
...Spoiler Bab 2...
Layla gemetar. Bergegas menjauh ke sudut lemari dengan perasaan takut. Kedua tangannya menarik selimut yang tadi sempat ia tarik dari ranjang. Menutupi kepalanya, dadanya, menyisakan ujung kaki agar nanti ia masih bebas melangkah.
Pikirannya semrawut. Hampir tidak percaya dengan apa yang ia alami kini. Berharap semua hanya ilusi yang benar tercipta dari mimpi. Berusaha menyangkal atas tindakan tak terpuji yang telah dilakukan oleh Abang sepupu yang selama ini ia hormati.
Masih terbayang dibenaknya bagaimana kebaikan seorang Kevin. Yang selama ini selalu membela saat ia dimarahi oleh Asri. Dibantu saat ia dengan keji difitnah oleh Risha, yang menuduhnya mencuri uang seratus ribu rupiah dari dalam kamar Ibunya, Asri.
Saat itu masih pagi. Risha yang memiliki matkul pukul delapan pagi itu menghampiri Layla yang sedang mencuci piring. Saudari sepupunya itu meminta Layla menyetrika pakaiannya yang menurut lecek, tidak pantas dipakai.
Dengan sabar Layla menyanggupi. Namun, saat gadis itu hendak berbalik setelah mengambil pakaian Risha untuk disetrika. Uang yang tadi sempat ia cuci karena noda minyak memercik saat ia berusaha mengambil ponsel yang berdering dari saku celananya jatuh ke lantai.
Risha melihatnya. Dan dengan tak tahu malu gadis itu ingin memungutnya. Namun, gerakan tangannya kalah cekatan dari tangan Layla. Sigap memungut dengan tubuh yang ia condongkan ke bawah.
Sontak saja Risha mencak-mencak. Berteriak jika uang tersebut milik Ibunya. Lalu menuduh Layla sengaja mengutil dari kamar sang Ibu. Saat Asri tidak ada di kamarnya. Dan . . . seperti keinginannya, sang Ibu yang bernama lengkap Asri Cahyati itu langsung naik pitam saat mendengar nama Layla mengutil di kamarnya.
“Dasar gadis tidak tau di untung! Sudah ditolong bukannya bersyukur. Malah nyolong!” hardikan itu Asri lontarkan sambil menunjuk-nunjuk wajah Layla. Gadis itu hanya menunduk terdiam. “Kamu itu keturunan baik-baik. Ayahmu berasal dari keluarga baik-baik! Ibumu juga! Tapi, kenapa kamu malah seperti memulai profesi jadi tukang yolong? Bikin rusak reputasi saja!” Kali ini lebih keras. Sampai-sampai mendenging ke dalam telinga Layla.
Semua orang berkumpul. Tak terkecuali Hendra dan Kevin. Bapak dan anak itu menghampiri dapur begitu mendengar teriakan Asri yang sedang memarahi Layla. Di sana, Hendra hanya bisa bergumam sambil menggelengkan kepala, pelan. Sementara Kevin menengahi dengan menanyakan sumber masalah.
Ia memeriksa cctv yang terpasang tak jauh dari kamar Ibunya. Menunjukkan kepada semua orang jika memang tidak pernah ada satu waktu pun Layla berkunjung ke dalam kamar Ibunya. Jika ada lewat, itu pun disaat Layla membersihkan ruangan. Meninggalkan setiap kamar, tidak ingin masuk ke ranah pribadi kelurga Om Hendra.
“Makanya jangan asal nuduh!” Kevin menunjuk kening Risha. Membuat gadis cantik itu merengut tak senang.
Sebenarnya siapa yang menjadi Adik kandungnya? Risha kah, atau Layla? Jika benar Risha, maka kenapa Kevin selalu bertindak tidak adil padanya? Lalu, jika itu Layla, tidak mungkin . . . karena gadis itu adalah putri satu-satunya dari Bi Suri, Adik kandung Ayahnya.
Asri berbalik meninggalkan dapur. Memilih melarikan diri setiap kali tuduhannya tidak terbukti. Alasannya adalah, karena ia tidak punya lagi alasan untuk memarahi Layla. Tidak ingin mendengar segala ocehan putra sulungnya yang kerang mengatakan tentang ia yang tidak bijak. Selalu pilih kasih, hanya karena Layla keponakan di rumah ini. Berbeda dengan Risha, putri kandungnya. Si bungsu kesayangan Asri.
“Jangan takut, ya. Ada aku di sini.” Kalimat menenangkan yang selalu Kevin ucapkan setiap kali lelaki itu berhasil membuktikan Layla tidak bersalah di mata keluarganya. “Jika ada apa-apa, beritahu saja aku. Maka aku akan dengan senang hati membantumu.” Mata sayu itu menatap Layla teduh, penuh iba.
Namun sekarang . . . Kevin yang selalu melindunginya itu telah berubah hanya dalam waktu sekejap. Padahal tadi pagi lelaki itu masih begitu baik padanya. Bahkan menawarkan diri mengantar Layla menuju pabrik dengan sepeda motornya.
“Bang . . . k-kenapa A-abang tiba-tiba jadi seperti ini?” tanya Layla tergagap. Terlalu takut dengan sorot mata Kevin yang kini sedang menatapnya tajam. Bagaikan serigala lapar sedang mengintai mangsanya. Siap menerkam.
Dari beberapa orang yang Layla dengar. Katanya, seseorang yang dipengaruhi alkohol kehilangan hampir seluruh dirinya. Dikontrol oleh alkohol. Dan Layla yakini itu sedang terjadi pada Kevin.
Pun Kevin melompat ke arah Layla. Menerkam gadis itu dengan kedua tangannya. Tubuh Layla dikungkung ke dalam pelukan. “Kau tidak bisa lari lagi, Layla . . . aku mendapatkanmu.” Aroma alkohol menyeruak masuk ke dalam indera penciuman. Ketika Kevin yang wajahnya ia tempelkan di pipi Nara membuka mulutnya.
“Lepaskan aku, Bang. Ingat . . . aku ini Layla. Adik sepupumu.” Layla berusaha meronta.
“Aku tau. Maka dari itu aku menginginkanmu.” bisik Kevin semakin mempererat kungkungannya. “Kau tau, Dik? Sudah lama Abangmu ini menginginkan saat-saat seperti ini. Di mana kita bisa menghabiskan malam bersama.”
Kevin menyingkap selimut yang menutupi tubuh Layla. Menarik kain berbulu lembut itu hingga lepas dari kepala Layla. Tangannya kemudian menyelinap masuk dari bawah piyama Layla. Mengusap perut gadis itu, memainkan pusarnya.
“Tubuhmu sangat indah, Dik, dan Abang suka itu.” Kevin menusuk-nusukkan pelan telunjuknya di atas permukaan pumpunan. Membuat gadis itu merintih geli.
“B-bang . . . istighfar . . . aku ini Layla, adikmu.” Layla memelas.
“Adikku cuma, Risha, sayang. Sementara kau hanya orang asing di rumah kami.” desah Kevin semakin menekan tubuhnya ke tubuh Layla. Membuat gadis muda itu semakin tidak bisa bergerak.
Tangannya kemudian merangsek naik membelai wajah gadisnya itu. Mencakup kedua pipi Layla dengan sebelah telapak tangannya. Memalingkan paras cantik itu menghadapnya.
Wajah mereka kini sangat dekat. Bahkan saking dekatnya hanya berjarak se-senti untuk bibir keduanya saling menyerecap. Layla memejamkan matanya, tidak berani menatap manik Kevin yang
terlihat sudah diliputi kabut gairah itu. Memikirkan ancang-ancang bagaimana bisa kabur?
Menarik sudut garis bibirnya, Kevin tersenyum saat melihat Layla memejamkan mata. Ia berpikir gadis itu mulai pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya. Ia kemudian memiringkan wajah bersiap menyerup bibir gadisnya itu. Pun Layla juga melakukan hal yang sama. Dan,-
“Akh!!” Kevin berteriak saat bibir Layla menyentuh pipinya. Bukan mengecup, melainkan digigit sekuat tenaga sampai kulit ari wajahnya terkelupas mengeluarkan darah. Lalu ketika kedua tangannya itu abai, sibuk memegangi wajah. Gadis itu segera kabur melepaskan diri, meninggalkan kamar tersebut sambil berteriak minta tolong. Membuat se-isi rumah geger!
TBC.
Lanjutannya bisa baca di F I Z Z O ya gratiss. Akan ada Giveaway juga di sana untuk 5 orang pemenang. Masing-masing mendapatkan hadiah 20k pulsa. Dipilih dari komentar menarik disetiap bab nyan. Sekarang sudah up sampai BAB 39. Dan pemilihan pemenang akan di umumkan di bab 60. Masih ada banyak kesempatan buat kalian yang mau ikutan. Maka dari itu, kuy melipir ke sana dan jangan lupa beri ulasan semenarik mungkin juga komentar disetiap bab nya!