
Derapan langkah kaki kian terdengar. Suara yang begitu khas, dari sepasang sendal kulit yang dikenakan. Ia tak lain dan tak bukan adalah Joenathan, si pemilik rumah. Arahnya menuju ke ruang makan. Dimana, ia ingin sedikit
mengganjal perutnya dengan apa yang terhidang di sana.
Ditariknya, sebuah kursi yang bersanding dengan meja. Sedikit merenggang, agar bisa leluasa menopang tubuh diatasnya. Hal itupun lantas membuat beberapa pelayan sengaja datang menghampiri. Mereka, berniat hendak melayani. Namun, Joe, malah menyuruh mereka pergi karena ingin sendirian.
Ya, sendiri. Mungkin hal itu akan membuat fikirannya sedikit tenang. Setelah berbagai masalah yang terjadi hari ini. Malam yang menegangkan berhasil terlewati, menjaga kesetiaan agar tak ternodai, hanya demi dia (Tania) si kekasih hati. Tapi, pagi ini, Joe, kembali menghadapi masalah yang sangat pelik. Hingga, membuatnya sendiri tak tau harus memulai darimana untuk menjelaskan semuanya.
Pasti, hal itu tidaklah mudah. Mengingat bagaimana cara Katty memposisikan dirinya, suaranya, seolah-olah telah melakukan hal yang menggairahkan dengannya. Ditambah lagi, bagaimana ia harus menjelaskan kepada Tania jika ia sendiri yang datang menghampiri Katty malam itu, meskipun niatnya hanya untuk membantu. Tapi, apakah, Tania, akan percaya?
Joe, duduk melamun dengan kedua tangan yang dibiarkan jatuh menggantung di lengan. Tubuhnya bersandar, disebuah kursi yang telah didudukinya. Tatapannya, lurus kedepan, mengingat akan kejadian tadi malam. Andai saja ia tidak nekat pergi membantu Katty di malam hari. Pasti, kejadiannya tidak akan seperti ini. Sesal, Joe.
Makanan yang terhidang di atas meja, terbiarkan begitu saja, tak tersentuh sedikitpun. Banyaknya masalah yang, Joe, hadapi dalam waktu singkat, membuat perutnya terasa kenyang. Joe, lantas kembali bangkit dari duduknya, dan pergi darisana. Niat hati yang awalnya ingin sedikit mengisi perut, tapi kini itu tidak terjadi.
Diruang kerja yang bertepatan dengan kamar pribadi. Joe, duduk seraya mengatupkan kedua telapak tangan. Tangannya, lalu dipakai untuk menopang dagu, dengan bibir yang rapat terkatup. Keningnya, juga mengerut karena masih memikirkan tentang masalah yang terjadi.
Tangannya, lalu mengulur kearah sebuah bingkai kecil yang terletak di meja. Joe, mengambilnya, lalu kini memandangnya. Sebuah foto pernikahan antara ia dan Tania. “Belum pernah aku mengalami hal seperti ini, dimana aku sendiri takut untuk menjelaskan apa yang terjadi.” Lirih Joe, dengan mata yang terus memandang kearah foto yang ada di tangan. “Ya, Tuhan… apa yang harus aku lakukan sekarang…” Joe terlihat frustasi. Sebelah tangannya, kini sudah mendarat di kening, sementara yang satunya masih memegang erat sebuah bingkai kecil, yang kemudian dibenakan kedalam dada. “Tania… bagaimana aku harus mengatakan, jika aku sungguh tidak pernah mengkhianatimu.” lirih Joe, lagi.
Waktu berlalu, hampir setengah hari Joe duduk didalam ruang kerjanya. Masih didalam posisi duduk yang sama, diatas sebuah kursi putar kebanggaannya. Posisinya masih bersandar, dengan mata yang terpejam. Joe, terlelap bersama beban masalah yang ada di benaknya.
Diatas meja. Sebuah benda bersegi empat, dengan bentuk yang memanjang terlihat bergetar. Getaran itu kemudian
menimbulkan sebuah deringan yang membuat Joe seketika terjaga dari tidur singkatnya. Joe, meraba, dengan kelopak mata yang belum sepenuhnya terbuka. Ia berusaha meraih asal suara yang membuatnya terjaga.
Dapat! Joe, mendapatkan ponselnya. Kemudian ia melihat jika itu Bayu yang sedang menghubunginya. Joe, pun lantas segera menjawab panggilannya.
Setelah beberapa saat, mendengarkan apa yang Bayu, sampaikan. Joe, lantas mengakhiri percakapan. Dilihatnya kearah jendela yang dibiarkan terbuka. Mentari mulai redup, menyongsong datangnya senja.
Joe, mulai gusar. Teringat akan Tania. Apakah ia sudah makan, bagaimana keadaannya sekarang? pertanyaan itu melintasi benaknya. Tak ingin berlama-lama, Joe, pun lantas bangkit dari duduknya. Ia menutup tirai jendela, baru kemudian melangkah pergi darisana.
Cekleekk!
Pintu terbuka. Joe, masuk kedalam kamar. Dilihatnya, Tania tengah duduk sembari bersandar di ranjang. Ponsel di tangan, dengan wajah menunduk, Tania, menatap serius layar ponselnya. Joe, pun lantas mengerutkan dahinya.
Apa yang sedang Tania lakukan. Kenapa ia begitu fokus menatap ke layar Hp? Bahkan, kedatanganku pun ia tidak menyadarinya.
Batin Joe.
Joe, melangkah terus mendekati Tania. Hingga, pada saat ia tiba di sana, Joe, melihat sebuah pesan bertuliskan ‘Jika kau sudah tak sanggup, beritahu aku. Aku berjanji, akan membawamu pergi jauh darisini’. Nama kontak, Kak Sam.
Seketika, emosi serta darah menggelegak panas serasa ingin tumpah. Joe, murka. Diraihnya ponsel Tania dengan paksa, lalu kemudian membantingnya.
Praaak!
Sontak, Tania, terkejut. Ia kemudian bangkit dari duduknya, berhambur pergi ke lantai. Dipungutnya, pecahan ponsel yang berserakan di lantai. Hancur, tak beraturan.
“Joe!!!” Tania menoleh murka. Matanya membelalak, menatap Joe yang berada di sana.
“Apa! Kau mau marah kepadaku?” tanya Joe, dengan mata terbuka lebar. Seolah membalas, Tania, yang sedang memplototinya.
“Kau! Apa hak mu menghancurkan ponselku?!!” jerit Tania tak tertahankan. Tangannya kemudian kembali meraih, puing-puing ponsel yang rusak.
“Hak mu? Itu aku yang membelikan. Jadi, terserah aku mau menghancurkannya atau tidak!” ujar Joe, dengan kalimat yang cukup angkuh didengar.
Tania lantas kembali menoleh, dengan puing ponsel yang ada di tangan. Lalu kini, ia lantas bangkit dan berjalan cepat menghampiri Joe.
“Sungguh, lelaki yang picik! Aku, tau ini kau yang membelikannya untukku. Bukankah itu semua karena kau telah membuang ponselku?!” Tania memicing, “Dan, aku juga tau jika ini semua adalah milikmu. Tapi, apakah kau harus memperlakukanku seperti ini?” tanya Tania. “Kau, terlalu angkuh Joe.” lirihnya kemudian.
“Heh, sudah sehat kau sekarang! Sudah bisa bangkit, dan menentangku?!” Joe, membelalak. “Jika, saja kau tidak berbalas pesannya, dan berniat kabur dariku. Maka, aku tidak akan pernah menghancurkan ponselmu seperti itu!” jelas Joe.
“Joe… itu se—“ belum sempat Tania menghabiskan kalimatnya. Joe, dengan cepat menyanggahnya.
“Apa! Apa yang kau ingin katakan? Bukankah kau juga menikmati kemewahan yang ku berikan? Tidakkah kau merasa puas dengan apa yang sudah ada disini semua? Sehingga kau, masih berniat kabur dengan pria lain diluar
sana?!” amarah kian menggelegak.
“Heh, kau fikir aku percaya? Barusaja aku melihat kau berbalas pesan dengan Sam dan berencana untuk kabur dariku.” Joe, menatap remeh. “Sekarang, apa kau masih mau menyangkalnya?” tanya Joe dengan wajah murka.
“Joe! itu semua karena kau! Kau, yang membuat semuanya jadi seperti ini!” seru Tania. “Aku, menerima cintamu dengan segenap masalalumu. Aku tidak masalah dengan itu. Keberingasan hasratmu, aku juga tidak mempermasalahkannya. Sikapmu yang overprotektif, aku juga terima. Tapi, aku hanya meminta satu darimu yaitu kesetiaan. Tapi, apa kau pernah melakukannya?!” tanya Tania menyerukan suara.
“Aku setia padamu Tania! Aku setia!!” tangan Joe, kini sudah memegangi kedua punda Tania, menekannya dengan kuat.
“Joe, sakit! Lepaskan!” Tania meringis, merasakan sakit di bahunya. Lalu kemudian, ia menepis kedua tangan, Joe, yang mengungkung kuat bahunya.
Joe, terkesiap saat melihat Tania meringis kesakitan. Dilepaskannya bahu Tania seraya meminta, “Maaf..”
“Kau, pria gila! Mana mengerti dengan setia. Diotakmu, hanya ada wanita, wanita, dan wanita. Mana sempat kau berfikir untuk hal yang lain!” Tania menunjuk-nunjuk kearah kepalanya sendiri.
“Tidak, Tania. Aku benar-benar setia kepadamu.” lirih Joe, dengan perasaan yang dilingkupi rasa bersalah.
“Heh, setia? Setia macam apa yang meninggalkan cap bibir di bahu jasnya? Setia apa yang meninggalkan istrinya di tengah malam, lalu bermesraan dengan wanita lain diluar sana? Setia apa?! Setia apa?!!” seru Tania. “Setelah beberapa hal yang aku ucapkan tadi, kau masih berani mengatakan jika dirimu itu setia?!!!” suara Tania terdengar meninggi. “Heh, kau tak lebih dari seorang pria berengsek yang hanya memikirkan selangkanganmu saja.” cibir Tania.
“Tania, aku tidak seperti itu. Malam itu, Katty mengambil ponselku tanpa sepengetahuan dariku.” jelas Joenathan, yang malah membuat Tania semakin berang.
“Katty? hahahah! Ternyata benar dugaanku. Kau dan mantan pacarmu itu masih memiliki hubungan. Benar-benar mengesankan.” Tania tertawa, lalu disusul senyum kecut yang tersungging di bibirnya. “Kebetulan sekali, sorenya cap bibir miliknya menempel di jas mu. Kau, bilang, itu tidak sengaja. Lalu, malamnya, kau datang menemuinya dan tanpa sengaja juga berbagi kenikmatan bersamanya. Plook! Plook! Plook!” Tania, bertepuk tangan, dengan airmata yang mengalir di pipinya. “Selamat, Joe, kau telah berhasil membuat hatiku sakit. Dan sekarang, aku minta kau ceraikan aku sekarang juga!!” pekik Tania.
Hatinya terasa sesak. Seolah tak lagi bisa bernafas. Kalimat yang baru saja terlontar seolah menggambarkan, robohnya dinding pertahanan yang selama ini Tania dirikan. Ia sudah tak sanggup lagi menahan semua. Perselingkuhan, pengkhianatan, baginya tak bisa termaafkan. Tania, tidak ingin menghabiskan masa hidupnya dengan seorang lelaki yang tak bisa dipegang kepercayaannya. Baginya, kepercayaan, kesetiaan, itu adalah pondasi kuat untuk berdirinya sebuah pernikahan.
Joe, terpatung ditempatnya. Tercengang, saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Tania. Apa kesalahannya begitu fatal? Sehingga, Tania dengan begitu gamblangnya mengucapkan kata cerai kepadanya?
Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku dan Tania tidak boleh berpisah. Aku sangat mencintainya, bagaimana bisa aku hidup tanpanya. Lagipula, saat ini, Tania sedang mengandung hasil buah cinta kami. Jadi, mana mungkin aku bisa berpisah dengannya.
Airmata, kian jatuh tak terbendung membasahi wajah. Tania, lantas bergerak membalikkan badan dan berjalan menuju ke lemari yang ada di sana. Di ambilnya, beberapa pakaian yang biasa ia kenakan. Memasukkannya kedalam sebuah koper usang miliknya. Yang, sengaja Tania simpan tak ingin di buang. Meskipun saat itu, Joe berulang kali meminta untuk membuangnya. Tapi, Tania, larang karena masih sayang. Dan pada akhirnya hari ini koper yang sudah usang ternyata dibutuhkan untuk membawa barang.
Tania, hanya mengambil beberapa barang miliknya saja. Pakaian mahal yang di belikan Joe, semuanya ia tinggal. Ia tak ingin membawa satupun barang dari pria angkuh dan berengsek yang berstatus suaminya. Karena, memang bukan harta yang Tania inginkan, melainkan sebuah kebahagiaan yang sederhana.
Hampir, melengkapi semua barang-barangnya. Joe, tak tinggal diam. Pria itu, lantas bergegas cepat menghampiri Tania yang sedang ingin menutup resleting kopernya. Diraihnya tangan Tania, lalu dengan kasar, Joe menyeretnya dan menghempaskannya di ranjang.
“Aaaahhh!” Tania meringis. Bagaimanapun, hentakkan itu mengguncang rahimnya. Rasa sakit, kini menyeruak, terasa nyeri di sana. Tania, memegang rahimnya. Mengelus pelan meredakan rasa sakitnya.
Astaga… kenapa aku bisa lupa jika saat ini dia sedang hamil. Bagaimana ini, pasti sekarang Tania, akan lebih sangat membenciku.
Batin Joe.
“Tania, maaf.” Dengan segera, Joe, menyergah tubuh Tania. “Maaf, aku, tidak bermaksud memperlakukanmu seperti ini.” suaranya terdengar rendah. Dipegangnya perut Tania, lalu mengelusnya lembut.
Tania, menepisnya. “Tak usah kau sentuh-sentuh perutku!” ketus Tania.
“Tapi, Tania, ini anakku.”
“Anak, kau masih menganggap ini anak? Heh, kau adalah orantua yang gagal Joe.” ujar Tania.
Perlahan, ia merangkak ke tepian tempat tidur, membalikkan badan dan meringkuk di sana. Sebelah tangannya, juga tampak terus mengelus perutnya, berusaha menenangkan gumpalan daging yang bersemayam di rahimnya.
“Tania, maaf.. maafkan aku.” lirih Joe. Lagi-lagi, Joe meminta maaf, merasa bersalah dengan apa yang telah diperbuatnya. Dilangkahkan kakinya, ingin mendekati, Tania. Tapi, langkahnya kemudian terhenti saat Tania mengucapkan kalimatnya.
“Keluar darisini Joe, keluarr!!”
Joe terdiam beberapa saat, tak bergeming di tempatnya. Lalu sesaat kemudian, pria itu membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan Tania sendirian di kamar.
Airmata kian mengalir, membasahi bantal yang di pakai buat mengganjal kepala. Tania, menangis tersedu-sedu meratapi nasib pernikahannya. Bagaimanapun, ia ingin semuanya berakhir, barulah setelah itu ia bisa menjalani
kehidupan normal yang seperti biasanya.
TBC.