CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 174


Ceklek!


Terdengar, suara pintu terbuka. Diikuti derapan langkang, yang menimbulkan suara khas dari sepasang sepatu high hels yang dikenakan. Joe, memalingkan wajahnya dari layar laptop yang ada di depannya. Dilihatnya, seorang wanita cantik dengan dress yang berwarna navy sedang berjalan kearahnya.


“Sayang,” lirih Joe, sesaat setelah mengercapkan pandangan kearah sosok wanita itu.


 Ya, itu, Tania. Sosok wanita, yang belakangan ini telah mengubah kehidupan pribadi Joenathan menjadi lebih positif.


“Masih, sibuk ya?” tanya Tania, yang kini sudah menghayunkan diri keatas sebuah sofa besar yang ada di sana.


Joe, lantas segera menutup laptopnya. Meskipun, apa yang dikerjakannya itu belum sepenuhnya selesai. Kehadiran, Tania, tidak mungkin diabaikan. Karena, saat ini, Joe, ingin lebih memproritaskan tentang hubungannya dengan, Tania.


“Enggak, ini juga udah mau selesai.”


“Belum kelar ya, yasudah kelarin dulu. Aku, siap nunggu kok,” Tania, sudah meletakkan tasnya diatas meja yang ada di depannya. Lalu kini, ia pun mulai menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.


Joe, beranjak dari tempatnya. Mendekati, Tania, yang tengah duduk di sana.


“Nanti bisa disambung lagi,” Joe, menghenyakkan tubuhnya keatas sofa yang sama. Duduk tepat disamping, Tania. “Karena sekarang, aku ingin menghabiskan waktu dengan sayangku dulu,” ucapannya terdengar lembut dan juga begitu tulus.


Joe, meraih tangan, Tania, menggenggamnya erat. Lalu, ia mengangkat tangan itu perlahan, mendekatkan wajahnya, yang kemudian mendaratkan sebuah kecupan lembut di sana.


Deg!


Seketika, jantung, Tania, mulai berdegup kencang. Kelembutan, serta kehangatan yang ditunjukkan, membuat pesona, Joe, kian bertambah semakin tak bisa terelakkan. Rasanya, ingin sekali ia membalas hal yang sama terhadap, Joenathan. Namun, hal itu tak boleh dilakukan. Mengingat, saat ini adalah tahap masa-masa percobaan.


“Baiklah,” Tania, sedikit memiringkan kepalanya. “Kalau begitu bukankah sekarang sudah waktunya untuk kita beranjak menghabiskan waktu bersama, My King’ku.”


“My King?” Joe, mengerutkan dahinya.


“Ya, My King. Apa kau, tidak suka?” tanya Tania. “Kau sudah menjadi raja di hatiku. Jadi, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan, My King, apa kau keberatan dengan itu?” tanya Tania, lagi.


Joe, seketika tersenyum. Raja, bukankah berarti kalimat itu menggambarkan, jika saat ini dialah satu-satunya pemilik hati dari wanita yang saat ini sedang duduk di depannya. “Hahahahah!” Joe tergelak, kemudian ia pun


kembali menimpali perkataannya. “Tentu saja aku tidak keberatan. Bukankah gelar itu sangat istimewa. Jadi, mana mungkin aku bisa menolaknya.”


“Kalau begitu, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan itu.”


“Ya, tidak masalah,” Joe, mengangkat kedua bahunya. “Tapi, karena sekarang kau sudah menganggapku raja di hatimu. Jadi, bisakah sayangku memberikan aku sebuah—“


Belum lagi, Joe, sempat menyelesaikan kalimatnya. Tania, dengan segera menimpalinya. “Sudah waktunya kita pergi. Takutnya, nanti kita tidak akan kebagian tempat!”


 Tania, segera bangkit dari duduknya. Kini, wanita itu sudah berdiri dengan lirikan mata yang menoleh kearah jam tangannya.


“Kebagian tempat?” Joe, mengerutkan dahinya


“Ya, aku ingin mengajakmu makan siang ke salah satu tempat yang sama sekali tak pernah kau kunjungi sebelumnya,” jelas Tania.


“Baiklah, ayo kita pergi!”


***


Cuaca diluar terasa sangat panas. Saat ini, Tania, sudah tidak lagi diikuti oleh kedua pengawalnya. Karena, sekarang dia sudah berada didalam mobil, Joenathan.


Siang itu, Joe, sendiri memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri. Sementara Pak Min, disuruh menunggu di perusahaannya. Itu semua, karena, Joe, ingin sekali menghabiskan waktu berdua saja dengan, Tania. Pak Min, pun lantas memilih makan siang di kantin perusahaan, sembari menunggu majikannya yang tengah menghabiskan waktu berdua, layaknya seseorang yang tengah berpacaran.


Disalah satu Caffe yang ditunjuk oleh, Tania. Joe, menghentikan mobilnya.


“Sayangku, ingin makan siang di sini?” tanya Joe.


Tania, mengangguk. “Ya.”


“Kenapa harus di sini? Kenapa tidak ke restoran bintang lima saja. Di sana, kita bisa memesan tempat yang khusus untuk kita berdua.”


“Tidak perlu, di sini juga sudah oke kok. Lagipula, menu-menu yang ada di sini, juga tak kalah nikmatnya dari restoran-restoran mewah itu.”


“Sayangku, sudah pernah makan di tempat ini? Kenapa, tidak mengajakku?”


“Ya, pernah sekali,” angguk Tania. “Apa, kau ingat, saat aku hampir mengalami kecelakaan waktu itu dan, Kak Sam, menolongku. Sebenarnya, aku baru saja dari tempat ini,” Jelas Tania.


“Benarkah?”


“Ya,” Tania kembali menganggukkan kepalanya. “Ini adalah Caffe yang baru didirikan oleh, Kak Roy. Koki senior, tempatku bekerja dulu. Waktu itu, aku, datang kesini karena mendapatkan undangan dari, Kak Roy. Saat, launching menu makanan terbarunya. Dan, ternyata itu enaknya bikin nagih. Makanya, aku ngajak My King’ku untuk ikut merasakan makanan ini juga, karena mungkin kedepannya sayangmu ini akan lebih sering mengajakmu makan di sini,” jelas Tania sembari mengulas senyumnya.


Roy, bukankah pria itu yang sepertinya menaruh rasa kepada, Tania?


Baatin Joe.


Ingin sekali, ia menanyakan tentang kedekatan hubungan mereka. Namun, rasanya tak mungkin sekarang. Mengingat, hubungan yang baru saja kembali dekat.


Ya, Joe, tak ingin jika pertanyaannya itu ternyata bisa membuat masalah baru bagi hubungannya. Saat ini, mereka baru kembali dekat. Setelah beberapa masalah yang sebelumnya terjadi. Sehingga, Joe, memutuskan untuk tak membahasnya, dengan memilih mengikuti saja apa yang dinginkan, Tania.


Lagipula, bukankah sekarang, Joe, adalah raja di hati, Tania. Jadi, ia tak perlu khawatir bukan tentang pria-pria yang ada di sekitar istrinya. Lagipula, jika dilihat dari segi ketampanan dan juga kemapanan. Joe, lebih unggul dari pada, Roy. Begitu pikir, Joe.


“Yasudah, yuk kita masuk! Jika terus duduk di sini. Bukankah, nanti tidak akan kebagian tempat?”


“Hmm, ya, yuk!” Tania mengangguk.


Di dalam Caffe. Suasana terbilang cukup ramai. Disalah satu tempat yang ada di ujung sana. Ternyata, masih ada  sisa meja kosong yang tersedia. Tania, pun lantas menarik, Joe, untuk pergi kesana.


Tania, lalu duduk setelah menarik kursinya. Begitupula dengan, Joe, yang sekarang telah duduk dengan posisi berhadapan langsung dengan, Tania.


Tak lama kemudian. Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka, dengan membawakan buku menu, serta secarik kertas dan juga pulpen di tangan.


“Wah… ini bukannya, Nona Tania, adiknya Bos Roy, ya?” ternyata pelayan itu adalah pelayan yang sama saat pertama kali, Tania, berkunjung kesana.


“Ya, kau benar,” Tania menyunggingkan senyumnya.


“Sayangku, apa kau kenal dengannya?” tanya Joe, dengan lirikan mata yang terlihat tak senang kearah pelayan lelaki yang ada di depannya.


“Ya, kemarin waktu pertama kali aku datang kesini. Dialah yang melayaniku,” jelas Tania.


“Oya” Joe, tampak memiringkan kepalanya menatap pelayan itu.


“Oya, kenalin, ini suamiku.” Tania, juga menatap kearah pelayan itu sembari memperkenalkan, Joe, sebagai suaminya.


“Kalian berdua, tampak begitu serasi, Nona. Anda cantik, dan Tuan ini juga sangat tampan. Sungguh pasangan yang sangat ideal,”


“Sayangku, apa kau dengar apa yang tadi pelayan ini katakan. Kita, berdua sangatlah serasi,” Joe, menyunggingkan senyumnya. Sepertinya,a suasana hatinya saat ini sudah kembali baik. Karena sanjungan yang barusaja didengarnya.