CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 165


Waktu telah menunjukkan pukul 10:35 Wib. Pagi yang melelahkan telah berlalu. Setelah membersihkan tubuhnya di kamar mandi milik Katty. Si pria muda, lantas kembali masuk kedalam kamar. Di pungutnya satu persatu helaian pakaian dan juga celana yang berceceran di lantai. Lalu kini, pria itu kembali memakainya.


Setelah memakai pakaiannya. Si pria lantas kembali menoleh kearah ranjang. Dimana, tempat Katty yang masih terbaring disana. langkah kaki kemudian ia kembangkan, melangkah, mendekati ranjang. Setibanya di sana, si


pria kemudian membungkukkan badan, mendekati wajahnya kearah wajah Katty.


Cup!


Sebuah keceupan lembut mendarat tepat di dahi. Katty yang memang terjaga, lantas memalingkan wajah.


“Terimakasih, untuk malam dan juga pagi yang indah ini.” Bisik si pria. “Aku, janji akan sering-sering main kesini. Untuk mengulang kembali kebersamaan ini.” Pria itu mengedipkan mata.


“Jangan harap!” Katty menggertakkan giginya. Tangannya mengepal.


Pria itu tersenyum. “Maaf, jika pagi ini aku tidak melakukannya dengan lembut. Tapi, aku janji, kedepannya aku akan melakukannya dengan lebih baik lagi. Agar kau, juga merasa senang.” kata pria itu. “Sekarang, aku pulang dulu ya. Ingat, jangan merindukanku. Biar aku saja yang merindukanmu.” Kembali mengedipkan mata.


Pria itu kemudian membalikkan badan seraya meraih ponselnya. Langkah kaki juga perlahan pergi, mulai menjauh dari ranjang Katty. Tapi, sesaat kemudian pria itu kembali menoleh. “Oya, Nona. Ngomong-ngomong, setelah melewati banyak hal bersama. Kau dan aku belum saling mengetahui nama. Perkenalkan namaku, Kevin.” Pria itu menyebutkan nama. “Dan juga, posemu disini sangat luar biasa. Aku akan menjadikannya sebagai gambar layar ponselku.” Pria muda yang baru saja menyebutkan namanya itu, lantas menunjukkan gambar Katty yang di ambilnya sesaat setelah bercinta dengannya.


“Kau! Hapus foto itu!” teriak Katty.


Tapi, sayangnya pria muda bernama Kevin itu tak perduli. Saat ini, ia malah kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Katty sendiri di kamarnya.


Setelah menutup rapat pintu kamar apartemen milik Katty. Kevin pun melangkah senang meninggalkan tempat itu.


Kevin Adelard. Ia adalah anak tunggal dari, Mario Adelard, pemilik seluruh apartemen yang saat ini di huni Katty. Pria berusia 24 tahun itu adalah sosok pria yang tak kalah playboynya dari Joe. Jika dulunya Joe hanya meniduri


para wanita yang sengaja menyodorkan diri kepadanya. Sama halnya dengan Kevin. Ia memanfaatkan setatus orangtuanya yang kaya raya untuk mendapatkan hati serta tubuh para gadis-gadis itu.


Malam itu, adalah malam pertama Kevin menjalankan hukumannya. Ia di hukum oleh Mario  untuk bekerja sebagai pelayan pengantar makanan. Itu semua karena sikap Kevin yang tak kunjung dewasa. Kuliahnya berantakan, tak kunjung mendapatkan gelar. Karena yang ada di pikirannya hanyalah wanita, wanita, dan wanita.


Sebenarnya, Kevin, tak mau melakukan pekerjaan itu. Namun, karena diancam tidak akan mendapatkan lagi fasilitas apapun jika ia tidak melakukannya. Maka, dengan terpaksa Kevin menjalankan hukumannya hingga sampai batas waktu yang di tentukan.


Tak disangka, dimalam pertama hukumannya sebagai pelayan pengantar makanan. Kevin, malah mendapatkan ‘berkah’ yang dianggapnya sangat luar biasa. Ya, bagaikan ketiban rezeki, durian jatuh dari pohon, siapa coba yang nolak.


Ya, begitulah, Kevin. Wanita, adalah kesenangan tersendiri baginya. Hari itu, setelah selesai dengan Katty, Kevin, lantas bergegas pergi menuju kampusnya.


***


Di kediaman Joenathan.


Joe, terlihat duduk disebuah sofa besar yang ada di kamarnya. Sebuah laptop terletak diatas meja. Joe, memandang serius kearah layar. Mengamati, setiap gambar yang di kirimkan Bayu kepadanya. Sesekali, Joe juga terlihat meraih sebuah gelas yang berisikan air diatas meja. Joe, meneguknya, hingga kini satu tegukan lagi, air itu telah habis.


“Hah… habis.” Helaan nafas Joe terdengar agak berat.


Setelah merasa cukup, mengamati beberapa gambar yang di kirimkan Bayu kepadanya. Kini, Joe, beralih. Dari yang tadinya duduk, sekarang berdiri dan melangkah mendekati Tania yang masih terbarin di ranjang.


Sedari tadi, Tania belum juga sadar. Membuat, Joe, sangat khawatir. Namun, kata, Naufal. Dia hanya tertidur karena tubuhnya sangat lelah karena pergulatan sengit yang dilakukan Joe kepadanya.


“Tania, cepatlah sadar.” Joe, memegang tangan Tania.


Diciumnya, tangan itu, lembut sekali. Joe, kemudian menatap hangat ke wajah Tania.


Matahari semakin menanjak diatas langit. Panasnya begitu terik menyinari bumi. Kini, waktunya makan siang pun telah tiba. Dari arah dapur terlihat, Mirna, yang sedang membawakan nampan, yang berisi penuh dengan makanan. Yang, memang disajikan khusus untuk Tania.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar di ketuk. Beberapa kalin, hingga akhirnya Joe datang untuk membukanya.


Ceklek!


Pintu terbuka, dan Joe, sudah berdiri tegak didepan Mirna. Melihat, Joe, yang berdiri didepannya. Mirna, pun lantas mengambil nampan makanan yang tadi ia letakkan dimeja. Meja kecil, yang berada tak jauh dari pintu kamar Joe.


“Tuan, ini saya membawakan makan siang untuk Nona.” Mirna, mengulurkan tangannya. Menyodorkan nampan makanan itu kepada Joe, yang kemudian di ambilnya.


“Hmm, terimakasih.” Ujar Joe.


Mirna mengangguk. “Makan siang untuk Tuan, juga sudah tersaji di meja makan.” ujar Mirna kini.


“Hmm, ya, nanti aku akan turun.” Kata Joe.


Mendengar hal itu. Mirna, pun mengangguk mengerti. Lalu kini, ia pun mundur pergi, meninggalkan tempat tersebut.


Joe, lantas kembali masuk kedalam kamar. Joe, lantas meletakkan nampan yang berisikan makanan itu dimeja dekat sofa. Lalu kini, Joe kembali kearah pintu kamar untuk menutupnya.


Tania, belum juga terjaga. Rasanya, ingin sekali Joe membangunkannya. Namun, mengingat bagaimana perlakuan yang dilakukannya tadi malam. Joe, tak tega. “Mungkin, dia memerlukan banyak waktu untuk beristirahat. “lirih Joe.


Kini, Joe, memilih untuk menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang yang sama dengan Tania. mengambil sebuah remote, menghidupka televisi dan mengambil sebuah channel yang menampilkan sebuah drama.


Suara televisi mulai terdengar. Membuat, Tania, lantas terjaga. Perlahan-lahan, ia mencoba membuka mata. Lalu, sayup-sayup, Tania melihat. Joe, yang tengah duduk di sampingnya.


Rasa sakit didalam hati seketika merebak. Matanya terbuka lebar dengan sendirinya, sementara tangan mengepal keras.


“Sayang, kau sudah bangun?” tanya Joe, ketika mulai sadar jika, Tania, telah bangun.


“Hummpptt!” Tania memalingkan wajah.


Joe, mengulurkana tangannya. Meraba, tangan Tania yang berada disampingnya.


“Apa kau masih marah? Tolong, maafkan aku.” Pinta, Joe, penuh harap.


Tania, menghentakkan tangannya. Melepaskan, tangan Joe yang sedang mengenggam tangannya.


“Jangan sentuh aku.” Lirih Tania dengan suara pelan. Bagaimanapun, saat ini tubuh, Tania, masih terasa lemah.


TBC.


Author : Sabar, masih ada lanjutan. Insya Allah, akan hadir siang ini.


Netizen : Aduuh… kelamaan Thor, lelet amat sih!


Author : Hmm… sabar-sabar. Orang sabar pantatnya lebar.


NB. Cuma bercanda, peace^_^