
"Apa...." Bunda saling berpandangan dengan Rio.
"Apa maksud anda tuan...." Bentak Rio dengan nada tinggi.
"Jangan katakan kalau anda yang menculik kakak saya?" Tanya Rio dengan tatapan menyelidik.
Abraham tak menanggapi, dia hanya terkekeh...
"Bre****k cepat katakan di mana kak Arin," teriak Rio tanpa aba-aba dia mencengkram kerah kemeja Abraham dengan penuh kebencian.
Sedangkan bunda masih terdiam dengan berbagai pikiran
Abraham melepaskan tangan Rio dengan tersenyum, senyum yang sulit diartikan.
"Hei jaga batasan anda dan jangan pernah membentak tuan saya," Hendra berdiri menunjuk ke arah Rio. Tatapan Hendra begitu tajam ke arah Rio.
Para bodyguard pun maju, hendak memasang badan untuk sang tuannya.
Bunda pun berdiri menenangkan anaknya, bunda ketakutan melihat beberapa pria berbadan kekar itu.
"Sudah nak, sabar .... Ayo kita bicarakan baik-baik," kata bunda menarik Rio, bunda mengelus tangan sang anak untuk menenangkan.
Abraham pun mengangkat tangannya meminta para bodyguard untuk tenang dan kembali ke posisi nya tadi.
Meskipun kesal tetapi Rio menurut untuk duduk kembali ke sofa.
"Saya ingin mengatakan kalau besok saya akan menikah dengan anak anda ARININDA, saya minta kalian semua untuk hadir dan anak buah saya akan datang menjemput kalian. Saya tidak menerima penolakan," tegas Abraham dengan nada setenang mungkin. Jangan lupa gaya arogan yang dia tunjukkan dengan santainya duduk menumpuk kakinya.
Sedangkan bunda maupun Rio syok tak bisa berkata apa-apa.
Abraham yang sedari tadi diam tetapi ekor matanya melirik ke dalam rumah.
'Nak papa ingin sekali bertemu dengan kalian, tetapi waktunya belum tepat. Papa takut kalian tak menerima kehadiran papa saat ini, papa harus mendapatkan mama dulu karena papa tak ingin mama kalian menikah dengan orang lain. Papa pulang dulu sayang,' batin Abraham.
Dengan berat hati Abraham pun berdiri melangkah dengan arogan menuju keluar rumah, belum sampai, baru saja Abraham di ambang pintu mendengar teriakannya gadis kecil.
Sedangkan di ruang makan.
"Tio coba lihat kenapa di ruang tamu terdengar suara keributan," kata nek Ijah.
"Masa sih nek, paling juga sales," jawab Tio acuh melanjutkan makannya.
'Kenapa pikiranku cemas,' batin nek Ijah.
"Ya sudah biar Aurel lihat," kata Aurel turun dari kursi menuju ruang tamu.
"Tu....." Belum selesai nek Ijah berbicara, gadis kecil itu sudah berlari menuju ruang tamu.
"Sudahlah nek biarkan saja," kata Tio menyakinkan.
Di ruang tamu.....
"Oma...." Gadis kecil itu berlari dengan ceria menghampiri bunda dan Rio.
Deg....
Abraham hendak melangkah keluar pintu, langkah nya terhenti seketika.
'Suara itu,' batin Abraham.
Abraham pun menoleh, tatapan matanya tertuju kepada gadis cantik berkuncir dua itu.
'Anakkku..... Putri kecilku, kamu sudah besar sekarang,' batin Abraham.
'Sayang... Lihatlah papa di sini nak,' batin Abraham dengan sorot mata penuh kerinduan.
Bunda berlari dengan cepat menghampiri sang cucu. Entah kenapa melihat tatapan mata Abraham kepada sang cucu membuat bunda ketakutan.
"Iya sayang, ayo masuk dulu ini urusan orang dewasa," kata bunda segera menggendong cucu nya itu ke dalam rumah.
Sedangkan Abraham masih terpaku di tempatnya dengan sorot mata tidak dapat di artikan. Abraham pun berbalik menuntun kakinya untuk keluar dari rumah itu, Abraham mengusap sudut matanya yang sedikit berair.
"Katakan di mana kak Arin?" Tanya Rio yang masih tak terima kakak nya belum kembali sampai saat ini.
"Arin baik-baik saja," setelah mengatakan itu Abraham melanjutkan langkahnya.
"Kembalikan kak Arin," teriak Rio penuh emosi.
Abraham bergeming tak merespon perkataan dari bocah remaja itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini," suara dingin penuh sorot kebencian.
"Kak William," kata Rio saat melihat lelaki yang dekat dengan sang kakak pun tiba.
"Tentu saja menemui ibu mertua ku, mau apalagi," jawab Abraham enteng dengan senyum mengejek.
"Apa yang menjadi milikku tidak akan pernah ku lepaskan," kata Abraham penuh penekanan.
Sedangkan Rio terpaku di tempatnya menyaksikan perdebatan kedua lelaki itu.
Pluk... Tepukan tangan Tio membuat Rio menoleh.
"Siapa dia?" Tanya Tio dengan penasaran.
"Entahlah, dia ke sini dan bilang kalau dia akan menikah dengan kak Arin," jawab Rio.
"Jadi dia yang menculik kak Arin," tanya Tio sedangkan Rio hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Bang****t akan ku beri dia pelajaran," sungut Tio hendak melangkah menuju Abraham tetapi tangan Tio di cekal Rio.
Rio mengelengkan kepala.
"Kenapa, dia itu yang sudah menculik kak Arin," tanya Tio yang tak terima.
"Lihatlah sepertinya kak William kenal dengan orang itu, kita lihat dulu apa yang akan kedua nya lakukan," jelas Rio. Mau tak mau Tio pun terdiam menyimak percakapan antara Abraham dan William.
"Arin adalah kekasihku," bentak William di hadapan Abraham, tangan William terkepal kuat bersiap melayangkan bogem mentah untuk mantan sahabat nya itu.
Tanpa aba-aba...
Buk.... William memberikan pukulan tepat di wajah Abraham.
Abraham tersenyum sinis, mengusap sudut bibirnya dengan tangan. Abraham memandang darah segar yang menempel di tangannya.
"Tuan...." Kata Hendra hendak menolong tuannya. Para bodyguard pun bersiap memegang kedua tangan William.
"Aku tekankan kepadamu, Arin adalah calon istriku dan sebentar lagi dia akan menjadi istriku serta ibu dari kedua anakku," bisik Abraham di telinga William.
"Bre****k lepaskan aku," teriak William.
"Kamu adalah sahabatku, kamu tahu seberapa kerasnya aku mencari Arin selama ini, setelah aku menemukannya.... Apakah aku akan melepaskan dia begitu saja, tidak...." Kata Abraham penuh penekanan.
"Jangan pernah bermimpi untuk memiliki Arin," kata Abraham menepuk pipi William pelan.
"Tinggal kan Arin, sudah cukup Aluna saja jangan rebut Arin dariku," teriak William.
"He he he he he he.... Aku tidak merebut Arin, karena Arin dari dulu adalah milikku, aku yang dulu memilikinya. Sedangkan Aruna dulu mencintaiku dan kalian hanya berteman jadi tidak ada kata merebut... Ingat itu tuan William yang terhormat," jawab Abraham mencengkeram wajah William.
Abraham melepas cengkraman nya setelah itu dia mengambil sapu tangan yang di sodorkan oleh Hendra, Abraham mengelap tangannya kasar dan melemparkan sapu tangan itu.
Abraham pun melangkah pergi meninggalkan kediaman Arin, Hendra pun menatap William dengan sinis setelah itu dia berjalan cepat mengikuti di belakang tuannya.
Sesampainya keduanya dalam mobil. Hendra melambaikan tangan nya meminta para bodyguard melepaskan William.
Para bodyguard pun melepaskan William itu mereka pergi memasuki mobil masing-masing.
Persahabatan yang baru saja terjadi lagi setelah sekian lama itu akhirnya retak, ya retak untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama yakni perempuan.
Cinta tak tahu dia berlabuh, dan itulah yang dialami ke tiga orang itu.
Cinta segi tiga untuk kedua kalinya berhasil memporak-porandakan persahabatan William dan Abraham.
William mengeram kesal setelah kepergian Abraham.
.
.
.
.
BERSAMBUNG....
BUDAYAKAN LIKE SETELAH MEMBACA.
Jangan lupa:
~Komen
~Rate bintang 5
~Favorit juga
~Vote
Terimakasih semua masih setia di cerita recehku🙏.