
“Joe.” lirih Tania.
Sayup-sayup Tania melihat langkah Joe yang semakin mendekat kearahnya. Joe menatap sayu kearah Tania. Lalu setibanya di sana, Joe pun lantas duduk di sebuah kursi yang terletak tepat di samping tempat tidur Tania.
“Sayang, kau sudah sadar. Syukurlah.” Joe memegang lembut tangan Tania, lalu menciumnya.
Tania tersenyum, lalu kini ia pun bertanya. “Joe, kau darimana saja?”
“Aku barusan dari ruangan Dokter Naufal. Kebetulan dia adalah sepupuku, jadi kami ngobrol banyak di sana.” Joe kini kembali menurunkan tangan Tania dan meletakkannya dengan lembut.
“Oya, terus apa kata Dokter? Aku sakit apa?” beberapa pertanyaan di lontarkan Tania.
“Katanya sekarang ini kamu sedang mengandung.” Jelas Joenathan.
“Mengandung?” Tania terkejut, matanya terbelalak seolah tak percaya. Sehingga membuatnya kembali bertanya, memastikan apakah yang di katakan Joe benar adanya.
“Ya, sayang, kau sedang mengandung sekarang.” Joe memegang pucuk kepala Tania, lembut. “Selamat ya, akhirnya keinginanmu di kabulkan oleh Tuhan.” Joe mengulas senyuman, terlihat begitu imut dengan gerakan hidungnya yang sengaja di buat-buat.
“Alhamdulillah.” Tania mengatupkan kedua tangannya di wajahnya. Penuh syukur dengan karunia yang telah di berikan kepadanya.
Rasanya baru kemarin ia mengatakan kepada Joe untuk mempunyai bayi, meskipun awalnya Joe menolak karena tak ingin mempunyai saingan dalam urusan perhatian dari dirinya. Namun dengan berbagai penjelasan dari Tania, akhirnya Joe mengerti tentang pentingnya anak dalam sebuah pernikahan.
“Joe…” Tania mengulurkan tangannya. “Sini, peluk.” Suaranya terdengar begitu imut.
Joe tersenyum, lalu kini membantu Tania duduk. Setelah itu ia pun memeluknya.
“Hmm, kau membuatku bergairah sekarang.” bisik Joe di telinga Tania, membuat wanita itu segera melepaskan pelukannya. “Hahahahah!” Joe, tergelak. Tawanya memenuhi isi ruangan.
“Dasar suami cabul! “ sungut Tania sambil memasang wajah cemberutnya.
“Hehehehe.” Joe kembali terkekeh. Keisengannya ternyata mampu membangkitkan kembali semangat Tania. “Aku cuma bercanda. Mana mungkin aku melakukan hal itu di saat kau sedang tak berdaya seperti ini.”
“Jangan bilang tidak mungkin. Pria mesum sepertimu bisa melakukan segala hal. Buktinya kemarin-kemarin, saat aku sedang tertidur lelap kau bisa melakukannya.” Tania kembali mengingatkan tentang apa yang di lakukan Joe
beberapa hari lalu.
Malam itu, Joe terlihat sedang sibuk dengan pekerjaanya yang di bawa pulang kerumah. Sehingga membuat Tania memutuskan untuk tidur. Tania tidur dengan pakaian lengkap. Namun paginya saat bangun, wanita itu sudah tak lagi memakai pakaiannya. Semuanya sudah tercecer di lantai.
“Heheheh.” Joe kembali terkekeh. Mengingat itu kali pertamanya ia melakukan saat Tania terlelap. Posisi tidur Tania yang sangat menggoda, membuatnya tak bisa melewatkan kesempatan. “Itu semua karena kau yang terlalu menggoda.”
“Kau yang terlalu mesum!” kesal, Tania lantas melempar bantal guling yang ada di sampingnya tepat di wajah Joe.
Joe menangkap guling itu. Seulas senyuman kembali terpancar di wajahnya.
“Lempar lagi saja, hari ini aku akan diam. Tapi ingat, nanti saat kau sudah sehat dan pulang ke rumah. Kau harus membayarnya sepuluh kali lipat.” Ucap Joe di selingi kekehan setelahnya.
“Joe!” Tania kembali mendelikkan matanya, kehabisan akal menanggapi suaminya.
Sementara itu, sang Suster yang bertugas di sana. Kini terlihat senyum-senyum sendiri melihat adegan romantic yang ada di depannya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 01:05 dini hari. Joe sudah terlelap di sebuah sofa yang ada di kamar rawat Tania. Maklum saja, kamar yang di huni oleh Tania saat ini adalah kamar VVIP untuk kalangan atas. Sehingga fasilitasnya sangat lengkap disana.
Perlahan Tania terjaga dari lelapnya. Udara yang semakin dingin yang menusuk hingga ke tulang membuat tidurnya tak nyenyak. Di tambah lagi, perutnya yang tiba-tiba saja terasa perih, karena lapar. Semua itu karena tadi Tania makan cuma sedikit, karena tak berselera.
“Hmm, lapar.” Tania menarik selimutnya, lalu kini memegangi perutnya. Dilihatnya ada buah-buahan segar di sana. “Makan buah bisa bikin kenyang kali ya.” fikir Tania.
Tapi, melihat posisi letak buah yang lumayan berjarak dari tempat tidurnya, membuat Tania tak bisa meraihnya.
“Bagaimana ini, nggak nyampe.” Mulai memikirkan cara untuk bisa memakan buahnya. “Apa aku bangunkan Joe saja ya.” terpikir ide untuk membangunkan Joe sekarang. “Tapi, kasihan Joe.” hatinya menolak karena merasa
iba dengan suaminya. “Tapi aku sangat lapar.” mulai memikirkan nasip perutnya, yang kian perih karena rasa lapar yang tengah menerpa. Hingga akhirnya, tak ada pilihan lain, Tania harus membangunkan Joe sekarang.
“Joe.” lirih Tania pelan, membuat Joe sama sekali tak mendengarnya. “Joe.” Tania kembali memanggilnya, dengan intonasi suara yang di tingkatkan dari sebelumnya, dan ternyata hal itu berhasil. Joe mulai menggeliat lalu perlahan membuka mata.
“Emm, sayang.” suara Joe terdengar sedikit serak. “Kau sudah bangun?” tanya nya sambil melihat jam mewah yang melingkar di tangannya. “Loh, ini kan belum pagi.” Ucap Joe setelah tersadar jika itu masih dini hari.
“Aku lapar.” Ujar Tania.
“Lapar?” Joe mengernyitkan dahinya.
“Huum, dan aku sekarang ingin makan itu.” Tania menunjuk kearah buah-buahan segar yang terletak di meja.
“Makan buah? Hmm, baiklah.” Dengan malas Joe bangkit dari tempatnya lalu berjalan mendekati sebuah meja kecil yang ada disana. “Kau ingin buah apa?” tanya Joe kemudian, mengingat ada beberapa macam puah di sana.
“Apa saja, sekalian kupasin ya.” titah Tania.
Tak banyak bicara, Joe pun langsung mengupas buah Apel yang ada di sana. Memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu kini menyerahkannya kepada Tania. Tania mengambilnya, memakannya dengan sangat lahap. Namun,
setelah memakan begitu banyak buah yang ada di sana. Entah mengapa, Tania belum merasa kenyang, dan kini menginginkan yang lain .
“Joe, aku masih lapar.” keluh Tania.
“Lapar?” Joe menatap bingung Tania.
“Huum, aku lapar, dan sekarang ingin makan nasi goreng pedas yang di masak dengan daging ayam suir.”
“Tapi ini sudah tengah malam, mana ada orang jualan nasi goreng di jam segini.” Joe menunjukkan jam tangan miliknya, agar Tania tau sudah jam berapa sekarang.
“Tapi Joe, aku sangat menginginkannya.” Air mata seketika jatuh dengan sendirinya. Entah karena apa, yang pasti saat ini Tania merasa sangat sedih karena Joe tidak menuruti permintaanya.
Joe menghela nafas panjang. Melihat Tania menangis sedih di depannya, membuat Joe tak tega. Apalagi hal itu di karenakan hanya soal makanan, seolah-olah ia tak mampu memberinya. Kasihan sekali dia.
“Hmm, baiklah. Aku akan mencari restoran yang masih buka. Menyuruh mereka membuatkan makanan seperti yang kau inginkan. Apa kau merasa senang sekarang, jadi berhentilah menangis.”
Tania menyeka air matanya. Senyum lebar menghiasi bibirnya. Lalu kini dengan semangat ia kembali menambah pesananya. “Sekalian jus Alpokatnya satu ya.”
TBC.