CEO PLAYBOY JATUH CINTA

CEO PLAYBOY JATUH CINTA
BAB 204


Di depan pintu kamar, terlihat Joenathan sedang berdiri menunggu Tania yang masih berada di dalam ruangan khusus yang menyimpan aksesoris, tas dan juga sepatu milik mereka berdua. Tak sabar menunggu, Joenathan pun lantas berinisiatif untuk menemui Tania di dalam sana.


Dilihatnya, Tania yang saat itu sedang kesusahan mengaitkan tali high heells nya, posisi berjongkok yang sangat sulit dilakukan menjadi penghalang tak terpasang nya high hells tersebut. Sebenarnya ada kursi di sana, tapi Tania tidak memakainya, karena jika ia duduk maka akan lebih sulit untuk mengenakannya.


Ya, bentuk tubuh Tania dengan perut yang sudah buncit itu membatasi ruang geraknya. Apalagi saat ini Tania mengenakan gaun dengan bawahan sepan, sehingga kini hal itu semakin membatasi ruang geraknya.


“Sayang, kenapa kau tidak bilang jika sulit memakai sepatumu?” tanya Joenathan yang saat ini sudah berdiri di depan Tania.


“Aku bisa memasangnya sendiri,” ujar Tania.


“Sini, biar aku bantu,” Joenathan lantas berjongkok di depan Tania.


“Jangan, itu tidak sopan! Tidak layak bagi seorang pria menyentuh kaki wanita, apalagi kau suamiku,” ujar Tania.


“Justru  karena itu, karena aku adalah suamimu, maka aku berhak memakaikannya,” ucap Joenathan.


“Tapi, Joe…”


Tidak menggubris, Joenathan lantas mengambil sepasang High hells yang ingin dikenakan Tania. memakaikannya, tanpa membutuhkan waktu yang lama. Kini sepasang High hells itu pun sudah terpasang di kedua telapak kaki Tania.


“Sudah selesai,” Joenathan kembali berdiri.


Sebenarnya, dengan kondisi yang seperti ini sandal jepit adalah alas kaki ternyaman untuk di pakai. Namun, mengingat kemana mereka akan pergi malam ini, maka tidak mungkin untuk Tania jika harus memakai sandal jepit.


Sepasang high heells di pilih Tania untuk dikenakan. Tidak terlalu tinggi, karena takut tidak nyaman saat memakainya. High hells dengan pijakan rendah pun menjadi solusi untuk dipakainya malam ini. Tetap terlihat elegan, meskipun dengan pijakan rendah.


“Makasih sayang…” kedua tangan Tania tampak mengulur, mengarah kepada Joenathan, berniat memeluknya.


Atu akan hal itu, Joenathan lantas mendekatkan dirinya, menyambut hangat pelukan Tania.


“Sama-sama sayang,” ujarnya membalas pelukan Tania.


“Ya sudah, karena kau sudah siap. Maka kita akan berangkat sekarang ya.”


“Siap!” seru Tania.


Mereka pun kini pergi meninggalkan kamar nya.


Setibanya di teras.


“Silakan Tuan,” membungkukkan badan, menyambut dengan hormat.


“Hmm,” Joenathan mengangguk, sementara Tania menyunggingkan senyumnya.


Kini, setelah keduanya masuk. Pak Min pun bersiap mengemudikan mobil nya.


Sementara itu di kediaman Wulan.


Gaun yang tadi sore di beli oleh Tania saat ini sudah melekat di tubuh Wulan. Riasan pun sudah di pakai, beserta rambut yang juga sudah di tata. Wulan saat ini terlihat berdiri di depan cermin yang memantulkan dirinya di sana.


Rasanya aneh sekali ia memakai setelan itu. Terlalu mewah, sehingga membuatnya merasa kurang nyaman. Tapi, ini adalah gaun yang dipilihkan serta dibeli sendiri oleh Tania. Jika Wulan tidak mengenakan gaun itu, pasti Tania akan merasa kecewa.


“Tidak, aku tidak boleh membuat Tania kecewa,” Wulan menggelengkan kepalanya.


“Meskipun aku merasa kurang pantas, gaun ini harus tetap ku pakai. Paling tidak malam ini saja, agar Tania merasa senang jika nanti melihatnya.”


Ya, akhirnya Wulan memantapkan hatinya untuk memakai gaun pemberian Tania. Gaun merah dengan atasan terbuka, yang dengan jelas memamerkan lehernya, serta sedikit bukit yang menonjol di sana.


Ini pesta nya warga kalangan atas. Jika aku lihat di film-film, penampilan seperti ini adalah hal biasa bagi mereka.


Batin Wulan.


Di luar.


Terlihat taksi pesanan Wulan sudah parkir di depan kampus tempat nya mengemban ilmu dahulu. Lorong rumah yang terlalu sempit, membuat taksi itu tidak bisa masuk melainkan memilih parkir di depan sana menunggu kedatangan Wulan.


Tadi sore, sebelum pulang, Tania bahkan menyelipkan sedikit uang pecahan seratus ribu di tangan Wulan. Awalnya Wulan sempat menolak, merasa tak enak dengan bayak nya pemberian dari Tania. bukan hanya membelikan gaun,


tas, sepatu, aksesoris. Tania juga membelikan Wulan satu set alat make up, membuat Wulan merasa sangat tidak enak jika harus kembali menerima uang.


Bukan Tania namanya jika tidak bisa membujuk. Apalagi sahabatnya itu, dengan memakai alasan tentang dirinya yang saat ini sedang mengandung itu, Tania berhasil membuat Wulan menerima uang yang diberikannya dengan ikhlas.


Kini, Wulan pun memakai sedikit uang itu untuk ongkos taksi, agar ia bisa tepat waktu sampai di alamat yang dikirimkan oleh Tania.


TBC.