
Pagi yang cerah, suara burung berkicau membuat suasana begitu damai. Namun tidak untuk seseorang.
Hari ini dia tengah bersedih meratapi semuanya, kesedihan menyeruak di dalam hatinya.
Seorang pria muda yang bernama Wilson kini sedang tertunduk lesu, air matanya tak hentinya mengalir, sesekali dia menyeka sudut matanya itu di depan sebuah makam, tangannya tak lupa menabur bunga dan menuangkan air setelah itu dia berdoa dengan khusyuk, di sana tertera nama orang yang begitu dia sayangi meskipun mereka bukan sedarah. Mereka di pertemukan oleh takdir yang membuat keduanya menjadi dekat dan terjalinlah hubungan seperti adik kakak tanpa ada orang yang mengetahuinya.
"Hiks hiks hiks hiks hiks..... Kak maaf aku terlambat datang, kakak tenan saja akan ku balaskan semua dendam mu, akan ku buat mereka menerima balasan yang setimpal, akan buat hidup mereka sengsara dan hancur di tangan ku," kata Wilson terisak dengan penuh emosi membayangkan kakak angkatnya meninggal karena perbuatan Abraham.
"Hiks hiks hiks hiks, andai dulu aku tak meninggalkan kakak untuk pergi ke negara tetangga untuk melanjutkan kuliah ku. Mungkin aku bisa mencegah kepergian kakak," guman Wilson terisak menyesali semua yang terjadi, dia berandai-andai namun semua yang sudah terjadi tak dapat di sesali. Semua tinggal kenangan yang akan membekas di hatinya.
"Sayang ayo kita pulang," bujuk wanita cantik di samping Wilson.
"Frey aku gagal jadi adik, aku gagal menjaga nya. Hiks hiks hiks hiks hiks," Wilson meracau di depan sang istri.
"Ini bukan salah kamu, kita baru saja kembali dan kita juga baru tahu semua nya. Ini bukan salahmu," jawab Freya memeluk sang suami dengan erat seolah menyalurkan kekuatan untuk sang suami.
Keduanya larut dalam kesedihan.
"Ayo kita pulang, kasihan Wilona di rumah sendirian," bujuk sang istri mengingat anaknya yang masih berumur 5 bulan di rumah bersama sang nenek.
"Kak aku pamit pulang, kakak tenang saja aku akan membalaskan dendam kakak," pamit Wilson mengusap papan nama itu.
Sang istri menghela nafas panjang, dia sebenarnya sudah menasehati sang suami namun dia tak berhasil karena suaminya masih ngotot ingin membalaskan dendam kematian sang kakak angkat nya. Istrinya hanya bisa berdoa supaya suaminya itu mau berubah pikiran.
"Ayo," ajak sang istri karena Wilson masih engan pergi, Wilson terdiam di tempatnya meskipun dia sudah berdiri tetapi Wilson masih memandang ke arah makam itu, entahlah Wilson masih engan meninggalkan tempat itu.
Tiba-tiba berbagai kenangan manis muncul di benaknya.
..."Kak aku dapat juara," teriak Wilson yang kala itu baru lulus SMA....
..."Wah bagus, adik kakak memang pintar. Mau hadiah apa?" Tanya sang kakak penuh perhatian mengusap lembut kepala Wilson kala itu....
..."Aku ingin liburan sama kakak, kita memancing terus ikan nya nanti kita bakar berdua, pasti enak," jawab Wilson waktu itu....
Air mata itu kembali meluncur deras, semua gambaran kebersamaan nya dengan sang kakak seolah terpampang jelas di depan mata.
Andai dia tidak meninggalkan Kakaknya karena dia mendapatkan beasiswa itu, andai 2 tahun dia tidak kehilangan kontak dengan sang kakak.
Wilson hanya bisa meratapi kesedihannya dan rasa penyesalan yang menghasilkan dendam untuk memuaskan rasa marah di dalam hati nya.
Sedangkan di tempat lain...
Abraham sedang berkutat dengan tumpukan berkas di mejanya.
Dia mendesah berat karena pekerjaan itu terasa tak ada habisnya.
"Haaa.... Kapan semua ini selesai," Abraham menghela nafas panjang.
Trink....
Menandakan sebuah pesan masuk ke ponsel milik Abraham.
Abraham dengan cepat meraih ponsel itu, dia mengerutkan keningnya membaca pesan itu, sesekali wajahnya berubah datar, tak lama wajahnya berubah kaget, namun itu hanya sesaat sekarang wajah itu berubah sendu.
Setelah membaca pesan itu Abraham pun membalas pesan tadi.
"Kerja bagus nanti bonusnya akan ku kirim langsung ke rekening mu, jangan beritahu Tio biar nanti aku yang akan memberi tahu Tio semua ini. Jangan lupa pantau terus pria itu dan laporkan semua nya kepada ku dengan jelas," balas Abraham dengan cepat.
Setelah itu dia menghapus semua pesan itu, dia tak ingin Arin tanpa sengaja membuka dan membaca pesan itu, Abraham tak ingin Arin sedih atau terlibat dengan masalah ini.
Abraham tidak ingin Arin yang selalu berfikir polos itu di hasut apalagi di manfaatkan orang itu.
"Kenapa aku baru tahu kalau dia memiliki adik angkat, andai aku dulu bertemu dengan nya dan menjelaskan kejadian sebenarnya mungkin ini tidak akan terjadi," guman Abraham menatap lurus ke depan.
Abraham pun berdiri, dia harus memberi tahu semuanya kepada Tio secepatnya.
"Mungkin Tio sudah ada di ruangannya," guman Abraham melihat jam di tangannya.
Tap tap tap tap tap tap tap....
Braakk....
Pintu ruangan Tio sudah di buka namun Abraham harus menelan kekecewaan, ruangan itu masih kosong.
"Apa mungkin dia masih di perjalanan atau sedang ke markas," guman Abraham menerka-nerka.
Abraham pun memutar tubuhnya kembali ke ruangan miliknya.
Sedangkan Tio saat ini tengah bersembunyi di balik semak-semak.
"Kenapa aku ceroboh sekali, sampai bisa ketahuan," kata Tio pelan merutuki dirinya.
Tio menatap sekeliling, dia harus bisa keluar dari tempat ini secepat mungkin.
Tio bernafas lega setelah melihat orang pergi meninggalkan tempat itu.
"Fyuuuh akhirnya mereka pergi juga," guman Tio dengan pelan mengelus dada nya karena lega.
Tio bisa bernafas lega sekarang karena ketiga orang itu sudah menjauh dari tempat persembunyiannya saat ini.
Kali ini Tio sedang menyelidiki orang yang bernama Wilson karena dia sudah mendapatkan informasi dari anak buahnya, karena dilanda penasaran akhirnya dia memutuskan datang ke sana sendirian mengikuti Wilson. Namun saat dia mengikuti Wilson ke sebuah rumah tua, Tio mengintip melalui celah-celah jendela dengan memijak kursi kayu yang dia temukan tak jauh dari sana tetapi naas kursi itu kakinya patah tak mampu menahan bobot Tio saat itu.
Merasa ada yang mengawasi, Wilson memerintahkan 3 orang untuk mengecek, Tio pun ketahuan dan di kejar 3 orang itu. Di sinilah Tio saat ini bersembunyi di semak-semak.
Plak...
"Aduh nyamuknya ganas-ganas ," Tio mengaduh saat dia berhasil menepuk satu nyamuk yang tadi hinggap di tubuhnya.
"Aku harus cepat pergi dari sini, kalau tidak bisa habis darah ku karena donor darah sama nyamuk-nyamuk rakus ini,"
Tio menggerutu sedari tadi sambil melangkah jauh menuju tempat dimana dia memarkirkan motornya berada.
Tio tak sabar ingin memberitahu hasil temuannya kepada Abraham saat ini.
B E R S A M B U N G.....