CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 188


Tania terlihat tersenyum, tertawa penuh kegembiraan. Berlari kesana-sini menyusuri hamparan buliran pasir putih yang terbentang luas di sana. Gelombang kecil yang sesekali naik ke bibir pantai membuat Tania semakin bersemangat bermain-main dengan air di sana.


Tania, memegang sebuah ranting di tangannya. Membuat sebuah lingkaran, berbentuk hati. Namanya, dan juga Joenathan ia lingkarkan disana, didalam lingkaran hati yang barusaja ia gariskan.


Joenathan datang menghampiri merengkuh pinggangnya dari belakang. “Sayangku, kau sedang apa?”


“Itu, lihat saja sendiri,” Tania menunjuk kearah lingkaran yang barusaja dibuatnya.


“Kau, menggambar hati dan mengisi nama kita di sana. Hmm… manis sekali,” tangan Joe terlihat menyibak rambut Tania, menyimpannya di belakang telinga.


“Semoga perasaan ini selalu bertaut satu sama lain ya, menyatu hingga akhir ajal menjemput,” tukas Tania.


“Dan, jika itu terjadi. Aku berharap ajal kita akan datang bersama-sama, sehingga aku tak perlu berduka atas kehilanganmu.” Sambut Joenathan.


Keduanya terlihat semakin dekat, dengan wajah yang sudah hampir tak berjarak. Joe, mengecup bibir Tania di sana, tepat di bibir pantai. Menjadikan, suasana sore itu terlihat begitu romantis dengan adegan mesra dari mereka berdua.


Bayu memang sangat bisa diandalkan. Karena pantai yang mereka kunjungi saat ini tidaklah ramai. Masih begitu asri, karena tak banyak yang tau. Entah darimana Bayu mendapatkan info tentang pantai itu. Hingga membuat hari itu menjadi salah satu momen paling berkesan bagi sepasang suami istri itu.


Dari kejauhan, terlihat Wulan yang tampak memperhatikan dengan seksama momen-momen romantis antara Tania dan Joenathan. Matanya terlihat tak berkedip, saat menyaksikan Joenathan dan Tania yang sedang berciuman.


Angannya melayang, berandai-andai kapan ia sendiri akan menemukan pasangannya. Pria yang bisa mencintainya dengan sangat tulus, setulus cinta Joenathan kepada Tania. Yang dapat membuang semua masa buruknya demi Tania. memanjakannya, dengan penuh kasih dan sayang.


Bibir Wulan tersenyum, dengan kedua tangan yang memangku wajahnya. Berharap, jodohnya juga akan segera


tiba. Seorang pangeran berkuda akan segera datang menjemputnya, membawanya menuju kepelaminan.


Iri sekali rasanya melihat adegan keromantisan itu. Ingin juga memalukan hal yang sama. Namun, dengan siapa? Rasanya begitu sakit menjadi jomblo di tengah keromantisan sahabatnya.


“Aaa… ingin sekali rasanya punya pacar,” lirih Wulan.


Namun, jika menelisik ke belakang. Tentang hubungannya dahulu bersama ikram.


“Ah… jika mengingat hal itu. Rasanya, seumur hidup aku tidak ingin lagi dekat dengan seorang pria,” wajah Wulan kini tampak murung.


Kegelapan yang terdahulu, di khianati oleh orang yang terkasih. Yang sudah dengan rela memperjuangkan


segalanya, namun semuanya tak di anggap. Malah, ditinggal pergi dengan wanita lain. rasanya, hati ini masih sakit. Sakit sekali.


Wulan memegang dadanya, mengepalkan tangannya. masih tak terima dengan kejadian yang lalu. Dimana, Ikram meninggalkannya begitu saja. Pergi dengan kekasih barunya.


Terndengar, suara pertanyaan dari seseorang yang kemudian menghentakkannya dari lamunan.


“Tadi, awalnya kau tersenyum dengan bahagia. Namun sesaat kemudian, wajahmu berubah murung seolah-olah


barusaja mengingat pengalaman yang begitu menyakitkan,” Bayu kini sudah duduk di samping Wulan, memandang kearahnya.


“Bukan urusanmu!” ketus Wulan.


Sungguh, Wulan begitu malas melihat Bayu yang duduk di sana. hingga kini, ia pun memutuskan bangkit dari duduknya dan berniat pergi darisana.


“Kau, ingin pergi kemana?”


“Siapa kau yang berani menanyaiku?”


“Aku, atasanmu.”


“Atasan, itu di kantor bukan di sini!” tekan Wulan.


Wulan hendak melangkah. Namun, hal itu tak bisa ia lakukan. Karena kini Bayu telah menahan dirinya, dengan


menarik tangannya.


“Bay, lepaskan!”


“Tidak, sampai kau benar-benar akan duduk kembali di sini,” tukas Bayu.


Tak mengindahkan, Wulan kini malah berontak. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Bayu, agar


bisa segera pergi darisana. tapi, hal itu tak dapat ia lakukan. Karena kini Bayu semakin mempererat genggaman tangannya. bahkan, dengan sangat kuat Bayu menariknya hingga jatuh kedalam pelukannya.


Cup!


Sebuah ciuman kini mendarat di bibir Wulan yang membuat mata gadis itu seketika membelalak.


TBC.