
SETELAH MEMBACA TINGGALKAN JEJAK ๐ LIKE BUAT SEMANGAT MENULIS.
Sore menjelang.....
Setelah selesai acara pernikahan yang di bilang sederhana menurut Abraham tetapi mewah versi untuk Arin, bagaimana tidak dekorasi hiasan dan menunya di sajikan terbilang mewah, cuma yang membuatnya berbeda karena ini di lakukan atau di selenggarakan tidak di gedung maupun hotel berbintang, melainkan di mansion mewah milik Abraham tepat di taman belakang terlihat seperti garden party, yang di hadiri beberapa teman dekat Abraham maupun karyawan penting saja.
Arin mendaratkan tubuhnya di ranjang empuk milik Abraham, meskipun dia cuma duduk manis tanpa melakukan apa tetapi Arin harus memperlihatkan senyum palsu yang cukup membuat wajahnya pegal, senyum berpura-pura di hadapan semua tamu undangan.
Arin mencoba melepaskan riasan rambutnya, serta menghapus sisa make up yang masih menempel di wajah nya.
Arin harus segera berganti baju sebelum Abraham datang membuka pintu kamar nya.
Akhirnya setelah beberapa menit Arin selesai setelah itu Arin hendak membuka baju kebaya itu.
"Ck merepotkan, kenapa bunda memilih kebaya dengan model resleting di belakang," grutu Arin berdecak kesal karena kebaya susah di buka.
"Ih.... Susah sekali," grutu Arin mencoba berkali-kali menggapai resleting itu dengan tangannya tetapi hasilnya sama saja nihil.
"Masa aku pakai kebaya ini sampai tidur, mau minta bantuan siapa coba? Apa aku minta tolong bunda saja ya?" Kata Arin berfikir keras bagaimana cara untuk melepaskan kebaya sambil terus menggerutu kesal.
Ceklek.....
Arin yang sedari tadi berdiri kesusahan menggapai resleting kebayanya, seketika menoleh ke arah pintu.
Abraham menutup pintu dengan pelan, dia melepaskan jas dan membuka kemeja yang melekat di tubuhnya dengan asal. Abraham belum menyadari kalau Arin tengah memperhatikan dirinya yang bertelanjang dada.
Glekk....
'Mata ku... Ah pemandangan apa ini,' batin Arin.
Arin seakan kesulitan bernafas melihat tubuh Abraham yang begitu menggoda. Bayangkan saja tubuh berotot dengan perut rata begitu indah di pandang.
Deg deg deg deg deg deg deg.... Jantung Arin berdetak kencang karena di landa kegugupan.
Arin yang gugup tanpa sadar menyenggol lipstik yang ada di meja rias.
Abraham sudah mempersiapkan semuanya di kamar nya, termasuk baju, tas maupun sepatu dan makeup.
Tak..... Lipstik itu meluncur bebas menggelinding menuju Abraham.
Tuk.... Lipstik membentur kaki Abraham. Sedangkan Arin melotot menatap lipstik itu dengan takut.
'Kenapa tuh lipstik pake jatuh segala, jadi ketahuan kan aku sedang di sini memperhatikan gerak-gerik nya sedari tadi,' grutu Arin dalam hati.
Abraham menyergit melihat ke arah kakinya. Dia berjongkok mengambil lipstik itu dengan senyum menyeringai.
'Kucing nakal ku rupanya sedari tadi ada di sini dan sedang memperhatikan ku. He he he he he he he he...... Lihatlah akan ku beri kamu pelajaran,' batin Abraham dengan senyum mesum nya sambil merencanakan untuk menggoda Arin.
Abraham berpura-pura biasa saja lalu menaruh lipstik itu di ranjang, Abraham meraih remote untuk mengunci pintunya setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Arin berfikir Abraham tak melihatnya maupun menyadari keberadaannya, dia berfikir Abraham hanya menyalakan AC.
Arin merasa lega , dirinya bersorak di dalam hati.
'Yes untung saja dia tak melihat ku di sini, aku selamat hari ini,' batin Arin bernafas lega.
Abraham mandi dengan senyum mengembang, dia membayangkan wajah lucu Arin nantinya.
"Ck dasar kucing nakal, apa semudah itu bisa lepas dari ku. Hem... Malam ini akan ku buat kau menjerit semalaman. Sudah cukup aku berpuasa selama ini karena mu," guman Abraham sambil menggosok tubuhnya dengan sabun.
Abraham memandang ke arah junior nya yang sudah berdiri tegak.
" Hari ini kamu akan berpesta dengan puas. Ha ha ha ha ha ha ha......" Kata Abraham kepada pusaka kebanggaan nya.
Sedangkan Arin sedari tadi terus berusaha melepaskan kebaya ini.
"Sebaiknya aku minta bantuan bunda saja," guman Arin berjalan menuju pintu.
Ceklek.... Ceklek... Ceklek...
"Aduh kenapa nih pintu tidak bisa di buka, sulit sekali padahal aku tadi lihat dia tidak menguncinya," grutu Arin mencoba membuka pintu tetapi masih tak mau terbuka.
Ceklek..... Pintu kamar mandi terbuka.
Abraham membuka pintu kamar mandi, dia tersenyum puas melihat Arin sedari tadi mengomel tak jelas.
Arin menoleh....
Glek... Glek ... Glek...
Arin tertegun melihat pemandangan indah di depannya, Arin akui tubuh Abraham begitu indah meskipun di umur kepala 3 tersebut tak membuat pesona Abraham luntur.
Bayangkan saja tubuh Abraham hanya di balut handuk kecil di pinggang, rambut basah dengan sisa-sisa air menetes menambah kesan menggoda.
'Ingin rasanya aku meraba perut indah itu," batin Arin tak berkedip memandang Abraham.
Dengan cepat Arin mengelengkan kepalanya berperang dengan hatinya.
'Sadar Arin ingat.... Kamu harus kuat, jangan lemah dan terpancing oleh tubuh pria mesum itu,' batin Arin menolak keras rasa kagum itu.
Tap tap tap tap tap tap.... Abraham mendekat ke arah Arin dengan senyum yang sulit untuk di artikan.
Glekkk... Glekkk... Glekkk...
'Haduh mau apa dia kemari. Tamat sudah riwayat ku hari ini,' batin Arin.
Arin pun memejamkan matanya karena rasa gugup dan takut menjadi satu.
Saat membuka matanya betapa dia kaget karena Abraham sudah berada di dekatnya.
'Kenapa dia sudah berada di dekatku, mau apa dia,' batin Arin bertanya-tanya dalam hati.
"M-mau apa kamu?" tanya Arin dengan gugup.
"Mau ku bantu melepaskan kebaya ini," bisik Abraham tepat di telinga Arin.
"T-ti-dak perlu a-ku bisa sendiri," jawab Arin terbata.
"Serius tidak butuh bantuan ku," goda Abraham.
"Se-serius...." Jawab Arin mencoba tersenyum untuk meyakinkan Abraham.
"He he he he he he he.... Kamu tidak akan bisa membohongi ku," kata Abraham terkekeh lucu.
Greppp.... Abraham memeluk pinggang Arin dengan kedua tangannya, kepalanya bersandar di pundak Arin.
Tubuh Arin seketika membeku tak bergerak, Arin terdiam kaku.
"Aku tahu kamu dari tadi kesulitan melepaskan baju ini," kata Abraham.
Nafas Abraham berembus sampai ke leher Arin membuat Arin merinding di buatnya.
"Ma-mau apa kamu?" tanya Arin dengan ketakutan.
"Stttt.... Diam jangan bergerak, aku ingin memelukmu seperti ini," bisik Abraham.
"Lepaskan aku...." lirih Arin dengan memelas meminta Abraham melepaskan pelukannya.
"Diamlah sayang, jangan bergerak nanti dia bangun dan kalau itu terjadi kamu harus menidurkan nya sebagai hukuman," kata Abraham dengan tatapan sayu.
Srekkkkkk..... tiba-tiba resleting kebaya itu di tarik oleh Abraham membuat Arin kaget seketika.
B E R S A M B U N G.....
Maaf ya update satu bab dari kemarin.... Gak semangat nulis ๐ฅฒ.
MINTA LIKE SESUDAH MEMBACA. TERIMAKASIH ๐