
Gemerlap cahaya lampu terang benderang yang beraneka ragam warna menjulang tinggi ke atas langit. Pemandangan ini hanya bisa di lihat disaat hari telah gelap. Di bawah sebuah menara yang menjadi ikon Negara
tersebut, terlihat begitu banyak anak manusia disana. Mereka khusus datang untuk menikmati pemandangan indah tersebut di kala malam menjelang.
Tania terlihat tak hentinya menengadah keatas. Melihat indahnya cahaya lampu yang menempel di menara. Sungguh indah, hingga membuat nya takjub disana. Ternyata gambar di foto ataupun di film-film sungguh lebih indah aslinya.
Mata Tania terlihat bergeser kesana-kemari melihat kesekeliling nya. Mult nya juga sesekali terbuka lebar karena merasa takjub dengan keindahan yang ada. Membuatnya, seolah tak ingin beranjak dari sana.
“ Sayang, kondisikan matamu.” Peringat Joe.
Sedari tadi Joe mulai rishi karena Tania yang tak henti mendongak keatas. Membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang disana.
“ Joe, aku tak ingin pulang. Bolehkah kita menentap tinggal disini, aku ingin melihat keindahan seperti ini di setiap malam.” Ucap Tania.
“ Boleh, asalkan kau bisa melahirkan seorang anak untukku.” Ucap Joe.
“ Benarkah?” Tania yang awalnya mendongak keatas kini seketika menatap kearah Joe dengan senyum sumringah nya.
“ Ya.” Sahut Joe.
“ Kalau begitu kau harus berusaha lebih keras lagi agar aku bisa hamil.” Tania menaikkan alisnya, senyum nya simpul namun terlihat cukup mempesona.
“ Hmm, jika kau mau. Aku justru sama sekali tak keberatan, asal kau bersedia maka aku juga tidak akan sungkan melakukan nya.” Tangan Joe kini mulai meraba kearah dada Tania.
“ Iss Joe! singkirkan tangan mu.” Menampik tangan Joe menjauh dari dadanya.
“ Kenapa? Bukankah ini telah menjadi milikku. Jadi terserah aku mau menyentuh nya kapan saja.” Joe kembali memulai, namun lagi-lagi Tania menampik nya.
“ Aku tau, tapi bukan disini tempat nya.” Taania lantas berjalan menjauh dari Joe.
“ Ok, baiklah. Kalau begitu sekarang kita pulang ke tempat kita agar aku bisa leluasa menikmatinya.” Joe kini sudah menyusul Tania. Diraih nya pinggang istrinya itu, lalu kini disusupkan nya tangan nya kedalam pakaian
yang di kenakan Tania.
Di tarik nya tangan Joe dari sana. Lalu kini Tania menolak nya kebelakang, dan lari meninggalkan Joe disana.
Gadis liar, ternyata sekarang kau sudah berani main tarik ulur denganku ya. lihat saja nanti, jika aku berhasil menangkapmu, maka taka da ampun untukmu.
Di tengah keramaian disana. Tania berlari meninggalkan Joe sendirian. Setelah berlari cukup jauh dari sana, dan melihat Joe sudah tak lagi nampak. Kini Tania memilih berhenti sejenak dan menarik nafasnya.
“ Hufft… hufftt!” terdengar suara nafas Tania yang ngos-ngosan akibat lari terlalu jauh. Namun ia merasa sangat senang sekarang, karena sudah berhasil membuat Joe kelabakan mencari nya.
“ Hihihihi, rasain kau Joe. Sekarang kau pasti merasa lelah berlari mencariku disini.” Lirihnya.
Disana, terlihat sebuah bangku panjang yang tak berpenghuni. Membuat Tania yang kini merasa lelah, kemudian memilih duduk disana.
“ Sementara Joe sibuk mencariku sekarang. Maka kini aku harusnya bersantai-santai disini sejenak. Hehehe,” setelah menempelkan bokong nya disana, kini ia pun mulai menselonjorkan kakainya dan memijitnya pelan-pelan.
Lalu sesaat kemudian ia melihat seseorang berdiri didepan nya dan memperhatikan dirinya. Lalu sesaat kemudian seseorang itu menyapa.
“ Tania!”
Mendengar nama nya di panggil, membuat Tania mendongakkan kepalanya.
“ Kamu?”
Kening nya mengkerut saat melihat seorang pria yang terlihat tak asing baginya kini sudah berdiri tepat didepan nya.
BERSAMBUNG