
Di sebuah rumah sakit yang cukup ternama di kota nya. Terlihat sepasang suami istri baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan kandungan. Mereka adalah Tania dan Joenathan, pasangan muda yang baru saja diberikan sebuah anugerah, yaitu sebuah janin yang saat ini sedang bersemayam di rahim Tania.
Raut wajah keduanya terlihat sangat bahagia, dengan sebelah tangan Joenathan yang sedari tadi terus mengusap lembut permukaan perut Tania, yang saat ini sudah tampak membesar. Keduanya lalu tampak berjalan menjauh dari ruangan tersebut dan tiba-tiba saja….
“Katty,” lirih Tania, saat melihat Katty yang begitu tergesa-gesa berjalan masuk ke dalam ruangan yang saat itu baru saja dimasukinya.
Katty sadar jika tadi itu ia berpapasan dengan Tania dan juga Joenathan. Namun, ia tak menggubris, karena saat ini ada hal yang lebih penting daripada itu, yaitu dirinya.
“Joe, bukankah tadi itu Katty, ya?” tanya Tania dengan wajah yang sedikit mendongak ke atas, menatap Joe yang sedari tadi berada di sampingnya.
Joe mengangguk, “Ya, kau benar. Tadi itu memang Katty,” ujarnya.
“Bukankah tadi itu dia masuk ke dalam ruangan yang kita masuki sebelumnya? Untuk apa dia datang ke sana, ya?” tanya Tania.
“Mungkin saja saat ini dia juga sedang mengandung,” jawab Joenathan sembarangan.
“Mengandung?” Tania mengerutkan dahinya, menanggapi serius ucapan sembarangan yang baru saja Joe ucapkan. “Jika itu benar seperti yang kau katakan, bukankah itu artinya saat ini Katty sudah menikah?”
“Hmm…” Joe menghela napasnya dengan kasar, kemudian kembali menjawabnya dengan malas. “Menikah atau
tidak, itu bukan urusan kita. Lagi pula Katty itu adalah wanita bebas, jadi menurutku wajar saja jika dia hamil,” tukas Joenathan.
“Maksudmu?” tanya Tania tak mengerti.
“Menikah ataupun tidak, hal itu sudah biasa baginya.”
“Biasa?”
Lagi-lagi Tania bertanya, karena tidak mengerti dengan apa yang Joe ucapkan.
“Sayangku, Katty itu wanita yang bebas. Ia melakukan apapun yang diinginkannya, tak peduli apa itu sah atau tidak, yang penting adalah apakah hal itu bisa membuatnya senang? menikah ataupun tidak bagi Katty itu semua hal biasa. Hubungan seks antara lawan jenis baginya itu adalah hal yang sangat biasa. Dia biasa melakukannya dengan siapa saja, selagi dia mempunyai rasa ketertarikan khusus dengan pria itu, tidak peduli menikah ataupun tidak yang penting adalah kesenangannya, kepuasannya telah tersalurkan, terlampiaskan dengan sosok incarannya,” jelas Joenathan.
Tania terperangah. Penjelasan yang baru saja Joe ucapkan, sungguh membuatnya sulit untuk percaya. Bagaimana tidak, bukankah seharusnya seorang wanita itu menjaga kesuciannya, mempertahankan martabatnya serta mahkotanya untuk diberikan kepada seseorang yang special dalam hidupnya, yang bisa menjaganya dan juga telah
lolos seleksi untuk menjadi pendamping hidupnya, hingga kemudian setelah terucap sebuah kalimat ‘sah’ maka barulah sesuatu yang sangat berarti, mahkota yang selama ini kita jaga bisa kita berikan kepada sosok yang telah benar-benar menjadi pendamping hidup si wanita. Bukan malah di obral ataupun diberikan kepada siapa saja yang disuka, karena itu sungguh amat-sangat tidak layak bukan?
Joe tersenyum, melihat bagaimana ekspresi keterkejutan yang saat ini ditunjukkan Tania. Ya, itu semua karena istrinya yang sangat polos.
“Sayang, itu adalah hal biasa baginya. Bahkan aku dulu pun sempat berpikiran seperti itu, menganggap jika hubungan seks dengan lawan jenis itu adalah hal biasa, selagi kita melakukannya atas dasar suka sama suka dan
tidak ada unsur pemaksaan,” terang Joenathan.
Tania terlihat sangat serius mendengar dengan mata yang memicing menatap Joe yang saat ini duduk di hadapan nya.
“Tapi sekarang semuanya telah berlalu, kau datang ke dalam hidup ku, mewarnai hari ku, menerangi gelapku, hingga akhirnya menyadarkanku akan apa arti sebenarnya cinta. Keteguhan diri yang kau pegang, tak ingin
melepaskan apa yang kau anggap berharga dalam dirimu, membuatku percaya akan adanya wanita suci.”
Joe kemudian mengarahkan tangannya, meraih tangan Tania lalu memegangnya dengan sangat erat.
“Sayang, apa kau tau? Di sepanjang hidupku ini, sebelum aku bertemu denganmu, aku hampir tak percaya dengan adanya wanita suci,” Joe menatap lekat-lekat mata Tania. “Jujur saja, selama ini wanita-wanita yang tidur bersamaku semuanya sudah tidak lagi perawan. Bahkan, Katty pun yang saat itu menjadi cinta pertamaku dia sendiri sudah tidak perawan saat pertama kali tidur denganku. Entah kepada siapa terlebih dahulu ia memberikannya, yang pasti itulah awal aku tidak percaya akan adanya wanita suci. Terlebih, disepanjang hidupku semua wanita-wanita itu sudah tidak lagi suci saat tidur bersamaku.”
Joenathan menjelaskan semuanya, terkait akan masa lalunya itu. Tidak bermaksud untuk membuat Tania sakit hati, hanya sekedar ingin sedikit mengenang akan masa lalunya yang saat ini sudah lewat. Baginya, mengenang masa lalu itu sangatlah penting, agar ke depan nya tidak lagi terjerumus ke tempat yang sama, ke dalam gelapnya kehidupan. Beruntung baginya dapat bertemu dengan Tania, bisa dekat dengannya hingga akhirnya berjodoh dengannya.
Ya, sosok Tania memang amat-sangat special, hingga sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Gadis mungil yang begitu bersemangat, bekerja keras untuk kehidupannya tanpa meminta belas kasih dari orang sekitar, apalagi memanfaatkan lelaki yang dekat dengannya. Ya … seperti kebanyakan yang wanita-wanita di zaman sekarang lakukan, nebeng atau numpang hidup dengan lelaki kaya.
Ya, Tania bukan sosok wanita yang seperti itu. Meskipun kartu hitam sudah ada di tangan, namun wanita itu tidak pernah menggunakannya. Pernah beberapa kali, dan itu jumlah pengeluarannya tidak lebih dari satu juta rupiah. Padahal, dengan kartu hitam itu, Tania dapat membeli apapun yang ia suka.