CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 193


Puncak kekesalan sekarang sudah berada di ubun-ubun. Siraman kopi panas yang mengenai jas serta kulitnya rasanya kian membakar hatinya. Luapan amarah akan kekesalan yang kini telah menanjak serasa ingin meledak dari sana.


Bayu bergegas keluar dari ruangannya, berniat menuju ke ruangan Joenathan. Setibanya di sana, dilihatnya di dalam ruangan itu Wulan sudah duduk di depan meja kerja Joenathan. Bayu pun memicingkan matanya menatap


kearah Wulan yang ternyata sudah lebih dulu tiba di sana.


“Cih! Ternyata kau bertindak lebih cepat dari yang ku kira,” cibirnya kepada Wulan.


“Bayu, jaga sikapmu. Ini ruanganku, bagaimanapun aku ingin ketenangan dan tidak ingin ada keributan di sini,” tukas Joe.


“Aku sungguh tidak menyangka, ternyata wanita yang terlihat polos sepertinya ini juga memiliki trik licik dengan pikiran picik!” sambung Bayu dengan segala analisanya.


“Apa maksudmu?” tanya Joe.


“Bukankah dia datang ke sini untuk mengadukanku kepadamu?” Bayu memicingkan mata.


“Mengadukanmu, memangnya apa yang telah kau buat kepadanya?” Joe balik bertanya.


“Aku sedang bermain-main dengannya, menyuruhnya membuatkan kopi untukku secara berulang-ulang. Memang sengaja kulakukan, tapi itu semua karena aku ingin mengujinya, melatih kesabarannya. Tapi, apa hasilnya. Dia


malah menyiramku dengan kopi panas buatannya. Lihat ini pakaianku, sudah kotor dengan siraman kopinya, bahkan kulitku sampai terbakar karena perbuatannya,” jelas Bayu.


Wulan hanya diam, mendengar itu semua. Tak bersuara, hanya mendengar apa yang saat ini Bayu lontarkan. Sementara Joenathan, sekarang ia telah mengerti semuanya. Mengerti tentang apa yang terjadi saat ini, alasan di


balik pengunduran diri Wulan yang diajukannya secara tiba-tiba. Pasti itu semua terjadi karena Bayu yang bertindak semena-mena padanya.


“Bayu,” panggil Joenathan.


“Hmm,” Bayu menjawab dengan sekilas.


“Kau tau apa kesalahanmu?”


“Salahku?” kening Bayu mengerut mendengar pertanyaan Joe.


“Apa kau tau kenapa Wulan datang ke sini?” kembali Joe bertanya.


“Tentu saja tau, dia pasti datang ke sini karena ingin mengadukanku padamu, kan.”


“Salah,” Joe menggeleng. “Jika tadi kau menyebutkannya bersifat licik dengan pikiran yang picik, sepertinya itu semua berbalik padamu. Kau lah yang berpikiran picik Bayu,” sangka Joenathan.


“Aku, apa maksdumu?” Bayu semakin tak mengerti.


“Wulan, datang ke ruanganku ini bukan karena mengadukanmu,” tukas Joe.


“Tidak mengadukanku? Terus untu apa dia ada di sini?” tanya Bayu dengan tatapan sinis ke arah Wulan.


“Dia ingin mengajukan pengunduran diri kepadaku dengan alasan pribadi yang tak bisa diungkapkan. Tapi sekarang sepertinya aku sudah tau, Wulan melakukan hal ini karena kau.  Karena kau yang terus saja menindasnya, sehingga membuatnya merasa tidaknyaman dan ingin segera pergi dari sini,” tukas Joenathan.


Bayu terkejut. Pernyataan yang baru saja di dengarnya dari Joenathan membuatnya seketika bungkam. Bagaimana bisa ia menyangkakan hal yang sama sekali tidak Wulan lakukan. Ternyata Wulan sama sekali tidak mengadukannya, malah mengajukan pengunduran diri sebelum Bayu sendiri yang mengeluarkannya.


Wulan, ternyata kau sungguh gadis yang istimewa.


Wulan sudah merasa jengah. Rasanya saat ini ia ingin segera pergi dari sana. Lagipula, ia sudah surat pengunduran diri sudah ia serahkan kepada Joenathan dan tinggal pergi dari sana.


“Tuan Joenathan, berhubung surat pengunduran diri saya sudah diterima. Sekarang saya ingin segera pamit dari sini, dan sebelumnya maaf jika selama ini saya banyak melakukan kesalahan yang mungkin saja merugikan


perusahaan. Sungguh itu semua bukan niat saya. Sekarang saya pamit pergi, dan juga terimakasih saya ucapkan untuk yang terakhir kalinya karena telah sudi menerima saya untuk bekerja di sini, di perusahaan anad. Sungguh, apapun yang ada di sini adalah pengalaman yang sangat berarti bagi saya. Sekarang saya pamit, selamat siang.”


Setelah mengutarakan segala sesuatu yang ada di hatinya. Sekarang Wulan membalikkan badannya, dan ingin melangkah pergi dari sana. Namun baru beberapa langkahnya berpijak, langkahnya kembali terhenti karena Joenathan yang memanggilnya.


“Wulan, tunggu!”


Wulan kembali menoleh ke arah sana. Dilihatnya Joenathan merobek kertas pengunduran dirinya, lalu membuangnya begitu saja.


“Aku tidak menerima pengunduran dirimu. Tapi aku juga tidak akan memaksamu untuk tetap bekerja di sini. Tenangkanlah pikiranmu terlebih dahulu, ambillah cuti untuk beristirahat sementara waktu. Hingga akhirnya saat kau sudah benar-benar siap, kembalilah bekerja di perusahaanku.” ujar Joenthan.


“Terimakasih, Tuan. Tapi saya tidak bisa menjajikan apa-apa, jangan berkecil hati jika saja tidak kembali. Karena mungkin, setelah dari sini saya akan mencari pekerjaan baru yang sesuai dengan kemampuan saya.”


“Hmm, baiklah. Itu semua keputusanmu, tapi jika kau ingin kembali lagi ke sini. Aku Joenathan, siap membuka pintu perusahaanku untuk menerimamu kembali di sini.”


“Hmm, terimakasih Tuan.”


Wulan mengangguk, seulas senyuman juga ia sunggingkan dari sana. sungguh ia sangat tidak menyangka dengan kalimat yang baru saja Joe katakan. Ternyata pria sepertinya mempunyai sikap yang sangat bijaksana. Terlepas dari segala minus di masa lalunya.


Ya, semua orang berhak berubah. Terlebih berubah menjadi baik seperti Joe sekarang. mendapatkan Tania adalah hal yang sangat menguntungkan baginya, setidaknya dengan hubungannya itu Joenathan telah menjadi manusia yang lebih baik lagi sekarang.


Wulan pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu, menyisakan Bayu dan Joenathan di sana.


Sepeninggalannya Wulan. Joenathan melirikkan matanya kearah Bayu. Dilihatnya, pria itu masih terus memandang kearah pintu yang baru saja di tutup Wulan.  Tak bergeming, dengan raut kesedihan yang begitu terpancar dari sana, seperti ada rasa sesal yang ikut tersirat di wajahnya.


“Dia sudah pergi,” ujar Joenathan dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi putarnya.


Tapi Bayu masih diam tak bergeming, dengan mata yang masih menatap ke pintu.


“Hei, bro!” Joenathan  dengan sengaja memukul keras mejanya, menyadarkan Bayu dalam lamunannya. “Apa yang sedang kau pikirkan? Gadis itu telah pergi, dan itu semua karenamu,” tukas Joenathan.


Segera Bayu mengubah ekspresi wajahnya. Yang tadinya tampak sedih, sekarang menunjukkan kembali keceriaannya.


“Heh, biarkan saja dia pergi. Aku tidak peduli!” serunya, yang kemudian duduk di kursi yang ada di depannya.


“Heh, tidak peduli tapi masih menatapnya dengan sangat sedih tadi. Seolah-olah tidak rela membiarkannya pergi dari sini. Jika kau tidak rela, mengapa tidak mengejarnya saja, lalu minta maaf dan membujuknya untuk kembali bekerja bersamamu. Mumpung dia masih belum jauh.” Joenathan memberikan sarannya.


“Minta maaf? Memangnya aku ada buat salah apa sama dia? Aku hanya ingin menguji kesabarannya, tapi dia malah bersikap berlebihan seperti itu. Menyiramku dengan kopi panas yang dibuatnya, seharusnya dialah yang


meminta maaf kepadaku. Ini jangankan meminta maaf, menoleh pun tidak. Jadi untuk apa aku mengejarnya, biarkan saja dia pergi. Palingan beberapa hari lagi ia juga akan kembali datang ke sini, meminta untuk bekerja kembali.” Bayu sangat percaya diri dengan kalimatnya.


“Kau salah,”


“Wulan bukan wanita seperti itu. Dia itu wanita yang punya pendirian, kehidupannya sangat keras sehingga membuatnya keras seperti itu. Dia bukan wanita yang gampang untuk di tindas, jadi aku rasa dia tidak akan kembali hanya untuk ditindas olehmu. Sementara kau, bersiap-siaplah dengan rasa sesalmu. Karena aku yakin, setelah ini kau akan sangat menyesal karena telah membiarkannya pergi dari sini.” Pungkas Joenathan.


TBC.