
Tio membuka pintu mobil untuk Amanda.
"Silahkan masuk tuan putri," Tio menunduk mempersilahkan wanita cantik itu masuk ke dalam.
Perlakuan itu begitu manis sehingga membuat hati Amanda tersentuh, tanpa sadar sudut bibirnya tersenyum kecil melihat tingkah konyol pria tampan itu.
'Sadar..... Ingat Amanda kamu jangan baper hanya karena perlakuan kecil dari Tio, ingat misi kamu jangan sampai berhenti di tengah jalan,' batin Amanda mengingatkan agar semua yang dia lakukan tidak sia-sia.
'Hmmm.... Lihat saja nanti, sampai di mana perjuangan mu meluluhkan hati ku yang sering kamu sakiti. Aku tidak akan dengan mudah memberimu kesempatan itu,' batin Amanda.
Amanda pun melengos, dia memutar tubuhnya mengitari mobil dan memilih membuka pintu mobil yang satunya.
Amanda tersenyum mengejek ke arah Tio, membuat Tio mengeram mengejek. Tangan Tio mengengam pintu mobil begitu keras menandakan hatinya yang bergemuruh.
'Ha ha ha ha ha ha.... Ini belum seberapa Tio, lihat saja nanti,' batin Amanda.
'Sabar Tio, ingat jangan emosi. Wanita itu sengaja melakukan itu semua untuk membuat mu marah. Ingat jangan sampai terpancing atau kamu akan gagal mendapatkan cintanya, semua ini tak seberapa dengan tindakan mu yang dulu. Mungkin dia mau balas dendam untuk karena perlakuan mu dulu, semangat Tio,' batin Tio mengingat kan dirinya untuk bersabar dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
Tio menutup kembali pintu mobil, dia mencoba tersenyum manis.
Tio pun masuk ke dalam mobil, melihat Amanda yang duduk manis membuat Tio kesal. Tiba-tiba terlintas ide di pikiran Tio, Tio menyunggingkan senyum liciknya.
"Aku bukan supir, cepat pindah," kata Tio membuat Amanda melotot.
"Isshhh.... Aku tidak mau," tolak Amanda.
"Silahkan saja kamu duduk manis disana tetapi sebelum itu kamu harus dapat hukuman dari aku," kata Tio memonyongkan bibirnya hendak mencium Amanda. Tio sengaja berpura-pura memonyongkan bibirnya itu untuk menakut-nakuti Amanda.
Amanda melihat itu jadi gelagapan, tubuhnya menegang.
'Silalan lagi-lagi aku harus kalah dari dia,' batin Amanda kesal.
"Iya iya aku pindah duduk di depan," jawab Amanda dengan terpaksa karena takut Tio akan menciumnya.
Wajah Amanda di tekuk cemberut membuat pipinya mengembung lucu dengan mulut mengerucut ke depan. Sungguh wajah yang begitu mengemaskan di mata Tio.
Tio tersenyum licik namun Amanda tak menyadari nya.
'Ha ha ha ha ha ha Tio di lawan,' batin Tio tertawa senang karena merasa menang.
Amanda pun berpindah posisi ke depan.
Bruuukkk... Amanda yang kesal sampai membanting pintu mobil.
"Sabar sabar, orang sabar rezekinya lebar," kata Tio sambil mengelus dada.
Amanda mendengar itu menatap sinis.
"Bukan rezekinya tetapi mulutnya yang semakin lebar," kesal Amanda meledek Tio.
Tio tak menggubris perkataan wanita cantik di samping nya. Dia tak ingin tersulut emosi di depan wanita cantik itu.
"Cepat pakai sabuk pengamannya," titah Tio, Amanda pun menurut.
Keduanya terdiam membisu, hanya ada kecanggungan di dalam mobil itu. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Tio tak ingin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tak ingin Amanda ketakutan.
Trink....
Pesan masuk di ponsel Amanda membuat suasana sunyi menjadi tegang.
'Siapa yang menghubungi dia, apa ada orang lain lagi yang mengejar-ngejar dia. Sungguh aku tak rela melihat wajah cantik itu di pandangi siapapun, ingin rasanya aku mendandani dia dengan dandanan seperti dulu agar tak ada lelaki yang mendekatinya bahkan menggoda nya,' batin Tio.
Amanda mengerutkan keningnya melihat isi pesan Rio yang menanyakan keberadaan nya.
Tik tik tik tik.... Dengan lincah jari mungil itu mengetik pesan balasan.
"Aku sedang berada di dalam mobil Tio," balas Amanda di sertai emot kesal.
"Ha kok bisa?" Tanya Rio penasaran.
"Dia maksa aku buat ngantar aku pulang, awalnya sih aku tak mau tetapi dia memaksa," jawab Amanda.
Amanda sibuk berbalas pesan dengan Rio, Amanda tak menyadari pemuda di sebelahnya menatap cemburu.
"Siapa yang mengirim pesan?" Tanya Tio dengan nada kesal.
"Bukan urusan mu," jawab Amanda cuek, namun Amanda tak menyadari akibat dari jawaban cuek itu.
Cittttt.....
Karena ulah Tio yang mengerem mendadak membuat Amanda terhuyung ke depan.
"Hei apa-apan kamu, bisa bawa mobil tidak sih seenaknya saja mengerem mendadak," kesal Amanda, untung saja dia tidak kenapa-kenapa.
Greeeeppp...
Ponsel Amanda berpindah ke tangan Tio, ya Tio merebut paksa dari tangan pemiliknya.
"Hei kenapa kamu mengambil ponselku, cepat kembalikan," pinta Amanda.
Namun Tio tak menggubris, justru dengan santainya dia memasukkan ponsel itu ke saku celana nya.
"Kalau mau ambil sendiri," kata Tio meledek Amanda.
Glekkk ...
'Masa aku harus mengambilnya di sana, ish ogah enak dia dong,' batin Amanda.
"Kenapa kamu mengambil ponsel milikku?" Amanda mengulang pertanyaan tadi.
"Karena aku tidak suka kamu mengabaikan ku dan sibuk berbalas pesan dengan orang lain," jelas Tio membuat Amanda mendelik kesal.
"Apa hak mu, kita kan bukan siapa-siapa," cibir Amanda.
"Apa kamu lupa, tadi aku sudah bilang kalau kamu adalah kekasihku mulai hari ini. Ingat itu," jawab Tio penuh penekanan.
Amanda melengos mendengar ucapan Tio tadi, dia tak ingin lanjutkan perdebatan itu. Amanda memilih melihat indahnya pemandangan di luar kaca.
"Kita langsung pulang atau mampir ke mana?" Tanya Tio memecah kesunyian.
"Pulang..." Jawab Amanda singkat.
"Apa kamu marah sama aku," lirih Tio.
"Tau ah.... Pikir sendiri," jawab Amanda membuat Tio menghela nafas panjang.
Tio pun memacu mobilnya dengan kencang membuat Amanda melotot, dia ketakutan tanpa sadar mengengam erat tangan Tio.
Tio sadar kalau Amanda ketakutan, namun entahlah dia masih engan mengurangi kecepatan.
"Tio berhenti...." Teriak Amanda ketakutan.
Tio tak menjawab, dia cuek seolah tak memperdulikan ketakutan Amanda.
"Please berhenti hiks hiks hiks hiks hiks...." Amanda berteriak histeris ketakutan.
"Aku akan mengurangi kecepatan mobil ini kalau kamu menuruti semua keinginanku," tawar Tio.
Amanda bergeming, dia ragu menjawab.
Tio semakin menambah kecepatan mobilnya membuat Amanda berteriak menyetujui ucapan Tio.
"Aku mau.."
Tio menyunggingkan senyum liciknya, akhirnya rencana yang terlintas di otaknya tadi berhasil.
"Ok,"
Tio menurunkan kecepatan mobilnya.
"Yang pertama kamu harus bilang ke semua orang kalau kita adalah kekasih termasuk juga ke kedua orang tuamu," kata Tio.
"Ha ..." Amanda di buat melonggo tak pernah.
"Yang kedua, kamu harus memanggil ku dengan sebutan sayang, dan yang ke tiga kamu harus jadi pacar yang baik dengan memberi perhatian, ya sama seperti yang dulu kamu lakukan tetapi ini harus lebih karena aku sekarang adalah kekasihmu," sambung Tio mengutarakan semua keinginannya.
"Itu saja dulu cukup, nanti kalau ada yang lain lagi ku kasih tahu. Bagaimana kamu mengerti," tanya Tio kepada Amanda.
"Te...." Ucapan Amanda belum selesai namun di potong oleh Tio.
"Eitttt no protes..." kata Tio tanpa bantahan.
Mau tak mau Amanda mengangguk. Amanda baru tahu kalau Tio adalah orang yang pemaksa.
B E R S A M B U N G....