
Kehidupan Arin berubah drastis seakan kebahagiaan selalu mengikuti langkahnya, dulu kehidupan arin berwarna abu-abu sekarang warna nya seperti pelangi yang tak pernah pudar tiap detik.
Apalagi semenjak dia dinyatakan hamil, Abraham begitu posesif kepadanya. Mulai dari makanan maupun kegiatannya selalu di pantau oleh Abraham.
Arin terkadang jengah dengan sikap posesif Abraham, tetapi Arin sadar mungkin ini untuk menebus masa lalu saat Abraham tak bisa menemaninya sewaktu kehamilan si kembar.
Waktu terus berlalu tak terasa sudah usia kandungan Arin sudah memasuki 7 bulan.
Meskipun kandungan Arin sudah besar, Abraham masih sesekali menuruti keinginan sang istri.
Abraham selalu beralasan karena dia mendampingi Arin kehamilan saat ini, bahkan Abraham tak ingin berjauhan dari Arin sehingga dia sering mengerjakan semua pekerjaan nya di rumah, dengan alasan ingin selalu tahu apa saja yang Arin lakukan dan ingin melihat tumbuh kembang janin yang ada di dalam perut sang istri.
Bahkan Abraham sudah menyiapkan ruangan khusus untuk memeriksa Arin dengan dokter yang selalu ada seminggu sekali. Ruangan itu pun di lengkapi alat USG agar Arin tak perlu repot-repot ke rumah sakit.
"Sayang bagaimana kalau kita buat acara tuju bulanan," tanya Abraham saat keduanya berada di ruang tengah. Ya keduanya sedang duduk di sofa sedangkan Abraham merebahkan tubuhnya di sofa sedangkan kepalanya di paha Arin.
"Aku sih terserah mas saja ," jawab Arin.
"Kira-kira kapan acaranya akan di adakan?" Tanya Abraham memastikan.
"Bagaimana kalau kita tanya bunda dulu, untuk acaranya bagaimana kalau kita minta EO saja yang mengurus nanti," jelas Arin.
"Itu juga ide bagus jadi nanti kamu tidak perlu capek-capek ngurusin semuanya, biar Bimo, pak nan, dan Hendra yang mengurusnya. Tugas kamu jaga jagoan ku yang ada di dalam sini," jelas Abraham mengelus perut Arin dengan lembut.
Buk....
Abraham berbinar kala si anak merespon dengan tendangan.
"Sayang dia menendang," kata Abraham berbinar. Arin tersenyum melihat Abraham begitu bahagia.
"Halo anak Papa, lagi main bola ya," kata Abraham dengan tersenyum.
"Sayang nanti beli es kelapa muda ya, tiba-tiba aku ingin minum itu," pinta Arin.
"Siap nyonya ku, biar ku suruh Hendra membelikan nya," jawab Abraham dengan hormat membuat Arin mengelengkan kepalanya.
Abraham mengetik pesan kepada Hendra, setelah selesai dia melanjutkan kegiatan barunya.
Abraham begitu memanjakan sang istri, sedangkan si kembar selalu protes karena sang Papa lebih sering menempel bersama Arin.
"Pa main yuk," ajak Aurel menunjukkan dua boneka yang dia bawa.
"Emmm.... Aurel main sama mbaknya saja ya sayang, papa masih sibuk," elak Abraham.
Sedangkan Arin terdiam menyimak obrolan keduanya tangannya masih sibuk membelai rambut sang suami, entah kebiasaan yang sering lakukan saat Abraham senang tidur di pangkuannya dengan mengelus perutnya yang semakin membuncit.
"Sibuk apa Pa? Dari tadi papa cuma mengelus perut mama saja tidak sedang memegang buku atau apapun," protes Aurel.
Sedangkan Abrian sudah berada di taman belakang, bermain bersama Doni dan Bimo bermain bola.
"Ya ini Papa lagi sibuk ngelus perut mama," jawab Abraham dengan tenang.
"Jangan di elus terus pa, adik juga masih lama keluarnya," cebik Aurel.
"He he he he he he," Arin terkekeh mendengar jawaban Aurel.
"Pa belanja baju adik yuk sekaligus aku ingin beli baju seperti punya Naura pa," rengek Aurel menarik tangan Abraham, dia langsung bergelayut manja di lengan sang papa.
"Aurel mau baju apa sih nak, bukannya baju Aurel masih banyak yang bagus dan belum pernah di pakai juga masih banyak?" Tanya Arin.
"Ish ma, Aurel pingin baju seperti Cinderella dengan sepatu kaca juga," jawabnya dengan berbinar membayangkan baju yang Naura tunjukkan kemarin.
"Ayolah pa," Aurel menarik-narik tangan Abraham.
"Iya sayang bentar, papa masih berdiri jangan di seret nanti jatuh," bujuk Arin karena tak tega sang suami yang kesusahan bangun.
"Tetapi benar ya pa beliin Aurel baju Cinderella," pinta Aurel dengan wajah memelas.
Arin mengelengkan kepalanya, melihat Aurel yang semakin manja.
"Ya sudah, ayo kita berangkat. Panggil mbak Tami buat bantu Aurel bersiap-siap," kata Arin.
Sang anak pun mengangguk setelah itu dengan cepat berlari menuju kamar.
***
Sedangkan di tempat berbeda.
Veli menatap jauh pemandangan di luar jendela. Bus melaju dengan pelan ke halte selanjutnya, Veli mengunakan waktu libur kerja nya untuk sekedar jalan maupun makan bersama Andi.
Tak terasa hubungan dia dengan Andi berjalan lancar, Veli juga tak pernah menutupi semua nya dari Andi. Veli masih menganggap Andi hanya sebatas sahabat, dia tak ingin berharap lebih terlebih lagi masa lalu Veli membuatnya malu harus bersanding dengan Andi.
Veli juga sudah menceritakan semua kepada Andi, ya semua yang dia alami tanpa ada yang di lewatkan, Veli tak ingin melewati pertemanan ini dengan kebohongan, biarlah keputusan apapun nanti yang Andi ambil kalaupun Andi menjauhinya dia ikhlas.
Awalnya Veli ragu, dia takut Andi menjauhinya karena jujur hanya Andi sahabatnya yang dekat dengannya. Namun Veli berusaha tegar dia harus ikhlas apapun yang terjadi. Karena Veli belajar banyak hal, ketulusan adalah hal utama awal pertemanan.
Veli tak pernah ragu meskipun Andi hanya pengamen pun, Veli tak berfikir buruk tentang pekerjaan Andi asalkan itu halal, Veli tak memandang harta untuk saat ini berbeda dengan Veli yang dulu. Veli sadar ketika dia miskin banyak teman yang menjauhinya, jadi sekarang Veli tak malu meskipun dia tak punya apa-apa tetapi dia bersyukur Andi dengan tulus berada di sisinya.
Benar kata orang teman yang tulus kepadamu akan selalu ada saat kamu susah maupun senang, saat kaya maupun miskin.
Veli tersenyum mengingat masa lalu nya. Apa kabar Jo dan anaknya, sejak saat itu dia tak pernah bertemu dengan Jo lagi seakan Jo menghindari dirinya.
Bus pun berhenti, Veli pun turun dan melangkah kakinya menuju mal terdekat.
Cuaca panas tak menghalangi tubuh Veli untuk berjalan dengan cepat. Berkali-kali Veli menyeka keringat yang membasahi wajahnya.
"Dulu aku tak pernah bersyukur memiliki semuanya," guman Veli.
Akhirnya sampailah dia di mal yang di tuju, Veli pun melangkah masuk menuju tempat yang sudah Andi dan dia sepakati.
Sampailah di tempat yang dia tuju. Veli pun mengedarkan pandangannya tak menemukan keberadaan Andi.
"Mana tuh orang, katanya minta janjian di sini," guman Veli.
"Veli," teriak Andi yang baru datang.
Veli menoleh ke belakang arah Andi yang sedang melambaikan tangan nya.
Hos hos hos hos...
Andi mengatur nafasnya, dia terlambat karena ban motornya tiba-tiba bocor.
"Maaf ya telat, tadi ban motor ku bocor," jelasnya membuat Veli mengangguk.
"Ayo kita kesana," ajak Andi.
Keduanya pun memilih tempat duduk di dekat tembok kaca, sehingga dia bisa melihat keadaan di luar.
B E R S A M B U N G......