CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 150


Pagi itu sinar mentari begitu terang menyinari bumi. Cerahnya cuaca begitu memacu semangat di pagi hari.


Di depan cermin. Terlihat Tania, yang sedang menyisir rambutnya. Seulas senyum begitu merekah di bibirnya mengingat bagaimana lembutnya Joe tadi malam.


Biasanya Joe, hanya mementingkan kenikmatannya saja. Tapi, tadi malam, Joe sangat mempertimbangkan kenyamanan Tania, dalam melakukan pergerakannya.


Tania selesai menyisir rambut tebalnya. Tania lantas mengambil sebagian atas, lalu mengikatnya. Sementara sebagian lagi, ia biarkan terurai ke bawah.


Hal sederhana itu ternyata membuat penampilan Tania terlihat begitu anggun. Tak lupa, sedikit kiptint Tania oleskan di bibirnya. Dan kini, setelah merasa cukup. Tania pun lantas beranjak dari kursinya.


Di atas pembaringan empuk milik mereka bersama. Terlihat, Joe masih tidur dengan sangat pulas. Menelungkupkan badannya saat tidur, adalah hal yang teramat sering Joe lakukan. Tania lalu naik keatas ranjang, duduk di sana sambil menatap Joe (suaminya).


Seulas senyuman kembali tersirat di bibirnya, tatkala melihat begitu banyak air liur yang mengalir di bantal.


“Hmm, joe, sudah sebesar ini kau masih saja tidur seperti ini. Dasar bocah tua.” Menggeleng pelan.


“Pantas saja, meskipun baru saja mengganti sprey dan sarung bantal. Keesokannya, baunya kembali tak enak.” Tania bergumam dalam duduknya.


Setelah memperhatikan bantal yang menopang kepala Joe. Kini, pandangan Tania mengalih ke tubuhnya yang setengah bertelanjang dada. Sementara sebagian ke bawah, di tutupi dengan selimut tebal. Joe, membalikkan posisi tidurnya, yang awal telungkup kini telentang dengan gaya yang sangat tenang. Sebelah tangan terletak diatas perut, sementara satunya dibiarkan begitu saja.


Gumpalan otot-otot yang ada di tubuh Joe, kini terpampang nyata di sana. Membuat Tania sulit untuk mengedipkan matanya. Hal itu karena, bagian depan tubuh Joe, adalah yang terfavorit bagi Tania.


“Uhum… gemes!”


Tania mengulum bibirnya. Otot-otot yang terlihat begitu menonjol membuatnya sangat ingin merabanya.


“Sedang tidur juga. Pegang sekali aja nggak apa-apa kan.”


Perlahan Tania mengulurkan tangannya, menyentuh kulit putih Joenathan. Sedikit menekan-nekan gumpalan daging yang terlihat menonjol di sana. Entah mengapa, hal itu membuat Tania ketagihan. Tak cuma sekali. Tapi kini, Tania kembali menekankan ujung jari tangannya kearah gumpalan menonjol yang lainnya.


Hal itu ternyata membangunkan Joe yang tengah terlelap. Merasa ada sesuatu yang lembut menekan tubuhnya, Joe pun lantas menangkapnya. Membuat Tania tersentak kaget di buatnya.


“Sayang, ternyata kau?”


Dengan cepat Tania menarik tangannya.


“Hmm, ternyata selama ini kau diam-diam mengagumi tubuhku ya?”


“Hah, ma-mana ada!” Tania mendelikkan matanya, lalu kini mengalihkan pandangannya.


“Jangan bohong. Bilang saja jika suka.”


Joe, kini menarik tangan Tania hingga jatuh ke pelukannya.


“Pengang saja lagi jika kau suka.” Bisik Joe lembut.


Joe kembali menempelkan tangan Tania di badannya. Membuat wajah Tania bersemu merah. Tak ingin, Joe menyadari hal itu. Tania pun lantas menarik tangannya lalu bangkit dari duduknya.


“Badanmu bau! Sana, pergi mandi!” usir Tania, yang kini beranjak pergi darisana.


***


Joe telah tiba di kantornya, tapi hari ini hanya sendiri saja. Tanpa Tania di sampingnya. Tanpa terasa setelah menggeluti begitu banyak pekerjaan yang telah menumpuk. Tiba akhirnya waktu makan siang.


Semua karyawan tampak sibuk membereskan lembaran kertas yang ada di meja. Lalu kini, setelah merapikan semuanya. Mereka pun berhamburan keluar menuju kearah kantin perusahaan.


Diruangan Joenathan.


Terlihat Joe yang telah rapi membereskan separuh dari pekerjaannya. Setelah menumpuk beberapa map yang telah selesai di kerjakannya. Joe, pun lantas bergegas pergi dari ruangannya.


Tak lupa, setelah keluar dari ruang kerjanya. Joe menutup kembali pintunya. Lalu, saat Joe membalikkan badan, terlihat seseorang sedang berdiri di hadapannya.


“Katty?” Joe mengernyitkan dahinya. Saat mendapati, mantan kekasih sekaligus partner bisnis nya itu sedang berdiri di hadapannya.


“Hai, Joe.” seulas senyuman tulus menggaris di bibir Katty.


“Sedang apa kau di sini?” tanya Joe yang masih mengeryitkan dahinya.


“Aku, sengaja menunggumu. Karena ingin mengajakmu makan siang.” jelas Katty.


Siang itu, Katty sengaja datang ke perusahaan Joe. Setelah mengetahui jika Tania tak menemai Joe ke kantor hari ini. Hal itu ia ketahui dari salah satu karyawan Joe yang menjadi mata-mata di sana. sengaja ia bayar, untuk selalu menginformasikan sesuatu yang terkait dengan Joe.


Katty pun lantas bergerak cepat, dengan segera menuntaskan perkerjaannya. Mengingat, momen ini sangat jarang terjadi. Biasanya, Tania selalu menempel kemana pun Joe pergi. Setelah menuntaskan pekerjaannya. Gadis itupun


lantas segera menuju ke perusahaan mantan kekasihnya (Joenathan).


“Untuk apa kau menungguku? Kurang kerjaan sekali.” ketus Joe.


Katty tak menggubris. Yang terpenting baginya saat ini adalah, bagaimana ia bisa meyakinkan Joe untuk mau menghabiskan waktu makan siang bersamanya.


“Joe, bukankah kita sudah sangat lama tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersama?” suara Katty terdengar begitu lembut.


Joe tak menjawab. Bahkan menoleh kearah lain. Membuat Katty, berusaha mengumpulkan berbagai macam siasat untuk mewujudkan keinginannya.


“Joe, please, aku sama sekali tak bermaksud buruk. Aku tau kau sudah beristri, dan aku juga sama sekali tak berniat untuk menggodamu. Aku hanya ingin menjalin menjalin sebuah pertemanan denganmu, tidak lebih.” jelas Katty.


Joe melirik kearah jarum jam tangannya. Berdiri di sana ternyata sudah menghabiskan waktu lima belas menit. Ia pun lantas menggerakkan kakinya pergi darisana.


“Joe!” Katty memanggil, wajahnya di pasang dengan begitu memelas.


Joe berhenti dan kembali menoleh.


“Bukankah kau ingin makan siang?” tanya dengan nada malas.


“Ya.” Katty mengangguk pelan.


“Yasudah, tunggu apalagi. Apa kau ingin menghabiskan makan siangmu di sini!” sentak Joe.


“Hah, ten-tentu saja tidak!” jawab Katty dengan cepat.


Lalu kini ia pun mengejar Joe yang berlalu, meninggalkannya.