CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 136


Rintik-rintik air terlihat mengalir dari shower yang Tania nyalakan. Setelah melepas seluruh pakaian nya. Kini Tania pun berdiri disana membasahi tubuh dengan air yang keluar dari shower. Dari pucuk kepala hingga keujung kaki, Tania membasahi dirinya.


Di ambil nya sabun cair yang kini ia taruh diatas spons mandi miliknya. Tania meremasnya hingga mengeluarkan begitu banyak busa. Disabuni nya seluruh tubuhnya, tak lupa juga rambutnya yang ia beri shampoo dengan wangi kesukaan Joe.


Hal itu Tania lakukan, agar setiap kali Joe mendekati dirinya. Joe akan merasa nyaman dengan aroma dari rambutnya.


Dua puluh menit telah berlalu.


Tania kini telah selesai membersihkan tubuhnya. Di pakainya kembali jubah mandi, dengan rambut yang di liliti handuk kecil.


Tania, kini melangkah masuk kedalam kamar.


“Sudah selesai sayang?” Tanya Joe yang tiba-tiba saja berdiri di depan Tania sekarang.


“Joe, kau!” Tania tersentak, terkejut dengan kehadiran Joe yang muncul dengan sangat tiba-tiba.


“Hehehe,” terkekeh kecil. Lalu kini mendekatkan dirinya kearah tubuh Tania. “Hmm, harum sekali.”  Aroma shampoo dan juga sabun yang di pakai Tania kini tercium oleh Joe.


“Kan baru mandi.” Tukas Tania.


Joe, kini mendekatkan diri kearah Tania, lalu memeluk pinggang nya.


“Sayang, yuk kita olahraga pagi dulu.” Mengarahkan ciuman nya ke leher Tania sekarang.


“Joe, mulut mu bau, cuci dulu sana!” pekik Tania, mengibaskan tangan nya, mengusir aroma pagi yang keluar dari mulut Joe sekarang.


“Apa, bau?” Joe pun kini menciumi nafas nya sendiri. “Euhh!” memundurkan wajahnya, menjauhkan telapak tangannya yang ia gunakan untuk menahan nafasnya. “Hehehe, iya. Kalau gitu, aku cuci muka dulu ya. “Mmuuaach!” sebuah kecupan kecil mendarat di pipi Tania. Lalu di langkahkannya kakinya memasuki kamar mandi.


“Fiiuuuh! Dasar Joe, masih pagi juga.” Tania menggelengkan kepalanya lalu kini melangkah pergi dari sana.


Tak berapa lama.


Kini Joe kembali masuk kedalam kamar. Wajah nya terlihat lebih kinclong dari sebelumnya, senyum nya juga lebih merekah. Ternyata, Joe bukan hanya mencuci mulutnya. Namun, ia juga membersihkan seluruh tubuhnya (mandi).


Di langkahkan nya kakinya menyusuri ruangan kamar nya, menuju kearah tempat tidur. Lalu di lihatnya di depan cermin, Tania sedang mengikat tinggi rambut nya keatas.


“Sayang.” Joe mengerutkan dahinya menatap kearah Tania yang saat ini sudah memakai pakaiannya, yaitu pakaian olahraga.


“Hai Joe!” Tania menoleh. “Kau sudah selesai mandi?” tanya Tania sembari tersenyum hangat.


“Ya.” Jawab Joe singkat. “Kau, mau kemana?” tanya Joe kini.


“Olahraga.” Kata Tania.


“Olahraga?” Joe kembali mengerutkan dahinya.


“Ya,” Tania kembali menatap kearah cermin. “Bukankah tadi kau bilang ingin berolahraga dengaku.” Katanya kini.


Joe terdiam, memikirkan apa yang di katakan Tania.


Olahraga? Apa tadi aku mengatakan itu? Ah, iya. Tapi bukan olahraga yang seperti ini maksud ku.


“Huufft!” Joe menghela nafas nya dengan berat.


Mengingat olahraga yang di maksud sebenarnya adalah di tempat tidur.


“Kenapa Joe?” Taniamenaikkan sebelas alisnya. “Sepertinya, kau urung melakukannya.”


“Hah, siapa bilang.” Joe lalu memalingkan muka. “Kita akan olahraga sekarang, tunggu aku memakai pakaian ku dulu.” Joe kini melangkahkan kakinya menuju kearah lemari untuk mengambil pakaian nya.


“Joe, tunggu!” seru Tania, menghentikan langkah Joe.


“Apa?” Joe menoleh ke belakang.


“Itu, pakaianmu sudah aku ambil tadi dan aku letakkan diatas tempat tidur.” Kata Tania sembari mengerlingkan matanya kearah ranjang.


Joe juga ikut menoleh kesana, dan ternyata benar. Tania sudah menyiapkan semuanya dan meletakkannya diatas pembaringan mereka.


“Makasih ya sayang.” Kata Joe seraya melangkah kearah ranjang.


Tania tersenyum tak menjawab. Dalam hatinya, sebenarnya ia tertaw puas karena berhasil mengerjai Joe pagi itu. Karena sebenarnya, Tania tau jika olahraga yang di maksud Joe adalah olahraga diatas ranjang.


Hahahah! Emang enak di kerjain, hehehe.


***


“Hmm, terserah kau saja.” Sahut Joe seadanya.


Melihat Joe yang begitu tak bersemangat membuat Tania mengerutkan dahinya.


“Joe, kenapa begitu lesu? Apa sebenarnya kau sama sekali tak ingin berolahraga?” Tania melipat kedua tangannya. “Atau sebenarnya, ajakan mu itu hanya sekedar berbasa-basi saja denganku?” memasang wajah cemberut sekarang.


“Hah, mana mungkin, aku sangat bersemangat kok.” Tiba-tiba merubah ekspresinya sekarang.


“Yang benar?” Tania memicingkan mata nya.


“Benar, ayolah, sekarang juga kita pergi. Jika tidak, keburu siang nanti.” Joe kemudian menarik tangan Tania untuk pergi bersamanya.


Sial-sial! Yang ku maksud apa yang ku dapat apa sekarang.


Gumam Joe menggelengkan kepalanya.


Pagi itu Joe dan Tania pun berlari bersama mengelilingi kompleks perumahan sekitar rumahnya.


Tania begitu gembira, namun bertolak belakang dengan Joe. Pria itu sebenarnya amat sangat kesal. Namun, ia


tak menunjukkannya. Dengan terpaksa, Joe selalu berusaha menyunggingkan senyumnya, tak ingin jika Tania merasa kesal nantinya.


Sekitar dua puluh menit kemudian.


“Huh.. huh.. huh..”


Ngos-ngosan, Joe menopang kedua tangannya di lututnya. Keringat nya juga mengucur deras hingga mebasahi kaos tanpa lengan nya.


“Joe, sedikit lagi kita sampai rumah, yuk!” ajak Tania menyemangati.


“Hmm,” angguk Joe seraya menyeka keringatnya.


Mereka pun kemudian kembali berlari hingga tak lama kemudian tiba dirumah nya.


“Kau tidak apa-apa kan?” Tania tersenyum memandang kearah Joe.


“Hmm, tidak apa-apa.” Joe menggeleng pelan. “Sudah lama aku tidak berlari sejauh ini, karena sudah terbiasa memakai treadmill di ruang Gym ku.”


Tania mengangguk pelan.


“Tapi lebih seru seperti ini kan?” Tania memainkan matanya, membuat Joe merangkul dirinya, lalu menggendong nya.


“Lebih menyenangkan lagi jika seperti ini larinya.”


Terkejut, Tania membelalakkan matanya.  Tak menyangka jika Joe akan melakukan hal itu, padahal disana ada Pak Min, yang tengah mengelap mobil dan juga beberapaa penjaga rumah.


“Joe, kau gila ya. Inikan masih di luar.” Menekankan suaranya dengan setengah berbisik.


“Memang nya kenapa jika masih di luar?” Joe tersenyum.


“Masih bertanya, apa kau tidak lihat! Pak Min dan juga beberapa penjaga rumah mu ada disini!" kembali menekankan suaranya, namun setengah berbisik.


“Loh, memang nya kenapa?” menjawab dengan santai. “Kau istriku, mereka tau itu. Jadi bukan hal yang tabu jika aku memperlakukanmu seperti ini.”


“Tidak denganmu, namun tabu buatku.” Tania mencubit bahu Joe.


“Hmm, berani ya.” Joe mendaratkan ciuman di bibir Tania.


“Um, mm.”


Brutal, membuat Tania hampir tak bisa bernafas.


“Ini hukuman untukmu.” Bisik Joe.


“Aaa… Joe! Kau memang berengsek!”


Memukul-mukul dada Joe dengan kedua tangannya,menahan malu karena ada masih ada Pak Min, dan beberapa penjaga disana.


Joe terkekeh menikmati setiap pukulan yang mendarat di tubuhnya. Lalu kini ia melangkahkan kakinya memasuki rumah nya.


Nb. Sabtu minggu nggak usah di Vote ya guys. Jika berkenan, simpan saja untuk Vote hari senin sampai jum'at. Terimakasih🙏🙏