
Sore hari....
Mendung menyelimuti langit malam ini, rintik-rintik hujan pun turun membasahi bumi. Udara semakin dingin membuat siapapun ingin segera bergelut dengan selimut hangatnya.
Begitu juga dengan Abraham.
Abraham baru saja pulang, dia dengan semangat membawa paper bag di tangan kanan nya. Tangan nya menyeka air hujan yang sedikit membasahi rambut nya.
Suasana rumah sedikit sepi, kedua anak kembarnya menginap di rumah Oma mereka. Senyum Abraham semakin mengembang membayangkan pelukan hangat sang istri.
"Sayang aku pulang ," teriak Abraham di depan ruang tamu.
"Jangan teriak-teriak, aku sedang membuatkan kopi dan cemilan untuk mu," jawab Arin karena sudah hafal jam berapa Abraham pulang.
Tap tap tap tap tap... Abraham berjalan dengan cepat menuju Arin yang tengah mengaduk kopi di dapur.
"Sayang aku punya sesuatu buat kamu," kata Abraham menunjukkan paper bag yang dia bawa.
Arin tersenyum tipis melihat itu.
"Taruh saja di atas meja makan, aku masih buat cemilan kesukaan mu," kata Arin.
Abraham pun menurut perintah sang istri. Dia menaruh paper bag itu di atas meja makan.
Abraham pun menghampiri Arin yang masih fokus ke depan.
Greeppp ......
Abraham memeluk Arin dari belakang, untung saja para art sudah ada di paviliun belakang.
"Ishhhh lepasin aku masih masak, cepat sana mandi dan ganti baju kamu, jangan peluk-pelukan nanti baju ku ikut basah," kesal Arin.
Tetapi Abraham tak menghiraukan ucapan Arin, dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Massss cepat lepasin nanti ketahuan pak nan," kesal Arin memukul tangan Abraham yang memeluknya dengan erat.
"Pak nan sedang beristirahat di kamarnya, biarkan seperti ini dulu," jawab Abraham meminta ijin untuk memeluk sang istri lebih lama.
Abraham pun semakin memeluk Arin, sedangkan kepala nya di sendarkan di bahu Arin.
"Cepat lepaskan, mandi sana bau," cebik Arin kesal karena Abraham betah memeluk dirinya, membuat Arin kesusahan untuk membuat cemilan sebagai teman minum kopi dan teh.
Abraham pun melepaskan pelukannya, dia mendengus tubuhnya.
"Tidak bau kok, masih wangi," jawab Abraham mengarahkan badannya untuk Arin cium.
"Ish dasar jorok," kesal Arin membawa spatula ingin memukul Abraham.
"Ha ha ha ha ha... Gak kena," ledek Abraham berlari kecil menuju kamarnya meninggalkan Arin yang masih sibuk di dapur.
"Dasar, suka buat kesal aku saja,"
Abraham pun memasuki kamarnya untuk mandi.
Sedangkan Arin telah selesai, dia tidak menyiapkan meja makan. Arin menunggu perintah sang suami.
Arin melihat isi paper bag itu. Arin di buat menganga saat tahu isi di dalam nya. Arin pun di buat tersipu malu.
Dengan cepat Arin menyiapkan cemilan dan kopi untuk di bawa ke dalam kamarnya. Tak lupa Arin juga membawa paper bag itu.
Sampai Arin di depan pintu kamar nya. Arin menaruh paper bag dan nampan itu di meja kecil di samping pintu. Dia tak mungkin bisa mengetuk pintu saat kedua tangannya sedang membawa bawaan.
Tok tok tok tok...
"Mungkin dia sedang mandi," guman Arin.
Arin pun membuka pintu kamar nya.
Ceklek.... Arin clingak-clinguk mencari keberadaan sang suami. Arin mengambil nampan dan paper bag itu menaruhnya di dalam kamar.
Arin duduk sambil menikmati cemilan buatannya sambil menunggu Abraham.
Ceklek....
"Sayang," lirih Abraham yang baru keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kecil di lilitkan di pinggang nya.
"Mas maksud nya apa ini," tanya Arin menunjukkan paper bag yang dia bawa.
"Oh itu, aku ingin sekarang kamu memakainya," jawab Abraham enteng.
"Tidak," tolak Arin.
"Menolak suami dosa sayang," kata keramat yang sering Abraham ucapkan untuk membujuk Arin.
Abraham mendekat ke arah Arin.
Entah kenapa setiap Abraham menatap dirinya membuat Arin gugup dan salah tingkah.
Arin berusaha membuang muka ke samping, mengabaikan tatapan Abraham kepadanya. Sebenarnya Arin berpura-pura mengabaikan Abraham tetapi di dalam hatinya berdebar kencang.
"Ck..." Abraham berdecak kesal saat melihat Arin membuang mukanya.
Arin menarik nafas panjang berusaha mengendalikan detak jantung nya tak karuan.
"Kenapa banyak sekali?" Tanya Arin karena melihat baju itu dengan berbagai warna berbeda.
"Oh itu kita pakai tiap hari, jadi hari ini warna merah terus besok yang warna hitam ya," kata Abraham mengedipkan mata genit.
Arin tak membayangkan kalau suaminya itu begitu mesum.
"Sayang coba lah satu warna merah, aku ingin melihatnya," pinta Abraham.
Arin pun tersipu malu tak bisa membayangkan saat dirinya memakai baju itu.
Arin pun mengambil baju berwarna merah dan membawanya ke dalam ruang ganti.
Arin mencoba memakai nya, dia memandang ke arah cermin. Arin di buat tersipu malu sendiri melihat bayangannya di cermin.
"Astaga pak tua itu,"
Arin engan untuk keluar. "Aduh kenapa aku jadi malu begini," lirih Arin.
"Sayang ayo keluar, aku ingin melihatmu," suara bariton Abraham menyadarkan Arin yang tengah bimbang untuk keluar.
Arin pun keluar karena tak ingin membuat Abraham kecewa.
Ceklek....
Abraham terbelalak saat melihat tampilan Arin yang begitu menggoda. Tubuh putihnya begitu pas dengan warna gaun sehingga membuat Arin semakin cantik dan bentuk tubuh Arin begitu menggoda.
Arin tersipu malu saat Abraham menatap dirinya dengan kekaguman.
Abraham mendekat ke arah Arin. Abraham membelai wajah cantik nan mulus itu dengan penuh cinta.
Deg deg deg deg deg deg...
Arin semakin di buat deg-degan.
Abraham melihat sesuatu di tubuhnya sudah siap bertarung. Dengan tak sabar Abraham pun mendaratkan bibir nya ke arah bibir merah muda nang menggoda milik Arin itu dengan lembut. Tangannya memeluk tubuh Arin dengan erat dan menempel kan kepadanya.
Arin pun membalas ciuman Abraham dengan senang hati.
Ahhhh.... Ciuman itu terlepas.
Dengan di selimuti kabut asmara, Abraham membisikkan sesuatu kepada Arin.
"Sayang aku menginginkan mu," bisik Abraham membuat Arin merinding di buatnya.
'Meskipun bukan yang pertama kali nya tetap saja aku selalu gugup di buatnya,' batin Arin.
Arin mengangguk saat Abraham meminta ijin kepada nya.
Tangan Abraham sudah bergerilya memberikan sentuhan demi sentuhan ke tubuh Arin.
Abraham pun melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya dengan cepat, dia juga mengiring Arin menuju ranjang empuk milik keduanya.
Srek.... Srek... Abraham merobek baju itu dengan semangat.
Arin kaget melihat Abraham merobek baju nya.
"Kenapa di robek mas?" Tanya Arin penasaran.
"Ini memang harus di robek sayang," kata Abraham dengan mata sayu nya.
"Ck sudahlah ayo kita lanjutkan lagi," kata Abraham.
"Te....." Ucapan Arin terpotong karena Abraham sudah mendaratkan ciuman di bibir Arin.
Abraham maupun Arin terhanyut dalam lautan cinta nan membara.
Keduanya mengarungi lautan cinta penuh gelora.
B E R S A M B U N G....
Maaf kemarin lagi berkunjung ke rumah kerabat di luar kota jadi tolong di maklumi☺️.