
Arin selesai berendam, tubuhnya terasa segar. Arin pun mengambil jubah mandi nya, setelah itu keluar dari kamar mandi.
Ceklek...
Arin pun duduk di depan meja riasnya. Arin mengoles cream di wajah ayu nya.
"Aku harus cepat ," kata Arin.
Pagi ini dia ingin sendiri menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya.
Sedangkan di paviliun, Doni menyuruh mbak Tina bersiap.
"Ayo cepat kita harus pergi dari sini sebelum tuan Abraham dan nyonya Arin bangun," ajak Doni saat melihat Mbak Tina masih terdiam melamun.
"Hei ...." Teriak Doni ke arah mbak Tina karena sedari tadi tidak mendapatkan sahutan.
Mbak Tina pun menerjab.
"Ha ... Apa?" Tanya mbak Tina menoleh karena kaget.
"Ck... Cepat kamu siap-siap, sebentar lagi kita akan pergi," jelas Doni.
Sedangkan mbak Tina cuma diam mengangguk.
Doni pun keluar kamar, dia mengeluarkan ponselnya mengetikkan pesan kepada Bimo kalau sebentar lagi dia akan pergi. Doni meminta alamat rumah yang akan mereka tempati nanti.
"Dasar perempuan, lama dari tadi melamun terus,"sewot Doni sedari tadi menunggu istrinya itu namun tak kunjung keluar dari kamarnya. Doni menggerutu kesal karena istrinya itu.
Ceklek...
Lima belas menit kemudian mbak Tina keluar dari kamar nya, wajahnya terlihat segar meskipun matanya terlihat masih sembab.
"Sudah?" Tanya Doni datar.
"I-ya," jawab mbak Tina terbata, karena melihat raut wajah Doni yang datar tak menampilkan senyum atau marah.
Doni menyeret kopernya di ikuti mbak Tina di belakang.
"Kita lewat pintu itu saja," usul Doni menunjukkan pintu.
Mbak Tina menoleh ke kanan kiri karena dia tak melihat pintu apapun.
Doni menyibak tanaman yang ada di depannya. Terlihatlah pintu berwarna senada dengan temboknya.
Mbak Tina kaget, dia tak menyangka.
"Ayo," Doni menarik tangan mbak Tina masuk ke dalam.
Awalnya mbak Tina ragu, tetapi dengan cepat Doni menarik tangan nya ke dalam. Mbak Tina mengerutkan keningnya karena baru pertama kali melihat dan masuk dalam.
'Wah aku tak menyangka, begitu banyak rahasia di tempat ini,' batin mbak Tina menatap kagum.
"Jangan pernah kasih tahu apa yang kamu lihat di sini," peringatan Doni melirik ke arah istri kecilnya itu.
Mbak Tina maupun Doni berjalan di lorong panjang nan gelap dengan banyak cabang, bagi yang tak tahu pasti mereka akan tersesat di sini. Lorong ini di bangun seperti labirin untuk mengelabui musuhnya.
Mbak Tina memegang erat tangan Doni karena ketakutan, Doni tersenyum tipis saat merasakan hangatnya tangan istri kecilnya itu.
Akhirnya mereka pun sampai di suatu tempat, tempat ini adalah garasi mobil terbesar milik Abraham yang sedikit jauh dari mansion nya.
Tit... Tit... Tit..
Doni menekan tombol di depan nya, otomatis pintu terbuka.
Mbak Tina menatap takjub yang ada di depannya, berjejer mobil mewah tertata rapi di sana.
Doni mengambil kunci di dinding, dia mengambil mobil miliknya yang terparkir di depan, khusus untuk mobil para bodyguard.
Doni pun berjalan menuju mobil miliknya.
Tit.... Terdengar bunyi dari mobil Doni.
Doni pun langsung menarik tangan mbak Tina masuk, mobil mewah itu melesat meninggalkan tempat ini.
'Apakah benar pekerjaan dia bodyguard, berapa gajinya sebulan sampai bisa mempunyai mobil mewah ini,' batin mbak Tina.
B E R S A M B U N G...
Maaf update sedikit karena tadi masih sibuk ada acara di rumah.