
Bimo bersenandung senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan kekasih hatinya.
Sampailah dia di ruangan dokter Esta.
"Hai Bu dokter, sibuk banget sih," sapa Bimo yang muncul di balik pintu.
Dokter Esta yang sedari tadi sibuk memeriksa kondisi pasien di kejutkan dengan kehadiran kekasih nya, ya kekasih yang baru 2 bulan ini.
"Eh...." Dokter Esta kaget tak menyangka kekasihnya itu datang menemuinya.
"Maaf ya ngagetin," kata Bimo nyengir.
"Tidak kok santai saja. Lho kirain tadi sudah pulang," jawab dokter Esta sedikit kikuk.
"Belum masih menunggu di sini mungkin nanti, nunggu Doni ke sini dulu," jawab Bimo.
Keduanya terdiam, antara canggung dan binggung harus membahas apa. Umur mereka tak muda lagi namun pengalaman mereka dalam percintaan sama-sama tidak ada.
"Bagaimana kalau kita pergi kencan atau sekedar cari makan," ajak Bimo dengan memberanikan diri.
"Boleh," jawab dokter Esta malu-malu.
Dokter Esta pun melepaskan jas kebanggaan nya, sedangkan Bimo masih duduk sambil mengecek ponselnya sambil menunggu kekasihnya itu bersiap-siap.
Diam-diam dokter cantik itu memandang wajah sang kekasih yang terlihat begitu berwibawa. Rahang kokoh, mata dengan tatapan tajam, hidung mancung, alis tebal dan kulit yang sawo matang khas wajah Asia. Bimo terlihat tampan di mata di mata dokter cantik itu.
'Aku baru sadar kalau dia begitu tampan,' guman dokter Esta di dalam hati nya.
Matanya tak bosan memandang wajah sang kekasih, sudut bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Sudah sayang," ceplos Bimo yang memanggil sayang kepada dokter Esta.
Dokter Esta kaget namun wajahnya di buat merona dengan panggilan sayang itu.
"Maaf kan mulutku ini yang tak sengaja keceplosan memanggil sayang," Bimo menepuk mulutnya karena keceplosan.
"Tidak apa-apa, aku suka," jawab dokter Esta dengan suara kecil. Dia berjalan cepat meninggalkan ruangan nya.
Bimo pun tersenyum mengekor sang kekasih.
Tak lupa dokter cantik itu mengunci ruang kerjanya.
"Jadi mulai hari ini boleh dong aku panggil sayang," tanya Bimo hati-hati.
"Terserah...." Jawab dokter Esta.
Bimo memberanikan diri mengandeng tangan dokter cantik itu.
****
Sore hari di tempat berbeda....
Amanda sudah bersiap-siap untuk pulang. Dia tersenyum kala melihat dosen keluar.
"Akhirnya selesai juga..." Guman Amanda.
"Cie yang sudah tak sabar ketemu ayang beb," goda Lea salah satu teman yang cukup akrab dengan Amanda.
"Apaan sih...." Tiba-tiba Amanda teringat kalau tadi Rio sudah mengirimkan pesan kalau dia tak bisa mengantarkan Amanda pulang karena ada janji dengan rekan bisnisnya.
Rio sudah memulai untuk menambah cabang toko kue milik sang kakak yang saat ini sedang dia pegang, sedangkan Tio memilih bekerja di perusahaan Abraham untuk menantunya dan itupun tidak setiap hari dia masuk ke kantor, dia hanya perlu mengirimkan pekerjaan nya melalui email. Hal itu mempermudah Tio dan tak menganggu kuliahnya yang sebentar lagi akan berakhir.
"Duluan ya man, biasa doi dah menunggu di depan," kata Lea melambaikan tangan nya ke arah Amanda. Lea bergegas berlari meninggalkan Amanda.
Amanda keluar dengan dengan menekuk wajahnya. Dia berjalan pelan menuju ke arah gerbang kampus.
"Ehemmm.... Amanda cantik banget sih. Mau gak jadi pacar Abang," goda salah satu mahasiswa yang duduk bergerombol.
"Sttt jangan godain Amanda nanti pawang nya marah," tegur yang lain.
"Ha bukannya Tio tidak suka Amanda," tanyanya memastikan apa yang di dengarnya tadi.
"Bukan Tio tetapi Rio," kata yang lain menjelaskan.
"Hah kok bisa..." Tanya orang itu kaget.
"Hei diam jangan berisik," tegur pak dosen ganteng yang lewat di sana.
"Eh Amanda, sendirian saja mana Rio biasanya kalian selalu menempel seperti perangko he he he he he...." Kata dosen Indra sambil terkekeh.
"Rio sedang ada urusan pak," jawab Amanda dengan sopan.
"Bagaimana kalau ku antar," tawar pak Indra yang sedari dulu menyimpan rasa untuk gadis cantik di depannya.
"Terimakasih pak, tetapi maaf karena saya sudah pesan kendaraan online," tolak Amanda tak lupa mengucapkan terima kasih karena tawaran dosen tampan itu.
Amanda pun mempercepat langkahnya, dia berusaha menghindari dari beberapa lelaki yang mencoba menggoda nya.
"Aku lebih suka penampilan ku yang dulu, tidak di jadi pusat perhatian seperti ini," guman Amanda mengingat dulu hari-hari nya yang biasa saja tanpa ada seorang pria yang menggoda dirinya.
Bahkan dia sering mendengar orang-orang membicarakan dirinya di belakang karena penampilan nya dulu yang terlihat cupu.
Grepp....
"Aaaaah...." Amanda memekik kaget, dia ketakutan karena tempat ini terlihat sepi.
'Siapa yang memelukku,' batin Amanda ketakutan.
'Amanda..... Amanda, Kenapa kamu bisa teledor begini? kenapa tadi aku harus lewat sini? Harusnya aku taman dekat sana saja,' Amanda merutuki dirinya dalam hati.
Amanda tak berani menoleh, dia begitu takut sehingga tubuhnya sedikit bergetar.
"Si-siapa kamu?" Bentak Amanda ketakutan karena tempat ini sepi tak ada orang yang berlalu lalang satu pun dan hal itu membuat Amanda heran.
"Sttt aku tidak akan menyakiti mu, asal kamu jauhi adikku," bisik Tio membuat Amanda merinding.
Deg...
Degup jantungnya berdetak kencang, Amanda tak menyangka Tio yang ada di belakang nya.
"Kenapa aku harus menjauhi Rio," Amanda menguatkan dirinya, dia tak ingin memperlihatkan kelemahan nya.
"Because you'r mine," bisik Tio di telinga wanita cantik itu.
Deg
Deg
Deg
Ucapan itu mampu membuat Amanda terdiam membeku. Tetapi hati kecil Amanda menyadarkan nya.
"Hei anda lupa ya, dulu siapa yang bicara seperti ini. Jangan pernah muncul lagi di depan ku ataupun mencoba mendekatiku," sinis Amanda.
Tio terdiam, dia masih ingat kata-kata itu. Pikirannya berkelana saat dulu Amanda yang berpenampilan cupu sering memberikan dia kue karena itu, Tio jadi bahan olok-olok temannya membuat dia begitu membenci Amanda dan melontarkan kata itu.
"Kesempatan tak akan pernah datang untuk kedua kalinya, maka saat kita menemukan cinta yang tulus jangan pernah kau sia-siakan. Fisik bisa berubah namun ketulusan hati seseorang tak akan bisa berubah," kata Rio dulu begitu terngiang-ngiang di telinga Tio.
Ya Tio baru sadar, dia begitu tak rela wanita di depannya itu tersenyum karena pria lain, bahkan mengandeng tangan pria lain. Dulu saat Amanda sering mendekatinya dia begitu risih namun saat Amanda menjauhinya.... Tio begitu kehilangan.
Tio terlambat menyadari hatinya, dia akan berusaha untuk mendapatkan hati Amanda kembali.
"Maafkan aku," bisikan kemudian.
"Begitu mudahnya anda meminta maaf setelah anda begitu dalam menyakiti hati saya," sinis Amanda.
"Lepaskan aku," Amanda meronta, dia mencoba melepaskan pelukan Tio.
"Beri aku kesempatan," lirih Tio.
Amanda masih terdiam bimbang.
"Ok tetapi lepaskan aku dulu," pinta Amanda.
Dengan cepat Amanda berlari meninggalkan Tio sendiri.
Wleeee....
Amanda menjulurkan lidahnya kesal, dia berlari menuju gerbang.
B E R S A M B U N G....