
Malam itu suasana sangatlah ramai. Banyak sekali tamu yang hadir mememeriahkan ulang tahun perusahaan Vydrick. Perusahaan Vydrick yang sangat terkenal itu, setara popularitas nya denga perusahaan Alexandre itu
menjadikan acara malam ini bukan hanya sekedar rayaan ulang tahun biasa.
Banyak orang yang datang ke sana karena ingin menjalin hubungan yang bagus dengan perusahaan tersebut, dengan harapan kelak bisa menjadi relasi bisnis ke depan.
Tentunya itu bukanlah hal yang mudah, mengingat bagaimana susahnya perusahaan itu untuk di dekati. Tak peduli itu dari kalangan perusahaan yang mana, atas, bawah, jika selama itu tidak memenuhi persyaratan yang diajukan serta lulus seleksi yang ditentukan maka tidak akan ada jalinan kerjasama dengan mereka.
Jika saja sebuah perusahaan kecil berhasil menjalin hubungan kerjasama itu, maka nama perusahaan itu akan langsung melejit naik ke atas. Hal itulah yang kini sangat diincar dari para petinggi yang hadir di sana. Mereka
berharap bisa bersanding dengan perusahaan Vydrick, agar nama perusahaan mereka bisa meroket naik ke atas serta di segani di perusahaan-perusahaan yang lainnya.
Di luar…
Tania dan Joe baru saja turun dari mobil mewah nya. Tak lama berselang, ketika hendak melangkah masuk ke dalam gedung hotel berbintang lima itu sebuah taksi pun datang dengan menurunkan seorang gadis yang mengenakan gaun cantik dengan atasan terbuka. Kebetulan malam itu acara perayaan ulang tahun perusahaan Vydrick di rayakan di sebuah hotel berbintang yang ada di Ibukota.
Sekilas mata Tania melirik ke arah wanita yang baru saja turun itu. Sangat tidak asing, karena memang gadis itu adalah sahabatnya Wulan. Segera, Tania berbalik arah menghampiri Wulan yang baru saja selesai membayarkan ongkos taksi nya itu.
Taksi telah pergi meninggalkan Wulan, berganti Tania yang kini menghampiri.
“Wulan!” seru Tania.
Wanita itu kini bahkan sudah berdiri di hadapan Wulan.
“Wow! Kamu cantik sekali …” puji Tania.
Matanya membelalak, dengan sebelah tangan yang memegangi pipinya. Tania sangat terkesima mendapati sahabatnya itu yang ternyata jika berdandan seperti itu penampilannya tak kalah hits dari artis-artis terkenal.
“Nia, jangan mengejekku,” tersipu malu.
“Sumpah, malam ini kamu itu cantik banget. Aku aja sampai pangling tadi melihatnya, hampir nggak percaya jika itu adalah kamu, Wulan,” ucap Tania memuji.
Wulan tersenyum malu.
Ya, selama ini Wulan memang jarang sekali berdandan, apalagi memakai pakaian mewah seperti itu. Ini kali pertama ia mengenakan gaun yang berkelas. Biasanya gadis itu hanya memakai pakaian seadanya, ada pun gaun yang dipakainya saat acara resepsi pernikahan Tania, itu pun di beli nya dengan harga yang tak lebih dari tiga ratus ribu rupiah, yang baginya harga segitu sudah sangat mahal. Kondisi keuangan yang sangat sempit mengharuskan Wulan berhemat.
“Nia, nggak apa-apa aku ikut bersama kalian?” tanya Wulan.
Jujur saja, ia sedikit ragu. Mengingat jika di acara-acara seperti ini, bukankah satu undangan hanya membolehkan masuk dua orang, yaitu berpasang-pasangan.
“Kenapa tidak, aku mengajakmu. Tentu saja kamu harus masuk,” kata Tania.
Di sela-sela pembicaraan keduanya, sebuah mobil kembali terlihat di sana. Mobil yang di mata Wulan sama sekali tak asing, hingga ia berpikir…
Bayu, apakah itu mobil Bayu?
Benar saja seperti dugaannya. Saat pintu depan mobil itu terbuka, terlihat sesosok lelaki dengan memakai jas berwarna hitam turun dari sana. Lelaki itu adalah Bayu, si atasan yang selalu menindasnya dahulu.
Ya Tuhan … kenapa aku harus bertemu dengannya di sini.
Batin Wulan.
“Nia, aku pulang saja ya,” kata Wulan.
Sepertinya, kehadiran Bayu di sana membuat Wulan merasa tak nyaman.
“Kenapa? kamu itu udah janji loh sama aku, akan nemenin aku di acara ini.”
“Tapi Nia, aku….”
“Wulan,”
Belum sempat lagi Wulan menghabiskan ucapannya. Sebuah sapaan dari seorang lelaki membuat Wulan harus menghentikan kalimatnya.
“Wulan, ternyata benar itu kau,” lagi pria itu berkata.
Wulan hanya tersenyum sembari menjawab, “Ya.”
“Aku yang mengajaknya ke sini,” sambut Tania.
“Hai Tania … apa kabar,” mata Bayu teralihkan.
Keberadaan Tania, sama sekali terlihat sebeumnya. Karena Bayu yang terlalu fokus memperhatikan Wulan yang ternyata juga hadis di sana.
“Kalian kenapa lama sekali,” Joe datang menghampiri.
“Acara sudah di mulai, dan kalian masih asik berbincang di sini.”
“Sayang, ayo kita masuk!” tangan Joe sudah menggenggam.
Tania mengangguk, menuruti apa yang Joe katakan. Tapi, sebelum pergi dari sana ia terlebih dulu menyampaikan sesuatu kepada Wulan.
“Wulan, karena syarat masuk satu undangan dua orang. Maka aku akan masuk bersama Joe, sedangkan kamu pergi bersama Bayu, ya.” ujar Tania. “Nanti sesampainya di dalam, kita bertemu lagi oke!” sambung Tania ceria dengan sebelah mata yang dikedipkan.
“Tapi Nia, aku …”
“Nggak ada tapi-tapian, pokoknya kamu harus masuk!” tekan Tania.
Akhirnya Wulan pun masuk bersama Bayu. sedikit canggung rasanya, tapi mau bagaimana lagi karena tak ada pilihan lain selain itu. Daripada membuat Tania kecewa, ya … jadi masuk sajalah.
______
Waahh … megah sekali.
Dua buah manik mata hitam tampak mengerling ke sekitar, melirik ke sana-sini memperhatikan setiap sudut yang ada.
Ternyata perayaan ulang tahun sebuah perusahaan besar seperti ini, sangat mewah layaknya resepsi pernikahan selebriti saja.
Batin Wulan.
Hatinya sangat takjub dengan kemegahan yang ada di depan mata. Rasanya, bisa masuk ke dalam salah satu kerumunan orang-orang berdasi yang ada di sini bagaikan sebuah keberkahan dalam hidupnya. Ini pertama kali
bagi Wulan hadir dalam acara penting seperti ini, dan bahkan sepertinya ini juga akan menjadi kali terakhirnya, mengingat tak ada orang-orang penting yang dikenal. Terlebih statusnya yang sekarang adalah seorang pelayan Caffe.
“Tapi … Tania di mana ya?” lirih Wulan dengan nada bertanya.
“Itu,” sahut pria yang sedari tadi berjalan di samping nya.
Bayu menunjuk ke arah salah satu sudut yang ada di sana, memperlihatkan Tania yang saat ini sedang bercengkrama dengan salah satu wanita. Sepertinya wanita itu adalah istri dari pria yang berada di depan Joe.
Dia terlihat sedang sibuk sekarang. Sebaiknya aku cari tempat dulu untuk duduk, menunggu Tania selesai menyapa wanita dari pria itu.
Batin Wulan.
Seolah selaras dengan apa yang dipikirkan Wulan, Bayu mengajak Wulan untuk duduk di salah satu meja bundar yang berada tak jauh dari mereka. Wulan pun mengangguk mengikuti, meskipun sebenarnya sedikit canggung.
Tapi ya mau bagaimana lagi, berjalan ataupun duduk sendiri rasanya tak mungkin.
Dua gelas minuman kini sudah berada di atas meja, berikut dua porsi dessert juga sudah disajikan. Di sana semua tamu dilayani dengan sangat baik, apa yang di mau semua pelayan yang mengambilkan. Maka dari itu, tak heran jika saat ini banyak orang-orang berseragam lalu-lalang di sana, yaitu para pelayan yang bertugas.
Sudah hampir lima belas menit mereka duduk di sana. Minuman di gelas pun sudah hampir habis, tinggal sedikit sekitar satu tegukan saja. Tapi, Tania belum juga menghampiri. Masih sibuk bertergur sapa dengan para kolega.
Jika tau begini, bagusnya tadi aku tidak usah datang.
Keluh Wulan dengan wajah yang kusut.
Di acuhkan oleh sahabatnya sendiri, serta duduk semeja dengan Bayu membuat Wulan semakin badmood. Rasanya, ingin sekali ia pergi dari sana sekarang juga, merebahkan tubuh nya di atas kasur usang miliknya. Pasti
akan sangat nyaman sekali rasanya.
Aah … kasur ku … aku sangat merindukanmu sekarang.
“Wulan.”
Khayalan nya seketka hilang, saat seseorang menyebut namanya.
“Hmm.”
Ternyata itu Bayu yang memanggil.
Sedari tadi duduk di sana, mereka berdua tak berbicara sepatah kata pun. Hanya duduk, diam dengan sesekali menatap.
“Wulan, kau terlihat sangat cantik malam ini.”
Deg!
“Apa!”
TBC.