
“Joe! hentikan!” seru Tania yang kemudian bangkit dari tidurnya.
“Tuh kan, tebakan ku benar. Sayangku, sebenarnya belum tidur kan?” sebuah senyuman tersungging manis di bibir Joe.
“Hehehe,” Tania menggaruk kepalanya.
Ketahuan berpura-pura tidur membuat Tania merasa sangat malu, serasa ingin segera bersembunyi dari sana, tapi hal itu sama sekali tidak mungkin sekarang.
“Kenapa kau berpura-pura tidur seperti itu tadi?” tanya Joe ingin terbebas dari rasa penasarannya.
“Tadi itu aku ingin sedikit bergurau denganmu.”
“Bergurau? Seperti ini?”
Joe kembali menusuk-nusukkan jemarinya di pinggang Tania. Kembali, Tania menggeliat meliukkan badannya, menjauhkan tubuhnya dari Joenathan, sedikit menjaga jarak darinya.
“Joe, hentikan!” seru Tania. “Aku geli, perutku bisa sakit kegelian karenamu!” pekiknya.
“Bukankah tadi, kau sendiri yang ingin bergurau denganku?”
“Iya, tapi bukan seperti ini.”
“Jadi, kau ingin bagaimana?” tanya Joe, “Apa jangan-jangan kau lebih suka seperti ini?” Joe mengangkat tubuh Tania, membawanya berjalan mengitari ranjangnya.
“Joe! turunkan aku!” menepuk-nepuk permukaan dada Joe.
“Tidak mau, aku akan membawamu mengitari ruangan ini hingga sepuluh menit.”
“Apa!” Tania membelalak, “Kau gila, Joe! Aku tidak mau!” terus menepuk-nepuk permukaan yang menggumpal keras di sana.
Joe, tak mengindahkan. Setiap perkataan Tania semua diabaikannya, dibawanya istrinya itu mengitari ruang kamarnya, berjalan dari arah ranjang menuju ke arah balkon, berhenti sejenak di dinding pembatas balkon, menikmati angin malam di sana. Lalu, sesaat kemudian Joenathan kembali membawa Tania masuk ke dalam kamar dan membaringkannya kembali di atas ranjang.
“Sudah sampai,” Joe kini juga duduk di atas kasur yang sama, di samping Tania.
“Joe, kau sungguh sangat nakal.”
“Bukan aku, tapi kau,” menyentil pelan hidung Tania. “Kau sendiri yang ingin bergurau, aku hanya menuruti keinginanmu saja.”
“Iya, tapi bukan seperti ini.”
“Bukan seperti itu? Hmm… aku tau, pasti seperti ini kan,” mencium pipi Tania kiri dan kanan, kening dan hidungnya juga.
Tania tak dapat mengelak dari serangan Joe yang terus menciumi wajahnya. Berusaha menolak, tapi tubuh Joe terlalu kokoh menopang di atas nya, membuat Tania tak dapat sedikitpun menggeser Joe dari sana.
Tania kemudian melawan, dengan mencubit keras pinggang Joe, membuat pria itu terpingkal dari sana, menghentikan serangannya.
“Hahahahah, rasakan itu.”
Tania tertawa, merasa puas dengan serangannya. Tak terima jika dikalahkan akhirnya Joe pun kembali melancarkan serangannya, hingga akhirnya keduanya pun saling berperang.
Kriingg! Kriiingg! Kriiinngg!
Sebuah deringan ponsel menghentikan mereka. Gurauan yang sangat panas, terhenti karena Joe yang kini mulai meraih ponselnya, melihat panggilan masuk yang ada di sana.
“Bayu,” lirih Joe yang kemudian dengan segera mengangkat panggilannya.
“Hallo.”
“Joe, aku sudah ada di depan rumahmu. Segera, keluarlah!”
“Hmm, ya. Tunggu aku di sana.”
Setelah menutup panggilan teleponnya. Joenathan kini pamit pergi kepada Tania.
“Sayangku, aku turun ke bawah dulu ya. Bayu sedang menungguku di luar.”
“Bayu, malam-malam begini, ngapain?” tanya Tania, yang saat ini sudah lupa dengan apa yang Joe minta belikan tadi kepada Bayu saat diujung telepon.
“Ada sesuatu, dan itu sangat penting. Nanti, kau juga akan tau.”
Setelah mengusap lembut pucuk kepala Tania. Joe kemudian pergi dari sana, meninggalkan Tania sendirian di kamar. Tania mengerutkan keningnya, mulai menerka-nerka tentang hal penting apa yang akan di sampaikan Bayu di tengah malam seperti ini.
Detik demi detik telah berlalu, hingga tanpa terasa beberapa menit sudah terlampau. Tania masih duduk menunggu di dalam kamar. Bersandar, disandaran ranjang menanti Joe dengan hal penting yang ia bicarakan.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Hal penting apa yang mereka bicarakan?
Batin Tania dengan segenap rasa penasarannya.
Pintu kamar terbuka, Joe sudah kembali datang dengan menenteng kantong plastik di tangannya. Tania melihatnya, buntalan kertas itu menjadi tujuan utamanya.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi, bungkusan itu apa isinya? Mungkinkah ada hubungannya dengan itu?
Batin Tania bertanya-tanya.
Joe, lantas meletakkan bungkusan itu di atas meja yang ada di depan sofa. Beralih kearah Tania lalu meraih tangannya, mengajaknya pergi ke sofa yang ada di sana.
Setibanya di depan sofa. Tania yang sedari tadi dilanda rasa penasaran kini lantas dengan segera menanyakan rasa keingintahuannya.
“Joe apa itu?”
“Ini, bukalah.”
Mengikuti apa yang dikatakan Joenathan. Tania lanta dengan segera membuka bungkusan kertas itu. Keningnya lantas mengerut setelah tau tentang isi bungkusan yang ada di sana.
“Roti sobek?”
“Ya, roti sobek, apa kau suka?”
Tania semakin mengerutkan pandangannya, tak mengerti dengan pertanyaan Joe. Roti sobek, siapa yang menginginkannya di tengah malam seperti ini, pikirnya.
Tania diam tak menjawab. pikirannya kembali traveling mengingat-ngingat tentang apa yang diucapkannya.
“Sayang, bukankah kau menginginkannya. Kau ingin makan roti sobek kan?”
“Joe, apa maksudmu? Roti sobek ini, aku sama sekali tidak
menginginkannya,” Tania menggeleng.
“Sayang, kau bicara apa? Jelas-jelas tadi itu aku
mendengarnya. Roti sobek, begitu kau mengucapkannya, Jadi dengan segera aku menyuruh Bayu untuk membelikannya untukmu. Ku pikir, kau sedang menginginkannya sekarang,” terang Joenathan.
Apa yang dikatakannya, siapa yang menginginkan roti sobek. Tadi, aku memang mengucapkannya saat terpana melihat otot-otot yang ada di perutnya. Tunggu-tunggu, tadi aku melihat Joe meelpon Bayu. Lalu menyuruhnya untuk membelikan roti sobek, jangan bilang itu semua karena dia mendengar ucapanku saat mengatakan hal itu (roti sobek) tadi. Astaga Joe... kau benar-benar salah paham!
Tania lantas menepuk jidatnya.
“Sayangku, kau kenapa?” tanya Joe karena sungguh tak mengerti dengan ekspresi yang barusan ditunjukkan Tania.
“Joe, apa kau membelikan semua ini karena tadi mendengarku?”
“Ya,” Joe mengangguk.
“Astaga, Joe… tadi itu aku mengucapkan kalimat roti sobek karena terpukau melihat otot-otot yang ada di perutmu,” jelas Tania.
“Otot perut? Maksudnya, kau terpesona karena keindahan tubuhku?”
“Ya,” Tania mengangguk. Namun sesaat kemudian segera Tania mengatup mulutnya.
Astaga… Tania… apa yang sudah kau katakan. Bagaimana bisa, kau mengakui hal itu begitu saja.
Tania menghela napasnya dengan kasar. rasanya malu sekali sekarang, saat kau ketahuan mencuri pandang menatap tubuh suamimu sendiri.
Aaa… aku malu sekarang!
Batin Tania menjerit.
Segera ia membalikkan tubuhnya, berlari ke arah ranjang, menghenyakkan diri di sana lalu menyembunyikan tubuhnya di balik bantal dan juga selimut tebalnya.
Joe pun tersenyum seraya berjalan mendekati Tania. di bukanya kembali selimut itu, menjauhkan bantal yang menutupi wajah Tania, melepaskan kaos yang tadi di pakainya, lalu ia meraih tangan Tania dan meletakkannya di otot perutnya.
“Sayang, jika kau suka pegang saja. Suamimu ini tidak akan pernah keberatan dengan hal ini,” senyum hangat disunggingkan Joe kepada Tania. “Tubuhku ini punyamu, jadi kau tak perlu malu.”
Deg!
Jantung Tania kembali berguncang hebat. Namun anehnya tangannya tak dapat ia tarik, malah semakin ingin meraba mengitari area perut itu. Merasai setiap sentuhan yang ia jalarkan, rasanya memegang otot-otot itu mempunyai kenikmatan tersendiri, memiliki kesan yang sangat sulit untuk dijabarkan.
TBC.