
Di tempat pengantrian. Terlihat, Joe, telah berhasil
mendapatkan tiket yang, Tania, mau. Hal itu membuat, Joe, sangat senang. Sehingga
kini, ia segera membalikkan badan, dan melangkah menghampiri, Tania.
Ya, ini pertama kalinya, Joe, mengantri tiket untuk seorang
wanita. Mengingat, jika sebelumn-sebelumnya, para wanita yang pernah dekat
dengannya, tidak pernah sekalipun mengajaknya masuk kesana. Mereka, memilih menghabiskan
waktu dengannya hanya untuk berbelanja, atupun makan di tempat-tempat mewah.
Berbeda sekali dengan, Tania. Meskipun saat ini ia telah
menjadi istrinya. Namun, tak pernah sekalipun, Tania, meminta ataupun
mengajaknya ke tempa-tempat mewah. Hiburan, serta kesenangan yang ia inginkan. Sangat
jauh dari kata mewah. Dan, hal itulah yang membuat, Tania, mampu menduduki
tempat teristimewa di hatinya.
Senyum kian tersungging. Tatkala, badan yang sudah berdiri
menghampiri. Tania, membalas senyumnya dengan sangat hangat. Tatkala, prianya
itu yang kini sudah berdiri dihadapannya.
“Kau, sudah dapat tiketnya?” kepalanya, terlihat menengadah
keatas. Menatap, Joe, yang masih berdiri di depannya.
“Ya, aku sudah dapat. Nih!” tunjuk, Joe, seraya mengulurkan
tangannya.
Tania, mengambil tiket itu. lalu, kini ia pun memasukkannya
kedalam tas kecil yang disandangnya. Kemudian, ia pun bangkit dari tempatnya.
“Karena sekarang tiketnya sudah dapat. Maka, selanjutnya
kita akan bermain-main dulu disekitar sini,” tukas, Tania, dengan mengangkat
kedua bahunya.
“Main, main kemana?”
“Hmm, ikuti saja,” menarik tangan, Joe, dan membawanya pergi
bersamanya.
Tania, mengajak, Joe, berkeliling kesana-kemari. Melihat-lihat,
barang-barang yang terpajang di berbagai toko yang ada di sana. Beberapa toko,
sudah mereka masuki. Namun, tidak ada satupun barang yang di beli.
Ya, Tania, hanya melihat-lihatnya saja. Menyegarkan mata dengan
barang-barang yang terpajang di sana. Hal yang kerap ia lakukan saat pergi bersama,
Wulan. Tapi, saat ini ia sedang bersama, Joe. Membuat pria itu bertanya-tanya
sembari menatap bingung kearahnya.
Di depan sana, terlihat sebuah tempat yang menjual eskrim. Dengan
berbagai rasa yang begitu menggugah selera. Tania, lantas menarik, Joe, kearah
sana. mengajaknya, untuk mencicipi eskrim yang dijual di sana. Joe, pun
mengikuti, menuruti apa keinginan, Tania.
Dua corn eskrim kini sudah berpindah tangan. Setelah membayarkan
jumlahny, Tania, mengajak, Joe, untuk duduk disalah satu tempat yang tersedi di
sana. Lagi-lagi, Joe, mengikuti apa kehendak, Tania. kini, merekapun telah
duduk di antara oranng-orang yang sedang berlalu-lalang.
“Joe, apa kau suka?” mimik wajah, Tania, terlihat begitu
senang sekarang.
“Hmm, ya, aku suka.” Joe, mengangguk pelan.
“Bagaimana rasa eskrimmu?” mata, Tania, tertuju kearah
eskrim yang ada di tangan, Joe.
“Ini, lumayan enak!” Joe, menunjukkan eskrim miliknya. Kemudian,
ia tampak menjilatinya. “Hmm, sangat nikmat!”
“Benarkah?” mata, Tania terbuka sedikit lebar. “Bolehkah,
aku rasa,” pintanya.
“Kau, mau ini?”
Tania, mengangguk. Melihat, Joe, yang terlihat sangat nikmat
menikmati eskrim miliknya. Membuat dahaga, Tania, seketika bergejolak. Rasanya,
ingin sekali ia juga menikmati manisnya eskrim itu. Meskipun saat ini,
tangannya juga memegangi satu eskrim miliknya. Tapi, dengan rasa yang berbeda.
Joe, mengulurkan tangannya. menyodorkan, eskrim miliknya
kearah mulut, Tania. Tanpa menunggu lagi, Tania, yang sudah dilingkupi rasa
ingin mencicipi. Kini, segera mengecap manisnya eskrim yang, Joe, sodorkan.
“Emm… enak sekali,” mata, Tania, terpejam saat merasai
manisnya eskrim milik, Joenathan.
“Kau, suka? Kalau begitu, ambil saja punyaku,” dengan senang
hati, Joe, menyerahkan eskrim miliknya kepada, Tania.
Tania, mengambilnya. Tanpa sungkan, ia kini melahap kedua
eskrim yang ada di tangannya. rasanya, Joe, seperti sedang meladeni anak kecil
sekarang. Joe, mengulas senyumnya. Melihat, Tania, yang begitu menikmati
eskrimnya.
Ya, inilah sifat, Tania, yang sebenarnya. Meskipun terlihat
dewasa. Namun, ia juga masih mempunyai sifat kekanak-kanakan dalam dirinya.
Mungkinkah, ini karena faktor dia sedang hamil sekarang? atau memang inilah
karakter, Tania, yang sebenarnya? Entahlah, yang pasti sekarang adalah. Joe,
sangat menyukai, karakter sosok wanita yang sedang duduk di hadapannya.
Waktu terus berlalu. Setelah bermain-main lumayan lama. Dan juga,
Tania, yang telah menghabiskan dua corn eskrimnya. Sekarang, saatnya film horror
yang ditunggu-tunggu akhirnya akan di putar juga.
Tania dan Joe, duduk di kursi yang saling berdampingan. Sesuai
dengan nomor yang tertera di tiket yang dibelinya tadi.
Satu pack popcorn sudah di tangan. Dua botol air mineral
juga sudah tersedia, berikut beberapa camilan lainnya, yang berupa keripik
kentang dan juga keripik ubi varian rasa pedas.
Ya, itu semua mereka beli sebelum masuk kedalam. Tania, yang
bernisiatif memborong semuanya. Hal yang biasa ia lakukan saat menonton bersama
teman-temannya dulu. Rasanya, jika duduk di dalam bioskop tanpa mengunyah
sesuatu. Seperti ada yang kurang gitu. Ya, itu, kurang camilan! Hahahah!
Film sudah dimulai. Berikut camilan yang mulai disantap.
Joe, dapat merasakan aura ketegangan di sana, tatkala setan-setan yang mulai bermunculan. Suasana
yang begitu gelap, semakin menambah kesan horror yang ada di sana.
Dari arah depan. Joe, dapat melihat bagaimana, muda-mudi
yang ada di depannya memeluk erat pasangannya, saat setan-setan itu terlihat
bermunculan. Hal itu, malah digunakan lelaki muda yang ada didepannya untuk
mengambil kesempatan. Ia, terlihat mendekap, dekat dengan dadanya. Lalu, sesaat
kemudian pria muda itu memegang dagu pacarnya, menengadahkannya kearahnya, dan
Joenathan membelalak. Matanya, terbuka lebar, menyaksikan pemandangan yang ada di
depannya.
Sial! Pemuda ini, pandai sekali mengambil kesempatan dalam
kesempitan.
Batin, Joenathan.
Dilihatnya kearah, Tania. Wanita itu tampak tenang, sembari
sesekali memasukkan camilan kedalam mulutnya. Matanya, tampak menatap lurus
kedepan. Terlihat sangat serius dalam menyaksikan filmnya. Tak ada sedikitpun
rasa takut di sana. Meskipun, ketika setan-setan itu bermunculan dengan sangat
tiba-tiba. Yang ada, wajah, Tania, malah tampak semakin fokus. Dengan bola mata
yang terbuka lebar.
Joe, menggelengkan kepalanya. Tak habis fikir dengan
istrinya. Disaat wanita lain mulai menjerit ketakutan. Tania, malah sebaliknya.
Tak tergurat sedikitpun rasa takut di sana. Yang ada malah, eskpresi wajah yang
terlihat begitu penasaran akan film yang sedang ditontonnya.
Joe, semakin meradang. Melihat pemandangan yang ada di
depannya. Berulang kali, pasangan muda-mudi itu terlihat berciuman. Saling menautkan
bibir, saat sang wanita sedang dilanda ketakutan. Tiba-tiba saja, rasa ingin
itu muncul di benak, Joe. Ingin melakukan hal yang sama, menautkan bibirnya
dengan bibir, Tania. Merasakan, bagaimana sensasi berciuman di sana.
Digesernya badannya hingga menempel dengan, Tania. Lalu
kini, tangannya dibentangkan kearah pundak, Tania. Joe, perlahan menggerakkan kepalanya mendekat kearah,
Tania. Namun, saat bibir itu hampir menyentuh permukaan lembut yang ada di
depannya. Gerakan tangan, Tania, menjauhkannya dari wajahnya.
“Joe, apa yang kau lakukan. Kepalamu menghalangi pandanganku
menyaksikan film itu,” protes, Tania.
Joe, menghela nafasnya agak sedikit berat.
Ya, Tuhan... Tania… kenapa kau tidak peka sama sekali.
Batin, Joe.
Sedikit, Joe, menjaga jarak. Namun, rasa itu kembali muncul
saat ia kembali melihat pasangan yang ada di depannya kembali melakukan hal
yang sama.
Glek!
Joe, menelan salivanya. Bukan karena ia takut akan gambaran
menyeramkan yang tengah ditontonnya. Melainkan, karena adegan romantic yang ada
tepat di depannya. Membuatnya, serasa ingin sekali melakukan hal yang sama
dengan, Tania.
Kembali, Joe, menolehkan pandangannya. Menatap, Tania yang
ada di sampingnya. Tubuhnya, juga kembali ia dekatkan, hingga menempel dengan,
Tania. Dan, kemudian ia pun berusaha mengeluarkan suaranya, mengutarakan maksud
hatinya.
“Sayangku, izinkan aku mengecup bibirmu, ya.” pinta, Joe. “Sekali
saja.”
Tania, menoleh. “Joe, kita lagi di bioskop. Di tempat umum.”
“Aku, tau. Tapi apa kau tidak melihat, mereka juga tidak sungkan
melakukan hal itu di sini,” Joe, melirikkan matanya kearah pasangan yang ada di
depannya.
Tania, sedikit menaikkan badannya, melirik kearah pasangan
yang di maksud. Lalu, kemudian ia terlihat membuang kasar nafasnya.
“Astaga, Joe! Jadi, sedari tadi kau hanya fokus melihat
mereka?” mata, Tania, terlihat mendelik dengan suara yang setengah berbisik.
Joe, menggaruk bagian belakang kepalanya. Dengan rasa malu
yang terpancar di wajahnya. Jujur, Tania, sendiri merasa iba karenanya. Karena,
permintaannya. Seharusnya, ia memberikan apa yang diinginkan.
“Kita, sudah menikah, Joe. Jadi, tidak perlu melakukan hal
itu di sini,” ujar, Tania.
“Jadi, apa kita bisa melakukan hal itu di rumah?” mata, Joe,
menyorot tajam.
Tak tega, maka, Tania, pun menganggukkan kepalanya, disusul
dengan pengesahannya “Hmm, ya.”
Joe, segera menjauhkan dirinya, kembali berjarak seperti
semula. Raut wajahnya, juga seketika berubah jauh lebih baik dari sebelumnya. Baginya,
tak jadi di sana, juga tak masalah. Toh, di rumah juga tidak akan kalah
serunya. Syukur-syukur, bisa mendapatkan lebih sesuai dengan apa yang
diinginkan.
Tania, menggelengkan kepalanya.
Melihat perubahan ekspresi yang, Joe, tunjukkan. Membuat,
Tania, mengulas senyumnya, dengan kepala yang ikut menggeleng pelan. Hingga,
tanpa sengaja ia menolehkan kepalanya kearah samping kanannya dan melihat
sepasang kekasih yang juga melakukan hal yang sama. Sama, seperti pasangan yang
ada di depan, Joe.
Seketika kening, Tania, mengerut. Melihat apa yang ada di
sampingnya. Bukan karena adegannya yang membuat, Tania, memfokuskan
pandangannya kearah sana. Melainkan, kedua sosok yang ada di sana.
Katty, mungkinkah dia dan lelaki itu—
“Sayang! Kau sedang lihat apa?”
Suara, Joenathan, seketika menghentikan analisa pemikirannya
tentang sosok lelaki yang tengah bersama, Katty, sekarang. Dan kini ia pun
menolehkan pandangannya kearah, Joenathan.
“Joe, aku sedang melihat itu,” lirihnya sambil menunjuk
kearah sisi kanannya.
Joe, mengerlingkan pandangannya kearah sana. Namun, wajah,
Katty, kini tertutupi dengan tubuh, Kevin, yang tegap. “Nah, kan… tadi kau
melarangku untuk melihat apa yang ada di depanku. Tapi, sekarang—“
“Sssttt! Diamlah! Fokus saja ke layar sekarang.”
Tania, membungkam mulut, Joenathan, dengan jemari tangannya.
Karena kalimat yang diucapkannya. Rasanya, malu sekali sekarang. Barusaja ia
melaran, Joenathan melihat adegan yang ada di depannya. Tapi, sekarang malah
dirinya sendiri yang kedapatan menyaksikan hal itu.
TBC.