Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 89


Keesokan harinya.....


Semua sudah berkumpul, mereka ingin berziarah ke makam sang ayah.


Aurel sedari tadi binggung melihat semuanya sudah rapi berbaju putih atau hitam.


"Ma kita mau kemana, kenapa kita semua kok pakai pakaian seragam begini?" Tanya Aurel penasaran.


Arin menepuk dahi nya, dia melupakan sesuatu yang penting. Ya Arin lupa memberitahu kepada kedua anaknya kalau mereka akan pergi berziarah ke makam kakek mereka.


"Aurel sayang nanti kita semua akan pergi ke makam kakek sayang untuk mendoakan kakek supaya dia bahagia di sana," jelas Arin.


Arin sudah lama tak berziarah sejak Aurel berumur 2 tahun dan sampai saat ini dia menikah dengan Abraham. Arin hanya mendoakan nya selesai melakukan kewajibannya.


"Oh, apa aurel pernah pergi ke sana ma?" Tanya Aurel memastikan.


"Aurel sama Abrian belum pernah ke sana sayang," Tio menunduk sejajar dengan Aurel, dia dengan telaten menjelaskan pertanyaan dari bibir mungil itu.


"Iya bawel, Aurel sama Abrian baru pertama kali akan mengunjungi makam kakek," Rio pun ikut berjongkok memberitahu Aurel.


Sedangkan yang lain pun memahami pertanyaan dari gadis kecil itu karena baru pertama kali di di ajak.


Berbeda dengan Aurel yang terus berbicara menanyakan sesuatu yang tak penting, Abrian memilih untuk duduk manis memainkan game di ponsel nya.


Mereka memasuki mobil masing-masing, Tio bunda, Rio dan Aurel berangkat terlebih dahulu. Sedangkan Abraham beserta anak dan istrinya mengikuti dari belakang.


Untuk pengawalnya mereka memilih menggunakan motor mereka.


Karena Bimo sedang ada tugas di luar jadi terpaksa Doni harus mengikuti Abraham sendiri karena Abraham hanya percaya dengan Doni.


Di dalam mobil.


"Don ijinkan aku bertanya sesuatu kepada mu dan maaf kalau pertanyaan nanti membuatmu tersinggung atau kamu tidak mau menjawabnya tidak apa-apa kok," tanya Arin dengan tak ragu-ragu.


"Sayang kamu mau tanya Doni apa?" Tanya Abraham dengan sikap posesif yang sudah berlebihan.


"Ck mas, aku hanya ingin bertanya kepada Doni. Lagian cuma pertanyaan biasa kok," jawab Arin cemberut.


Abraham mendelik sebal.


'Apa yang akan dia tanyakan kepada Doni,' batin Abraham bertanya-tanya.


"Massss aku cuma bertanya sebentar saja kok. Itu pun kalau Doni bersedia menjawab nya.


"Iya-iya sayang silahkan," akhirnya Abraham pun pasrah namun di dalam hati nya begitu was-was takut Arin menanyakan sesuatu yang takut menyinggung perasaan Doni.


"Bu Arin mau bertanya apa?" tanyanya kepada Arin.


'Apa yang akan nyonya tanyakan, kenapa bicara seperti itu,' batin Doni.


"Silahkan saja nyonya kalau saya bisa jawab pasti saya akan jawab," jawab Doni dengan tegas.


"Emm..." Arin masih binggung memberitahu semua nya yang mengganjal di hatinya.


"Iya-iya nanti dulu, aku lagi merangkai kata-kata yang pas," Arin bersungut-sungut kesal.


"Ck pakai di rangkai seperti karangan bunga saja," cebik Abraham membuat Arin mendelik. Wajahnya semakin jengkel melihat sifat Abraham yang semakin posesif.


Mobil melaju cukup kencang.


"Doni kurangi kecepatan, istriku lagi hamil," perintah Abraham.


"Baik tuan," jawab Doni.


"Sayang kamu tadi mau tanya Doni apa?" Kata Abraham.


"Tidak jadi mas, aku sepertinya sudah lupa," jawab Arin mengurungkan niatnya karena dia takut membuat Doni tersinggung.


"Yaaah kalah," Abrian cemberut karena permainan game itu.


"Tidak apa-apa sayang, lain kali pasti kamu menang. Sekarang tersenyum lah jangan cemberut nanti jelek," Abraham membujuk anaknya agar tidak bersedih.


Akhirnya mobil sampai di pemakaman umum, Arin dan yang lainnya pun turun.


Arin tak kuasa menahan air mata saat mencari nama ayahnya.


Arin berjongkok, dia menumpahkan air mata kesedihan yang selama ini dia bendung.


"Yah.... Arin datang bersama bunda, Rio, Tio , suami Arin dan kedua cucu ayah. Oh ya satu lagi Arin sekarang sedang hamil anak ke tiga," Arin pun menyapa sang ayah.


Menaburkan bunga, dan air serta membersihkan makam itu dengan mencabut rumput liar yang tumbuh.


Abraham mengelus pundak sang istri untuk menguatkan.


"Hiks hiks hiks hiks hiks," satu persatu Arin menceritakan hidupnya.


"Ayah jangan khawatir, kita semua sudah bahagia begitupun ayah harus bahagia di sana,"


Arin pun mengakhiri semuanya dengan doa. Kini giliran bunda, Rio dan Tio pun ikut berdoa.


Sedangkan kedua bocah itu terdiam, mengamati semuanya. Keduanya pun ikut berdoa.


Setelah itu semuanya pun pergi meninggalkan makam itu, tetapi sebelum Abraham pergi dia sempat berbicara.


"Ayah tenang saja di sana, aku akan membuat Arin dan cucu ayah bahagia,"


B E R S A M B U N G....


Mampir ke karyaku ya,


👉Terimakasih karena penghianatanmu aku dipaksa menikah🤭


LIKE KOMEN FAVORIT VOTE JUGA 🙏


Terimakasih 🙏