Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 100


Akhirnya mobil pun sampai di rumah sakit, di depan sudah ada dokter Esta yang menyambut Abraham.


Apalagi rumah sakit ini miliknya yang di kelola oleh dokter Rian.


Arin turun dari mobil karena keadaan nya yang sudah lemas membuat Abraham harus memapah nya.


"Tuan apa saya bantu memapah nyonya Arin," Perawat pun mendekati Abraham menawarkan bantuan.


"Hei minggir kamu, cepat bawa kemari kursi roda itu," teriak Abraham sedikit kesal, dia tak suka istri kesayangan nya di sentuh pria mana pun.


"I-ya Tuan," jawab perawat laki-laki itu sedikit ketakutan melihat wajah Abraham yang menyeramkan bagian nya.


Arin pun duduk di kursi roda yang akan di dorong Abraham sampai di ruangan bersalin, setelah itu Arin di pindahkan ke ranjang pasien. Jangan tanya masalah administrasi atau apapun semua sudah ada yang mengurus terlebih lagi rumah sakit ini milik Abraham.


Arin masih mengandeng tangan Abraham erat seolah engan melepaskan nya, pintu ruang bersalin terbuka Arin pun masuk ke dalam ruangan bersalin.


Abraham yang hendak masuk di hentikan oleh perawat.


"Maaf tuan, sebaiknya anda menunggu di luar saja," suster itu menghalau Abraham untuk masuk.


"Hei istri saya mau melahirkan di dalam, dia di dalam sendirian apakah saya tidak boleh menemaninya," Abraham berontak hendak menerobos masuk sebelum pintu tertutup.


"Maaf tuan itulah peraturan rumah sakit ini," jelas suster itu membuat Abraham murka.


"Jangan halangi aku masuk. Panggil saja direktur utama di sini," Abraham kesal.


"Tetapi tuan..." Kata suster itu merasa takut apalagi aura pria di depannya mampu membuat siapapun ketakutan.


"Kalau kamu masih menghalangi saya, saya pecat kamu hari ini juga," bentak Abraham.


Suster di depan nya begitu ketakutan sedangkan Bimo mengelengkan kepalanya melihat amarah tuan nya itu.


'Waduh gawat nih kalau tuan mengamuk, bisa-bisa nih rumah sakit di acak-acak sama tuan. Lagian kemana sih dokter aneh itu, paling sibuk pacaran saja. Gak tau apa yang punya rumah sakit lagi ngamuk,' batin Bimo cemas.


Bimo mau menenangkan tetapi takut tuan nya itu semakin marah, mau menghubungi dokter Esta itu pun tak mungkin karena sedang menangani nyonya Arin.


Di dalam ruang bersalin...


Keributan itu terdengar sampai ke dalam, Arin pun mendengar itu jadi tak tega. Arin berfikir mungkin Abraham ingin menemani dirinya karena ini pertama kali dia menyangsikan anak nya lahir. Arin menatap dokter cantik di depan nya, dia mengengam tangan dokter Esta, dia tak sanggup berbicara karena menahan rasa mulas di perutnya.


Dokter Esta yang menyadari itu pun mengerti kalau Arin ingin di temani sang suami.


Dokter Esta pun keluar.


"Tuan Abraham silahkan masuk karena nyonya Arin meminta anda menemaninya," kata dokter Esta. Mendengar itu pun Abraham tersenyum lebar.


Akhirnya Abraham pun masuk, dia langsung mengengam tangan sang istri untuk menyalurkan semangat.


"Sudah pembukaan 3 ya," kata dokter Besta saat memeriksa kondisi Arin.


Arin menjalankan instruksi dokter Esta, keringat bercucuran di wajahnya.


"Aaaaa..." Arin berusaha menahan rasa sakit yang hilang dan muncul tiba-tiba.


Abraham tak tega melihat Arin berjuang melahirkan anaknya. Ada rasa sedih melihat Arin sekuat tenaga untuk melahirkan buah hatinya. Dia begitu menyesal karena dulu tak bisa menemani kelahiran si kembar.


Abraham memberikan semangat untuk sang istri, dia mengengam tangan wanita tercinta nya itu tak lupa mengelap keringat yang membanjiri wajah cantik sang istri.


"Ayo sayang kamu pasti bisa," bisik Abraham.


Abraham menguatkan hatinya, dia takut melihat bagaimana proses persalinan itu berlangsung mulai dari pembukaan 3 sampai pembukaan terakhir.


"Bagaimana kalau operasi saja," tawar Abraham kepada Arin namun Arin mengelengkan kepalanya, dia menolak karena ingin melahirkan anak ke 3 nya itu dengan normal.


Setelah pembukaan lengkap, dokter Esta pun membantu proses Arin melahirkan.


"Ikuti instruksi saya ya nyonya," kata dokter Esta.


Di luar ruangan...


Bunda berkali-kali berdoa dalam hati, sedangkan Tio maupun Rio duduk menjaga Aurel dan Abrian yang tak sabar ingin melihat adik kecilnya.


Bimo dan Hendra duduk dari kejauhan mengamati mereka semua.


"Di mana dokter Rian? Kamu tidak menghubungi dia," tanya Hendra.


"Entahlah, tadi aku sudah mencoba menghubungi dia tetapi ponselnya tidak aktif," jelas Bimo.


Semua menunggu dengan cemas.


****


Satu jam berlalu...


Di dalam ruang bersalin....


Arin mengarah semua tenaganya untuk mendorong anaknya lahir, Arin menjerit kencang sedangkan Abraham di buat pucat melihat itu semua.


"Ayo sayang tinggal sedikit lagi," Abraham menyemangati Arin.


OEEEEK...


OEEEEK...


Bayi itu menangis kencang saat keluar, Abraham terharu melihat semua itu tanpa sadar dia meneteskan air mata nya.


"Sayang lihatlah anak kita," kata Abraham.


Abraham menghadiahi Arin dengan kecupan di seluruh wajahnya.


"Terimakasih sayang, terimakasih karena sudah berjuang melahirkan anakku... Hiks hiks hiks hiks sudah cukup anak kita, aku tak ingin menambah lagi, aku tak ingin melihatmu kesakitan seperti ini karena aku tak sanggup melihat dirimu menderita lagi," Abraham mengungkapkan perasaan nya, dia begitu senang, takut dan terharu semua rasa itu campur aduk.


Semua orang terharu mendengar nya, termasuk dokter Esta tersenyum bahagia.


Arin tersenyum mendengar nya, tenaganya terkuras habis tak mampu menjawab ucapan suaminya.


Abraham pun mengendong bayi mungil itu, sudut bibirnya terangkat kala melihat wajah sang anaknya begitu mirip dengan wajah nya foto kopian dirinya saja. Setelah itu Abraham melakukan tugasnya sebagai ayah.


Setelah selesai bayi itu di serahkan kepada suster sedangkan Abraham mengurus Arin yang tertidur karena kelelahan.


Ruang bersalin terbuka, suster datang membawa bayi yang menangis begitu kencang. Semua tersenyum menyambut kelahiran jagoan kecil itu.


"Paman Tio, adik Aurel sudah lahir," Aurel bersorak gembira menyambut kelahiran sang adik.


"Hore Abrian punya teman main," Abrian tak kalah antusias menyambut kelahiran adiknya.


Dengan cepat mereka semua melihat wajah bayi tampan itu.


Bunda meneteskan air matanya saat melihat cucunya begitu tampan.


"Ck lihatlah wajah nya begitu mirip dengan wajah tuan Abraham," bisik Bimo di telinga Hendra.


"Ha ha ha ha ha semoga saja sifatnya tidak menurun," kata dokter Rian membuat kedua pria itu menoleh.


"Dasar sialan ngagetin orang saja," sungut Hendra kesal karena dokter Rian tiba-tiba muncul di belakang keduanya.


"Om Bimo gendong," Abrian berjingkrak-jingkrak meminta di gendong.


Dengan cepat Bimo mengendong Abrian.


"Wah adik lucu banget," Abrian begitu senang.


"Mana-mana Aurel gak bisa lihat," Aurel berebut minta melihat adik bayi.


"Maaf ya biarkan suster membawa bayi ini dulu, nanti kalian bisa melihat sepuasnya di ruangan khusus bayi," Dokter Rian memberi mereka penjelasan.


B E R S A M B U N G....