Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 188


Seminggu sejak kejadian di rumah dokter Rian, Abrian semakin pendiam sontak hal itu membuat Abraham dan Arin menjadi cemas.


Arin sempat marah, mengumpat sahabat suaminya itu, Arin tak menyangka dia bisa berbicara seenaknya begitu terhadap anaknya, mengapa dia tak berbicara dengan halus mengingat Abrian masih kecil hanya itu yang Arin sesalkan.


Arin bahkan sempat mendiamkan Abraham karena dia tak bisa membela saat sahabat nya itu berbicara seenaknya tanpa di pikirkan seperti itu. Arin bahkan meminta Abraham menuruti perintah sang anak untuk menarik saham miliknya.


Arin bahkan mendukung keinginan sang anak untuk tumbuh menjadi kuat dan hebat. Ya tentu Arin dukung karena hal itu baik menurutnya.


Abraham lebih sering meluangkan waktu untuk Abrian mengingat putranya itu masih kecil dan memiliki pemikiran yang tak bisa dibayangkan menurutnya, pemikiran anak kecil yang masih belum dewasa, untuk itu Abraham harus mengawasi sang anak agar tak terjadi hal-hal yang di luar keinginan nya.


Abraham juga marah kepada dokter Ryan karena tak bisa menyaring atau setidaknya berkata lebih lembut ke anaknya tersebut apalagi sang istri pun ikut mendiamkan nya karena kejadian itu, sesuai permintaan dari sang anak yang tak lain adalah Abrian meminta sang Papa untuk menarik beberapa saham yang ada di perusahaan milik dokter Rian, ya Meskipun awalnya dokter Rian merasa kecewa namun dia akhirnya bisa paham karena saham yang di tarik adalah saham milik Abrian.


Ya Abraham sudah memberikan beberapa saham untuk Abrian, Aurel serta si kecil Andra, agar ketika mereka berusia dewasa ya setidaknya mereka sudah SMA, Abraham akan mengajari mereka bagaimana cara mengelola bisnis mereka sendiri.


Abraham berniat mengajari ketiga anaknya untuk mandiri, Ya seperti didikan kedua orang tua Abraham yang mendidiknya dari mereka dari Abraham masih SMA dulu akan Abraham lakukan juga kepada ke tiga anaknya.


...----------------...


Ya seperti pagi ini, di taman belakang sudah ada Tio, Bimo beserta Doni yang akan mengajari kedua bocah itu beladiri, ya kedua bocah itu tak lain adalah Aurel dan Abrian.


Sedangkan Abraham dan Arin hanya duduk manis menyaksikan kedua anaknya itu belajar.


Sesekali Abraham terkekeh melihat tingkah lucu Andra.


Arin bahkan di buat was-was kala melihat sang anak perempuan nya terjatuh karena gagal menendang Bimo.


"Sayang, mereka masih kecil apakah mereka harus belajar dari sekarang? Mengapa tidak nanti saja kalau mereka sudah dewasa," kata Arin yang tak tega melihat mereka pertama kali belajar berlatih.


Apalagi melihat wajah mengenaskan Aurel yang sudah di penuhi keringat.


"Justru mereka harus di biasakan dari kecil sayang agar mereka tidak kaku, kalau sudah dewasa tentu berbeda lagi nanti mereka berdua akan malas, gerakannya juga gak bisa luwes," kata Abraham menjelaskan.


"Iya-iya sayang. Tuh jagain Andra, aku mau ambil cemilan buat kita semua," pinta Arin untuk mengawasi Andra yang sudah banyak tingkahnya.


"Siap nyonya," jawab Abraham dengan hormat.


He he he he he he he.....


Arin justru terkekeh melihat kelakuan sang suami.


Sedangkan Aurel yang di latih Bimo berkali-kali menggerutu tak jelas membuat Bimo mengelengkan kepalanya melihat wajah cemberut gadis kecil itu.


Bimo sampai menjambak rambutnya frustasi mendengar bibir Aurel sedari tadi tak berhenti komat-kamit.


"Om Bimo capek...." Rengek Aurel saat dia di suruh berlari lagi 2 putaran lagi.


"Ayo Aurel semangat, nanti om Bimo belikan es krim," bujuk Bimo agar si cantik itu mau menuruti permintaan Bimo.


"Benar om, janji."


"Iya.."


"Huuuu.... Dasar bocah, dengar es krim saja semangat," grutu Bimo dengan suara pelan.


Abrian yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang, sebenarnya Abrian juga kasihan melihat wajah lelah Aurel namun mengingat kejadian penculikan itu membuat Abrian berfikir dia dan sang adik harus kuat.


Abrian terjatuh saat Tio melayangkan pukulan ke arah nya.


"Abrian fokus..." Teriak Tio mengingatkan.


"Maaf om,"


"Ya sudah kita mulai lagi, fokus jangan menoleh ke kanan kiri kalau sedang bertarung, sekali kamu lengah..... Musuh akan dengan mudah menjatuhkan mu," kata Tio mengingatkan.


"Baik om..."


Bug bug bug bug bug....


Abrian berkali-kali menangkis serangan dari Tio.


Tio begitu senang mengingat Abrian sudah cukup mahir meskipun baru 4 hari Tio mengajari nya, untuk Aurel baru hari ini karena berkali-kali Abrian maupun Abraham membujuk gadis lucu itu untuk ikut belajar bela diri namun gadis itu menolak dengan alasan kasihan lawannya kalau di pukul, nanti kulit Aurel bisa hitam kalau di suruh lari terus dan masih banyak lagi alasan yang tak masuk akal lainnya.


"Tuh Aurel lihat kan kak Abrian sudah bisa, Aurel mulai lagi ya," bujuk Bimo dengan lembut karena takut bocah itu ngambek dan mengadu macam-macam kepada sang papa.


"Ish om Bimo bawel deh, kak Abrian kan cowok jadi berkelahi begitu mah tidak usah di ajarin juga bisa sendiri, beda kalau Aurel. Aurel tuh bisanya main bedak, lipstik sama boneka," jawab Aurel mengerucutkan bibirnya.


Sedangkan Bimo yang mendengar jawaban Aurel hanya bisa menggaruk hidungnya dengan binggung.


"Don, gantiin bentar ya kebelet...." Bimo berteriak ke arah Doni yang duduk memantau Abrian.


"Apa??" Doni berjalan menuju ke arah Bimo.


"Pasti cuma alasan?" tebak Doni menatap Bimo tajam.


"He he he he he he he, tahu saja," kata Bimo cengengesan.


"Om Bimo cepetan sana nanti di sini bau kena kentut om Bimo," Aurel menutup hidungnya seraya mengusir Bimo.


Aurel berfikir kalau Bimo ingin buang air besar karena Aurel dengar tadi Bimo bilang kebelet.


"Pffftttttt... Ha ha ha ha ha, rasain tuh," Doni menertawakan wajah Bimo yang sudah masam, sepat dan jelek saat ini mendengar ucapan Aurel yang mengatakan Bimo kentut padahal Bimo tidak kentut.


"Ah terserah lah, yang penting aku bisa kabur..." Ketus Bimo tak ingin memperjelas kepada gadis kecil itu, kepala Bimo rasanya sudah pusing ingin meledak karena sedari tadi mendengar suara cerewet itu tak kunjung berhenti namun justru semakin lancar saja berceloteh.


Bimo berlari meninggalkan tempat itu, Bimo tak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dari tempat ini secepatnya.


"Om Doni tidak ikut?" Tanya gadis kecil itu dengan polosnya.


"Tidak," jawab Doni singkat.


"Oh kirain, biasanya om Doni sama om Bimo kemana-mana kan berdua," kata itu meluncur bebas dari bibir polos nya.


'Di kira kira kembar ya, kemana-mana harus berdua,' batin Doni.


'Hadeh sabar Doni, ingat nih bocah anak tuan Abraham. Ingat istighfar,' batin Doni mengelus dadanya mengingatkan untuk sabar menghadapi bocah cilik itu.


B E R S A M B U N G....