CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 171


Suasana hari ini begitu berbeda. Lain dari biasanya. Beberapa hari ini, para karyawan terlihat sangat bekerja keras karena, Joe, yang tak kunjung puas dengan kinerja mereka. Seperti biasa, setiap kali, Joe, dilanda masalah. Para karyawanlah yang akan terkena imbasnya. Mereka, akan ditugaskan untuk mengulang pekerjaan yang sama hingga, Joe, merasa hal itu benar-benar sudah cukup dan layak untuk di presentase kan.


Masalah pribadi, amatlah sangat besar berpengaruh dalam urusan pekerjaan. Biasanya, jika urusan asmaranya berjalan dengan baik dan lancar. Joe, akan merasa senang, dan pekerjaan karyawan akan berjalan ringan, mulus dan lancar.


Pagi ini. Disetiap langkah, Joe, menapaki lantai keramik perusahaannya. Para karyawan yang sudah datang, terlihat menunduk segan, seraya memberi hormat kepadanya. Joe, membalas mereka dengan senyum hangat yang


tersungging dari bibirnya. Hingga, membuat para karyawan yang ada di sana, merasa aneh, dengan kelakuannya. Ingin rasanya mereka mengabadikan momen langka itu. Namun, sayangnya untuk menaikkan kepala dan menatap langsung saja, mereka tak mampu.


Beberapa saat setelah, Joe, berlalu. Mulailah, beberapa orang yang tadinya menyapa terlihat menengadahkan kembali kepalanya. Menyaksikan, sisa-sisa langkah kepergian sang atasan. Mereka, mulai membicarakan, hal aneh yang baru saja terjadi.


“Hei, lihat nggak tadi. Tuan Joenathan, tersenyum kepada kita,” cetus salah satu karyawan pria yang berdiri di sana.


“Iya, kamu benar. Aku, juga melihatnya tadi. Sepertinya, moodnya Tuan Joenathan, sedang dalam keadaan bagus hari ini.” sambut, teman sejawat yang lainnya.


“Ya, kalian benar. Semoga saja, dengan moodnya yang sedang bagus itu. Pekerjaan kita hari ini, semuanya berjalan dengan lancar.” timpal yang lainnya.


Ada sekitar sepuluh orang karyawan yang tengah berdiri di sana. Mereka, terbagi dari beberapa pria dan juga wanita. Terlihat tampak asik, serta begitu bersemangat tatkalan membicarakan tentang atasannya.


“Ehm-ehm!”


Dari arah depan. Terdengar, suara seseorang yang kemudian datang menghampiri mereka. “Pagi-pagi begini kalian sedang membicarakan apa?”


Beberapa orang yang tengah asik membicarakan tentang, Joenathan, itu akhirnya menghentikan pembicaraan. Ya, kehadiran, Bayu, membuat mereka bungkam. Di perusahaan itu, Bayu, adalah orang yang paling disegani setelah, Joe. Mengingat, jabatan yang saat ini diembannya, dan juga statusnya yang dikenal sebagai sahabat sekaligus, orang kepercayaan dari, Joenathan.


“Tidak perlu sungkan. Katakanlah, sepertinya tadi aku mendengar, jika kalian sedang membicarakan presdir kita?” Bayu menanyakan.


“Anda benar, Tuan. Maaf atas kelancangan kami. Hari ini, Tuan Joenathan, terlihat berbeda. Saat tadi beliau memasuki perusahaan, seperti biasa, kami semua memberi hormat kepadanya. Namun, hal yang tak terduga terjadi. Tuan Joenathan, membalas kami denga senyum hangatnya. Momen ini sangat jarang sekali terjadi, membuat kami semua tak tahan untuk tidak membicarakannya,” salah satu dari mereka menjelaskan.


“Hahahahah!” Bayu, tergelak mendengarnya. “Bagaimanapun juga, Tuan Joenathan, adalah manusia biasa. Dia, juga memiliki sisi hangat dalam dirinya. Jadi, wajar saja bukan jika dia tersenyum kepada kalian? Lagipula, bukankah itu pertanda bagus. Seharusnya jika moodnya sedang baik seperti ini, maka hari ini kemungkinan besar pekerjaan kalian akan berjalan dengan lancar,”  Bayu kembali menimpali. “Yasudah, jangan terus membicarakannya seperti ini. Sebaiknya, mulai pekerjaan kalian. Karena, kalau, Joe, sampai tau kalian membicarakannya seperti ini, sementara pekerjaan kalian masih terabaikan. Maka, hari ini akan sama sulitnya seperti hari-hari yang sebelumnya,” nasihat Bayu.


Setelah sedikit bercengkrama beberapa saat dengan beberapa karyawan yang ada di sana.


Bayu, kini lantas kembali meneruskan langkahnya menuju kearah salah satu lift khusus yang ada di ujung sana. Sementara itu, para karyawan yang tadinya sedang membicarakan, Joe. Kini, semuanya telah bubar, pergi ke tempat masing-masing. Untuk memulai mengerjakan pekerjaannya.


***


Ceklek!


Pintu terbuka, bersamaan dengan itu. Bayu, pun melangkah masuk kedalam ruangan, Joe. Dilihatnya, Joe, sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya. Sebuah laptop sedang terbuka, dengan tatapan serius Joe yang menatap kelayarnya.


“Ehm! Serius banget nih!” cetus Bayu ketika sudah mulai menapaki bokongnya di salah satu kursi yang ada di sana.


Di depan meja kerja, Joe, ada dua buah kursi. Yang satunya telah diduduki oleh, Bayu. Sementara, yang satunya lagi kosong tak berpenghuni.


“Kau, mau apa, Bay?” ekspresi Joe, terlihat datar.


“Enggak, ada. Aku cuma mau lihat-lihat keadaanmu saja.” Bayu menjawab.


“Melihat keadaanku?” Joe, mengernyitkan mata. “Bukankah, setiap hari kita selalu bertemu. Apa, itu tidak membuatmu bosan? Jujur, aku saja, merasa bosan melihatmu terus duduk di hadapanku,” Joe, bergurau. Tapi, ekspresi wajahnya dibiarkan datar. Sengaja, memancing reaksi apa yang terjadi pada, Bayu, kini.


“Dasar, Joe, sialan! Awas saja, jika kau meminta bantuan padaku lagi.” sungut Bayu.


kepadaku. Ya, aku hanya menuruti nya saja.” cibir Joe, seraya menaikkan bahunya. Tubuhnya, kini ia sandarkan di kursi kebanggaannya itu.


“Sial! Kenapa aku dulu bisa berbicara seperti itu ya,” sesal Bayu.


“Hahahahah!” Joe, kembali tergelak. Eksprei sesal yang ditunjukkan Bayu, membuat, Joe, tak mampu menahan gelaknya. “Sesal takkan ada gunanya. Sekarang, aku rajanya. Dan kau, harus menuruti semua ucapanku. Hahah!”


Joe, kembali tergelak.


Sekitar pukul 11:00 WIB.


Hari ini,  perusahaan Alexandre kembali mengadakan pertemuan singkat dengan perusahaan, Katty. Terkait pembahasaan proyek yang sedang di jalankan. Joe, kini memberikan seluruh tanggung jawabnya kepada, Bayu. Bayu, diutuskan untuk menemui, Katty, dan rekannya. Sementara, Joe sendiri sibuk memikirkan rencananya sendiri.


Ya, hal itu sengaja, Joe, lakukan karena memang sudah tak ingin lagi bertemu dengan, Katty. Wanita itu selalu membawa masalah terhadap rumah tangganya. Terlebih lagi, hal yang baru-baru ini terjadi. Sungguh, Joe, sama sekali tak bisa memaafkannya.


Kerjasama telah terjalin. Saat ini, proyek juga sedang berlangsung. Sudah setengah jalan, dan itu tak mungkin ia tinggalkan. Satu-satunya cara saat ini adalah membiarkan, Bayu, mengemban seluruh pekerjaannya.


Siang itu. Di ruang pertemuan. Bayu, dapat melihat dengan jelas bagaimana kurang bersemangatnya wanita itu. Wanita, yang biasanya selalu tampil energik, serta penuh percaya diri itu. Hari ini, terlihat lesu dan tak bergairah.


Belakangan ini, Katty, selalu tak cukup tidur. Dikarenakan, harus mengemban tugasnya yang baru. Tugas, melayani nafsu bejad, Kevin, yang selalu menginginkannya setiap malam. Semenjak kejadian itu, Kevin, nyaris tak


pernah absen satu malam pun datang menemui, Katty, di apartemennya. Bahkan, saat ini ia sudah mempunyai kunci duplikat apartemen, Katty. Sehingga, membuatnya lebih leluasa keluar masuk kedalam apartemen itu.


Ancaman penyebaran video. Memaksa, Katty, menyetujui permainan yang dimainkan, Kevin, kepadanya. Meskipun merasa sangat jijik. Namun, ia harus melakukannya, semua itu demi mempertahankan reputasinya.


Ya, reputasi adalah hal yang teramat penting bagi, Katty. Ia, tak ingin reputasinya sebagai wanita terhormat hancur begitu saja. Salahnya, yang pada saat itu sembarangan memilih lawan. Sehingga kini, resiko terbesar dalam hidupnya harus ia hadapi.


Andai saja jika malam itu, Katty, tidak nekat melakukan hal yang tak terpuji itu kepada, Joenathan. Mungkin, semuanya tidak akan jadi seperti ini. Ataupun, andai saja malam itu, Joe, bersedia menghabiskan sisa malam dengannya. Maka, hal ini juga tidak akan terjadi.


Ya, semua ini gara-gara, Tania. Karena wanita itulah, Joe, meninggalkannya saat itu. Meskipun, hasratnya sudah berada diujung tanduk. Namun, Joe, tetap memilih mempertahankannya dan pulang melampiaskannya kepada, Tania.


Sial! Apa sih sebenarnya yang dimiliki wanita itu, yang tidak ada dalam diriku? Kenapa, Joe, yang dulunya gampang sekali dirayu, kini seakan bebal. Ia, bahkan mampu mengontrol dirinya, tak melirik sedikitpun. Bahkan, setelah aku mempengaruhinya dengan parfum itu.


Tangan, Katty, mengepal. Pandangannya, kosong lurus kedepan. Fikirannya, tiba-tiba saja teralihkan ke hal yang yang di luar jangkauan. Saat ini, ia bahkan sama sekali tidak menyimak tentang apa yang sedang dibicarakan.


“Ekhm-ekhm!”


Suara, Bayu, yang terdengar begitu nyaring. Membuat, Katty, tersentak sadar dalam lamunannya.


“Eh, ma-maaf! Tadi, itu aku kurang fokus. Itu, karena sepertinya hari ini aku kurang sehat.”


“Silahkan, anda melanjutkannya kembali, Tuan Bayu,” Katty, mempersilahkan.


Sedari tadi, Bayu, terus memperhatikan sikap, Katty, itu. Sikap, yang tak biasa ia tunjukkan saat sedang berada di ruang rapat. Membuat, Bayu, semakin bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mungkinkah, wanita licik seperti, Katty, ini juga mempunyai masalah yang tak bisa terselesaikan? Atau mungkin, sikapnya ini karena tidak adanya, Joe, di sana. Sehingga, hal itu mempengaruhi semangatnya? Tidak, mungkin ia seperti ini karena alasan kesehatannya, kan. Beberapa pertanyaan itu, tercetus di benak, Bayu, dengan sendirinya. Sehingga, membuatnya sedikit tidak senang, jika pertanyaan yang terakhir muncul itu benar adanya.


Katty, lihat saja. Jika, kau berani memikirkan, Joe. dan juga, kembali berusaha mengganggu hubungannya dengan, Tania, lihat saja. Aku, Bayu, tidak akan tinggal diam.


Batin Bayu.


TBC.