
Kriing! Kriingg! Kriinggg!
Berulang kali, deringan ponsel itu berdering. Menganggu, si pemilik kamar yang sedang tertidur.
“Aaa… siapa sih, pagi-pagi begini. Ganggu orang tidur saja.” Wulan terlihat menutup kepalanya dengan sebuah bantal.
Kriingg! Kriingg! Kriinggg!!
Ponsel itu kembali membunyikan suara, membuat Wulan semakin tak dapat lagi memejamkan mata. Bantal ia lempar, ke bawah jatuh ke lantai. Di raihnya ponsel yang di letakkan di meja samping tempat tidurnya. Wulan melihat, Bayu yang sedang memanggilnya.
“Dasar, Bayu, sialan!” gerutu Wulan.
Segera ia pun mengangkatnya. “Bukankah hari ini minggu. Kenapa, kau mengangguku terus!” pekik Wulan.
“Minggu, iya memang. Tapi, apa kau sudah lupa jika hari ini kau mempunyai kewajiban untuk mengurus satu hal denganku?” nada suara itu terlihat begitu tenang.
“Hal, hal apa?” Wulan mengernyitkan dahinya.
“Hari ini kita harus mengurus segala sesuatu tentang wisata Tania dan Joe. Apa kau sudah lupa?”
“Astaga… aku lupa!” Wulan menepuk jidatnya.
Segera, ia pun berlari keluar kamar.
Hari sudah tak lagi pagi. Perut yang kosong pun sedari tadi sudah terisi. Mataharipun juga sudah berada di puncak ketinggiannya. Menyinari bumi dengan panas sinarnya.
Telah berdiri di depan teras sepasang suami istri yang barusaja berbaikan. Bukan berbaikan sih, lebih tepatnya barusaja kembali seranjang tadi malam, ups! Setelan yang, Joe, kenakan terlihat sangat santai. Hanya memakai celana pendek dengan atasan kaos oblong biasa. Sebuah kacamata juga terlihat menyangkut di kerah kaos yang dikenakan. Terlihat begitu maskulin meskipun tidak memakai setelan jasnya.
Begitupula dengan, Tania. Wanita itu terlihat mengikat tinggi rambutnya, layaknya kuncir kuda. Sementara mengenai penampilan, ia juga terlihat memakai rok yang panjangnya hampir menutupi lututnya. Sementara atasannya, Tania, juga memakai kaos yang terlihat longgar. Kaos dengan warna yang senada, dengan yang Joe
kenakan.
Ya, Joe, sendiri yang memintanya. Saat ingin bersiap-siap tadi, Joe, sendirilah yang memilihkan pakaian itu. Karena warnanya yang terlihat senada dengan warna pakaiannya. Yaitu, putih susu. Sebenarnya, Tania, sedikit keberatan akan hal itu. namun, melihat bagaimana Joe yang memilih sendiri bajunya, membuat Tania tak tega jika menolak keinginannya.
Ya, hari ini Joe sangat mengejutkannya. Tiba-tiba saja mengajaknya pergi ke tempat wisata tanpa ada persiapan apapun sebelumnya. Ya.. paling tidak rencana dari hari-hari sebelumnya, tentang kemana mereka akan pergi berwisata.
Ya, Joe, telah menyiapkan semuanya. dengan di bantu oleh Bayu semua akomodasi serta ke tempat mana mereka akan pergi semuanya telah Bayu atur untuk mereka. Bahkan, Bayu juga akan ikut bersama mereka, sekalian merefresh kembali fikirannya yang telah terkuras dengan masalah pekerjaan akhir-akhir ini.
Dari arah depan, terlihat sebuah mobil telah memasuki area halaman rumah Joenathan. Mobil berwarna hitam yang terlihat sangat tidak asing di mata Tania. Mobil itu kini terlihat berhenti, tepat di depan teras rumah Joenathan, atau lebih tepatnya di kaki teras rumahnya.
Mata Tania terlihat menelisik kearah dalam mobil, mencari keberadaan seseorang. Seseorang yang dekat dengannya, dan kemudian saat Tania mendapati sosok itu. Senyumnya lantas melecar dari sudut bibirnya.
“Hai, Tania!” balas Wulan tak kalah riangnya.
Gadis itu, lantas segera bergegas menuju kearah Tania, dan memeluknya.
“Kangen banget…”
“Sama, aku juga sangat merindukanmu, Wulan!” Tania, membalas pelukan Wulan.
“Ehm-ehm!” Joe, terlihat mengerlingkan pandangannya. rasanya hatinya begitu iri melihat Tania yang memeluk Wulan dengan sangat hangat.
“Joe,” Tania balik mengerlingkan matanya kearah, Joenathan. Dengan tatapan yang sedikit membesar.
“Hehehe, iya sayang… aku nggak marah, kok! Tapi, nanti peluk aku juga ya seperti itu,” tersenyum dengan mata yang menyipit.
Membuat Wulan dan Bayu terkekeh melihatnya.
“Joe, kita berpelukan sepanjang malam. Apakah itu tidak cukup,” bisik Tania dengan mata yang kian melebar.
“Tentu saja tidak, aku tidak pernah merasa cukup di peluk olehmu. Nanti, di sana jangan lupa peluk lagi ya,” dengan ekspresi sok manja dan juga sok imut.
“Joenathan!”
“Iya… iya… Cuma becanda kok. Kita pelukannya di kamar aja, bebas nggak ada yang lihat. Biar bisa lebih panas,” kembali, Joe menggoda.
“Joe,” mata Tania kian mendelik, hingga membuat tangannya diarahkan ke pinggang Joe, mencubitnya.
“Aww!” pekik Joe.
“Ehm-ehm! Bisa nggak sih, kalian mesranya di kamar saja. bikin iri tau nggak!” cela Bayu.
“Tau, makanya sengaja. Supaya kau cepat-cepat mencari calon istri bukannya pacar,” cibir Joe.
“Dasar, Joe, sialan!” kesal Bayu.
Tania dan Wulan hanya tertawa, melihat tingkah kedua sahabatnya itu. memang bagaikan kucing dan tikus jika keduanya sedang bertemu. Namun, meskipun begitu keduanya sangat kompak dalam melakukan segala hal. Ya…
begitulah sahabat, meskipun saling mencela satu sama lain. Tapi tidak terlalu dimasukkan ke hati, karena memang itu semua hanya sekedar basa-basi. Tidak perlu di bawa serius hingga kedalam hati.
Mereka pun berangkat, bersama-sama menuju ke tempat wisata yang dituju.