CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 170


Di halaman samping. Sekitar pukul sepuluh malam. Terlihat, Joe, tengah duduk di sebuah kursi santai yang ada di sana. Perasaan ‘ingin’ yang tadi sudah mereda. Sekarang, kembali timbul saat melihat, Tania, yang mengenakan celana pendek, serta atasan yang terlihat terbuka. Gairah, Joe, yang awalnya sudah menurun ke angka lima persen, seketika kembali melonjak drastis menempati posisi delapan puluh lima persen. Sungguh, hampir merajai seluruh dirinya.


Ya, Joe, sangat tidak bisa melihat kostum, Tania, yang seperti itu. Rasanya, ingin sekali ia melompat, menerkam, layaknya serigala liar yang lapar. Namun, hal itu berusaha ia tahan. Karena, tak ingin membuat Tania yang belum siap kembali terluka.


Di kuris santai itu. Joe, berusaha duduk dengan tenang. Mengambil nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Berusaha, merasakan dengan penuh kesadaran akan keberadaannya. Sejenak, Joe, mengalihkan perhatiannya dari sebuah ketegangan yang ia rasakan. Berusaha, berfikir rasional dengan fikiran terbuka. Meyakinkan diri, jika sekaranglah saatnya untuk melatih diri, agar bisa mengendalikan diri, dari hal yang berhubungan dengan birahi.


Tatapan, Joe, yang awalnya mengarah ke depan. Lalu kini, mengarah turun kearah bawah. Dimana, ‘adik kecil’ nya yang terlihat masih menegak,  berada tersembunyi di balik celana boxer yang, Joe, kenakan, “Hai, adik kecil. Jangan nakal, bukan saatnyaMkau bangun sekarang. Tidurlah!” kata, Joe, kepada ‘adik kecil’ nya itu.


Joe, lantas, kembali menyeruput jus yang ada dalam gelasnya. Setelah ia menghabiskan setengah dari gelas jusnya. Joe, pun kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah pergi kearah bibir kolam.


Byyuuurr!


Joe, menjatuhkan tubuhnya kedalam air yang ada di depannya. Menyelami air yang ada di sana, membiarkan dinginnya air meresap kedalam tubuhnya yang saat ini terasa  panas.


Malam yang semakin larut, serta dingin yang kian menusuk, tapi tak sama hal nya dengan, Joe. Pria itu, terlihat begitu nyaman bermain di dalam air sana. Tangannya mengayuh, diserta kaki yang juga ikut digerakkan. Joe, menyelami setiap sisi genangan air yang ada di kolamnya.


Sudah beberapa hari ini. Joe, melakukan aktivitas renangnya di malam hari. Hal ini tak lain dan tak bukan karena, Joe, ingin menetralisir rasa panas yang menggelora di dalam diri. Sudah ke sekian malam, Joe, tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Berenang, dipilih sebagai salah satu aktivitas pelampiasan untuk menenangkan diri. Dan, hal ini ternyata cukup ampuh mengatasi masalah yang saat ini tengah, Joe, hadapi.


Ya, Joe, memang terbilang sangat minus dalam mengontrol masalah birahi. Mengingat, bagaimana kehidupan, Joe, yang sebelumnya. Hasrat yang kerap kali datang saat Joe melihat wanita seksi. Kepolosan yang telah ternodai


disaat, Joe, masih dengan, Katty. Ditambah lagi, lingkup kehidupan yang juga memengaruhi, yang tak sulit baginya untuk menyalurkan pelampiasan diri.


Sekarang, Joe, ingin membuang masa lalu. Masa, dimana ia dengan bebas melakukan apa yang diinginkan. Menikmati kemolekan setiap tubuh wanita, yang sengaja melemparkan diri keatas ranjangnya. Ya, Joe, tidak pernah memaksa, mereka datang dengan ambisinya sendiri. Dengan niat meraup keuntungan dari ketenaran, serta harta, Joe.


Joe, tau akan hal itu. Dan, menurutnya itu tak masalah. Gairahnya dapat tersalurkan, tanpa ada paksaan. Sementara mereka, mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tak ada cinta, ataupun kasih sayang. Semua itu


layaknya sebuah pertukaran.


Namun, itu dulu. Sekarang ia sudah membuang semuanya. Kedatangan, Tania, layaknya bulan yang menyinari malam. Ruang gelap yang ada di dalam diri, Joe, perlahan terang saat wanita itu menyandang status sebagai ‘Nona’ nya. Apalagi saat ini, Tania, sedang mengandung anaknya. Membuat, Joe, semakin ingin  memperbaiki diri. Demi, Tania, dan calon si buah hati.


***


Matahari mulai tampak, menyongsong datangnya sang fajar. Joe, yang memilih tidur di ruangan berbeda, tampak bangkit dari ranjangnya. Malam tadi, setelah melakukan aktivitas renang di malam hari. Joe, tidak lagi kembali ke


kamarnya. Melainkan, masuk kedalam kamar yang satunya.


Air turun dari shower yang sengaja dihidupkan. Membasahi tubuh, Joe, yang sedang tak berpakaian. Ia membersihkan badannya, menyegarkan tubuhnya sebelum kemudian menjalankan aktivitasnya. Belakangan ini, Joe, selalu bangun lebih awal. Berangkat, ke kantor sebelum karyawan yang lainnya datang. Kesibukan juga salah satu cara, untuk menciptakan pikiran negative nya.


Belakangan ini. Para pelayan mulai menyiapkan sarapan lebih awal. Joe, yang terlihat sudah siap dengan setelan jasnya, kini tampak berjalan memasuki ruang makan. Tanpa melihat, kesana-kemari. Joe, lantas segera menarik


kursinya, lalu mendudukkan badan di sana. Dibalikkannya, sebuah piring yang telungkup di depannya. Lalu, kini ia hendak mengambil makanannya, tapi tak sempat karena sudah diisi oleh seseorang.


Ada yang aneh. Biasanya, para pelayan hanya berdiri di sudut ruangan sambil memperhatikan dirinya makan. Tapi, sekarang kenapa salah satu dari mereka datang melayani tanpa diminta olehnya. Joe, menengadah menatap kearah samping. Dilihatnya, dengan mata membelalak, Tania, sudah berdiri di sana.


“Hai,” sahut, Joe, dengan mata yang kemudian memicing.


“Kau, mau makan menu yang mana pagi ini?” mata, Tania, lalu mengalih kearah meja makan yang dipenuhi makanan.


“Aku—“ belum sempat kalimatnya usai, memilih menu apa yang akan mendampingi setumpuk nasi yang ada diatas piring. Tania, sudah menimpalinya.


“Kau, makan yang ini saja. Bekerja pagi-pagi begini, bukankah membutuhkan lebih banyak energi.” menaruh sayuran dan juga daging keatas piring, Joe. “Sudah cukup. Sekarang, makanlah!”


“Tania, kau—“ lagi-lagi, Joe, tidak sempat menuntaskan kalimatnya.


“Aku, juga akan makan bersamamu.” Tania, menarik kursi yang ada disamping, Joe. Kemudian, ia pun mulai mengisi piringnya sendiri dengan makanan yang ia inginkan.


Namun, saat Tania, ingin memasukkan sesendok makanan itu ke mulutnya. Ia, melihat kearah, Joe, yang sedang terpaku menatapnya.


“Joe, apa kau tidak makan?”


“Aku, tentu saja makan. Namun, sekarang, aku, ingin melihatmu menyantap makananmu terlebih dahulu. Baru, aku, akan menyusulnya.”


“Hmm, yasudah. Aku, makan lebih dulu ya.” Tania, menyunggingkan senyumnya. Baru, setelah itu, sesendok nasi beserta lauk yang terletak diatasnya masuk kedalam mulutnya, yang kemudian disusul oleh, Jo.


Pagi itu, Joe, menyantap makanannya dengan sangat lahap. Kehadiran, Tania, yang kembali bersedia melayani dirinya di meja makan, membuat selera makannya semakin bertambah. Ini kali pertama, Tania, kembali melayaninya di meja makan. Bahkan, pagi ini, Tania, mengantarkannya hingga ke teras rumah.


“Sayang, hati-hati di jalan ya. Ingat, jangan ngebut. Ini masih pagi, jalanan juga tidak macet di jam segini.” ujar, Tania, seraya merapikan jas yang, Joe, kenakan.


Joe, mengernyitkan dahi. Menatap heran kearah, Tania. Apalagi saat, Tania, mendaratkan sebuah kecupan di kening, Joe, setelah merapikan jasnya. “Sayang, kau?” tanya, Joe, seraya memiringkan sedikit kepalanya.


“Aku tak ingin mengabaikan tugasku sebagai istrimu. Ini sudag seharusnya. Tapi, mengenai masalah di ranjang. Aku, masih belum cukup siap. Tubuhku, masih trauma atas malam yang menyakitkan itu,” lirih, Tania.


Joe, menarik nafas panjang. Lalu, membuangnya perlahan. “Tidak, apa-apa. Begini saja sudah cukup. Aku, akan setia menunggu sampai kau benar-benar siap.” ujar, Joe, dengan hati yang lapang.


Seulas senyuman lantas tersungging dari bibir, Tania. Kalimat, yang baru saja terdengar, seolah menjadi magnet yang semakin menariknya. Mendengar ucapan itu, ingin sekali rasanya, Tania, memeluk sosok yang berdiri di depannya. Namun, hal itu ia tahan, mengingat hari ini hanyalah sebuah permulaan dari sebuah ujian yang akan dilakukan. Ya, Tania, ingin memeberi ujian. Agar, suaminya itu bisa lebih dewasa. Dewasa, dalam setiap berfikir. Tidak gegabah dalam mengambil tindakan. Dapat, mengotrol emosi dan lain sebagainya.


Joe, kini sudah memasuki mobilnya. Pak Min, yang bertugas menyupir, sekarang pun mulai menghidupkan mobilnya, mengendarainya, dan pergi meninggalkan, Tania, dengan lambaian tangan melepaskan kepergian, Tuannya.


“Joe, aku mencintaimu.”


TBC.