Benih Tuan Muda Kejam

Benih Tuan Muda Kejam
BTMK bab 146


Setelah acara kemarin berjalan dengan lancar, rencana pernikahan Amanda dan Tio pun akan di gelar 6 bulan lagi, itu keputusan dari pak Rendi. Abraham pun setuju.


Kini hari-hari Amanda maupun Tio lebih berwarna, kedua sering bertemu, Amanda pun sering bermain ke mansion mewah milik Abraham bertemu dengan Arin, bermain dengan si kembar, belajar memasak dengan bunda dan tentunya untuk bertemu sang pujaan hati.


Tio maupun Amanda, keduanya sering berangkat kuliah bersama, contohnya saja seperti pagi ini.


Tio masih di kamarnya, dia berkali-kali melihat tampilan nya di cermin untuk memastikan apakah dirinya sudah sempurna apa belum, Tio menyisir rambutnya dengan semangat.


"Hmmm.... Perfect, memang ya orang tampan mau pakai baju maupun model rambut apapun tetap tampan," kata Tio dengan gaya sombongnya menatap pantulannya di depan cermin.


"Ck mau di buat model rambut apapun tetap saja muka mu tidak akan berubah," sindir Rio berdecak kesal karena dia sedari tadi melihat Tio yang masih setia membolak-balikkan rambutnya dengan berbagai macam gaya.


"Sudah diam, cepat kerjakan karena laptop mau ku pakai," Tio melirik malas ke arah Rio.


"Iya iya, kalau bukan karena laptop ku tadi malam kena hujan tidak akan aku pinjam laptop milik mu," jawab Rio.


"Maka nya punya mobil tuh di pakai bukan buat pajangan, sudah tahu musim hujan kenapa keluar kota sok-sokan pakai motor," kata Tio malas karena sudah berkali-kali mengingatkan Rio namun dia selalu saja tak pernah mau mendengarkan.


"He he he he he he, aku lebih suka pakai motor lebih cepat sampai," jawab Rio mengungkapkan isi hatinya.


"Kenapa sih tuh mobil jarang kamu pakai bahkan bisa di hitung pakai jari? Kalau kamu tidak mau biar buat aku saja lumayan kalau di jual buat tambahan modal usaha," ungkap Tio dengan enteng nya, dia juga begitu penasaran kenapa Rio tak pernah mau memakai mobil itu.


"Eh enak saja, kamu kan juga sudah di kasih kak Abraham," sewot Rio yang tak terima kalau mobilnya di minta Tio.


"He he he he he he, salah sendiri tidak pernah di pakai nanti cuma jadi pajangan di garasi," ledek Tio.


"Ck aku hanya merasa tak enak kalau bawa mobil itu terlalu mewah, apalagi pandangan anak-anak di kampus langsung heboh terlebih lagi tuh geng ulat bulu," jelas Rio.


"Halah cuek saja," jawab Tio dengan acuh.


"Eh sudah jam 8, cepat aku sudah di tunggu sama Amanda," kata Tio seraya menatap jam yang menempel di dinding kamarnya.


"Iya iya sabar, 5 menit lagi,"


Jari-jari Rio dengan lincah menari-nari di keyboard.


5 menit kemudian....


"Nih, thanks ya brother," kata Rio menutup laptop milik Tio, tak lupa rio menepuk pundak sang kembaran untuk berterima kasih setelah itu dia keluar dari kamar milik Tio.


Rio bergegas memasukan laptop milik nya ke dalam tas punggung, dia bergegas memakai sepatu kesayangannya.


Tio melangkah menuju meja di samping ranjang, menyambar kunci mobil yang tergeletak di sana.


Tap tap tap tap tap tap...


Tio menuruni tangga itu dengan tergesa-gesa, berkali-kali dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, untuk memastikan dia masih memiliki waktu yang cukup sampai di tempat sang pujaan hati nya.


"Ayo sarapan dulu, bunda sudah membuat ayam bakar kesukaan mu," ajak bunda menatap sang anak dengan senyum cerah.


"Tetapi Bun, aku takut telat," lirih Tio tak berani berterus terang kalau dirinya akan menjemput Amanda terlebih dahulu.


"Sedikit saja, kasihan bunda sudah masak dari tadi pagi," kata Arin yang baru saja muncul dari dapur.


"Ya sudah kalau kamu takut telat, biar bunda bungkus nanti kamu makan sama Amanda ya," usul bunda hendak mengambil kotak makanan untuk Tio dan Amanda.


"Tunggu sebentar," kata Arin menarik tangan sang adik untuk duduk di samping nya.


"Nih makan," Arin menyodorkan jajanan pasar yang setiap pagi sengaja dia sajikan di sana sebagai cemilan.


Arin setiap pagi menyuruh anak buahnya untuk mengantarkan berbagai macam jajanan pasar dari toko miliknya, tentunya setiap hari berbeda namun terdiri dari 5 macam.


"Rio mana?" Tanya Arin saat tak melihat adik yang satunya.


"Hmm io mmm emm m," kata Tio mulutnya penuh dengan makanan.


"Ck telan dulu baru bicara," Arin memukul pundak sang adik dengan kesal.


Bunda mengelengkan kepalanya melihat interaksi antara Arin dan Tio, sudut bibirnya tersenyum kecil teringat kebersamaan mereka bertiga seperti dulu. Tiap hari selalu ada saja yang mereka ributkan.


"Waktu cepat berlalu ya," lirih bunda dengan suara kecil nyaris tak terdengar.


"Ha ha ha ha ha ha rasain om, siapa suruh bicara gak jelas," ledek Aurel yang sedari tadi diam sibuk dengan makanan nya.


Tio mendelik menatap Aurel.


'Dasar, anak sama emaknya sama saja senang banget sih lihat orang sengsara,' batin Tio menatap jengah.


"Benar tuh kata Aurel," Arin membenarkan ucapan sang kakak.


Glekk....


Tio menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Rio sedang di kamarnya, paling tuh anak masih mandi," kata Tio.


"Ini... Satu buat kamu, satunya buat Amanda. Ingat di makan ya," pinta Bunda menyodorkan 2 bekel untuk Tio bawa.


"Tio berangkat dulu ya Bun," kata Tio berpamitan kepada bunda tak lupa mencium tangan bunda.


"Eittsss Salim dulu," Arin dan Aurel menyodorkan tangannya menatap ke arah Tio.


"Ck emak sama anak kompak," grutu Tio namun dia masih mencium tangan sang kakak dan ponakan bawel nya.


"Assalamualaikum wr wb,"


"Waalaikumsalam wr wb,"


"Hati-hati om jangan lupa nanti pulang bawa pesanan Abrian ya," teriak Abrian mengingatkan Tio tak lupa melambaikan tangan.


Tio menoleh, dia mengaguk dan mengarahkan jempolnya ke Abrian.


Tio berjalan cepat menuju garasi.


"Kak Abrian minta belikan apa?" Tanya Aurel menatap penuh selidik ke arah sang kakak.


'Hadeeeh mulai lagi nih bocil,' guman Arin di dalam hati memijit kepalanya yang terasa pusing.


Apalagi tadi malam baby Andra sedikit rewel karena imunisasi, jadi Arin harus begadang. Arin tak ingin merepotkan pengasuhnya.


"Cuma mainan," jawab Abrian cuek seraya melahap ayam goreng kesukaan nya.


Arin tersadar dari lamunannya, mendengar suara Aurel yang mengintrogasi sang kakak. Arin memilih diam, selagi mereka tak bertengkar atau salah satunya menangis Arin akan membiarkan perdebatan mereka. Arin tahu kalau Abrian cukup dewasa menghadapi tingkah manja sang adik.


"Benar?" Gadis kecil itu masih belum percaya apa yang di ucapkan oleh Abrian.


"Hmmm..." Jawab Abrian.


"Kakak beli mainan apa?" Tanya Aurel sedikit kepo.


"Robot," jawab Abrian singkat.


"Benar itu saja," gadis kecil itu masih tak percaya.


"Hmm..." Jawab Abrian dengan malas.


"Kak kata pak ustadz tidak boleh bohong loh," Aurel mengeluarkan jurus andalan miliknya.


Abrian menghela nafas panjang, dia menatap sang adik dengan jengah.


'Dasar cewek, cerewet banget sih,' grutu Abrian di dalam hati karena pusing mendengar ocehan sang adik.


Abrian melirik ke arah sang mama meminta bantuan, dia sudah lelah menjawab pertanyaan Aurel yang tak ada habisnya.


"Sayang cepat makan, nanti terlambat sekolah,"


"Iya ma," jawab keduanya serempak.


Namun Aurel masih menatap ke arah sang kakak, namun Abrian memilih cuek tak menghiraukan.


B E R S A M B U N G....