
Pagi itu, Angeline, mengajak Kalisna, untuk berangkat semobil dengannya. Namun, Kalisna menolak karena tak ingin merepotkan Angeline. Lagipula, sepulangnya dari rumah sakit, Kalisna ingin pergi berkunjung ke rumah
kerabatnya.
Angeline tersenyum, faham dengan apa yang di katakan Kalisna. Tak ingin mendapatkan kesan memaksa darinya. Akhirnya, Angeline pun pergi dengan mobilnya sendiri tanpa bisa semobil dengan Kalisna. Di sepanjang perjalanan,
tak henti-hentinya Angeline memikirkan tentang Tania.
Ada apa dengannya? Sakit apa dia? Mungkinkah sakit parah?. Pertanyaan beruntun itu mengalir di benaknya. Lalu kini terlihat garis senyum di bibirnya, saat membayangkan sesuatu yang buruk terjadi terhadap Tania.
“Haha, semoga saja wanita hina itu sakit parah.” lirih Angeline sembari tertawa.
Dirumah sakit.
Tania duduk seraya menyandarkan tubuhnya. Dua mangkuk bubur ayam sudah habis di santapnya. Joe, geleng-geleng kepala di buatnya. Tak habis fikir dengan selera makan Tania yang tiba-tiba saja menjadi dua kali lipat. Jika
biasanya orang sakit makannya sedikit, lain hal nya dengan Tania. Nafsu makan wanita itu malah meningkat dua kali lipat dari biasanya.
“Apa kau sudah kenyang sekarang?” tatap Joe kearah Tania.
Tania menghembuskan nafas dengan lega. “Alhamdulillah, sudah.” mulai menyilakan kedua kakinya di sana.
“Kau, santai sekali.” mata Joe reflex memperhatikan posisi duduk Tania yang baru saja di ubahnya.
“Harus santai, dong. Mana boleh tegang, Ibu hamil itu harus lebih rileks.” jawab Tania.
“Hmm, darimana kau tau?”
“Aku pernah membaca buku tentang Ibu hamil. Makanya, jadi sedikit faham tentang kehamilan.”
“Ooo,” Joe mengangguk-anggukkan kepalanya.
Membuat Tania terkekeh kecil melihatnya. Saat Joe menganggukkan kepalanya. Tania merasa, Joe seperti anak kecil yang baru saja tau tentang beberapa ilmu dari gurunya.
Sementara itu, Joe yang sadar akan kekehan Tania yang mengarah kepadanya. Kini, menatap wanitanya itu dengan mengerutkan dahinya. “Kenapa kau terkekeh seperti itu?”
Tania mengatupkan kedua tangannya. “Lucu melihatmu seperti itu.”
“Lucu?” Joe semakin bingung di buatnya.
“Ya,” Tania menganggukkan pelan. “Kau terlihat lucu saat mengangguk seperti tadi. Seorang Presdir playboy, ternyata bisa mempunyai ekspresi seperti itu.” Kata Tania kini.
Joe, tersenyum. Lalu kini pria itu memegang lembut tangan Tania. “Semua ini, hanya di depanmu.” Joe menatap Tania mesra.
“Ih, gombal.” Tania mengulas senyuman, lalu kini ia menoyor kepala Joe dengan pelan.
Di tengah-tengah pembicaraan mereka. Tiba-tiba saja pintu terbuka. Joe, dan Tania menoleh kearah pintu kamar, dan melihat Kalisna masuk yang kemudian di susul kedatangan Angeline. Tania, seketika mengerutkan pandangannya saat melihat kehadiran Angeline di sana. Entah mengapa, perutnya juga mual seketika saat Angeline semakin dekat kearahnya.
“Hai, Joe. Hai, Tania.” Kalisna kini sudah berdiri di samping Joenathan yang tengah duduk di samping ranjang Tania.
Joe, mengulas senyuman. Begitupula dengan Tania, wanita itu menahan mualnya demi tetap menyunggingkan senyumnya di depan Kalisna. “Hai, Ma.” jawab Joe dan Tania bersamaan.
“Bagaimana keadaanmu, sudah baikan?” tanya Kalisna menatap khawatir kearah Tania.
Saat ingin menjawab pertanyaan yang di lontarkan Ibu mertuanya. Angelin semakin mendekat kearah Tania. mencium aroma parfum yang di gunakannya, entah mengapa Tania semakin tak tahan menahan mualnya. Hingga akhirnya,
“Hooeek!”
Tania mengatup mulutnya dengan sebelah tangannya. Tak tahan, kini ia pun memegang bahu Joe yang ada di sebelahnya sambil berkata, “Joe, antarkan aku sekarang ke kamar mandi.” lirihnya pelan.
membawanya masuk kedalam kamar mandi yang ada di ruangan itu.
Sial! Bisa-bisanya gadis kampung itu bertingkah seperti itu saat melihatku.
Gerutu Angeline dalam hati.
Sementara itu di kamar mandi.
“Hooek! Hooeek!” Tania memuntahkan semua makanan yang di santapnya pagi itu. Membuatnya badannya lemas, dan kembali tak berdaya.
Joe, terlihat setia berdiri di sampingnya sambil memijat lembut pundaknya. Berharap bisa membuat sedikit kenyamanan untuk Tania.
Tania, menarik nafasnya pelan-pelan, lalu kemudian di buangnya perlahan. Tania, berusaha mengembalikan kembali tenaganya yang terkuras habis saat itu. Lalu kini, setelah merasa cukup lega. Tania lalu memegang bahu Joe sambil berucap, “Joe, bisakah kau meminta Angeline menjauh dariku? Entah mengapa, mencium wangi parfum yang di pakainya. Perutku seketika mual dan tak bisa menahannya.”
Joe mengangguk. “Baiklah.”
Setelah merasa lega, dan membersihkan sisa muntahan yang ada di pinggir mulutnya. Tania kini melangkah masuk kedalam bersamaan dengan Joe yang memapahnya. Joe, kemudian membaringkan Tania di tempat peristirahatannya.
Melihat Tania yang sudah kembali berbaring di ranjangnya. Membuat Kalisna yang saat itu duduk di sofa, kemudian bangkit dan menuju kearahnya. Terlihat tatapan khawatir dari matanya.
“Tania, bagaimana perasaanmu sekarang?” Kalisna menarik kursi yang ingin di duduki Joe, lalu duduk di sana.
Melihat kursinya di ambil. Joe hanyan menatap, tanpa menyela. Ya, walau bagaimanapun itu Ibunya, yang saat ini tengah khawatir dengan keadaan menantunya.
“Sudah Ma.” Tania mengangguk pelan.
“Joe, ini semua karenamu.” Kalisna menatap kearah Joe dengan tatapan kesal.
“Salahku?” tanya Joe bingung.
“Ya, salahmu karena tak bisa menjaga menantuku, dan juga calon cucuku dengan baik.” Kalisna kini mulai mengusap lembut perut Tania.
Cucu? Apa yang di maksud dengan cucu? Mungkinkah Tania sedang hamil sekarang?
Seketika, pertanyaan berdert-deret tersebut melintas di benak Angeline. Tak ingin di rundung rasa penasaran, Angeline pun kini memutuskan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kearah pembaringan Tania, untuk memastikan sendiri kebenarannya.
Joe melihatnya. Pria itu kemudian berjalan mendekati Angeline, sebelum gadis itu tiba di pembaringan Tania. “Tunggu.” menghadang dengan sebelah tangannya.
Angeline berhenti, dan kini menatap kearah Joe. “Ada apa Joe?”
Joe, tak menjawab. Pria itu malah mengendus wangi parfum yang melekat di tubuh Angeline. Lalu kini, “Pergi, sana keluar. Wangimu terlalu menyegat untuk Tania.” usir Joe.
“Apa maksudmu?” Angeline semakin menatap bingung kearah Joe.
“Apa, kau belum mengerti. Tania sedang hamil sekarang. Mencium aromamu yang seperti ini, membuatnya mual dan bahkan muntah seperti tadi.” suara Joe terdengar sedikit kasar.
“Aku memakai parfum yang seperti biasanya. Biasanya, Tania juga tidak bermasalah dengan itu.” Angeline, berusaha tetap berdiri di tempatnya.
“Itu dulu. Tapi sekarang, Tania sedang mengandung. Aroma parfummu membuat perasaannya sangat tidak nyaman.” tegas Joe.
“Tapi, Joe—“
“Angel, sudahlah. Ikuti saja apa yang di katakan Joe. Kamu jangan tersinggung, ini biasa terjadi pada wanita yang tengah hamil muda. Kamu lihat kan tadi, Tania mual dan seketika muntah saat kamu berjalan mendekatinya. Mungkin saja itu karena wangi parfummu yang terlalu menyengat, sehingga membuatnya tidak nyaman. Jadi tolong, tunggulah di luar.” timpal Kalisna dengan meminta Angeline pergi dengan hormat.
Tak bisa berkata-kata. Angeline kini hanya bisa patuh dengan apa yang di ucapkan Kalisna. Mengalah, agar tak memberikan kesan buruk di mata Kalisna, terhadapnya. “Baiklah, kalau begitu, Angel tunggu Tante di luar.” terpaksa, Angeline mengulas senyuman. Lalu kini pergi berbalik, melangkahkan kaki menuju kearah pintu, dan keluar dari tempat itu.
TBC.