CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 191


Malam telah berlalu, sinar rembulan telah redup berganti panasnya cahaya matahari. Sinarnya begitu terik menyilaukan hingga masuk ke dalam kamar melalui pintu balkon yang terbuka lebar. Ya, Joe yang membukanya.


Pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan berdiri di balkon, menghirup segarnya udara di pagi hari.


“Hooaaam!” Tania terjaga, bangkit dari tidurnya dengan kedua sayap yang dibentang lebar. “Sudah pagi,” lirihnya dengan mata yang melirik ke arah samping. “Joe, sudah bangun?” pertanyaan itu terlontar saat ia melihat ke sisi kanannya dan tak menemukan suaminya di sana.


Ditariknya selimutnya yang saat ini menutupi tubuhnya, lupa jika saat ini ia sendiri sedang tidak mengenakan pakaian.


“Astaga, aku lupa jika tadi malam itu aku—“


Tania tidak melanjutkan lagi kalimatnya. Mulutnya mengatup, dengan bibir yang mengulaskan senyuman terbayang akan malam indah yang baru saja dilaluinya.


Ceklek!


Pintu terbuka. Suaranya membuyarkan lamunan akan bayangan cinta yang terjadi tadi malam. Tania memegang selimutnya, mengokohkannya agar tidak beringsut ke bawah.


“Sayangku sudah bangun?”


Terlihat Joe dari ujung sana, berjalan dengan membawakan dua potong sandwich, beserta segelas susu di atas nampannya.


“Joe, apa itu?”


“Ini?” Joe menunjuk ke arah nampan yang ada di tangannya. “Ini sandwich khusus aku buatkan untukmu.”


“Sandwich?”


“Ya,” Joe sudah tiba di depan ranjang, duduk di sana setelah sebelumnya menaruh makanan itu di meja samping ranjangnya. Diambilnya potongan sandwich itu, lalu mengarahkannya ke mulut Tania. “Karena sekarang kau sudah


bangun, jadi aku bisa langsung menyuapimu sekarang.”


“Sekarang kau makan yang ini, sementara untuk yang di bawah, itu lain lagi,” ujar Joe.


“Apa maksudmu aku akan makan dua kali pagi ini?”


“Ya, kau harus makan banyak. Tubuhmu sangat kurus seperti kekurangan gizi. Aku melihat ibu-ibu hamil yang ada di luar sana, mereka semua gemuk-gemuk. Perutnya besar, sedangkan kau masih terlihat rata. Aku tidak ingin anakku tak tumbuh dengan baik di dalam sana.”


Ya, perut Tania masih sangat rata. Mungkin itu karena usia kehamilannya yang belum cukup tiga bulan. Sehingga saat ini kehamilannya belum terlalu terlihat menonjol.


“Joe, kau mengataiku kekurangan gizi!” protes Tania.


Terang saja hal itu membuatnya kesal, Joe mengatainya kekurangan gizi seakan-akan dirinya kekurangan makanan. Kalau pun hal itu terjadi, maka itu semua adalah kesalahan Joe yang tidak memberinya cukup makan.


Bagaimana bisa sekarang Joe malah menyalahkannya begitu saja.


“Aku tidak mengataimu sayang,” Joe membelai rambut Tania, dengan lembut mencoba menjelaskan. “Aku hanya tidak ingin sayangku kekurangan gizi nantinya. Ini adalah anak pertama kita, aku ingin dia berkembang dengan


baik di dalam sana, mendapat asupan gizi yang cukup. Jika ibunya makan lebih banyak, maka asupan gizinya pasti akan lebih terjamin di dalam sana.”


Joe menjelaskan maksud dari perkataannya dengan sabar. Sementara itu, sebelah tangannya kini terlihat mengusap dengan lembut permukaan perut Tania yang masih terlihat rata itu.


“Makanlah sekarang, setelah ini baru bangun untuk mandi.”


Dimasukkannya sandwich buatannya itu ke dalam mulut Tania. Tania membuka mulutnya, dan mulai mengunyah sandwich yang sudah masuk ke mulutnya. Baru setelah Tania menghabiskan seluruh makanannya, Joe mempersilahkannya pergi masuk ke dalam kamar mandi.


 Assalamu'aaikum semua... Ra mau bagi info nih! Mulai hari ini, Joenathan dan Tania akan up seminggu dua kali ya, di hari selasa dan juga sabtu. Ra nggak bisa up setiap hari, karena belakangan ini Ra terlalu sibuk di dunia nyata. Tapi, Ra tetap akan berusaha up dan menuntaskan cerita ini.


Selamat beraktifitas semuanya\, semoga hari kalian semuanya berjalan dengan lancar dan juga menyenangkan. Selamat bertemu di hari sabtu*_*.