
Sebulan setelah kebahagiaan Arin, kini kebahagiaan itu datang ke pada Veli.
Veli duduk manis di depan cermin, dia memandang wajah nya yang cantik dengan senyum miris.
Di pernikahan keduanya ini tidak ada keluarga satu pun yang hadir, wajah sendu itu membuat siapapun menjadi iba melihat nya.
Jo dan anaknya pun tak ada kabar setelah pertemuan mereka terakhir, entahlah bagaimana kabar mereka. Setelah surat perceraian Veli dulu keluar, Jo pun langsung pergi menghilang tanpa pamit hanya selembar surat yang dia tinggalkan. Pertemuan terakhir dengan Jo adalah pertemuan pertama dengan Andi. Saat dia sedih Andi datang untung menghapus air matanya.
Veli begitu ingin mendengar kabar tentang anaknya. Dia ingin menebus semua penyesalan menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Namun semua itu hanya khayalan saja karena Jo pergi membawa anaknya tanpa kabar.
"Hei pengantin tidak boleh menangis, dia harus tersenyum manis," tegur Dewi yang tak lain adalah teman kerja Veli.
"Terimakasih ya mbak karena kamu mau hadir di pernikahanku," lirih Veli.
"Ssstttt jangan sedih, aku ingin melihat adikku ini bahagia," jawaban Dewi membuat Veli tersenyum, dia baru merasakan arti persahabatan di saat dia tak memiliki apapun dan siapapun.
Keduanya pun berpelukan. Ya Dewi sudah menganggap Veli sebagai adiknya.
Terkadang kita baru sadar saat semua sudah hilang, ketulusan itu muncul tanpa ada embel-embel apapun, semua itu datang dari hati yang baik.
"Ayo hapus air mata mu karena sebentar lagi Andi akan datang," bujuk Dewi.
Veli di bantu Dewi merapikan dandanan nya, waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Tin... Tin... Tin...
"Itu sepertinya mobil yang di sewa Andi, ayo," ajak Dewi mengandeng tangan Veli.
"Bismillah," Veli menguatkan hatinya.
'Semoga pernikahanku ini yang terakhir, aku juga ingin bahagia,' batin Veli.
"Sayang maaf ya aku sedikit terlambat," lirih Andi.
Veli mengangguk tersenyum. Veli pun masuk di temani Dewi.
"Lho mas, kamu nyetir sendiri?" Tanya Veli penasaran pasalnya tak melihat seorang pun yang menemani Andi.
Andi mengangguk tersenyum.
Veli tahu kalau kedua orang tua Andi sudah meninggal dan dia hidup sendiri di kota ini. Namun iya tak berani bertanya lainnya.
'Apa keluarga mas Andi tidak ada satu pun yang menghadiri pernikahan ini, apa mereka tak setuju dengan ku yang seorang janda dan hanya pelayan restoran,' batin Veli di liputi pertanyaan.
Seakan mengerti perasaan temannya yang sedih, Dewi pun mengengam tangan Veli.
Dewi yang sedari diam menyimak pun membuka mulutnya yang penasaran.
"Mas Andi apa boleh aku tanya sesuatu," kata Dewi merasa tak enak.
"Boleh silahkan mbak Dewi," jawab Andi.
"Em... Emm.... Apa tidak ada saksi lain lagi misalnya teman, sahabat atau kerabat jauh," lirihnya dengan suara kecil karena takut.
"Oh... Ada sih mbak, nanti sahabatku 3 orang dan untuk keluarga jauh maaf karena keluarga ayahku jauh di luar pulau dan itupun sejak kecil kami tak pernah bertemu sedangkan kerabat ibu ku ada tetapi sudah meninggal bersama dengan kedua orang tuaku, tinggal keponakan ku itupun masih SMA jadi aku tak tega menganggu sekolahnya," jelas Andi sendu.
"Maaf," cicit Dewi merasa tak enak hati.
"Hmm..." Jawab Andi fokus menyetir.
"Tidak apa-apa mas, asal pernikahan kita ada saksi jadi sah dan maaf juga karena kerabat maupun saudara pun aku tak punya," lirih Veli.
Keduanya pun larut dalam kesedihan.
"Sudah kalian berdua jangan sedih, ada aku. Anggap saja aku sebagai kakak kalian," jawab Dewi yang lebih tua dari mereka pasalnya Dewi sudah berkeluarga dan berusia di atas keduanya.
"Terimakasih mbak," Veli memeluk wanita itu dengan sayang, dia sudah seperti saudara.
Akhirnya perjalanan menuju KUA setempat pun sampai.
Veli mengandeng tangan Andi masuk ke dalam sana.
Ternyata di sana sudah ada Hendra dan dokter Rian maupun Bimo yang sedang menunggu.
"Tidak apa-apa, ayo masuk," jawab Hendra.
Veli mengerutkan keningnya, pasalnya ketiga orang tersebut nampak tak asing buat nya.
'Bukankah mereka sahabat tuan Abraham, terus kenapa bisa mereka berteman dengan mas Andi dan kemarin juga tuan Abraham terlihat juga cukup akrab dengan mas Andi. Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan mas?' batin Veli berkecamuk.
Keduanya pun duduk di depan penghulu, semua persiapan sudah selesai.
Satu jam kemudian terdengar lah kata.
Sah, yang membuat semua orang di sana terharu. Keduanya menandatangani buku nikah dan sekarang keduanya pun resmi menjadi sepasang suami istri.
"Selamat ya, maaf karena aku dan Hendra harus pergi ada pekerjaan yang menunggu kita," pamit dokter Rian.
"Terimakasih kalian telah datang ke sini," jawab Andi memeluk keduanya. Andi begitu terharu tak terasa sudut matanya berair.
"Stttt jangan cengeng, malu di lihat istri kamu," ledek dokter Rian.
"Selamat ya mbak Veli, maaf kami tak bisa berlama-lama," setelah itu keduanya pun pergi.
"Selamat ya adikku," kata Dewi memeluk Veli.
"Terimakasih ya mbak," lirih Veli terisak di pelukan Dewi.
"He he he he he maaf ya mbak tidak ada suguhan atau makan-makan, bagaimana besok ajak suami mbak sekalian kita makan-makan," pinta Andi merasa tak enak hati.
"Ha ha ha ha santai saja, tetapi ok lah nanti kalau suamiku libur kerja ku tagih ya traktiran kalian," jawab Dewi.
"Ya sudah aku pamit ya," pamit Dewi.
"Lho mbak bukannya tunggu kita sebentar untuk menyelesaikan semuanya dulu setelah itu kita pulang bersama," jelas Veli.
Mbak Dewi pun mengelengkan kepalanya.
"Ah masa aku ganggu kalian yang pengantin baru ini, nanti kalian canggung tak bisa bermesraan," jawab mbak Dewi tersenyum jahil.
"Ihhh mbak," rengek Veli tersipu malu.
"Ya sudah terserah mbak Dewi saja, sebentar ku pesankan taksi dulu," pinta Andi.
"Tidak perlu," tolak mbak Dewi.
"Please mbak," pinta Veli memelas, akhirnya Mbak Dewi pun mengangguk setuju.
Setelah itu dengan cepat Andi mengambil ponselnya dan memesan taksi sekaligus pembayaran nya karena tak ingin Dewi kerepotan.
"Sekali lagi terima ya mbak," Veli kembali memeluk Dewi setelah itu Dewi pun pergi karena mobil yang di pesan Andi sudah datang.
Kebahagiaan itu ada selagi kita berusaha mencari nya dengan penuh kesabaran. Tidak ada semua yang instan begitupun kehidupan.
Setelah semua selesai, Andi mengandeng tangan lembut sang istri. Meskipun dengan mahal sepuluh gram kalung emas dan seperangkat alat sholat sebagai mahar, sang istri menerima nya dengan bahagia.
Andi pun melajukan mobilnya menuju kediaman nya yang sudah lama di tinggalkan nya sejak kematian kedua orang tua nya.
Mobil pun sampai di tujuan, rumah berlantai dua yang sederhana namun begitu besar dengan pekarangan yang luas.
"Ayo sayang kita turun," ajak Andi.
Veli begitu kaget pasalnya ini bukan rumah kecil yang dia bayangkan.
"Mas ini rumah siapa?" Tanya Veli.
"Ini rumah ku, ayo kita masuk. Aku tahu kamu pasti penasaran nanti di dalam aku ceritakan semua nya," jelas Andi.
Veli pun mengangguk karena dia juga begitu penasaran kepada suaminya ini, pasalnya dia tak pernah bercerita tentang kehidupan nya, semuanya begitu misterius.
B E R S A M B U N G....
LIKE YA
Kelanjutan cerita anak Arin yang nomor 3 ada di novel terbaru ku DI Jodohkan. Silahkan mampir ya๐