
Di sebuah kamar, yang terlihat cukup megah. Terlihat seorang
pria muda dengan perawakan cukup tampan masuk dengan langkah yang sangat
tergesa-gesa. Aura kebencian, terpancar sangat kuat dari raut wajah nya.
Buk!
Dilemparnya kuat sebuah tas ransel yang tadinya melekat di
punggungnya, ke atas sebuah sofa yang ada di sana. Sementara, pria itu sendiri
kini menjatuhkan dirinya begitu saja ke atas ranjang empuk yang selama ini
telah menjadi tempat peristirahatannya.
“Sial!”
Pria itu mengumpat, memegangi dahinya yang kemudian
menjuruskan jemarinya menelusuri helaian bulu tebal yang tumbuh di permukaan
kulit kepala nya. Kevin, lantas mendengus kesal setelahnya.
“Dasar! Wanita sialan!” umpatnya lagi dengan nada yang kini
sudah menggema ke seluruh ruangan.
Ditatapnya langit-langit kamar yang mendominasi dengan warna
putih tersebut, membayangkan Katty yang saat ini berniat menggugurkan
kandungannya. Kevin mengeram kesal, dengan kedua tangan yang saat ini sudah
dikepalkan. Rasanya, ingin sekali ia menghajar wanita itu tadi. Tapi, apalah
daya hatinya seolah tak tega untuk melakukannya.
Pertemuan yang tak disengaja, hingga terjadinya hubungan
terlarang itu sungguh membuat Kevin awalnya ingin sedikit bermain-main dengan
Katty. Bagaimana tidak, selama ini belum ada satu wanita pun yang berani
menariknya seperti itu, menjadikannya sebagai pelampiasan dari hasrat yang tak tersalurkan. Sungguh hal itu menjadi
sebuah penghinaan yang tak dapat dengan mudah untuk dimaafkan.
Mula nya ingin sedikit menyiksa, membalaskan penghinaan yang
diterimanya dengan menjadikan Katty sebagai budaknya. Namun, belakangan seiring
berjalannya waktu perasaan itu perlahan tumbuh di dalam hatinya.
Perasaan sayang, ingin memiliki dan tak ingin berbagi,
apalagi melepaskan dan membiarkannya pergi dengan yang lain. Kevin, berniat
untuk mengunci Katty, mengikatnya dengan sebuah hubungan yang serius agar bisa
memilikinya seutuhnya.
Tatkala mendengar sebuah berita jikalau sang kekasih hati
yang saat ini mulai merajai hati, telah mengandung benih dari hasil buah cinta
yang selama ini di tanamnya, sungguh membuat perasaan seorang Kevin terasa
sangat bahagia. Rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Namun, sayang seribu sayang karena hal itu tak berlangsung
lama. Sosok wanita yang belakangan ini mulai dipujanya itu menghempaskan
segalanya, perasaan bahagia yang baru sesaat singgah di hati nya dengan sebuah
kalimat ‘menggugurkan’.
“Arrgghhh!”
Kalimat itu rasanya
bagaikan anak panah yang menusuk hatinya, menembus hingga ke punggung.
Bagaimana bisa, seorang wanita yang saat ini amat
dicintainya itu menyatakan hal yang begitu kejam, ingin membunuh anaknya
sendiri. Sungguh, hal itu membuat seorang Kevin frustrasi jadinya.
Di tengah kegundahan hati nya, tiba-tiba saja seseorang
masuk ke dalam kamar nya. Lamunannya seketika buyar saat derapan langkah kaki
yang ditimbulkan dari sepasang high hels yang dikenakan si pemilik nya.
Kevin, lantas mengalihkan pandangannya dan melihat sesosok
yang sama sekali tak asing di dalam hidup nya.
“Mama!” seru Kevin.
Sukmawati, atau yang kerap disapa dengan sebutan ‘Mama’ oleh
Kevin, saat ini terlihat berjalan mendekat ke arahnya. Hal itu tentu saja
membuat Kevin segera bangkit dari tidurnya, mengubah posisi telentangnya
menjadi duduk dengan sepasang kaki yang dijulurkan ke bawah.
“Ada, apa?” tanya Kevin.
Hal itu dikarenakan Sukma yang memang jarang sekali
mengunjunginya. Menemuinya, berbicara empat mata seperti sekarang.
“Mama hanya ingin melihatmu, sayang,” ujar Sukma dengan
sepasang garis senyum yang sengaja ia kembangkan.
“Tumben, ada perlu apa?” tanya Kevin langsung pada intinya.
Ya, hal itu dikarenakan hubungan diantara Ibu dan Anak itu
yang selama ini berjalan kurang harmonis disebabkan Sukma yang kurang
“Vin, kamu kok ketus gitu sih?”
“Selama ini bukankah Mama menemui Kevin jika ada perlunya
saja? Jadi, apa salah jika Kevin bertanya seperti itu kepada, Mama?” wajah
Kevin terlihat mengerutkan dahinya.
“Hmm … baiklah.”
Sukma menyerah dengan mengembuskan napas panjang. Baginya
terlalu banyak bicara akan membuat sepasang Ibu dan Anak itu bertengkar pada
akhirnya, sehingga kini ia pun memutuskan untuk mengungkapkan niatnya menemui
Kevin di sana.
“Vin, Mama datang ke sini karena ini menyampaikan sesuatu.
Besok, akan ada pertemuan di antara kedua keluarga besar dan kamu harus hadir
di sana,” ujar Sukma menyampaikan maksud kedatangannya.
“Hadir, untuk apa?” tanya Kevin.
“Papa mu ingin memperkenalkan seorang gadis, anak dari
sahabatnya kepadamu,” jelas Sukma.
“Seorang gadis? Haha … apa kalian pikir aku ini kekurangan
gadis di dalam hidup ku?” tanya Kevin dengan nada mencibir.
“Mama dan Papa tau jika selama ini kamu tidak kekurangan
satu wanita pun dalam hidupmu. Tapi, apakah mereka pantas denganmu? Bibit,
bebet, bobotnya semuanya tidak jelas. Papa mu sudah menyelidiki itu.”
“Pantas atau tidaknya, semua itu aku yang memutuskan. Mama
dan Papa tidak berhak mencampuri hal itu,” nada suara Kevin terlihat menekan.
“Kevin! Apa yang kamu katakan! Bagaimana bisa, kami tidak
punya ha katas hidupmu. Masa depanmu, Mama dan Papa berhak memutuskannya!”
emosi Sukma mulai melonjak, amarahnya tak tertahankan saat mendengar pernyataan
yang baru saja terlontar dari mulut Kevin.
“Aku, tidak peduli,” nada suara Kevin terdengar datar. Segera
ia bangkit dari duduknya, dan berlalu pergi ke arah kamar mandi, meninggalkan Sukma di sana.
Kevin Adelard, anak dari Mario Adelard. Sedari kecil pria
itu sudah kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hal itu dikarenakan Sukma
dan Mario yang terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mario yang
saat itu terlalu sibuk membangun kerajaan bisnis property nya, serta Sukma yang
juga sibuk menekuni bidang usaha busana yang saat ini telah berkembang dengan
sangat pesat, membuat keduanya tidak mempunyai sedikitpun waktu luang untuk
putra tunggalnya, yaitu Kevin Adelard.
Selama ini, Kevin selalu di temani para asisten rumah tangga
yang bekerja di rumah nya. Tidak ada hal yang bisa dilakukan, hanya makan,
menonton tv serta bermain bola sendirian di halaman belakang. Akhirnya setelah
beranjak dewasa, Kevin yang saat itu masih duduk di bangku SMA mulai
memberanikan dirinya untuk mencari kesenangan di dunia luar dan ternyata hal
itu tidaklah sulit karena statusnya sebagai anak dari seorang pengusaha
property yang cukup ternama. Semua orang datang mendekat, teman pria maupun
wanita semuanya datang menghampiri kala Kevin yang pada saat itu mulai membuka
diri. Mereka semuanya ingin berteman dengan Kevin.
Puncaknya adalah, saat Kevin telah lulus dari bangku SMA.
Pada saat acara perpisahan antara alumni SMA yang lulus dari sana, malam nya
Kevin tidak langsung pulang, malah pergi ke suatu tempat bersama teman-teman
lelakinya.
Di sana, ia dikejutkan oleh beberapa orang wanita dewasa
yang menyambut kedatangan mereka dengan berpakaian seksi. Kevin terbelalak
melihatnya, karena ini kali pertama baginya menyaksikan hal yang seperti itu.
Para wanita datang menghampiri, menyambut mereka dengan
menggandeng tangannya satu persatu, saling memilih pasangan seolah sudah diatur
sebelumnya. Awalnya, Kevin menganggap itu hanyalah sebuah keramah-tamahan
biasa.
Namun, saat ia melihat teman-temannya masuk kedalam kamar
yang berbeda bersama wanita yang masing-masing digandengnya, barulah disitu
Kevin sadar jika ini bukanlah hal yang biasa. Ternyata semua wanita ini telah
di sewa untuk menghabiskan malam bersama mereka.
Akhirnya malam itu Kevin polos pun tercemari, tercemar dalam
lingkup kehidupan bebas tanpa batas.
TBC.