
Di tepi jalan. Terlihat, sesosok gadis cantik berjalan menuju kearah salah satu gerobak sate yang berada diujung sana. Masih mengenakan pakaian kantornya. Gadis itu terlihat sangat bersemangat, ketika sudah sampai di depan gerobak sate yang menjadi incarannya.
“Pak, pesan satu ya!” seru, Wulan, kepada si Bapak penjual sate.
“Pedes, Non?” tanya Bapak penjual.
Terlihat, Wulan, sedang berpikir. Lalu, sesaat kemudian— “Pedes deh, Pak!”
Si Bapak mengangguk mengerti. Dan, kini ia pun mulai meracik seporsi sate yang dipesan.
Wulan, kini tampak duduk di sebuah bangku yang tersedia di sana. Kakinya ia selonjorkan, di bawah meja yang ada di depannya.
“Hmm… akhirnya bisa bersantai juga, setelah lelah bekerja seharian,” seulas senyum tampak terlukis di sudut bibirnya.
“Pak! Pesan satu ya, makan di sini!”
Terdengar, suara seorang lelaki yang sama sekali tak asing baginya. Wulan, mengerutkan pandangannya. lalu sejenak, ia menoleh ke asal suara. Namun, kini ternyata sosok itu telah duduk tepat di sampingnya.
“Kau!” terlihat, kedua alis, Wulan, hampir menyatu. Menatap tak senang, kepada sosok yang ada di sampingnya.
“Hai…” sosok itu terlihat melambaikan tangannya, dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.
“Tuan Bayu, sedang apa anda di sini?!” tanya, Wulan, dengan kalimat formal.
Ya, pria itu adalah, Bayu. Si atasan berengsek, yang sama sekali tak disenangi, Wulan. Dengan memasang tampang tak berdosanya, pria itu lantas duduk tepat di samping, Wulan, sekarang.
“Ini, Non, silahkan!”
Bapak penjual sate, terlihat sudah menyajikan seporsi sate pesanannya.
“Aku, di sini juga sama sepertimu. Memesan seporsi sate, dan juga memakannya langsung di sini.” Garis senyum, Bayu, kembali mencuat.
“Ooo… begitu,” kepala, Wulan, terlihat mengangguk pelan.
“Sudah selesai,” garis senyum terlihat di bibirnya.
Wulan, kini meraih tasnya. Bangkit dari duduknya, serta mengambil tas yang diletakkan di meja.
“Kau, mau kemana?” tanya, Bayu.
“Mau pulang,” kedua alisnya terlihat naik keatas.
“Kau, pulang setelah pesananku datang, berani sekali ya.” kalimat, Bayu, terlihat menekan.
“Aku telah menghabiskan punyaku. Urusan pesananmu, apakah aku yang memintanya?” tanya Wulan. “Lagipula, aku juga tidak pernah mengundangmu untuk duduk di sini. Jadi, itu terserah aku mau pulang kapan saja.” Wulan, memasang wajah yang cukup menjengkelkan. Membuat, Bayu, seakan naik darah dibuatnya.
“Tuan Bayu, silahkan nikmati makananmu. Aku, Wulan, pamit pergi dulu,” tersungging senyum mengejek dari sudut bibirnya. Kemudian, setelah membayar sate yang telah habis disantapnya. Gadis itupun melenggang, tanpa
melihat lagi ke belakang.
Bayu mengerutkan dahinya. Menatap, Wulan, yang pergi meninggalkannya. Hatinya terasa begitu panas. akan sikap yang ditunjukkan, Wulan. Bayu, mengepalkan tangannya, dengan segenap rasa jengkel yang menyilimuti hatinya.
Di sebuah kontrakan sempit yang terletak tak jauh dari sebuah university tempatnya mengemban ilmu dahulu. Terlihat, sosok, Wulan, barusaja keluar dari kamar mandi. Rambutnya, terlihat basah dengan sebuah jubah handuk yang menempel di badan. Wulan, berjalan memasuki kamarnya seraya menyapukan rambutnya, menggunakan handuk kecil yang ada di tangan.
Handuk kecil tadi kini sudah dililit di kepala. Menutupi rambutnya yang masih basah. Wulan, lantas menanggalkan jubah handuk yang melekat di badan. Lalu kini, gadis itupun memakai set piyama berlengan panjang miliknya.
“Haaaaahh!”
Wulan, melemparkan dirinya keatas tempat ternyamannya. Sebuah kasur yang tak terlalu empuk. Yang, beberapa tahun ini telah menjadi tempat sandarannya, sandaran untuk melepas penatnya. Wulan, merebahkan diri di sana.
Dilihatnya, ke arah jarum jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 21:55 malam. Sudah cukup larut, dan sudah waktunya untuk tidur. Karena besok masih banyak agenda yang akan menantinya.
“Seharusnya, aku sudah tidur sedari tadi,” tatapan, Wulan, terlihat kesal. “Ini, semua karena si, Bayu, berengsek. Gara-gara dia, hari ini aku pulang malam, dan juga hanya makan sate saja di jalan,” sungut, Wulan, dengan raut wajah kesal.
Wulan, pun akhirnya memejamkan matanya, beristirahat untuk menyongsong hari esok.