CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 151


Sebuah kaset di pasang oleh Tania kedalam dvd yang ada di depannya. Setelah memasukkan kasetnya, ia pun lantas menekan tombol yang ada di sana. Tania, kemudian membalikkan badan dan beralih menuju ke sofa yang berada tak jauh darinya.


Tak lupa, kedua remote juga di bawa olehnya. Setelah menghidupkan tv  dan juga memutar dvd. Tania lantas duduk dengan menaikkan kedua kaki keatas sofa. Film sudah mulai, bergenre horror kesukaan Tania.


Dari arah belakang. Terlihat dua orang pelayan datang menghampir. Yang satu membawakan camilan. Sedangkan yang satunya membawakan minuman, yang satu adalah air putih, dan yang satunya lagi adalah jus jeruk pesanannya. Semua itu kini di letakkan oleh pelayan di meja yang ada di depan Tania.


“Makasih ya.” seulas senyum terpancar hangat dari bibirnya.


Kedua pelayan mengangguk pelan, membungkukkan badan pertanda hormat kepada majikan. Hal itu ternyata membuat Tania risih, hingga mengertkan keningnya.


“Hei, jangan membungkuk seperti itu di depanku.” ujar Tania.


Kedua pelayan itu menudukkan wajahnya.


“Kau, siapa nama mu?” tunjuk Tania kearah salah satu pelayan.


“Mirna, Nona.” pelayan bernama Mirna menjawab segan.


“Berapa umurmu?” tanya Tania lagi.


“Dua puluh tiga tahun.” sahut Mirna.


“Kalau kau?” tunjuk Tania lagi kearah pelayan yang ada di sampingnya. Keduanya terlihat sama-sama masih muda.


“Sa-saya, Tuti.” pelayan yang bernama Tuti memperkenalkan diri dengan ragu.


“Umur?”


“Dua puluh dua tahun.” ucapnya dengan nada gemetar.


Tuti terlihat lebih gugup di bandingkan Mirna. Mungkin ini karena pertama kalinya Tania mengajak bicara mereka. Sebelum-sebelumnya Tania tak pernah menyapa. Itu semua karena para pelayan yang ada di sana langsung pergi setelah menyelesaikan tugasnya.


Tuti dan Mirna berasal dari kampung yang sama. Setelah menamatkan sekolahnya di tingkat SMA. Kedua gadis itu sepakat untuk mencari kerja ke Ibukota. Mengingat kehidupan keluarga mereka yang terbilang sangat tidak mampu.


Kebetulan, di agen penyalur tenaga kerja yang mereka naungi. Keduanya di tempatkan di rumah yang sama sebagai pelayan. Hal itu membuat keduanya sangat senang, karena bisa terus bersama. Di tambah lagi, sang pemilik rumah Joenathan. Tidak pernah sekali pun memarahi mereka. Sebelum menikah, pria itu bahkan jarang sekali pulang kerumah. Lebih sering tinggal di apartemen nya.


“Tuti, Mirna, lain kali kalian jangan terlalu sungkan terhadapku.” Tania kembali mengulas senyumnya.


“Nona, adalah majikan kami. Sudah seharusnya kami bersikap seperti ini kepada Nona.” timpal Mirna.


“Tapi, aku tidak suka seperti itu. Biasa saja, kalau sedang bertemu denganku ataupun berbicara seperti ini. Aku lebih suka, kalian menatapku dan juga tersenyum kepadaku.” jelas Tania.


Ya, semenjak menikahi Joenathan, dan juga menjadi Nyonya Joenathan. Kebebasan Tania seolah terenggut. Joe, sangat membatasi ruang gerak Tania. Sehingga membuat gadis itu tak mempunyai cukup ruang untuk bersantai.


 Di tambah lagi, setelah lulus kuliah. Wulan di terima bekerja di perusahaan Joenathan. Membuat keduanya , sudah tak bisa seperti dulu. Bercanda, bermain bersama tanpa memikirkan waktu, bahkan untuk sekedar makan bersama hal itu sudah sangat jarang di lakukan.


Maka dari itu. Melihat kedua gadis muda yang ada di depannya itu. Membuat Tania ingin sekali dekat dengan mereka. Berharap, bisa berbincang-bincang dan juga bercanda bersama.


“Maaf, Nona. Kami tidak bisa. Kami takut, jika nanti Tuan Joe—“


“Bersikaplah seperti itu saat Joe tidak ada. Contohnya, seperti sekarang.” timpal Tania memotong ucapan Mirna.


“Tidak ada tapi-tapian. Sini, duduk denganku.” Tanisa menepuk sofa yang ada di sebelahnya.


Kedua pelayan itu terdiam. Saling menatap satu sama lain. Tuti terlihat takut, sedangkan Mirna terlihat sedang berpikir.


“Tuti, Mirna, ayo sini duduk!” kembali Tania menepuk sofa di sebelahnya. “Jika kalian tidak mau, nanti aku bakalan laporin kalian ke Joe karena tidak melayaniku dengan baik.” ancamnya kini.


Mendengar hal itu. Tuti dan Mirna tak punya pilihan. Takut, jika Tania benar-benar merealisasikan ucapannya. Ya, bagaimanapun Tania adalah Nyonya dirumah itu. jadi, apapun yang di katakannya kepada Joe, pastilah akan


membuat Joe marah. Daripada di marahi Joe, sehingga kehilangan pekerjaan mereka. Lebih baik, kini turuti saja permintaan aneh Nona nya itu.


Tuti dan Mirna lantas serentak berhambur menghampiri Tania. Dengan segan, keduanya kini sudah duduk di tempat yang di inginkan Tania.


Hehehe, akhirnya aku punya teman juga sekarang.


Batin Tania, yang kemudian kembali mengulas senyuman.


***


Pesanan datang. Para pelayan restoran kini telah menghidangkan makanannya. Setelah semuanya di atur dengan baik. Kini, mereka pun pamit pergi meninggalkan Joe dan Katty di sana.


Di sebuah restoran, tepatnya di ruang Vip yang di sekat dengan dinding kaca. Sepasang anak manusia terlihat duduk di sana, saling berhadapan satu sama lain. Suasana yang begitu nyaman, dengan pemandangan kota di bawah sana. Membuat suasana makan siang terasa lebih santai.


Joe, mulai memasukkan makanan kedalam mulut. Tanpa memperdulikan Katty yang ia tau sedari tadi terus menatapnya. Jujur saja, sebenarnya hal itu membuat Joe merasa sangat risih. Namun, ia memilih tak menggubris.


Di sisi lain. Katty terus memperhatikan cara makan Joe yang masih saja terlihat seperti dulu. Begitu tenang, dan juga elegan saat memasukkan suapan demi suapan kedalam mulutnya. Sikapnya yang begitu tenang saat di luar.


Namun, begitu buas saat bersama membuat Katty sama sekali tak bisa melupakannya.


Joe, sungguh aku tak bisa melupakanmu.


Batinnya.


Melihat makanan yang di piring Joe sudah hampir habis. Katty lantas berinisiatif menambahnya dengan yang lain. “Makan yang banyak, biar lebih bertenaga.”


Katty menghentikan gerakan tangannya. Makanan yang sudah terlanjur di ambil. Kini, ia letakkan kembali di tempat semula.


“Joe, kenapa? Kenapa kau menyudahi makanmu? Bahkan sedikit lagi kau tak menghabiskannya.”


“Aku sudah kenyang.” jelas Joe. “Kau sendiri, kenapa tidak makan? Bukankah kau mengajakku kesini untuk makan siang denganmu?” Joe mengernyit.


“Sudah lama aku tidak melihatmu makan selahap itu. Jadi, aku memutuskan untuk menatapmu sebentar.” Jelas Katty.


“Hah, apa kau kenyang hanya dengan menatapku?” sinis Joe.


“Kau tak tau. Melihatmu dengan jarak dekat seperti ini, ada kesan tersendiri bagiku.” ujar Katty.


Joe menggeleng. “Ternyata kau mengajakku kesini hanya untuk mengatakan hal itu.” ketusnya.


“Hah, bukan!” sanggah Katty cepat.


Joe memalingkan muka. Terlihat malas menatap kearah Katty.


“Aku ingin membahas satu hal denganmu.”


“Ini, serius.” ujar Katty.


“Sudahlah, aku sedang tak ingin mendengar omong kosong apapun saat ini. Pekerjaanku masih banyak.” Joe hendak bangkit dari duduknya. Namun, tak jadi. Karena Katty memegang tangannya.


“Ups, maaf.” Katty melepaskan tangan Joe. Melihat Joe yang menatap tak senang saat Katty menyentuhnya.


“Kedepannya, jangan lagi menyentuhku.” tatap Joe dingin.


Katty mengangguk, merasa bersalah dengan apa yang di lakukan. Sementara Joe, kini kembali menyandarkan diri di tempat duduknya. “Katakan, apa yang ingin kau katakan.” memberi kesempatan untuk mendengar. Tentang apa


yang ingin di sampaikan Katty kepadanya.


***


Tania kini terlihat sudah rapi dengan memakai dress berwarna lila yang hampir menyentuh lututnya. Rambutnya di kuncir kuda dengan posisi tak terlalu tinggi keatas. Ia lalu berjalan memasuki sebuah ruangan yang khusus menyimpan tas dan juga sepatu miliknya.


Sebenarnya Tania tidak suka terlalu memilih akan apa yang di gunakannya. Namun, mengingat Joe yang telah membelikan begitu banyak tas, sepatu dan juga beberapa aksesoris lainnya. Membuatnya mau tak mau memakai


barang-barang itu secara bergiliran.


Hal itu di lakukan Tania karena ingin menghargai setiap apa yang di berikan Joe untuknya. Sayang kan, jika barang-barang mewah itu di anggurin begitu saja.


Higheels berwarna cream mengkilat dan juga tas yang berwarna senada dengan dress yang di kenakan. Membuat penampilan Tania terlihat begitu menawan. Setelah Tuti dan Mirna tadi kembali melakukan pekerjaan yang sempat


tertunda karena harus menemaninya. Kini, Tania kembali merasa sendiri, suntuk dengan keadaan dirumah.


Di tengah rasa bosan yang kembali menghampiri. Tiba-tiba saja ponselnya berdenting, menandakan sebuah pesan telah masuk. Tania, buru-buru mengambil ponsel yang ia letakkan di meja, lalu kini dengan segera membukanya.


Jika berkenan. Hari ini mampir ke Caffe ku ya. ada launching menu baru siang ini.


Begitulah bunyi pesan itu.


Ekspresi Tania seketika berubah. Di tambah lagi, foto menu baru yang masuk setelahnya. Gambar itu ternyata berhasil mengunggah seleranya. Berasa ingin sesegera mungkin menyantapnya.


“Kak Roy, aku datang.”


Tania, kini sudah keluar dari kamar. Berjalan menuju kearah anak tangga, lalu menuruni satu per-satu.


Setibanya di lantai bawah. Tania lantas mengambil ponsel yang ada di tas.


Tut… tut… tut…


Panggilan tersambung. Namun, lagi-lagi tak ada jawaban darisana. Sebenarnya, beberapa kali Tania mencoba menghubungi Joe. Berniat, memberitahukan ia akan pergi siang itu.


“Huh, Joe… kenapa kau tak mengangkat ponselmu.” keluh Tania kesal. Lagi, ia mencoba menghubungi Joe untuk yang kesekian kalinya. Namun, lagi-lagi tak ada jawaban dari Joe.


Sebenarnya, Joe, lupa mengaktifkan kembali mode suara di ponselnya. setelah tadi, sewaktu rapat Joe menekan tombol mute yang ada di sana.


“Ah, yasudah lah. Lebih baik aku pergi saja.” lirih Tania.


Terlihat sebuah taksi sudah terparkir diluar pintu gerbang. Sebelumnya Tania memang sudah memesan taksi. Sehingga ia tak perlu lagi menunggu taksi, karena yang di pesan telah sampai.


Tania lantas bergegas melangkah kearah pintu gerbang yang kemudian di buka oleh penjaga. Membuaatnya dengan bebas melenggang keluar darisana. Lalu kini, setelah Tania masuk kedalam. Sang sopir taksi lantas segera melajukan mobilnya, meninggalkan tempat itu.


Hampir setengah jam berlalu. Mengingat jarak Caffe yang di dirikan Roy lumayan jauh. Untung saja jalanan tidak begitu macet, sehingga membuat Tania dengan cepat sampai di sana.


Tania turun. Setelah membayar ongkos taksinya. Wanita itu kini bergegas masuk kedalam yang kemudian di sambut hangat oleh pekerja yang bertugas melayani di pintu depan.


Seulas senyuman mengukir bibirnya. Di sunggingkan kepada si karyawan yang bertugas membuka pintu. Tania lalu bergegas masuk kedalam dan memilih tempat duduk yang ada di sudut sana.


Ini pertama kali Tania berkunjung ke Caffe milik Roy. Setelah sebelumnya, Roy sempat menyuruhnya datang bersama Joe. Namun, hal itu urung dilakukan lantaran Joe yang tak mau saat diajak oleh Tania.


TBC.