CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 198


Di sebuah kamar, yang terlihat cukup megah. Terlihat seorang


pria muda dengan perawakan cukup tampan masuk dengan langkah yang sangat


tergesa-gesa. Aura kebencian, terpancar sangat kuat dari raut wajah nya.


Buk!


Dilemparnya kuat sebuah tas ransel yang tadinya melekat di


punggungnya, ke atas sebuah sofa yang ada di sana. Sementara, pria itu sendiri


kini menjatuhkan dirinya begitu saja ke atas ranjang empuk yang selama ini


telah menjadi tempat peristirahatannya.


“Sial!”


Pria itu mengumpat, memegangi dahinya yang kemudian


menjuruskan jemarinya menelusuri helaian bulu tebal yang tumbuh di permukaan


kulit kepala nya. Kevin, lantas mendengus kesal setelahnya.


“Dasar! Wanita sialan!” umpatnya lagi dengan nada yang kini


sudah menggema ke seluruh ruangan.


Ditatapnya langit-langit kamar yang mendominasi dengan warna


putih tersebut, membayangkan Katty yang saat ini berniat menggugurkan


kandungannya. Kevin mengeram kesal, dengan kedua tangan yang saat ini sudah


dikepalkan. Rasanya, ingin sekali ia menghajar wanita itu tadi. Tapi, apalah


daya hatinya seolah tak tega untuk melakukannya.


Pertemuan yang tak disengaja, hingga terjadinya hubungan


terlarang itu sungguh membuat Kevin awalnya ingin sedikit bermain-main dengan


Katty. Bagaimana tidak, selama ini belum ada satu wanita pun yang berani


menariknya seperti itu, menjadikannya sebagai pelampiasan dari hasrat  yang tak tersalurkan. Sungguh hal itu menjadi


sebuah penghinaan yang tak dapat dengan mudah untuk dimaafkan.


Mula nya ingin sedikit menyiksa, membalaskan penghinaan yang


diterimanya dengan menjadikan Katty sebagai budaknya. Namun, belakangan seiring


berjalannya waktu perasaan itu perlahan tumbuh di dalam hatinya.


Perasaan sayang, ingin memiliki dan tak ingin berbagi,


apalagi melepaskan dan membiarkannya pergi dengan yang lain. Kevin, berniat


untuk mengunci Katty, mengikatnya dengan sebuah hubungan yang serius agar bisa


memilikinya seutuhnya.


Tatkala mendengar sebuah berita jikalau sang kekasih hati


yang saat ini mulai merajai hati, telah mengandung benih dari hasil buah cinta


yang selama ini di tanamnya, sungguh membuat perasaan seorang Kevin terasa


sangat bahagia. Rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Namun, sayang seribu sayang karena hal itu tak berlangsung


lama. Sosok wanita yang belakangan ini mulai dipujanya itu menghempaskan


segalanya, perasaan bahagia yang baru sesaat singgah di hati nya dengan sebuah


kalimat ‘menggugurkan’.


“Arrgghhh!”


 Kalimat itu rasanya


bagaikan anak panah yang menusuk hatinya, menembus hingga ke punggung.


Bagaimana bisa, seorang wanita yang saat ini amat


dicintainya itu menyatakan hal yang begitu kejam, ingin membunuh anaknya


sendiri. Sungguh, hal itu membuat seorang Kevin frustrasi jadinya.


Di tengah kegundahan hati nya, tiba-tiba saja seseorang


masuk ke dalam kamar nya. Lamunannya seketika buyar saat derapan langkah kaki


yang ditimbulkan dari sepasang high hels yang dikenakan si pemilik nya.


Kevin, lantas mengalihkan pandangannya dan melihat sesosok


yang sama sekali tak asing di dalam hidup nya.


“Mama!” seru Kevin.


Sukmawati, atau yang kerap disapa dengan sebutan ‘Mama’ oleh


Kevin, saat ini terlihat berjalan mendekat ke arahnya. Hal itu tentu saja


membuat Kevin segera bangkit dari tidurnya, mengubah posisi telentangnya


menjadi duduk dengan sepasang kaki yang dijulurkan ke bawah.


“Ada, apa?” tanya Kevin.


Hal itu dikarenakan Sukma yang memang jarang sekali


mengunjunginya. Menemuinya, berbicara empat mata seperti sekarang.


“Mama hanya ingin melihatmu, sayang,” ujar Sukma dengan


sepasang garis senyum yang sengaja ia kembangkan.


“Tumben, ada perlu apa?” tanya Kevin langsung pada intinya.


Ya, hal itu dikarenakan hubungan diantara Ibu dan Anak itu


yang selama ini berjalan kurang harmonis disebabkan Sukma yang kurang


“Vin, kamu kok ketus gitu sih?”


“Selama ini bukankah Mama menemui Kevin jika ada perlunya


saja? Jadi, apa salah jika Kevin bertanya seperti itu kepada, Mama?” wajah


Kevin terlihat mengerutkan dahinya.


“Hmm … baiklah.”


Sukma menyerah dengan mengembuskan napas panjang. Baginya


terlalu banyak bicara akan membuat sepasang Ibu dan Anak itu bertengkar pada


akhirnya, sehingga kini ia pun memutuskan untuk mengungkapkan niatnya menemui


Kevin di sana.


“Vin, Mama datang ke sini karena ini menyampaikan sesuatu.


Besok, akan ada pertemuan di antara kedua keluarga besar dan kamu harus hadir


di sana,” ujar Sukma menyampaikan maksud kedatangannya.


“Hadir, untuk apa?” tanya Kevin.


“Papa mu ingin memperkenalkan seorang gadis, anak dari


sahabatnya kepadamu,” jelas Sukma.


“Seorang gadis? Haha … apa kalian pikir aku ini kekurangan


gadis di dalam hidup ku?” tanya Kevin dengan nada mencibir.


“Mama dan Papa tau jika selama ini kamu tidak kekurangan


satu wanita pun dalam hidupmu. Tapi, apakah mereka pantas denganmu? Bibit,


bebet, bobotnya semuanya tidak jelas. Papa mu sudah menyelidiki itu.”


“Pantas atau tidaknya, semua itu aku yang memutuskan. Mama


dan Papa tidak berhak mencampuri hal itu,” nada suara Kevin terlihat menekan.


“Kevin! Apa yang kamu katakan! Bagaimana bisa, kami tidak


punya ha katas hidupmu. Masa depanmu, Mama dan Papa berhak memutuskannya!”


emosi Sukma mulai melonjak, amarahnya tak tertahankan saat mendengar pernyataan


yang baru saja terlontar dari mulut Kevin.


“Aku, tidak peduli,” nada suara Kevin terdengar datar. Segera


ia bangkit dari duduknya, dan berlalu pergi ke  arah kamar mandi, meninggalkan Sukma di sana.


Kevin Adelard, anak dari Mario Adelard. Sedari kecil pria


itu sudah kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Hal itu dikarenakan Sukma


dan Mario yang terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mario yang


saat itu terlalu sibuk membangun kerajaan bisnis property nya, serta Sukma yang


juga sibuk menekuni bidang usaha busana yang saat ini telah berkembang dengan


sangat pesat, membuat keduanya tidak mempunyai sedikitpun waktu luang untuk


putra tunggalnya, yaitu Kevin Adelard.


Selama ini, Kevin selalu di temani para asisten rumah tangga


yang bekerja di rumah nya. Tidak ada hal yang bisa dilakukan, hanya makan,


menonton tv serta bermain bola sendirian di halaman belakang. Akhirnya setelah


beranjak dewasa, Kevin yang saat itu masih duduk di bangku SMA mulai


memberanikan dirinya untuk mencari kesenangan di dunia luar dan ternyata hal


itu tidaklah sulit karena statusnya sebagai anak dari seorang pengusaha


property yang cukup ternama. Semua orang datang mendekat, teman pria maupun


wanita semuanya datang menghampiri kala Kevin yang pada saat itu mulai membuka


diri. Mereka semuanya ingin berteman dengan Kevin.


Puncaknya adalah, saat Kevin telah lulus dari bangku SMA.


Pada saat acara perpisahan antara alumni SMA yang lulus dari sana, malam nya


Kevin tidak langsung pulang, malah pergi ke suatu tempat bersama teman-teman


lelakinya.


Di sana, ia dikejutkan oleh beberapa orang wanita dewasa


yang menyambut kedatangan mereka dengan berpakaian seksi. Kevin terbelalak


melihatnya, karena ini kali pertama baginya menyaksikan hal yang seperti itu.


Para wanita datang menghampiri, menyambut mereka dengan


menggandeng tangannya satu persatu, saling memilih pasangan seolah sudah diatur


sebelumnya. Awalnya, Kevin menganggap itu hanyalah sebuah keramah-tamahan


biasa.


Namun, saat ia melihat teman-temannya masuk kedalam kamar


yang berbeda bersama wanita yang masing-masing digandengnya, barulah disitu


Kevin sadar jika ini bukanlah hal yang biasa. Ternyata semua wanita ini telah


di sewa untuk menghabiskan malam bersama mereka.


Akhirnya malam itu Kevin polos pun tercemari, tercemar dalam


lingkup kehidupan bebas tanpa batas.


TBC.