CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 144


Hari semakin larut. Tania semakin lapar. Buah-buahan itu tidak bisa membuat perut Tania merasa kenyang. Wanita itu masih menginginkan nasi untuk mengganjal perutnya. Joe kini sudah keluar dari kamar Tania, duduk di sebuah kursi yang tersedia di koridor rumah sakit. Di ambilnya ponselnya, lalu kini Joe terlihat memeriksa kontak yang ada di sana. Lalu kini setelah mendapatkan nomor yang di inginkannya, Joe pun lantas menghubunginya.


Tut… tut… tut…


Tersambung. Namun sayangnya sang pemilik nomor tak kunjung mengangkatnya. Hingga kini Joe menghubunginya untuk yang ketiga kali, berharap Bayu sang pemilik nomor segera menjawabnya.


Di kediaman Bayu.


Terlihat seorang pria tergeletak di sebuah ranjang yang berukuran besar di sana. Pria itu tidur dengan posisi tengkurap,  dengan wajah yang dibenamkan ke bantal. Suara ponsel yang sedari berdering membuatnya amat-sangat terganggu, sehingga kini pria itu kembali menutup seluruh kepalanya dengan bantal.


Ku mencintaimu, lebih dari apapun. Meskipun tiada satu orangpun yang tau…


Lagi-lagi ponsel Bayu berdering. Melantunkan lagu kesukaan yang sengaja ia jadikan nada dering ponselnya. Bayu sudah tak kuasa lagi menahan diri untuk tetap terlelap di sana. Sehingga kini pria itu melempar bantal-bantal yang menutupi kepalanya ke lantai.


“Sial! Siapa sih, malam-malam begini. Ganggu orang lagi tidur aja!” gerutu Bayu dengan wajah kesal.


Di ambilnya ponsel yang terletak di meja samping tempat tidurnya. Dan dilihatnya siapa yang sedang menelfonnya.


“Joe.” lirihnya saat melihat nomor ponsel Joe yang tengah menghubunginya. “Tumben Joe nelpon jam segini, mau apa dia?”


Tak menunggu lama. Bayu pun segera menjawab panggilan dari Joe.


“Hallo.” Suara Bayu terdengar sedikit serak.


“Darimana saja kau! Kenapa baru angkat sekarang?” nada suara Joe terdengar tinggi, menandakan sang empunya suara sedang marah sekarang.


“Ada apa kau menelponku tengah malam begini?” tak menggubris omelan dari Joe. Bayu lantas menanyakan apa keinginan Joe sekarang.


Merasa pertanyaannya di abaikan. Membuat Joe sangat marah sekarang. namun, sesaat pria itu mengingat, jika saat ini ada hal yang lebih di butuhkan selain meluapkan emosinya kepada Bayu. Ya, Joe membutuhkan Bayu untuk membelikan beberapa makanan pesanan Tania.


Di tariknya nafasnya dalam-dalam, lalu kini Joe membuangnya perlahan, berharap emosinya bisa sedikit mereda.


“Aku ingin kau membelikanku  dua porsi nasi goreng pedas yang di masak dengan daging ayam suir, dan juga satu jus alpokat, serta satu jus apel sekarang.” Joe menyampaikan keinginannya.


“Apa!” Bayu tersentak. Suaranya bahkan terdengar nyaring, memecah keheningan yang tercipta didalam kamarnya. “Apa kau gila Joe! membangunkanku di tengah malam seperti ini hanya untuk membelikanmu nasi goreng dan juga jus.” Bayu menggelengkan kepalanya, tak habis fikir dengan Joe.


“Ya, dan kau tidak punya hak untuk menolak. Perintahku adalah tugasmu, dan kau harus melakukannya.”


“Tapi Joe, ini bukan jam kerja.”


“Apa kau sudah lupa dengan janjimu?”


“Oh, shit!” Bayu memegangi kepalanya.


Ya, janji. Dulu Bayu pernah berjanji kepada Joe, akan melakukan apa saja yang di perintahkan Joe. Kapan saja Joe membutuhkannya, Bayu berjanji akan siap melayaninya. Perintah Joe adalah tugas, dan Bayu harus menyelesaikannya.


Kala itu, orangtua Bayu bangkrut dan mereka jatuh miskin. Bayu hampir tak bisa menyelesaikan kuliahnya, dan memilih untuk kerja sebagai OfficeBoy di salah satu perusahaan. Namun, saat Joe mengetahuinya. Pria itu


menyuruh Bayu untuk berhenti di pekerjaannya, dan melanjutkan kuliahnya. Sementara soal biaya, Joe dan keluarga yang menanggungnya. Kala itu, orangtua (Ibu) Bayu sakit parah. Sehingga beliau harus segera di operasi, lagi-lagi Joe yang membantunya, membiayai seluruh biaya pengobatan operasi Ibunya, dan saat itulah Bayu mengikrarkan janjinya.


“Ya, Joe benar. Berada di posisi sekarang ini, menikmati kehidupan yang sekarang ini, semuanya karena Joe yang menolongku.” Lirih Bayu, sementara ponsel ia jauhkan agar Joe tak dapat mendengar ucapannya. “Lagi pula,


cuma nasi goreng saja kan. Apa susahnya.” Bayu mengangkat bahunya, dan kini kembali mendekatkan ponselnya. “Hallo.”


“Bayu! Darimana saja kau! Dari tadi aku bicara sendiri, dan kau bahkan tidak mendengarnya.” Bentak Joe di sana.


“Benarkah? Ku fikir, kau sedang mengabaikanku.” Suara Joe terdengar melemah sekarang.


“Mana mungkin aku mengabaikanmu. Kau dewa ku, sudah sepantasnya aku selalu mematuhimu.” Puji Bayu.


Joe tersenyum, pujian Bayu berhasil membuatnya tersanjung. “Baiklah, sekarang laksanakan tugasmu. Tiga puluh menit, dalam waktu tiga puluh menit ku harap kau segera sampai disini.”


“Tiga puluh menit? Apakah tidak ada—“


“Tidak ada tambahan waktu lagi. Istriku sangat kelaparan sekarang, jadi kau harus segera tiba disini selama tiga puluh menit.”


“Hmm, baiklah. Tiga puluh menit lagi aku akan segera tiba di sana.” Bayu menghela nafasnya. Tiga puluh menit. Mau tak mau, tiga puluh menit lagi pria itu harus tiba di rumah sakit dengan membawa pesanan yang di minta.


Setelah mematikan ponselnya. Bayu kemudian bergegas memakai pakaiannya, tak lupa jaket miliknya ia ambil. Lalu kini Bayu mengenakannya, sebelum bergegas pergi keluar dari kamarnya.


“Huuh… istri-istri siapa, yang repot juga siapa.” Lagi-lagi Bayu menggelengkan kepalanya.


Setibanya di mobil. Bayu lantas segera membuka pintu dan masuk kedalam. Sebelum menyalakan mesin mobilnya, Bayu kini terlebih dulu menyalakan ponselnya. Membuka goggle dan mencari tau restoran mana yang masih buka di jam segini. Tak berapa lama kemudian, Bayu mendapatkan letak restoran tersebut. Kebetulan, lokasinya juga tak terlalu jauh dari rumahnya. Sehingga kini Bayu bisa segera meluncur kesana.


Sementara itu di rumah sakit.


Joe terlihat duduk di depan kamar rawat yang di huni oleh Tania. Joe memilih duduk di sana menunggu Bayu datang dengan membawa pesanannya. Tak ingin masuk kedalam, karena takut Tania akan menagih nasi goreng pesanannya.


Malam semakin larut, para perawat yang berjaga kini sudah berganti dari pukul sepuluh malam tadi. Terlihat sesosok lelaki tampan yang tengah duduk sendirian di depan ruang inap yang hanya di huni oleh orang-orang


kalangan atas. Membuat beberapa suster yang berjaga disana, mencuri perhatian kearah Joe.


Mereka beberapa kali lewat, berlenggak-lenggok di hadapan Joe. Tapi sayangnya Joe sama sekali tidak memperhatikannya. Sehingga kini, salah satu suster yang ada di sana berinisiatif untuk mendekati Joe dengan


menawarkan sebotol air mineral.


“Ehm, permisi Tuan.” Suster itu sudah berdiri di hadapan Joe sekarang.


“Hmm, ya.”


Tapi Joe tak terlalu menggubris, karena sibuk memainkan ponselnya sekarang.


“Boleh saya duduk di sini?” tak putus asa, suster itu kemudian kembali mencoba.


“Hmm, ya.” lagi-lagi hanya jawaban singkat.


Ya tuhan, pria ini tampan sekali.


Melihat jarak yang semakin dekat, membuat suster itu kian terpesona melihatnya.


“Dari tadi, saya lihat Tuan duduk di sini tanpa meminum apapun. Apakah Tuan tidak haus?” tak putus asa suster itu kembali bertanya. Lalu kini, ia bahkan menyodorkan botol air yang di bawanya. “Oya, kebetulan saya beli dua botol air tadi. Ini untuk Tuan satu, siapa tau Tuan nanti haus.” Menyodorkan air yang di bawanya.


Joe kini menoleh kearah suster itu. Seorang wanita cantik, putih dan mulus dengan kancing atas yang sengaja di biarkan terbuka.


“Terimkasih Sus, tapi sayangnya saya tidak haus sekarang.” Joe menyungingkan senyumnya, lalu kini ia melanjutkan kembali kalimatnya. “Suster, jika sedang tidak ada kerjaan. Lebih baik berkeliling keruangan pasien


lainnya, siapa tau ada yang membutuhkan.” Kata Joe. “Dan satu lagi, itu bajunya jangan lupa di kancing. Kan sayang, putih mulus begitu di obral begitu saja.” Ucap Joe yang kemudian bangkit dari duduknya, dan berjalan meninggalkan tempat itu, setelah berhasil membuat  suster cantik itu malu dengan tingkahnya.


TBC.