CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 155


Di teras samping rumah. Terdapat sebuah kolam ikan dengan keberadaan air mancur di tengah-tengah. Sepasang pohon beringin juga terlihat tumbuh bersama di sana. Rindang, membuat sepoi-sepoi udara  berhembus kearah mengenai kulit Tania.


Sejuk, segar, layaknya hamparan udara di pedesaan. Meski pun tak sama, namun hal itu sudah mampu membuat Tania merasa nyaman.


Joe, sengaja mendesain halaman teras samping rumahnya dengan begitu asri. Keramaian Ibukota, dengan hiruk-pikuk kepadatan penduduk. Membuat Joe menginginkan suatu kedamaian saat tiba di kediamannya. Suasana alam, yang tak bisa di rasa saat sedang ada di jalan. Kini, mampu di capai ketika sudah dirumah.


Di salah satu kursi yang terdapat di samping pintu. Tania duduk, seraya menyilakan kaki. Pandangan matanya terlihat lurus kedepan, menatap pohon-pohon rindang yang tumbuh di sana. Raut kesedihan masih terpancar, kalimat itu masih terngiang-ngiang hingga sekarang.


“Nona,”


Seorang wanita muda kini sudah berdiri tepat di samping Tania. Entah sejak kapan. Yang pasti, hal itu berhasil mengejutkannya.


“Tuti?” Tania menoleh, dan melihat ternyata Tuti yang berdiri di sampingnya.


Tuti menarik garis bibirnya, memancarkan senyum manisnya. “Nona, Tuan sedang menunggu anda di meja makan.”


“Aku belum lapar!” Tania kembali menatap lurus kedepan. “Katakan, padanya untuk makanlah terlebih dulu.” titah Tania.


Tuti mengerutkan dahinya. Ia merasa ada yang aneh dengan Tania hari ini. Biasanya, setiap pagi. Di meja makan, Tania lah orang pertama yang paling bersemangat. Apalagi dalam hal melayani Joe. Belum pernah sekalipun Tuti melihat, Tania absen dalam tugasnya.


Seribu pertanyaan kini tertanam di benak Tuti. Akan kesan yang di tunjukkan Tania pagi ini. Tapi, yasudahlah, toh ia hanya seorang pelayan saja di rumah itu. Tidak pantas baginya jika terlalu ingin tau tentang urusan pribadi majikannya.


Setelah menganggukkan kepala. Tuti, lantas membalikkan badan dan pergi masuk kedalam.


Di meja makan.


Terlihat, Joe duduk dengan wajah suram. Tatapan matanya terlihat dingin, dengan raut wajah yang seolah menunjukkan kebimbangan. Setelah Joe tau jika Tania sedang duduk di teras samping rumah dari Mirna. Ingin rasanya kaki itu segera berpijak kesana. Namun, entah mengapa, langkahnya tiba-tiba berat. Membuatnya, membatalkan niat itu dan beralih pergi ke ruang makan.


Di ujung sana. Terlihat seorang pelayan wanita yang barusan di perintahkannya untuk memanggil Tania telah kembali. Joe, mengerlingkan pandangannya sekejap. Namun, ia tak menemukan ada Tania bersamanya.


“Mana dia!!?”


Belum lagi Tuti tiba di depan Joe. Suara Joe tiba-tiba saja menggema memenuhi ruang makan. Tuti tersentak kaget, tubuhnya tiba-tiba jadi gemetar saat mendengar suara Joe yang terdengar marah. Ini, kali pertama Tuti melihat Tuan muda nya itu marah didepannya.


“No-nona, ma-masih di teras samping Tuan.” tubuh Tuti yang gemetar, membuat suaranya pun terbata-bata.


Joe menatap kearah Tuti. Melihat tubuh gadis kecil itu gemetar, membuat Joe perlahan menghela nafas.


“Kenapa dia tidak ikut denganmu? Apa kau tidak bilang, jika aku sudah menunggunya di sini?” kali ini Joe bertanya dengan suara datar.


“Ka-kata Nona, dia tidak tidak lapr. D-dan, menyuruh Tuan untuk makan terlebih dulu.”


 Meskipun suara Joe sudah tidak semenakutkan tadi. Namun, aura dingin yang di pancarkan Joe membuat Tuti masih belum bisa menghilangkan rasa takutnya. Tubuhnya masih saja gemetar.


“Hmm, sudahlah. Sekarang, kau lanjutkan pekerjaanmu.” tak tega melihat reaksi takut yang di tunjukkan Tuti. Joe pun akhirnya menyuruh Tuti untuk meninggalkan tempat itu.


Ya Tuhan… ternyata, orang tampan juga bisa berubah menjadi begitu menyeramkan ketika sedang marah.


Batin Tuti.


“Fiuuuhh!”


Gadis itu lantas menghela nafas panjang, mengusap pelan dadanya seraya pergi meninggalkan tempat itu.


Hati mulai terasa panas, saat mendengar sang kekasih hati menolak ajakannya untuk menyantap sarapan seperti biasa. Hal itu, membuat Joe berang, panas hati tak terima dengan sikap yang di tunjukkan Tania.


Emosi kian memuncak di kepala, terasa penuh hingga seakan ingin meledak sekarang. Hal itu membuat Joe tak tahan, lalu kini pergi meninggalkan ruangan itu.


Pagi itu berlalu begitu saja. Tanpa makan, ataupun canda tawa seperti biasa. Perut Joe terasa kenyang, karena emosi Tania tak mengindahkannya.


**


Sedari tadi, Bayu terus memperhatikan Joe yang terlihat resah. Linglung, seakan tak tentu arah. Apa yang dilihatnya semua terasa salah. Tak ada yang benar. Berulang kali, kalimat-kalimat menyudutkan begitu saja terlontar, seolah sengaja melimpahkan beratnya kekesalan yang tengah mengganjal hati.


Bayu merasa kasihan kepada beberapa karyawan yang mendapat amukan Joe hari ini. Sehingga kini, pria itu


merasa perlu untuk menanyakan sesuatu, menyangkut dengan suasana hati Joe yang tiba-tiba saja buruk hari ini.


“Joe, kau kenapa?” tanya Bayu.


Joe, hanya diam tak menjawab. Pria itu, memilih tak menggubris pertanyaan Bayu dengan terus fokus menatap


layar laptopnya.


“Nggak usah sok sibuk.” Bayu bangkit dari duduknya. kemudian, ia pun menutup laptop yang membuat Joe tak merespon pertanyaannya.


“Kau!” Joe mendelikkan mata. Sikap Bayu membuatnya naik pitam, sehingga kini Joe pun bangkit dari kursinya,


melangkah menghampiri Bayu. “Apa maumu hah!?”


“Wuiss… santai bro.” Bayu bangkit dari duduknya. “Semua masalah tidak bisa di selesaikan dengan amarah, kau harus tau itu.” tuturnya kini sambil memegang bahu Joe.


“Sana pergi! Jangan sok memberikan nasihat!” Joe menepis tanga Bayu yang menempel di bahunya.


“Bukan seperti itu maksudku Bro!” Bayu kembali memegang bahu Joe. “Aku hanya ingin mengingatkan, jika memang ada sebuah masalah. Lebih baik di bicarakan baik-baik.” sampainya kini.


Joe kemudian membalikkan badan, lalu berjalan kearah sofa. Setibanya di sana, ia pun lantas menghempaskan diri


kesana.


Berulang kali, Joe terlihat menarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar. Meresapi kalimat terakhir Bayu yang barusaja terlontar. Mungkin kalimat Bayu ada benarnya juga, bicarakan baik-baik semoga saja semuanya kembali menjadi baik.


“Sebenarnya kau ada masalah apa?” Bayu kini juga sudah menapaki bokongnya di sofa empuk yang sama di samping Joe.


Joe, diam tak menjawab.


“Menceritakan suatu masalah, bisa menghilangkan sedikit beban yang ada di hati loh.” tutur Bayu yang kini sudah


menyandarkan tubuhnya dengan santai.


“Apa kau bisa memberikan solusi untuk masalahku?” tatap Joe dingin.


“Jika belum dengar,  mana bisa aku menjawabnya ya atau tidak!” menjawab pertanyaan Joe seraya mengangkat kedua bahunya.


Joe kembali menghela nafasnya dengan kasar.


“Baiklah, akan ku ceritakan. Tapi, jika kau tak mampu memberikan solusi yang terbaik. Maka, selama satu bulan penuh kau harus bekerja lembur tanpa cuti!” ancam Joe.


“Apa! Mana bisa!” Bayu menolak. “Niat hatiku baik, berusaha membuat agar hatimu merasa sedikit tenang, tapi kau


malah mengancamku seperti ini.” jelas Bayu dengan penolakannya.


“Ya, sudah, kalau begitu. Sekarang kau keluar darisini dan urus pekerjaanmu sendiri!” sentak Joe.


Bayu ingin bangkit, beranjak darisana. Namun, melihat raut wajah Joe yang kian suram. hatinya seolah tak tega, dan mengharuskannya untuk menerima semuanya.


“Baiklah-baiklah, aku terima. Jika aku tak bisa memberikan yang terbaik untukmu, maka aku bersedia lembur sebulan penuh tanpa cuti. Tapi, kau harus memberikanku tiga kali kesempatan, dan kau wajib mendengarkan setiap saran yang ku berikan.” tutur Bayu.


Joe mengangguk pelan. Ia menyetujui permintaan Bayu padanya. Kini, Joe pun menceritakan semuanya.


TBC.