Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 116


"Sayang, aku harus keluar ada urusan penting," kata Abraham secara berhati-hati meminta izin kepada sang istri untuk menemui Tio.


"Lho mas kenapa mendadak?" Tanya Arin heran karena sedari tadi sang suami terlihat bersantai mengendong baby Andra tiba-tiba meminta izin untuk pergi.


Setelah Abraham keluar dari rumah kerjanya, dia menuju kamar baby Andra. Abraham ingin melihat bagaimana tingkah lucu dari putranya itu, dia tak ingin melewatkan momen baby Andra.


Abraham binggung, dia harus mencari alasan yang tepat agar sang istri tak curiga sedikitpun kalau dia tengah mencari-cari alasan untuk menemui Tio yang sedang berada di rumah sakit tanpa Arin ketahui.


Memang Abraham tak ingin Arin mengetahui keadaan adiknya, karena Abraham tak ingin Arin sedih dan berimbas ke kesehatan Arin nantinya, terlebih lagi sang istri sekarang di sibukkan dengan bayi mereka yang baru lahir.


"He he he he he he tadi aku lupa ada janji dengan salah satu rekan bisnis ku," jawab Abraham sedikit terkekeh agar terlihat lebih meyakinkan di depan sang istri.


"Emmm.... Ini kan sudah malam," kata Arin sedikit keberatan.


"Sayang.... Jangan khawatir nanti ada Danu yang akan menemaniku," bujuk Abraham agar Arin mengijinkan dia pergi.


"Ya sudah, kamu hati-hati ya sayang," kata Arin.


"Iya kamu di rumah saja, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku," kata Abraham mengelus kepala sang istri.


Tak lupa Abraham mendaratkan ciuman di kening sang istri.


***


Di tempat berbeda...


Rio yang tengah mengecek laporan persediaan bahan baku di pabrik roti milik Arin tiba-tiba merasakan sakit dan sesak di dadanya.


"Kenapa dada ku terasa sesak, ahhhh.... " Rio sedikit berteriak memegang dadanya, dia langsung bersandar di kursi empuk tadi.


Rio pun menyambar minuman yang ada meja di depannya. Untuk mengurangi rasa sakit Tio memejamkan matanya dia merebahkan kepalanya di kursi, matanya sedikit semi sedikit terpejam.


"Tio,"


Mendapat mimpi yang cukup mengerikan itu, membuat Rio berteriak kencang memanggil saudara kembarnya dengan kencang seolah-olah takut saudaranya itu pergi meninggalkan dia.


Deg...


Tiba-tiba dia teringat dengan Tio, dengan cepat Rio menyambar ponselnya dan menghubungi saudaranya itu.


Tut


Tut


Tut


Berkali-kali panggilan itu tak mendapatkan respon dari si pemilik ponsel.


"Ahhh kemana nih anak di hubungi gak di angkat-angkat?" Grutu Rio frustasi bercampur kesal karena Tio tak menjawab panggilan dari nya padahal Rio sedang di landa khawatir.


"Apa aku hubungi kak Arin saja ya, pasti Tio sedang berada di sana," pikir Rio mengingat saat ini Tio lebih sering pulang ke mansion Abraham, karena bunda sedang berada di sana untuk membantu sang kakak mengurus baby Andra. Apalagi sekarang Rio tahu kalau Tio sudah bekerja di perusahan milik kakak iparnya itu.


Rio menggulir jarinya untuk mencari nomor telepon sang kak.


Tut..


Tut...


"Kak mana Tio," tanya Rio tanpa mengucapkan salam terlebih dulu.


"Ck kebiasaan, basa-basi dulu atau apa gitu bukan langsung tanya Tio," kesal Arin karena sang adik sering melupakan atau bertanya kabarnya saat ini.


"He he he he he he he maaf kak lupa, ya sudah ku ulangi lagi nih kak," kata Rio cengengesan sambil menggerutu di sebrang sana.


"Sudah tahu pikiran lagi kesal dan cemas malah di suruh basa-basi, dasar kak Arin," grutu Rio dengan suara kecil agar sang kakak tak mendengar ucapan nya tadi.


"Kabar kak Arin sama baby Andra bagaimana?" Tanya Rio menuruti permintaan Arin supaya tidak berlanjut kebawelan nya.


"Emmm.... Baik kabar kak Arin," jawab Arin tersenyum geli karena berhasil mengerjai adiknya itu .


"Oh Tio, sedari tadi aku belum melihatnya. Tetapi tadi sih mas Abraham bilang kalau Tio sedang pergi bersama Bimo dan Doni," jawab Arin dengan polosnya.


"Terus sekarang kak Abraham di mana?" tanya Rio ingin bertanya sesuatu yang penting kepada kakak iparnya itu.


"Dia sih baru saja pamit pergi karena ada kerjaan mendadak," jawab Arin heran karena tak biasanya Rio mencari suaminya itu karena yang akrab dengan suaminya itu biasanya Tio.


"Emmm... Kalau begitu aku telepon saja bang Bimo mungkin Tio saat ini bersama mereka," jawab Arin mencoba mencari solusi.


"Ok," jawab Rio singkat.


"Oh ya kak sampai lupa he he he he he. Aku titip salam buat bunda, Aurel dan Abrian bulan kalau paman mereka yang tampan kangen mereka," Kata Rio sebelum mengakhiri panggilan telepon itu.


Pikirannya semakin kacau, Rio pun mencoba menghubungi Abraham.


Tut..


Tut..


"Tio di mana kamu," batin Rio begitu cemas apalagi teringat sekelebatan bayangan yang singkat di benaknya tadi.


"Halo," suara tegas penuh wibawa membuyarkan lamunan Rio.


"Halo kak, sekarang kak Abraham ada di mana?" tanya Rio kepada Abraham.


"Aku sekarang berada di mobil sedang dalam perjalanan....." Dengan cepat Abraham menghentikan ucapannya hampir saja dirinya keceplosan kalau dia mau ke rumah sakit.


"Apa kak Abraham tahu di mana Tio saat ini berada? sedari tadi hatiku gelisah memikirkan dia, entahlah tiba-tiba saat ini pikiranku tak tenang jantung ku berdebar tak jelas," kata Rio mengungkapkan perasaan saat ini.


Rio berfikir kakak iparnya itu bisa membantu dirinya menemukan keberadaan saudara kembarnya saat ini.


'Apa aku harus berbicara jujur kalau Tio terkena tembakan dan saat ini berada di rumah sakit,' batin Abraham dilema.


"Ehemm..." Deheman Abraham membuat Tio menatap ke arah ponselnya.


"Apakah kak Abraham tahu sesuatu?" Tanya Rio ke Abraham.


"Aku ingin berbicara sesuatu, tetapi kamu harus tenang dan diam dengarkan penjelasan ku sampai habis," pinta Abraham dan Rio pun diam mendengarkan.


Abraham menghela nafas panjang, dia harus jujur bagaimana pun ikatan batin antara saudara itu kuat terlebih lagi mereka kembar.


"Saat ini aku sedang dalam perjalanan ke rumah sakit," kata Abraham.


Deg....


Rio semakin cemas mendengar ucapan dari kakak iparnya itu, pikiran Rio seketika berfikir negatif.


"Apa Tio baik-baik saja," buru-buru Rio bertanya takut yang di pikirkan itu benar.


"Aku sendiri tak tahu bagaimana kejadiannya tetapi sekarang Tio sedang di rumah sakit milik kita, dari kata Bimo tadi Tio tertembak saat menolongnya. Kamu jangan panik dan jangan beritahu semua ini kepada bunda maupun Arin takutnya kakak kamu syok. Kamu datang saja ke sana karena aku juga dalam perjalanan ke sana," jelas Abraham.


"Iya kak,"


Klik... Panggilan pun terputus.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks Tio bertahanlah, maafkan aku sebagai saudara aku jarang sekali menghabiskan waktu bersama. Hiks hiks hiks hiks," Rio begitu sedih dan terpukul karena tahu Tio saat ini.


Rio pun bergegas menuju rumah sakit untuk memastikan kondisi kembaran nya saat ini. Rio tak bisa bayangkan kalau dia harus kehilangan saudaranya itu.


****


Sedangkan di rumah sakit.


Doni, Bimo , Hendra , dan dokter Rian semua duduk sambil menunggu pintu ruang operasi di buka.


"Kenapa begitu lama," Doni berdecak kesal, dia tak sabar ingin mengetahui kondisi Tio saat ini