
Sang bunda masih tak menyangka putri nya yang begitu manja sudah mau menjadi istri orang. Bunda Amanda menatap wajah sang putri yang sedari tadi tersenyum bahagia.
'Putri ku sudah besar, tak terasa padahal dulu dia sering merengek minta ini itu. Ternyata waktu cepat berlalu,' guman bunda Amanda di dalam hati menatap sendu ke arah sang putri kesayangannya.
"Wah Amanda cantik banget sih, pasti Tio kesemsem lihatnya nanti," kata Renata.
"Oh ya sampai lupa, Tante di cariin sama om karena tamu sudah sampai," kata Renata.
"Ya sudah bunda turun ke bawah dulu, kamu tolong temani Amanda ya nak," pinta bunda kepada Renata.
"Siap Tante," jawab Renata.
Perias pun sudah selesai merias Amanda, dia pun pergi meninggalkan mereka berdua di sana.
"Bagaimana, kamu pasti gugup," kata Renata mengengam tangan Amanda yang begitu dingin.
"Iya, aduh kenapa rasanya aku ingin buang air kecil terus sedari tadi," lirih Amanda.
"Ha ha ha ha ha ha, itu sih wajar karena kamu gugup," jawab Renata.
"Apa Tio sudah sampai?" Tanya Amanda begitu penasaran.
"Cieee.... Kangen ya," goda Renata.
"Apaan sih,"
"Iya sudah, kamu jangan gugup. Tenangkan pikiranmu, semua pasti lancar kok," kata Renata.
"Bismillah..." Renata menyemangati Amanda.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Sedangkan di pihak Tio.
Rombongan keluarga Tio dan Abraham akhirnya sudah sampai di kediaman milik Amanda tempat di mana acara pertunangan Tio dan Amanda akan di gelar.
Tio turun dari mobil, tatapan matanya mengamati seluruh tempat. Tio menoleh ke kanan dan kiri memastikan semuanya aman.
Tio sudah menyiapkan semua anak buahnya untuk menjaga kelancaran acara, meski Tio tahu sang kakak sudah menaruh beberapa anak buahnya namun Tio tak bisa bernafas lega karena masih di landa rasa cemas dan takut.
"Eh foto Lo bagus," bisik Rio saudaranya itu menunjukkan foto Tio dan Amanda yang terpampang jelas.
Tio tersenyum menatap foto yang di depan itu sebagai tanda pertunangan dirinya dan Amanda sang kekasih.
Orang tua Amanda menyambut calon dari anaknya dengan senyum mengembang.
"Selamat datang nak," sambutan pak Rendi memeluk kekasih anaknya. Tak terasa air mata yang sedari tadi mencoba di tahan pun turun juga.
"Terima kasih Pa," jawab Tio.
Ya sebelum acara berlangsung hari ini, Tio sudah beberapa kali mengunjungi keluarga Amanda meskipun sekedar mengajak nya makan. Beberapa dirinya bertemu dengan papa Amanda, di sanalah awal mula Tio di suruh memanggil dengan sebutan papa sama seperti Amanda.
Lamunan Tio pun berkelana jauh, dia pun mengingat semuanya apalagi saat pertama kali bertemu dengan Amanda saat itu.
Tio tak henti-hentinya tersenyum manis saat dirinya mengingat semua kenangan nya dengan Amanda, wanita cupu yang dari dulu mengejarnya. Wanita yang dulu dia kira berpura-pura polos dan baik ternyata wanita itu benar-benar berhati baik dan tulus.
Tio tersenyum mengeleng di buatnya.
"Ayo," ajak Arin melotot apalagi Tio yang masih terdiam dengan lamunannya.
"Eh...." Tio tersentak saat Arin menarik tangan nya dengan cepat.
Tio menatap ke arah foto yang ada di depannya, foto dirinya sedang menatap Amanda begitupun sebaliknya.
"Ayo jangan buat hal yang aneh-aneh, cukup diam dan patuh," tegas Arin melotot ke arahnya sedari tadi.
Tio memanyunkan bibirnya saat mendengar perintah sang kakak yang seolah-olah menuduh dirinya akan berbuat kekacauan di pesta pertunangan sendiri.
Abraham dan pak Rendi saling berjabat tangan, Tio dan keluarganya di sambut begitu baik.
"Apa kamu gugup?" Tanya Rio kepada Tio.
"Tidak..." Jawab Tio cuek padahal dia sedang di landa rasa gugup.
"Ck... Jangan bohong aku tahu kalau kamu pasti gugup," jelas Rio berbisik.
Tio pun di gandeng Arin menuju kursi yang telah di tujukan untuk Tio beserta keluarganya.
Tak berselang lama muncullah sosok yang dia begitu rindukan, ya siapa lagi kalau bukan Amanda.
Amanda tersenyum manis saat dia di tuntun sama bunda dan Renata. Amanda pun duduk saling berhadapan dengan sang kekasih.
Deg
Deg
Deg
Jantung Amanda dan Tio berdetak kencang, keduanya sama-sama gugup.
"Cantik ya," bisik Rio di telinga sang kembaran nya dengan jahilnya.
"Hmm... Dia memang cantik," guman Tio dengan jujur membalas ucapan dari Rio tanpa sadar.
Tio yang sadar telah keceplosan berbicara pun langsung menoleh, menatap sang adik dengan datar.
Rio terkekeh melihat saudaranya yang biasanya dingin terlihat gugup.
"Hei awas tuh mata copot," bisik Rio di telinga Tio karena melihat saudaranya itu tak berkedip menatap wajah sahabatnya.
Arin menatap Rio kesal menganggu Tio terus dari tadi, Arin dengan gemas mencubit pinggang sang adik dengan keras.
"A..." Rio membekap mulutnya takut bersuara keras mengundang perhatian.
'Kak Arin ngapain sih cubit aku segala, mana sakit banget,' grutu Rio di dalam hati nya.
"Kak ampun..." Tatapan mata Rio memelas seolah meminta di lepaskan.
Melihat wajah sang adik yang memelas membuat Arin menghela nafas kesal, dia pun melepaskan cubitan itu.
"Iya, awas kamu jangan menggoda Tio lagi, kasihan dia," peringatan Arin menatap tajam Rio karena takut sang adik membuat ulah.
Melihat tatapan galak dari sang kakak, Rio pun langsung bungkam dan tak berani bersuara.
Tio menatap sang adik dengan mengejek.
'Ha ha ha ha, rasakan kamu. Mang kak Arin the best lah,' guman Tio di dalam hati namun tatapan meledek dia arahkan ke Rio saat ini.
"Ehemm..." Pak Rendi berdehem mencairkan suasana yang begitu tegang.
"Assalamualaikum Wr Wb. Dengan mengucap syukur kami mengucapkan selamat datang untuk keluarga tuan Abraham di kediaman kami ini. Silahkan sampaikan maksud dan tujuan anda semua datang ke kediaman mbak Amanda," kata perwakilan dari keluarga Amanda.
Setelah itu giliran Abraham yang berdiri mewakili keluarganya. Sebenarnya Abraham ingin mewakilkan kepada Bimo namun takut dianggap tidak sopan, jadi Abraham lah yang berbicara sendiri menyampaikan maksud kedatangan ke sana.
"Waalaikumsalam wr wb. Pada hari yang berbahagia buat kita semua, saya Abraham mewakili adik saya Tio menyampaikan rasa terimakasih atas sambutan yang ramah dari kalian semua, tujuan kami datang ke mari ingin melamar Amanda untuk menjadi istri dari adik saya Tio," jelas Abraham dengan tegas.
"Apakah saudara Amanda mau menerima lamaran dari adik saya Tio Prayudha?" Tanya Abraham dengan tegas penuh wibawa.
'Wah suami ku keren berwibawa,' batin Arin menatap kagum sang suami.
Acara ramah tama, penyambutan dan penyampaian tujuan pun sudah selesai.
Kini giliran serah terima seserahan dari pihak lelaki untuk Amanda tak lupa acara tukar cincin.
Alhamdulillah acara berlangsung dengan lancar tanpa ada gangguan sedikit pun.
B E R S A M B U N G....