
Seikat buket bunga sudah di tangan. Berulang kali, Joe mencium aroma harum buket bunga.
Semoga ia suka..
Senyum manis terlihat tersungging di bibirnya. Sambil menatap keluar jendela, melihat indahnya cakrawala yang membentang kala petang yang telah datang.
Tak berapa lama kemudian. Mobil sudah tiba di pekarangan rumah Joe. Setelah menurunkan Joe, di depan teras rumah. Pak Min, selaku supir pribadinya lantas membawa mobil itu untuk memarkirkannya di tempat yang seharusnya.
Derapan suara sepatu terdengar, begitu Joe memasuki rumah. Langkahnya yang terbilang cukup cepat, seolah tak sabar ingin segera melihat istri yang sangat di cintainya. Menyerahkan buket bunga yang ada di tangan, meminta maaf, lalu berbaikan.
Segenap keegoisan telah ia singkirkan demi untuk dia (Tania). Langkah yang kian terpacu, dengan rasa yang menggebu seolah saling terpacu dalam hati. Joe, kini sudah tiba didepan kamarnya. Ia berdiri tegak, dengan
seulas senyuman yang ia kembangkan. Hangat, serta begitu tulus yang hanya terlihat untuk Istrinya.
Di surukkannya tangan itu ke belakang. Menyembunyikan buket bunga yang ada di tangan. Joe, ingin memberikan kejutan itu setelah ia mengucapkan kalimat maaf padanya.
Ceklek!
Pintu terbuka. Dengan mantap, Joe melangkah masuk kedalam kamar lalu seketika mengerlingkan pandangannya kesuluruh ruangan. Ada, dia ada di sana. Tania, saat ini tengah duduk di atas ranjang sambil menatap kearah depan, dengan sebungkus camilan yang ada di tangan. Wanita itu terlihat sangat fokus menyaksikan drama romantis yang ada di sana, sehingga tak menyadari jika Joe (Suaminya) saat ini telah pulang.
Joe, terus melangkah mendekati ranjang. Lalu setibanya di sana, ia pun memeluk tubuh Tania dari samping.
“Sayang…” lirihnya, seraya mengecup mesra leher Tania. “Hmm, kau harum sekali.” Matanya terpejam, menikmati aroma favorit yang menempel di tubuh Tania.
Tania menggerakkan badannya. Seolah tak nyaman, dengan situasi yang ada. Mereka tengah tak saling bicara, tapi sekarang, Joe dengan begitu enteng nya memeluknya, bahkan mencumbui lehernya.
“Joe, lepas!” Tania meronta, dalam dekapan Joe hendak melepaskan diri.
Joe tak membiarkan. Mendekap tubuh Tania, entah mengapa ada sebuah kedamaian yang sangat sulit untuk di jelaskan. Joe, semakin mempererat dekapannya. Meskipun hanya sebelah tangan, ia mampu membungkam tubuh Tania hingga tak dapat melawan.
“Joe…” nada suara Tania mulai terdengar mendesah. Gerakan liar Joe yang mengitari lehernya, sungguh tak dapat membendung dirinya. Hatinya menolak, tapi sayangnya sepertinya tubuhnya tidak. Namun, Tania tetap berusaha mengendalikan diri, membiarkan ego menahan diri.
“Sayang… maaf. Maafkan aku yang terlalu cepat menuduhmu. Aku sudah tak percaya padamu, bahkan saat kau sudah menjelaskan, egoku malah semakin membuatku berbicara yang tidak semestinya terhadapmu.” ujar Joe dengan segala rasa bersalahnya.
“Aku tau, kau marah, sakit hati karena perkataanku. Tapi, itu semua bukan hal yang tulus keluar dari hatiku. Melainkan luapan kekesalan karena aku tak bisa melihatmu dengan pria lain, apalagi pria itu menyentuhmu. Sungguh, aku sangat sakit hati karena hal itu.” kembali Joe mengutarakan isi hatinya.
“Tania, kau wanita pertama yang berhasil menaklukkan hatiku. Diriku, jiwaku, ragaku, seolah telah terikat bersamamu. Aku takut, sungguh takut, bahkan amat-sangat takut jika harus kehilanganmu.” lagi, kalimat itu terdengar.
Tania memejamkan mata. Meresapi setiap kalimat yang terdengar. Dalam. Sehingga ia dapat merasakan jika itu ada pada posisi dirinya. Tapi, perkataan kasar yang seolah tak memperdulikan dirinya dan juga anaknya, apa itu harus ia tolerin juga? Tania diam, bingung dalam keheningan.
Joe tak ingin berputus asa. Diamnya Tania, serta berhentinya gerakan melawan yang tadinya seolah ingin melepaskan diri darinya. Kini sudah tak lagi terasa, hanya tersisa, Tania, yang seperti sedang mempertimbangkan.
Mungkinkah ia masih ragu? Apakah kalimat yang barusan tidak cukup untuk membuatnya percaya, dan memaafkanku?
Batin Joe.
“Sayang, apa kau masih meragukanku? Kenapa kau tak bicara, ataupun menjawab permintaan maafku? Kau tau, diam mu seolah bagaikan cambuk besar yang menghentakkan seluruh tubuhku.” tatap Joe nanar.
Tania melihat kesungguhan di mata Joe. Tatapannya yang nanar, serta wajah yang menunjukkan penuh sesal. Membuat hati Tania perlahan luluh, bagaikan air laut yang menyapu pasir di pinggir pantai. Menutup segala goresan yang terukir di bibir pantai.
“Sayang, aku mohon maaf darimu, maafkan aku.” lagi, permintaan maaf tulus itu keluar dari mulut Joe. pria yang biasanya terlihat sombong itu, kini malah bicara dengan wajah memelas, memohon sambil menunduk di depan seorang wanita.
“Apa kau sekarang sudah mengakui kesalahanmu?” tanya Tania, suaranya terdengar gemetar di ujung bibirnya.
“Ya, aku mengakui kesalahanku!” tanpa pikir panjang, dengan cepat Joe menjawab.
“Apa kau mau berjanji padaku? Tak akan lagi menuduhku sembarangan?” tanya Tania.
“Akan percaya dengan setiap yang aku katakan?”
“Ya, pasti. Tentu saja aku akan sangat percaya!”
“Tidak lagi membatasi ruang gerakku?”
“Ya, eh, tidak! Untuk itu aku tidak bisa, bagaimanapun kau harus tetap dalam pengawasanku.” dengan tegas Joe menolak.
“Tapi Joe, aku ingin bebas, bisa melakukan apasaja. Sikapmu yang seperti ini, membuatku bagaikan tawanan!” Tania mengeluhkan keadaannya.
“Tawanan? Apa kau merasa bagaikan di penjara?” tanya Joe seraya menelisik dalam ke mata Tania.
“Ya, kau terlalu membatasi ruang gerakku. Selain bersamamu, aku tidak boleh pergi kemanapun. Kau selalu menyuruhku untuk duduk dirumah. Menunggu pulang, dan berjanji mengajakku jalan-jalan. Tapi nyatanya, kau selalu sibuk dengan urusanmu, sehingga tak punya waktu untuk kita bersantai ria sejenak.” keluh Tania.
Joe mendengarkan semuanya. Lalu kini, ia membuang nafasnya kasar. “Baiklah, aku akan membebaskan pergerakanmu. Tapi, kau harus tetap dalam pengawasanku. Maka dari itu, aku memutuskan untuk memberikanmu pengawal yang akan mengikuti kemanapun kau akan pergi.” jelas Joe, setelah mempertimbangkan kalimat putus asa yang di dengar dari mulut suaminya.
“Tapi, Joe! aku—“
“Ssssttt! Diam, tidak ada tapi-tapian, ini semua sudah ku putuskan.” Joe meletakkan jari tangannya di permukaan bibir Tania, yang membuat wanita itu tidak lagi melanjutkan kata-kata.
Perlahan, ia mulai mendekatkan wajahnya. Mendekati Tania, lalu dengan cepat menyergah bibirnya.
Cup!
Joe, dengan rakus melahap permukaan lembut yang berwarna merah muda itu, hingga membuat Tania tak dapat lagi bersuara.
Aksinya mulai melebar. Hasratnya mulai mengibar, layaknya bendera yang membentang luas di udara. Semakin berhembusnya angin, maka semakin lebar pula bendera itu terkibar.
Sleep!
Joe, mulai menyusupkan tangannya kedalam kaos tipis yang di kaos yang di kenakan Tania. Bermain-main, sesuka hati di sana. Sesaat setelah Joe melepaskan lumatannya, yang akhirnya berpindah ke leher. Tanpa sengaja, mata Tania menoleh kearah sebelah tangan Joe, yang sedari tadi terselip ke belakang.
“Joe, bunga siapa itu?” tanya Tania saat mendapati seikat buket bunga yang terselip bersama tangan Joe di belakang.
Joe lantas menghentikan aksinya. “Astaga, aku hampir melupakannya. Ini bunga yang ku belikan untukmu, aku hampir saja lupa.” mengulurkan tangannya lalu menyerahkannya kepada Tania.
“Untukku?”
“Ya,” Joe mengulas senyuman.
Hampir saja. Hasrat yang telah terkibar, menutupi niat awal yang sudah di siapkannya. “Apa kau suka?” tanya Joe kini.
“Ya, aku suka sekali, mawa merah yang indah. Aku su—“
Tak melanjutkan lagi kalimatnya. Tania kini malah terpaku, menatap jas yang masih menempel di badan Joe.
Bekas lipstick?
Ya, ada bekas lipstick di sana. Dengan bentuk bibir yang menempel di bahu jas yang Joe kenakan.
“Joe, kau!”
TBC.