
Seiring berjalannya waktu. Bulan pun kian meredupkan cahanya. Matahari, yang perlahan mulai menampakkan sinarnya dari arah timur. Membuat, cahaya bulan redup karena sinarnya. Suara ayam terdengar berkokok, tatkala malam berganti terang.
Disetiap rumah. Orang-orang mulai terjaga. Hangatnya sinar mentari, menandakan jika alam telah kembali bernafas. Aktivitas kembali di kerjakan, sesuai dengan tujuan masing-masing.
Jika yang lainnya kini sudah memulai menjalankan aktivitas. Lain halnya dengan Joenathan. Pria itu, tampak masih terlelap di pembaringan sambil memeluk erat istrinya.
Kriing! Kriing! Kriiing!!
Suara deringan telefon telah berbunyi. Bukan milik Tania, tapi itu adalah ponselnya Joe yang sedang berbunyi. Besarnya volume suara yang sengaja di steel oleh Joe sebelum tertidur, kini telah berhasil membangunkannya.
Joe, mengucek sedikit matanya, seraya mencari keberadaan ponselnya. Di meja samping tempat tidur, Joe meletakkannya disana. Joe, pun kemudian mengambilnya dan melihat ke layar ponsel. Ternyata, panggilan itu datangnya dari Bayu.
“Hallo, Bay..” ucap Joee membuka suara.
“Joe, hari ini kita akan melakukan peninjaun terkait penangan proyek yang sedang dijalankan di selatan. Segeralah bersiap, kita berangkat lebih cepat, agar tidak terjebak kemacetan.” tukas Bayu.
“Aku tidak bisa pergi. Tania, sedang sakit.” kata Joe dengan suara serak.
“Tania, sakit? Sakit apa?!” tanya Bayu menyerukan suara. “Perasaan tadi malam, saat ia menelfon dan menanyakan dirimu. Suaranya terdengar baik-baik saja.” Bayu kembali berkata tanpa menunggu jawaban dari Joe.
“Apa? Tania, menelfonmu?”
“Ya, dia menanyakan keberadaanmu padaku.” jelas Bayu.
“Terus, apa yang kau katakan?”
“Aku harus mengatakan apa? Bukankah aku juga tidak tau keberadaanmu. Jadi, ya aku bilang saja jika aku tidak mengetahui kau ada dimana.” jawab Bayu santai. Ya, bukankah dia berbicara apa adanya.
Joe, membuang nafasnya dengan kasar. “Hmm, sudahlah. Sekarang yang terpenting adalah, kau urus semuanya dengan baik. Jangan sampai ada satupun masalah, disaat aku tidak terjun langsung hari ini.” titah Joe.
“Oke, siap bos!” Bayu mengangkat sebelah tangan ke dahinya. Layaknya, seorang anak buah yang sedang hormat didepan atasan. Padahal, saat ini ia sedang berbicara melalui sambungan telefon.
Setelah merasa cukup berbicara dengan Bayu. Joe, pun lantas mematikan sambungan telefonnya. Dilihatnya, kearah Tania yang masih terlelap. Wajah lelah nan lesu, masih sangat jelas tergambarkan. Perlahan, Joe mendekati Tania, lalu membelai pipinya.
“Sungguh, kasihan sekali istriku.” lirih Joe. Namun, saat tangan Joe mengenai kulit Tania, ia merasa jika suhu tubuh Tania terasa hangat. “Apa dia demam?” Joe, mengerutkan dahi seraya menatap kearah Tania.
Ponsel kembali diraihnya. Kemudian, dengan segera, Joe, menghubungi Naufal untuk bertanya.
Tut.. tut..
Tak perlu menunggu lama. Ternyata Naufal dengan segera menjawab panggilannya.
“Hallo, Joe, ada apa?” tanya Naufal langsung kepada intinya.
“Tubuh, Tania, terasa hangat. Mungkinkah, ia akan demam?” tanya Joe. Suaranya terdengar begitu cemas.
“Tidak apa-apa, sekarang aku akan segera kesana.” ujar Naufal.
“Hmm, baiklah.” Joe, mengangguk. Kemudian, ia pun menutup panggilannya.
Di kediaman Wulan.
Pagi itu. Setelah selesai bersiap-siap dengan setelan kantornya. Wulan, lantas meraih ponselnya, di atas sebuah meja yang dulunya ia gunakan untuk belajar. Meja belajar yang beralih fungsi menjadi meja kerja. Ditekannya beberapa angka yang terpampang dilayar. Nomor sandi, yang biasa Wulan gunakan untuk membuka kunci ponselnya.
Kliik!
Kunci ponsel telah terbuka. Wulan pun melihat, jika ada beberapa panggilan yang tak terjawab di sana. Wulan membukanya, dan panggilan itu ternyata dari Tania.
“Tania, kenapa dia menghubungiku? Dilihat dari waktunya juga, sudah dini hari.” lirih Wulan. “Ada apa ya? Tidak seperti biasanya. Apakah ada hal yang penting ya?” beberapa pertanyaan, tanpa sengaja kini lewat di pikiran Wulan.
Cemas, gelisah. Saat ini sudah datang menghampiri. Wulan, tak bisa tenang, sebelum ia mendapatkan jawaban dari Tania. Dan kemudian, disaat pertanyaan it uterus saja mencuat. Wulan pun akhirnya memutuskan untuk segera menghubungi Tania.
Kriing! Kriingg!
Sebuah panggilan masuk. Hal itu membuat Wulan mengurungkan niat untuk menghubungi Tania. Padahal, tadi itu ia hanya tinggal menekan tombol panggilan saja. Tapi, tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk. Membuat Wulan,
seketika mengurungkan niatnya.
“Bayu,” lirih Wulan.
Panggilan itu ternyata datangnya dari Bayu (General Manager) tempatnya bekerja.
“Hufffttt! Bayu, ada apa sih pagi-pagi gini nelfon.” Wulan, membuang dengan kasar nafasnya.
Diangkatnya panggilan tersebut, lalu kini ia mendaratkan permukaan layar ponsel mendekat ke telinga.
“Hallo,” sapa Wulan.
“Apa kau sudah selesai bersiap-siap? Jika, sudah. Maka, segeralah keluar. Aku sudah menunggumu disini, diluar rumah.” ujar Bayu.
“Apa!” Wulan membelalakkan mata. Gadis itu tersentak kaget. Untuk apa pagi-pagi begini Bayu menunggunya diluar rumah. Pikirnya. “Maaf sebelumnya. Kenapa Pak Bayu, harus repot-repot menunggu saya? Bukankah, jika
ada yang perlu di bicarakan, nantinya kita juga bisa bertemu di kantor?” tanya Wulan.
“Ini darurat. Karena kita harus menggantikan Joe, untuk meninjau langsung penanganan proyek yang sedang di jalankan di bagian selatan.” tukas Bayu. “Sudahlah, cepetan keluar. Aku tak ingin kesiangan. Karena nanti,
kita akan terjebak macet di jalan. Jika kau terlalu banyak bertanya.” tambah Bayu lagi yang kemudian mematikan ponsenya.
Batin Wulan.
Ia lantas bergegas mengambil tas kerjanya. Ponselnya, lalu ia letakkan didalam tas. Niat hati ingin menelfon Tania, kini di urungkannya. Disambarnya sepatu high heels yang tak terlalu tinggi itu. Kemudian segera ia kenakan. Baru setelah itu, Wulan melenggang keluar setelah menguci rapat pintu rumahnya.
Didepan jalan sana. Terlihat, warna corak mobil yang sama sekali tak asing baginya. Wulan pun lantas bergegas menuju kesana. Lalu, setibanya, ia melihat pintu mobil sudah dibuka.
“Cepetan naik!” seru Bayu dengan gerakan tangan sambil memandang kearah Wulan.
Wulan, pun mengangguk sambil melangkah masuk kedalam mobil.
Di waktu yang bersamaan, bertepatan di kediaman Katty.
Gadis itu terjaga dari tidurnya. Sayup-sayup, perlahan kelopak matanya terbuka. Dilihatnya kearah samping. Seorang lelaki yang bertugas sebagai pelayan pengantar makanan, masih terbaring disana.
Cih! Sial! Bisa-bisanya aku menghabiskan waktu bersama pria sampah ini tadi malam.
Batin Katty kesal.
Ditatapnya kearah pria muda tersebut. Tampan, berkulit putih, dengan otot-otot yang menonjol kekar. Tanpa sadar, Katty lantas tersenyum. Namun, sesaat kemudian. Ekspresi wajahnya kembali berubah kesal.
Cih! Meskipun dia tampan sekalipun, tetap saja statusnya hanya seorang pelayan rendahan.
Cemooh Katty dalam hati.
Perlahan, Katty menurunkan kakinya, menapaki lantai keramik kamarnya. Namun, saat ia hendak berdiri, tiba-tiba saja Katty merasakan rasa nyeri di pinggangnya.
“Awwwhh!” Katty menggigit bibirnya. “Sial! aku, sungguh tak menyangka. Ternyata pria muda ini sangat jantan tadi malam. Sssshhh! Nyeri sekali.” Katty menoleh kearah pria itu, sambil menahan rasa nyeri di pinggangnya.
Katty, lantas tak langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia, kembali duduk seraya mengusap pelan pinggangnya. Berharap, usahanya itu dapat sedikit meredakan rasa nyeri di pinggangnya.
Beberapa saat kemudian. Setelah merasa, nyerinya sedikit berkurang. Katty, pun lantas kembali bangkit dari duduknya. Namun, saat ia hampir berhasil berdiri tegak. Tangannya tiba-tiba saja ditarik dengan kasar. Sehingga kini, membuat tubuhnya kembali jatuh keatas ranjang.
Buum!
Katty membelalakkan matanya menatap pria yang saat ini ada di bawahnya. Tubuhnya jatuh, tepat menimpa diatas tubuh pria muda itu.
“Kau!” seru Katty.
Dengan santai, pria itu malah mengulas senyuman. “Hai, sayang… buru-buru sekali?” alis tebal yang hampir menyatu itu, kini terlihat naik sebelah.
“Kau, berani-beraninya!” Katty meronta, berusaha melepaskan diri. Tapi, tidak bisa.
“Kau, mau kemana?” tanya pria muda itu.
“Lepaskan aku!” Katty kian mendelikkan mata. Lalu, kini dengan cepat ia berusaha membalikkan tubuh, agar bisa segera terlepas dari pria itu.
“Lepas, hahahah!” terdengar, suara tawa yang begitu renyah. “Wanita secantik dirimu, bagaimana bisa aku melepaskannya begitu saja.” ujar pria itu. “ Apalagi, jika mengingat atas apa yang kita lakukan tadi malam. Rasanya, aku ingin kita mengulanginya lagi.” pria itu, kini sudah menekan tubuh Katty, serta mengunci kedua tangannya dari belakang.
“Kau, berani-beraninya! Cepat lepaskan aku! Jika tidak, aku pastikan jika kau akan menyesal!” pekik Katty. Nada suaranya juga terdengar mengancam.
“Hah, setelah mengambil keuntungan dariku, sekarang kau malah mengancamku?” pria muda itu sekarang menarik tubuh Katty agar lebih mendekat kearahnya. Ditempelkannya permukaan lembut bibirnya di belakang daun telinga Katty, sembari menghembuskan udara hangat dari mulutnya. “Fiuuhh…”
Katty seketika merinding, tubuhnya terlihat bergetar. Membuat si pria muda kembali mengulas senyumnya. “Heh, ternyata, tubuhmu juga menginginkannya.” Bisik pria itu seraya kembali menghembuskan nafas hangatnya.
“Kau! Jangan—“
Belum sempat Katty menyelesaikan kalimatnya. Pria muda itu lantas dengan cepat menyergah bibirnya.
“Ummm… ummm…” mulut Katty di bungkam. Dengan segenap tenaga, Katty mencoba melepasnya, tapi tak bisa. Kedua tangannya telah di kunci. Menggunakan tangan kiri si pria.
Pria itu, kini kembali menjatuhkan tubuhnya di pembaringan empuk milik Katty. Posisi Katty, kini menindihnya dari belakang. Merasa tak leluasa, pria itu lantas membalikkan tubuh Katty, berada di bawahnya.
Ternyata, posisi itu di pakai Katty untuk melawan. Ia meronta-ronta menggunakan kedua kakinya, dengan menendang secara brutal. Hal itu, membuat si pria muda tak kehilangan akal. Ia lantas menekan kedua kaki Katty menggunakan kedua kakinya.
“Kenapa? Kenapa kau begitu kasar Nona?” tanya pria itu.
“Cih!” Katty mendaratkan sebuah cairan bening, tepat mengenai wajah pria itu.
“Heh, hanya ini saja.” pria itu terlihat menyeka ludah yang menempel di wajahnya, lalu menjilatnya. “Hmm, rasanya sungguh nikmat. Sama seperti tubuhmu yang indah ini.” si pria mengedipkan mata.
“Dasar be—“ Katty tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Makiannya tertahan karena jari telunjuk yang menempel di permukaan bibir indahnya.
“Sssttt! Jangan habiskan tenagamu hanya untuk memakiku. Lebih baik, sekarang kita sama-sama menghabiskan tenaga untuk hal yang lebih indah.” ujar pria itu dengan raut wajah yang begitu bersemangat.
Katty tak dapat menolak. Tubuhnya sudah tidak dapat bergerak. Tangan kanan si pria muda, telah menjelajar keseluruh tubuhnya. Jika tadi malam, Katty, lah yang begitu bersemangat menarik pria itu masuk kedalam kamarnya. Lain halnya pagi ini, si pria seolah sedang membalaskan dendam atas kenikmatan yang Katty berikan tadi malam.
Raungan begitu terdengar memenuhi ruang kamar. Setelah membalaskan dendamnya, si pria perlahan ambruk di samping wanitanya. Seulas senyuman, kembali tersunggingkan. Senyum puas, akan kemenangan.
Katty kembali terkulai lemas di pembaringan empuk miliknya. Helaan nafas juga terasa agak berat. Seluruh tubuh, bahkan terasa sakit. Jangankan untuk berdiri, untuk duduk saja ia hampir tak mampu. Butuh istirahat untuk memulihkan tenaga.
TBC.
NB. JANGAN DI CONTOH SIFAT KATTY YA. JIKA KALIAN TIDAK INGIN MENYESAL PADA AKHIRNYA.