
Malam itu. Setelah menghubungi Bayu. Tania, lantas kembali menghubungi Joe. Dua kali ia berusaha menelpon suaminya. Namun, tak kunjung ada jawaban darisana. Tania, tidak putus asa. Ia lantas kembali mencoba menghubungi Joe untuk yang ketiga kalinya, dan akhirnya ada jawaban.
Perasaan senang, tak terlukiskan saat mendapat jawaban dari Joe. Tania, pun lantas menyapa dengan rasa suka. “Sayang, kau sedang ada—“
Belum sempat Tania menghabiskan kalimatnya. Tiba-tiba saja, bibirnya terhenti saat mendengar suara aneh darisana. “Aaah… Joe, pelan-pelan.” desahan suara wanita begitu jelas terdengar.
Tania tertegun. Matanya mendelik, sementara bibir mulai gemetar. Sesuatu darisana sudah tak mampu keluar. Lidahnya seakan kelu begitu mendengar suara wanita itu.
“Joe… a-aku su-sudah tidak tahan lagi, aa…hh..” lagi, Tania mendengar suara itu. Terdengar manja, dan terkesan sedikit nakal.
Deg!
Bagaikan anak panah yang jatuh menghujam dada hingga menembus ke belakang. Tania seketika gemetar karenanya. Tak ingin lebih jauh mendengar, dengan jemari yang gemetar. Ia lantas menutup panggilannya.
Buliran cairan bening, kini sudah memenuhi pelupuk bola mata indah milik Tania. Mulutnya, ia katupkan dengan sebelah tangan sambil menahan isaknya. Tak tertahankan, buliran kristal itu kini kembali mengalir, membasahi pipi Tania.
“Hiks,” Tania menangis. Ini yang kedua kalinya ia menangis di malam yang sama. Barusaja ia memberikan kepercayaan kepada Joe. Tapi, sekarang ia telah mengkhianatinya.
“Seharusnya, aku tidak pernah percaya padamu Joe.” Tania menunduk, air mata kian jatuh menetes ke lantai keramik yang ada di sana.
Di kediaman Katty.
Seulas senyuman tampak mengembang di sudut bibirnya. Senyum licik, hingga lanjut merasa puas. Setelah Tania mematikan sambungan ponselnya. Katty tersenyum puas di tempanya. Sebelah alisnya juga terlihat naik keatas.
Jari tangan, kini mulai meraba, menyentuh ponsel Joe. Bisa di buka, karena ternyata Joe masih memakai sandi yang sama seperti dulu. Katty menghapus riwayat panggilan masuk yang ada di ponsel Joe. Lalu, setelah itu, ia
kembali meletakkan ponsel itu di meja. Lalu, Katty pun melangkah masuk kedalam kamar.
Di dalam kamar.
“Joe, aku mau, malam ini kau jadi milikku.” senyum licik itu kembali mengembang.
Langkah kaki, kian bertaut silih berganti menapaki lantai keramik kamarnya. Katty, kini sudah berdiri didepan lemarinya, membukanya, lalu mengambil salah satu lingerie kesukaannya.
Ia menyipitkan matanya dengan garis senyum yang kembali tertarik dari sudut bibirnya. “Joe, kau datang padaku. Pasti, itu karena aku juga masih ada dalam fikiranmu kan?” Katty tertawa.
Lingerie, sudah diatas ranjang. Sementara sang pemilik, kini sudah beralih ke kamar mandi yanga da di kamar. Setelah selesai, Katty pun keluar dan menghampiri ranjangnya. Di tanggalkannya apa yang saat ini melekata pada
tubuhnya. lalu, kini Katty pun menggantinya dengan lingerie yang ada di sana.
Hmm, ya. Terpampanglah sudah lekuk indah tubuh Katty di depan cermin. Senyum sumringah, kembali mengembang di sana. Merasa puas, dengan keindahan lekuk tubuhnya. Pastilah, dengan penampilannya yang seperti ini, tak ada satupun pria yang mampu menolak pesonanya.
Sebuah semprotan parfum perangsang yang khusus di pesan dari swedia kini sudah ada di tangan. Hal itu, kerap ia gunakan tatkala ingin bercinta dengan pasangan. Katty, kini sudah menyemprotkan parfum itu ke tubuhnya. Barulah setelah itu, ia pergi darisana, meninggalkan kamarnya.
Joe, telah kembali dari kamar kecil. Dan sekarang sudah tiba di ruang tamu yang sebelumnya. Di dudukinya sofanya kembali, lalu kini ia mengambil ponselnya dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab.
“Tania,” lirih Joe. “Pasti, saat ini dia sudah bangun.” Joe, menatap kearah layar ponselnya.
Setelah itu, kini Joe mendaratkan jempol tangannya di ponsel. Berencana, untuk menghubungi Tania. agar istrinya itu tidak mengkhawatirkannya. Pastilah, saat ini Tania merasa bingung, tentang kemana ia pergi saat terjaga di tengah malam dan melihat Joe tak ada di sampingnya. Lalu, saat panggilan itu hampir tertekan. Katty datang dengan lingerie yang melekat di tubuhnya.
“Joe,” sapa Katty.
Joenathan, mengerutkan dahinya. Penampilan Katty, sungguh membuatnya gusar.
Glek!
Joe, menelan ludahnya, saat Katty mulai duduk di sampingnya. Aroma parfum yang sangat menggoda, kini sudah terhirup. Suhu tubuh Joe, perlahan berubah panas. Nafasnya yang tak teratur, apalagi saat Katty menghembuskan nafas hangatnya di permukaan telinga Joe.
“Katty, apa yang kau lakukan?” Joe mengernyitkan dahi. “Pakaianmu, apa ini? Kau sengaja menggodaku?”
Jantung Joe, mulai berdegup kencang. Aliran darahnya terasa kian panas.
“Katty, bukankah kau telah berjanji, jika aku menolongmu. Maka, kau akan menajuh dariiku!”
“Ya, tapi itu saja tidak cukup. Setelah aku memberikan diriku malam ini padamu. Barulah, setelah itu aku tidak akan menganggumu.” Katty mulai meraba.
“Katty, cukup! Hentikan!” Joe, bangkit dari duduknya. “Kedatanganku untuk menolongmu, serta masuk kedalam apatemenmu ini hanya untuk menegaskan. Jika, mulai saat ini, kau jangan pernah lagi datang mengangguku!” tegas Joe, dengan nafas yang kian tak beraturan.
Katty, mulai bangkit dari duduknya. Berdiri, lalu menghamburkan diri kearah Joe, memeluknya dengan hangat.
Joe, tersentak. Aroma yang melekat di tubuh Katty kian menusuk hidungnya. Otaknya mulai memikirkan hal-hal yang lain. Sadar akan dirinya yang sudah masuk kedalam perangkap. Joe pun lantas mendorong tubuh Katty hingga terjungkal ke belakang.
Bruuk!
“Aku tidak menyangka, ternyata wanita se-terhormat sepertimu bisa melakukan hal serendah ini.” Joe, memicingkan mata. “Heh, sungguh aku sudah salah menilai.” cibir Joe.
“Joe, ayolah, sekali saja.” pinta Katty.
“Mulai saat ini, jangan harap untuk bisa bertemu denganku lagi. Dan juga, tidak ada hubungan baik apapun yang terjalin di antara kita!” Joe membalikkan badan, lalu melangkah pergi darisana. Namun, sesaat kemudian, ia kembali membalikkan badan. “Ingat, untuk tak lagi mengangguku. Karena jika tidak, aku pastikan, jika kau akan sanga menyesalinya.” ancam Joe.
Di luar. Joe, kian mempercepat langkahnya. Setibanya di mobil, Joe, lantas segera membuka pintunya dan masuk kedalam.
“Sial! Aroma itu, hampir saja membuatku tak bisa menahan diri sekarang.” jantung Joe kian berdebar cepat. “Aku, harus segera pulang.”
Joe, pun menghidupkan mobilnya dan pergi dari tempat tersebut.
Sementara di apartemen Katty.
Parfum yang di pakainya juga memperngaruhi dirinya. Tubuhnya, kian terasa panas tak tertahankan. Degupan jantung kian terasa kencang, aliran darah kian mengalir dengan panas, beserta hembusan nafas yang kian tak
beraturan.
Di luar.
Si pengantar makanan kini sudah tiba di depan pintu apartemen Katty. Ia mengetuk pintunya, lalu memencet sebuah tombol yang ada di sana.
Mendengar suara bel yang berbunyi. Katty, pun perlahan bangkit dari lantai. Dengan masih menggunakan lingerie, ia melangkah perlahan mendekati pintu masuk apartemennya.
Ceklek!
Pintu terbuka, dan disana, Katty, melihat seorang pria muda berperawakan cukup tampan dengan tubuh kekar sedang berdiri dengan makanan yang di bawanya. Katty, lantas menariknya masuk kedalam apartemen miliknya, lalu mengunci pintunya.
“No..nona, apa yang anda lakukan?” tanya pria itu cemas.
“Ssssttt! Diamlah, turuti saja permintaanku.” Katty menempelkan ujung jarinya, tepat di permukaan bibir si pria.
Malam itu. Karena tak berhasil menaklukkan Joe, dan menghabiskan malam bersamanya. Katty, terpaksa memilih seorang pria pengantar makanan untuk melampiaskan hasratnya. Bagaimanapun juga, ia sudah terlanjur. Parfum
perangsang yang di gunakannya untuk menarik Joe dalam pelukannya, sekarang bagaikan boomerang yang kembali pada diri sendiri.
Pesan Author : Ingat! Untuk tidak bermain-main dengan api, karena itu bisa membakar kalian.
Netizen : Kalau sudah terlanjur gimana Kak?
Author : Ya, sudah. Rasakan sendiri akibatnya.