tangan nya seraya tersenyum.
“Akhirnya, malam ini aku bisa tisur dengan bebas tanpa gangguan apapun.” Lirih nya seraya tertawa disana.
Sementara itu di luar.
“Ternyata begini cara seorang istri memperlakukan suami jika sedang cemburu. Benar-benar menyebalkan.” Lirih nya. Di pegang nya adik kecil nya dan di elusnya dengan lembut. “Bagaimana dengan ini, harus ku apakan sekarang.” Lirih nya.
Joe menghela nafas panjang, namun agak berat. Berusaha menenangkan sesuatu yang ada disana. Namun, sepertinya agak sulit. Sehingga kini Joe pun memutuskan untuk menghampiri pintu kamar nya dan mengetuk nya.
Tok! Tok! Tok!
“Sayang, bukain pintunya dong.” Suaranya terdengar begitu memelas.
“Enggak mau!” seru Tania.
“Sayang, please.” Kembali memohon dengan suaranya yang sangat memelas.
“Enggak!” tegas Tania.
Joe meradang. Bagaimana pun, keinginan adik kecil nya harus tersalurkan. Begitu pikirnya. Namun, bagaimana caranya, Tania terlihat sungguh dengan ucapannya. Pikiran Joe mulai kacau.
“Sayang, kenapa kau tega sekali denganku.” Ucap Joe.
“Tega? Kau yang tega denganku. Bisa-bisa nya kau hanya diam saat wanita lain menyentuhmu! Untung saja aku datang tepat waktu, jika tidak mungkin saja selanjutnya kalian akan melakukan adegan panas disana!” pekik Tania.
“Tidak! mana berani aku seperti itu, aku setia padamu.” Kilah Joe.
“Cih! Setia. Selingkuh tiada akhir maksudmu!” Tania mengerut kesal, seraya melipat keduan tangannya di dada nya.
Bagaimana lagi cara ku agar bisa membujuk nya, masak aku harus mandi air dingin tengah malam begini untuk menenangkan diriku sendiri.
Batin Joe.
“Sayang,” panggil nya lagi, berharap hati Tania akan luluh akhirnya. “Tolonglah, aku janji padamu tidak akan lagi membiarkan gadis lain menyentuhku. Jadi sekarang bukain pintunya ya.” pinta nya.
“Tunaikan kata-katamu, jangan sampai itu terjadi lagi. Namun, malam ini kau tetap tidur di luar. Aku mau lihat, bagaimana kau bisa menahan diri dengan hasratmu.” Tukas Tania. “Dan satu lagi, jika kau masih berani bermain api di belakangku. Maka aku pun juga tak akan segan-segan bermain api di belakangmu.” Ucap nya lagi.
“Kau mengancamku?”
“Ya, aku sedang mengacam mu. Karena kau sekarang milikku!”
“Hmm, baiklah. Sekarang kau menang. Malam ini aku tidak akan mengganggumu, beristirahatlah dengan tenang disana. Aku akan tidur di kamar yang ada diujung sana.” Akhirnya Joe menyerah. Kata-kata Tania yang mengatakan jika dia miliknya membuat Joe merasa senang.
Ya, aku milik nya sekarang. Jadi mana mungkin dia akan merasa senang jika melihat wanita lain menggodaku.
Gumam Joe.
Di langkahkannya kakinya pergi dari sana, setibanya di depan pintu kamar yang lainnya. Joe pun memegang handle pintu, membukanya dan segera masuk kedalam.
Hai! Hai! Hari ini kita bertemu lagi dengan Joe dan Tania. Hmm, bagaimana sikap kalian kalau berada di posisi Joe. Apa yang akan kalian lakukan? Nafsu menggebu namun tersalurkan. Hahahaha, pasti sakit sekali kan rasanya. Maka dari itu, jangan contoh sifat Joe ya.^^
Nb. Jangan lupa Like dan Komen di setiab Bab nya. Agar Ra juga lebih bersemangat mengupdate setiap harinya.
Mampir juga ke karya Ra yang lainnya ya.
1. Ternyat ini Cinta
2. Pengantin yang tak Dirindukan
3. Pengantin yang tak Dirindukan (2)
Happy reading! Terimakasih^^
Tbc.