CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 180


Di tempat pengantrian. Terlihat, Joe, telah berhasil


mendapatkan tiket yang, Tania, mau. Hal itu membuat, Joe, sangat senang. Sehingga


kini, ia segera membalikkan badan, dan melangkah menghampiri, Tania.


Ya, ini pertama kalinya, Joe, mengantri tiket untuk seorang


wanita. Mengingat, jika sebelumn-sebelumnya, para wanita yang pernah dekat


dengannya, tidak pernah sekalipun mengajaknya masuk kesana. Mereka, memilih menghabiskan


waktu dengannya hanya untuk berbelanja, atupun makan di tempat-tempat mewah.


Berbeda sekali dengan, Tania. Meskipun saat ini ia telah


menjadi istrinya. Namun, tak pernah sekalipun, Tania, meminta ataupun


mengajaknya ke tempa-tempat mewah. Hiburan, serta kesenangan yang ia inginkan. Sangat


jauh dari kata mewah. Dan, hal itulah yang membuat, Tania, mampu menduduki


tempat teristimewa di hatinya.


Senyum kian tersungging. Tatkala, badan yang sudah berdiri


menghampiri. Tania, membalas senyumnya dengan sangat hangat. Tatkala, prianya


itu yang kini sudah berdiri dihadapannya.


“Kau, sudah dapat tiketnya?” kepalanya, terlihat menengadah


keatas. Menatap, Joe, yang masih berdiri di depannya.


“Ya, aku sudah dapat. Nih!” tunjuk, Joe, seraya mengulurkan


tangannya.


Tania, mengambil tiket itu. lalu, kini ia pun memasukkannya


kedalam tas kecil yang disandangnya. Kemudian, ia pun bangkit dari tempatnya.


“Karena sekarang tiketnya sudah dapat. Maka, selanjutnya


kita akan bermain-main dulu disekitar sini,” tukas, Tania, dengan mengangkat


kedua bahunya.


“Main, main kemana?”


“Hmm, ikuti saja,” menarik tangan, Joe, dan membawanya pergi


bersamanya.


Tania, mengajak, Joe, berkeliling kesana-kemari. Melihat-lihat,


barang-barang yang terpajang di berbagai toko yang ada di sana. Beberapa toko,


sudah mereka masuki. Namun, tidak ada satupun barang yang di beli.


Ya, Tania, hanya melihat-lihatnya saja. Menyegarkan mata dengan


barang-barang yang terpajang di sana. Hal yang kerap ia lakukan saat pergi bersama,


Wulan. Tapi, saat ini ia sedang bersama, Joe. Membuat pria itu bertanya-tanya


sembari menatap bingung kearahnya.


Di depan sana, terlihat sebuah tempat yang menjual eskrim. Dengan


berbagai rasa yang begitu menggugah selera. Tania, lantas menarik, Joe, kearah


sana. mengajaknya, untuk mencicipi eskrim yang dijual di sana. Joe, pun


mengikuti, menuruti apa keinginan, Tania.


Dua corn eskrim kini sudah berpindah tangan. Setelah membayarkan


jumlahny, Tania, mengajak, Joe, untuk duduk disalah satu tempat yang tersedi di


sana. Lagi-lagi, Joe, mengikuti apa kehendak, Tania. kini, merekapun telah


duduk di antara oranng-orang yang sedang berlalu-lalang.


“Joe, apa kau suka?” mimik wajah, Tania, terlihat begitu


senang sekarang.


“Hmm, ya, aku suka.” Joe, mengangguk pelan.


“Bagaimana rasa eskrimmu?” mata, Tania, tertuju kearah


eskrim yang ada di tangan, Joe.


“Ini, lumayan enak!” Joe, menunjukkan eskrim miliknya. Kemudian,


ia tampak menjilatinya. “Hmm, sangat nikmat!”


“Benarkah?” mata, Tania terbuka sedikit lebar. “Bolehkah,


aku rasa,” pintanya.


“Kau, mau ini?”


Tania, mengangguk. Melihat, Joe, yang terlihat sangat nikmat


menikmati eskrim miliknya. Membuat dahaga, Tania, seketika bergejolak. Rasanya,


ingin sekali ia juga menikmati manisnya eskrim itu. Meskipun saat ini,


tangannya juga memegangi satu eskrim miliknya. Tapi, dengan rasa yang berbeda.


Joe, mengulurkan tangannya. menyodorkan, eskrim miliknya


kearah mulut, Tania. Tanpa menunggu lagi, Tania, yang sudah dilingkupi rasa


ingin mencicipi. Kini, segera mengecap manisnya eskrim yang, Joe, sodorkan.


“Emm… enak sekali,” mata, Tania, terpejam saat merasai


manisnya eskrim milik, Joenathan.


“Kau, suka? Kalau begitu, ambil saja punyaku,” dengan senang


hati, Joe, menyerahkan eskrim miliknya kepada, Tania.


Tania, mengambilnya. Tanpa sungkan, ia kini melahap kedua


eskrim yang ada di tangannya. rasanya, Joe, seperti sedang meladeni anak kecil


sekarang. Joe, mengulas senyumnya. Melihat, Tania, yang begitu menikmati


eskrimnya.


Ya, inilah sifat, Tania, yang sebenarnya. Meskipun terlihat


dewasa. Namun, ia juga masih mempunyai sifat kekanak-kanakan dalam dirinya.


Mungkinkah, ini karena faktor dia sedang hamil sekarang? atau memang inilah


karakter, Tania, yang sebenarnya? Entahlah, yang pasti sekarang adalah. Joe,


sangat menyukai, karakter sosok wanita yang sedang duduk di hadapannya.


Waktu terus berlalu. Setelah bermain-main lumayan lama. Dan juga,


Tania, yang telah menghabiskan dua corn eskrimnya. Sekarang, saatnya film horror


yang ditunggu-tunggu akhirnya akan di putar juga.


Tania dan Joe, duduk di kursi yang saling berdampingan. Sesuai


dengan nomor yang tertera di tiket yang dibelinya tadi.


Satu pack popcorn sudah di tangan. Dua botol air mineral


juga sudah tersedia, berikut beberapa camilan lainnya, yang berupa keripik


kentang dan juga keripik ubi varian rasa pedas.


Ya, itu semua mereka beli sebelum masuk kedalam. Tania, yang


bernisiatif memborong semuanya. Hal yang biasa ia lakukan saat menonton bersama


teman-temannya dulu. Rasanya, jika duduk di dalam bioskop tanpa mengunyah


sesuatu. Seperti ada yang kurang gitu. Ya, itu, kurang camilan! Hahahah!


Film sudah dimulai. Berikut camilan yang mulai disantap.


Joe, dapat merasakan aura ketegangan di sana, tatkala  setan-setan yang mulai bermunculan. Suasana


yang begitu gelap, semakin menambah kesan horror yang ada di sana.


Dari arah depan. Joe, dapat melihat bagaimana, muda-mudi


yang ada di depannya memeluk erat pasangannya, saat setan-setan itu terlihat


bermunculan. Hal itu, malah digunakan lelaki muda yang ada didepannya untuk


mengambil kesempatan. Ia, terlihat mendekap, dekat dengan dadanya. Lalu, sesaat


kemudian pria muda itu memegang dagu pacarnya, menengadahkannya kearahnya, dan


Joenathan membelalak. Matanya, terbuka  lebar, menyaksikan pemandangan yang ada di


depannya.


Sial! Pemuda ini, pandai sekali mengambil kesempatan dalam


kesempitan.


Batin, Joenathan.


Dilihatnya kearah, Tania. Wanita itu tampak tenang, sembari


sesekali memasukkan camilan kedalam mulutnya. Matanya, tampak menatap lurus


kedepan. Terlihat sangat serius dalam menyaksikan filmnya. Tak ada sedikitpun


rasa takut di sana. Meskipun, ketika setan-setan itu bermunculan dengan sangat


tiba-tiba. Yang ada, wajah, Tania, malah tampak semakin fokus. Dengan bola mata


yang terbuka lebar.


Joe, menggelengkan kepalanya. Tak habis fikir dengan


istrinya. Disaat wanita lain mulai menjerit ketakutan. Tania, malah sebaliknya.


Tak tergurat sedikitpun rasa takut di sana. Yang ada malah, eskpresi wajah yang


terlihat begitu penasaran akan film yang sedang ditontonnya.


Joe, semakin meradang. Melihat pemandangan yang ada di


depannya. Berulang kali, pasangan muda-mudi itu terlihat berciuman. Saling menautkan


bibir, saat sang wanita sedang dilanda ketakutan. Tiba-tiba saja, rasa ingin


itu muncul di benak, Joe. Ingin melakukan hal yang sama, menautkan bibirnya


dengan bibir, Tania. Merasakan, bagaimana sensasi berciuman di sana.


Digesernya badannya hingga menempel dengan, Tania. Lalu


kini, tangannya dibentangkan kearah pundak, Tania. Joe, perlahan  menggerakkan kepalanya mendekat kearah,


Tania. Namun, saat bibir itu hampir menyentuh permukaan lembut yang ada di


depannya. Gerakan tangan, Tania, menjauhkannya dari wajahnya.


“Joe, apa yang kau lakukan. Kepalamu menghalangi pandanganku


menyaksikan film itu,” protes, Tania.


Joe, menghela nafasnya agak sedikit berat.


Ya, Tuhan... Tania… kenapa kau tidak peka sama sekali.


Batin, Joe.


Sedikit, Joe, menjaga jarak. Namun, rasa itu kembali muncul


saat ia kembali melihat pasangan yang ada di depannya kembali melakukan hal


yang sama.


Glek!


Joe, menelan salivanya. Bukan karena ia takut akan gambaran


menyeramkan yang tengah ditontonnya. Melainkan, karena adegan romantic yang ada


tepat di depannya. Membuatnya, serasa ingin sekali melakukan hal yang sama


dengan, Tania.


Kembali, Joe, menolehkan pandangannya. Menatap, Tania yang


ada di sampingnya. Tubuhnya, juga kembali ia dekatkan, hingga menempel dengan,


Tania. Dan, kemudian ia pun berusaha mengeluarkan suaranya, mengutarakan maksud


hatinya.


“Sayangku, izinkan aku mengecup bibirmu, ya.” pinta, Joe. “Sekali


saja.”


Tania, menoleh. “Joe, kita lagi di bioskop. Di tempat umum.”


“Aku, tau. Tapi apa kau tidak melihat, mereka juga tidak sungkan


melakukan hal itu di sini,” Joe, melirikkan matanya kearah pasangan yang ada di


depannya.


Tania, sedikit menaikkan badannya, melirik kearah pasangan


yang di maksud. Lalu, kemudian ia terlihat membuang kasar nafasnya.


“Astaga, Joe! Jadi, sedari tadi kau hanya fokus melihat


mereka?” mata, Tania, terlihat mendelik dengan suara yang setengah berbisik.


Joe, menggaruk bagian belakang kepalanya. Dengan rasa malu


yang terpancar di wajahnya. Jujur, Tania, sendiri merasa iba karenanya. Karena,


permintaannya. Seharusnya, ia memberikan apa yang diinginkan.


“Kita, sudah menikah, Joe. Jadi, tidak perlu melakukan hal


itu di sini,” ujar, Tania.


“Jadi, apa kita bisa melakukan hal itu di rumah?” mata, Joe,


menyorot tajam.


Tak tega, maka, Tania, pun menganggukkan kepalanya, disusul


dengan pengesahannya “Hmm, ya.”


Joe, segera menjauhkan dirinya, kembali berjarak seperti


semula. Raut wajahnya, juga seketika berubah jauh lebih baik dari sebelumnya. Baginya,


tak jadi di sana, juga tak masalah. Toh, di rumah juga tidak akan kalah


serunya. Syukur-syukur, bisa mendapatkan lebih sesuai dengan apa yang


diinginkan.


Tania, menggelengkan kepalanya.


Melihat perubahan ekspresi yang, Joe, tunjukkan. Membuat,


Tania, mengulas senyumnya, dengan kepala yang ikut menggeleng pelan. Hingga,


tanpa sengaja ia menolehkan kepalanya kearah samping kanannya dan melihat


sepasang kekasih yang juga melakukan hal yang sama. Sama, seperti pasangan yang


ada di depan, Joe.


Seketika kening, Tania, mengerut. Melihat apa yang ada di


sampingnya. Bukan karena adegannya yang membuat, Tania, memfokuskan


pandangannya kearah sana. Melainkan, kedua sosok yang ada di sana.


Katty, mungkinkah dia dan lelaki itu—


“Sayang! Kau sedang lihat apa?”


Suara, Joenathan, seketika menghentikan analisa pemikirannya


tentang sosok lelaki yang tengah bersama, Katty, sekarang. Dan kini ia pun


menolehkan pandangannya kearah, Joenathan.


“Joe, aku sedang melihat itu,” lirihnya sambil menunjuk


kearah sisi kanannya.


Joe, mengerlingkan pandangannya kearah sana. Namun, wajah,


Katty, kini tertutupi dengan tubuh, Kevin, yang tegap. “Nah, kan… tadi kau


melarangku untuk melihat apa yang ada di depanku. Tapi, sekarang—“


“Sssttt! Diamlah! Fokus saja ke layar sekarang.”


Tania, membungkam mulut, Joenathan, dengan jemari tangannya.


Karena kalimat yang diucapkannya. Rasanya, malu sekali sekarang. Barusaja ia


melaran, Joenathan melihat adegan yang ada di depannya. Tapi, sekarang malah


dirinya sendiri yang kedapatan menyaksikan hal itu.


TBC.