
Terlihat, seorang wanita baru saja keluar dari sebuah gedung
perusahaan. Langkahnya, amat-sangat tergesa-gesa dengan ayunan kaki yang sengaja
dihentakkan tak beraturan. Wajahnya, terlihat muram seolah baru saja mengalami
hal yang begitu mengesalkan.
Bam!!
Pintu mobil sengaja dibanting, meluapkan kekesalaannya.
“Sial! Sial! Sial!” gumpalan tangan yang sedari tadi telah
mengeras, kini berhasil didaratkannya dengan keras di kemudi setirnya.
“Aaaaahhhh!!” erangan keras lantas keluar dari mulutnya.
Dengan mata memicing, serta tangan yang mulai menarik rambut, terlihat jelas
bagaimana frustrasinya dia sekarang. “Tania… aku benci dirimu!!”
Dia adalah, Katty. Seorang wanita yang licik hati.
Katty, kembali mengepalkan tangannya. Rasanya, membanting
pintu dan kemudi setirnya saja itu sama sekali tak cukup. Ingin sekali ia
menampar, ataupun menonjok seseorang sebagai alternatif pelampiasan amarahnya.
Pertemuannya dengan Tania membuat Katty dirundung rasa
kesal. Bagaimana tidak, seharusnya setelah malam itu. Tania dan Joe, akan
bertengkar. Menjalani masalah yang tak kunjung terselasaikan. Tapi, sekarang
nyatanya tidak seperti itu. Tania, datang ke perusahaan. Seolah menggambarkan,
jika tidak ada sama sekali perselisihan diantara mereka.
Wajahnya, juga terlihat tenang. Tak menunjukkan sedikitpun
gurat kesedihan, serta gayanya juga terlihat berbeda. Dengan setelan modis yang
melekat di tubuhnya, membuatnya terlihat sangat pantas dalam menyandang
statusnya sebagai Nona besar. Sanjungan para karyawan, senyum hangat yang
mereka lontarkan, kepada Tania. Membuat, Katty semakin berang tak beralasan.
“Mau pakai setelan mewah apapun. Yang namanya gadis kampung,
ya… tetap saja kampung!” sungut Katty kesal. “Akulah, Katty, yang seharusnya
lebih pantas menyandang setatus, sebagai Nona besar, hahahah!” Katty tergelak,
sembari membayangkan betapa indahnya andai saja ia yang mendapatkan status
sebagai istri Joenathan.
Kriing! Kriing!
Suara deringan ponsel, membuat Katty tersentak. Ia sadar dari
lamunannya. Lamunan, membayangkan betapa indahnya menjadi Nyonya Joenathan. Tapi,
Katty, lantas meraih ponsel yang ia tauh di dalam tas.
dilihatnya di layar ponselnya, Kevin, sedang menelpon dirinya.
“Pria ini,” Katty, mengerutkan dahinya tak senang. “Rasanya,
malas sekali jika harus menjawab panggilan dari Kevin sekarang. namun,
mengingat jika Kevin menyimpan videonya. Katty pun lantas dengan segera
menggeser tombol hijau yang ada di sana.
“Hallo,”
“Baby, kamu sekarang di mana?” tanya Kevin dengan nada yang
dibuat mesra.
“Aku sedang bekerja, ada apa?” jawab Katty ketus.
“Baiklah, jika kau ingin langsung mendengar intinya. Maka,
aku tak akan sungkan lagi menjawabnya.” Kevin, kini beranjak dari sofa, lalu
mengarah ke pembaringan.
“Katakan, apa maumu!” sentak Katty.
“Saat ini aku sangat menginginkanmu. Bisakah kau langsung
pulang sekarang?”
“Aku—“
“Aku tidak suka menunggu. Jadi, lebih baik segeralah pulang!”
titah Kevin yang kemudian menutup panggilannya.
“Aaaarrrgghhh!!” Katty melempar ponselnya ke jok belakang. Rasanya,
kepalanya mau pecah sekarang.
Kevin, sungguh membuatnya kewalahan. Dirinya, seakan telah
dikontrol sekarang. Oleh, seorang pria muda hidung belang. Yang ternyata sangat
haus akan kepuasan.
Ya, Kevin adalah seorang pria hiperseks akut. Jika
dibandingkan dengan, Joe. Kevin tiga kali lebih tinggi kebutuhan biologisnya
daripada Joenathan. Meski telah melakukannya berulang kali. Namun, ia seolah
tak pernah puas dalam hanya satu kali hubungan. Pernah, pada suatu malam. Disaat
Katty sudah tidak lagi sanggup dalam melayaninya. Kevin, terus memaksanya untuk
terus melakukannya. Bahkan, disaat Katty sedang terlelap pun. Kevin, terus
melakukannya hingga ia merasa puas.