
Tok Tok Tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Joe lalu berjalan membuka nya. Terlihat Bik Asni sedang berdiri disana. Ia sedikit membungkukkan badan nya saat melihat Joe berdiri di hadapan nya.
"Ada apa Bik? Apakah makan siang telah siap?" Tanya Joe langsung ke poin utamanya. Karena tadi Joe sudah berpesan kepada pelayan Yanti.
"Sudah Tuan," Sahut Bik Asni.
"Kalau begitu bawakan makanan Tania kesini. Dia sedang kurang sehat, maka dia akan makan didalam kamar." Perintah Joe.
"Baik Tuan, segera saya laksanakan." Bik Asni lalu pergi dari sana. Turun dari lantai atas dan kembali ke meja makan. Ia mengambil beberapa makanan yang sudah di masak, lalu menaruh nya diatas kereta dorong khusus makanan.
Lalu setelah itu ia pun bergegas kembali naik ke lantai atas menggunakan lift pribadi yang ada dirumah mewah tersebut. Setibanya di lantai atas, Bik Asni yang juga ditemani pelayan Yanti kemudian mengetuk pintu kamar.
Tak lama berselang Joe membuka pintunya. Dengan segera Bik Asnia dan juga pelayan Yanti mendorong kereta tersebut memasuki area kamar.
" Jika sudah selesai silahkan pergi,"
Suara Joe terdengar tegas. Sehingga membuat Bik Asni dan pelayan Yanti segera meninggalkan kamar itu. Joe kemudian mengambil makanan tersebut dan membawakan nya untuk Tania. Kini ia sudah berdiri tepat disamping Tania dengan sepiring makanan ditangan nya.
" Tania, bangunlah." Ucap Joe yang saat itu telah duduk disebuah kursi disamping ranjang. Dengan sedikit enggan Tania kemudian bangun dan duduk.
" Aku bisa makan sendiri." Ucapnya malu.
Tidak mungkin kan jika ia meminta Joe untuk menyuapi nya.
" Kamu duduklah dengan tenang. Aku ada untuk menyuapi mu sekarang,"
Suara Joe terdengar lembut sehingga membuat hatinya tersentuh. Kini ia memilih patuh mendengar perintah Joe.
Setelah selesai menyuapi makan Tania hingga habis. Joe lalu berdiri dan berjalan kearah kereta dorong makanan untuk meletakkan piring nya. Lalu setelah itu ia kembali menghampiri Tania dan duduk disebelah nya.
" Kenapa kamu masih disini?" Tanya Tania polos.
Sedangkan Joe mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan tersebut.
" Apa maksudmu? Apa kau mengusir ku dirumah ku sendiri?"
Joe tampak melipat kedua tangan nya. Menatap kesal kearah Tania sehingga membuat gadis itu menciut dan menarik selimutnya.
" Bu-bukan begitu maksudku." Tania berusaha membela diri sehingga membuat nya terlihat bodoh saat itu.
"Dasar gadis bodoh! baru di gertak seperti itu saja nyali mu sudah menciut.
" Hmm, ya sudah. Sekarang istirahatlah, aku akan segera pergi turun kebawah." Ucapnya.
Tania mengangguk. Lalu Joe mencium kening nya sebelum akhirnya bangkit dan meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal Joe. Tania termenung merenungi nasibnya. Merenungi segala kejadian hari ini yang membuat nya seolah tak percaya. Apakah ini mimpi? Tania lalu berusaha mencubit tangan nya sendiri, menepuk-nepuk pipinya. Hingga akhirnya ia tersadar jika ini bukanlah mimpi. Melainkan nyata.
***
Joe sudah menyelesaikan makan siang nya. Kini ia mengambil sepuntung rokok dan juga korek api gas di saku celananya. Menyalakan nya lalu menghisapnya. Terasa begitu nikmat saat ia menghembuskan asap nya.
Drrt, drrt,
Ponsel Joe berdering. Sehingga membuat dirinya segera mematikan rokok nya dan meraih ponsel yang ia letakkan diatas meja.
" Hallo Ma," Sapa Joe
" Joe, kapan kamu pulang?" Suara Mama terdengar dibalik telepon.
" Belum tau Ma, Joe sedang sibuk sekarang." Ujarnya merasa sedikit malas menanggapi.
" Tania mana?" Tanya Mama, karena sebenarnya Mama ingin sekali bertemu dan berbicara dengan Tania perihal hubungan nya dengan Joe.
" Untuk apa? dia lagi sakit," Joe masih malas menanggapi. Ia tau serempong apa Mamanya itu.
" Iya, kakinya terkilir tadi dikantor."
" Terus sekarang dia ada dimana?" Tanya
Mama dengan perasaan cemas.
" Ada disini dirumah Joe," Ujar Joe santai
" Baiklah kalau begitu Mama akan kerumah mu sekarang."
Seru Mama seraya memutuskan panggilan nya.
Ia kemudian segera meraih tas mahalnya dan menyandang untuk segera pergi kerumah Joe. Sedangkan Joe setelah menyimpan kembali ponselnya didalam saku nya. Ia lalu berjalan menuju kearah kamar Tania.
Tak lama berselang. Kini Joe telah tiba didepan pintu kamar. Tanpa ragu ia kemudian meraih gagang pintu dan membukanya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Perlahan Joe melangkah masuk kedalam. Disana diatas ranjang. Ia melihat Tania tertidur dengan pulas. Sehingga membuat nya tak tega untuk membangunkan nya. Ditarik nya selimut untuk menutupi tubuh mungil gadisnya tersebut.
Ia lalu menatap nya dengan hangat dan juga perlahan mencium kening nya.
" Tania, sekarang kau sudah tidak bisa lagi lari dariku. Aku berjanji mulai saat ini hanya aku pria satu-satunya yang akan ada disamping mu." Lirih nya.
Dari tatapan matanya serta sentuhan nya yang hangat seolah tergambar jelas. Jika saat ini Joe benar-benar sedang meng-gilai gadis nya itu.
Sepeninggal Joe dari rumah. Mama datang dengan membawa sekantong buah-buahan segar dan juga sekotak kue coklat kesukaan nya. Dengan langkah yang cukup elegan Mama berjalan memasuki rumah anak nya itu.
Kedatangan nya juga disambut oleh Bik Asni yang tanpa sengaja hadir disana karena sedang membersihkan ruangan depan.
" Selamat datang Nyonya," Ucapnya seraya membungkukkan badan.
" Hmm, " Mama tersenyum. " Bik, Joe mana?" Tanya Mama
" Tuan sedang keluar sebentar kata nya " Sahut Bik Asni sopan.
" Kalau Tania dimana Bik? " Tanya Mama lagi
" Oh, kalau Nona Tania ada didalam kamar tamu Nyonya." Ujar Bik asni.
" Hmm, kalau begitu kamu bawa semua makanan ini dan siapkan didapur. Setelah itu langsung saja antarkan kedalam kamar Tania.
" Baik Nyonya."
Bik Asni segera bergegas berjalan kearah dapur. Sedangkan Mama bergegas pergi kekamar Tania.
Didepan pintu kamar. Tanpa ragu akhirnya Mama membuka. Ia lalu bergegas masuk kedalam dan melihat Tania sedang duduk diatas sebuah kasur sembari menonton acara dari salah satu stasion televisi kesukaan nya.
Sore itu Tania sudah terjaga dari tidurnya. Sehingga kini ia memilih bersantai didalam kamar dengan duduk sembari menonton tv.
" Hai Tania!" Seru Mama dengan senyum sumringah.
" Mama " Lirih Tania
" Tania, bagaimana keadaan mu.." Mama kini sudah duduk disamping ranjang.
" Tania baik Ma.." Sahut Tania lembut.
" Benarkah? Bukan nya kakimu sedang terkilir sekarang?" Tanya Mama.
"Bagaiman Mama bisa tau. Apa ini semua Joe yang memberitahukan nya.
" Cuma keseleo dikit Ma, sekarang juga udah baikan." Tania berusaha menutupi.
BERSAMBUNG